
Mereka berdua makan dengan diam, Alisa makan dengan ikan yang sudah diambil durinya oleh Dimas, tidak ada obrolan, tidak ada canda yang keluar dari mulut mereka berdua, seperti ada jarak pemisah diantara mereka berdua, Alisa menjaga martabatnya sebagai seorang istri, sementara Dimas lelaki baik hati itu menghormati keputusan ALisa, ini namanya mencintai tidak harus memiliki.
Saat sedang makan ia baru menyadari kalau ada dua orang yang berbadan tegap yang selalu melihat mereka, ia menoleh ke luar, ia baru nyadar ternyata mobil hitam yang dari arah rumah Pak Brata milik ke dua orang tersebut.
“Sah, apa kamu membawa ponselmu?”
“A-a -ada apa Mas?” Tanya Alisa panik.
“Jangan panik, sepertinya dua orang lelaki yang di pojok sana mengikuti kita dari rumah Pak Brata”
Mata pupil mata Alisa membesar menatap Dimas, ia menyerahkan ponselnya, ia bahkan tidak perlu meminta Alisa membuka kunci layarnya ia sudah hapal semuanya, ia memeriksa, ia menghela napas berat.
Dugaannya benar ponsel Alisa sudah di sadap, hanya dengan mengunakan satu aplikasi, ia tahu kalau ponsel wanita itu sudah di sadap seseorang, ia tahu kalau wanita cantik itu dalam bahaya besar. Lalu ia mengetik sesuatu di ponselnya, lalu ia berakting.
“Berikan semua padaku Sa, aku akan membantu kamu untuk membantu Farel keluar dar penjara, aku akan meminta rekan-rekanku sesama tentara untuk menjagamu, kalau mereka sampai macam-macam kita akan sebar luaskan bukti pengeroyokan Farel ini ke media, biar di periksa semua rekan-rekannya,” ujar Dimas, ia sengaja membuka jaketnya dan memperlihatkan seragam loreng-lorengnya. Kedua lelaki bertopi itu, menarik topi untuk menutupi wajahnya lalu mereka pergi meninggalkan Dimas dan Alisa.
Alisa serasa berhenti bernafas melihat akting Dimas.
[“Aku akan menolong Sa, jangan menolak lagi]
Alisa mengangguk setuju.
[Apakah mereka sudah pergi?] Tanya Alisa lewat pesan.
Karena ketakutan Alisa sampai tidak berani menoleh ke belakang, untungnya Dimas mengambil gambar mereka diam-diam. Ia memperlihatkan pada Alisa.
[Apa kamu mengenalnya?]
Alisa menggeleng, wajahnya semakin panik, apa yang dikatakan Dimas ternyata benar hidupnya akan ikut dalam bahaya jika ia ikut terlibat dalam kasus suaminya.
[Kita pulang bersikaplah normal agar mereka tidak curiga] pesan Dimas.
‘Bagaimana mau bersikap normal , kalau nyawa dalam bahaya, jangankan untuk bersikap normal, bahkan bernapas aku sampai takut saking groginya Mas’ bisik Alisa dalam hati.
Saat ia bayar tagihan makan mereka Alisa hampir tersandung kaki meja, karena ia grogi, untung Dimas memegang tangannya, akhirnya ia terhindar dari sikap memalukan.
Tidak terbayang saat Alisa jatuh nyungsep ke bapak-bapak yang makan di sebrang meja mereka.
“Hat-hati Sa,’ ujar Dimas melepaskan pegangan tangannya dengan pelan.
“Maaf Mas, aku hanya tidak sengaja”
__ADS_1
Setelah membayar makan mereka berdua, Dimas mengajak Alisa ke dalam mobil ia meminta ponsel Alisa, ia ingin membuang alat penyadap dalam ponsel Alisa.
“Sa, bagaimana kabar si kembar?” Tanya Dimas, ia ingin bersikap normal agar orang yang menyadap ponsel Alisa tidak merasa curiga karena mereka diam.
“Ba-baik Mas,” jawab Alisa gugup, ia bahkan tidak bisa menetralkan suaranya.
“Mereka pasti sedang lucu-lucunya, aku ingin bermain ke rumah untuk melihat mereka, ingin bertemu ibu sama bapak, sudah lama tidak bertemu”
Mata Alisa lagi-lagi memutar saat Dimas mengatakan ingin main ke rumahnya, ia tidak tahu kalau Dimas hanya ker akting.
“Kapan, kamu pulang dari Jerman?” tanya Alisa.
“Sudah, hanya aku belum pulang ke rumah”
“Kenapa?”tanya Alisa panik.
“Bunda sama ayah memintaku agar segera menikahi wanita pilihan mereka,”ucap Dimas , ia melirik kanan-kiri mencari peniti.
“Apa?” Tanya Alisa menggunakan gerakan di mulut.
“Kancing peniti,”jawab Dimas tanpa suara juga , alisa memeng kerudungnya dan melepaskan jarum pentol, ia memberikannya pada Dimas.
Mereka berpura-pura bicara santai di dalam mobil, Dimas membuka laptop dari mobilnya dan memeriksa ponsel Alisa , akhirnya ia menemukanya . Dimas membuang alat penyadap dalam ponsel alisa.
“Apa tidak akan ada lagi?” tanya memperlihatkan jam di tangannya dan semua barang-barang di dalam tasnya.
Dimas memeriksa dengan alat pendeteksi, tetapi tidak menemukanya.
“Tidak ada lagi, ayo kita pulang ini sudah malam, nanti keluargamu mengkhawatirkan mu”
“Apa mereka akan mengikuti kita Mas?” Tanya Alisa, wajah cantik itu masih terlihat sangat khawatir.
“Aku rasa tidak.” Ia menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan tempat tersebut.
“Apa kamu tidak tahu siapa yang menaruh penyadap di ponselmu Sa?”
“Aku juga tidak tahu Mas, padahal aku tidak pernah meletakkan ponselku sembarangan, walaupun di rumah, tapi kenapa bi ….” Alisa menggantung kalimatnya, matanya menatap dengan panik, ia mengingat sesuatu.
“Apa?”
“Faisal beberapa hari yang lalu datang ke rumah, dia meminjam ponselku dengan alasan hapenya kehabisan daya, ya … sekarang aku tajuan dia yang melakukannya”
__ADS_1
“Bukanya dokter itu sahabat almarhum mbak ratna yang dulu pernah kamu bilang baik? Dia juga kan yang menyelamatkanmu malam itu”
“Mas … ternyata semuanya tidak sama seperti aku lihat selama ini”
“Maksudnya ….?”
Alisa tidak tahan lagi, ia menceritakan semuanya tentang dr. Faisal pada Dimas, lelaki bertubuh tinggi tegap itu kaget mendengar cerita Alisa, tentang Faisal.
“Semua masalah itu berawal dari dia Mas”
“Jadi pertengkaran Farel dengan mbak Ratna jangan-jangan karena ulah dia juga, soalnya saat aku datang pernikahan mereka dulu, aku melihat Faisal berdiri menatap dari jauh tetapi dia tidak datang”
“Itu dia mas, menurut pengakuannya, dia yang terlebih dahulu mencintai mbak’
“Kalau dia mencintai mbak Ratna lalu kenapa dia menikah dengan wanita lain?” Tanya Dimas.
“Dia bilang, pernikahan mereka hanya karena bisnis, hanya bertahan beberapa bulan, sekarang dia duda”
“Kamu harus hati-hati Sa, orang yang punya obsesi tinggi seperti itu biasanya nekat”
“Mas … dia bukan hanya menginginkan anak-anak, dia juga ingin aku jadi istrinya”
“Apa? Dia menginginkan istri orang lain?” Dimas kaget dan geram.
‘Gila itu orang aku saja yang menjadi kekasihnya sampai bertahun-tahun melepaskannya dan menghormati keputusan Alisa, siapa kamu yang berani merebut anak-anak dan Alisa dari suaminya?’ Dimas bermonolog dalam hati.
Mendengar semua pengakuan Alisa, Dimas bertekad membantu Alisa, mungkin inilah jawaban dari doa Alisa, ia selalu memohon pada yang Kuasa agar mengirim seseorang yang bisa membantunya untuk menyelamatkan suaminya. Lalu bagaimana jadinya kalau orang yang akan menolongnya mantan kekasih yang sangat mencintainya. Apakah Alisa menjamin hatinya tetap utuh untuk suaminya.
Bersambung ….
Kakak Baik mohon bantunya ya, untuk like, vote dan komentar karya ini, kasih hadiah juga agar authornya tambah semangat untuk update tiap hari
Baca juga karyaku yang lain ya.
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (on going)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)