Menikah Dengan Abang Ipar

Menikah Dengan Abang Ipar
Tinggal Di Apartemen Dengan Mantan Suami


__ADS_3

Saat tiba di dalam apartemen, kedua anak kembar itu menangis, mereka berdua ketakutan karena di kurung dalam rumah, karena biasanya keduanya  bermain di halaman.


“Assalamualaikum”


“Wallaikumsalam,,” sahut Desi.


Melihat Alisa datang ke dua anak kembar itu berlari menghamburkan dirinya ke pelukan bunda mereka.


“Bunda! Abang mau pulang, gak mau di sini”


“Sabar ya sayang, nanti kita pulang”


“Mina, mau ketemu ayah,” rengek Amina, ia menenggelamkan wajahnya di dada Alisa.


“Maaf Bu, dari tadi mereka menangis terus , minta pulang,” lapor Nur, wajah wanita itu tampak lecek, mereka berdua pasti kewalahan memegang tiga anak.


“Gak papa mbak, apa Haikal tidur?”


“Boro-boro tidur Bu, mendengar Akmal nangis, dia juga ikut-ikutan menangis,” tutur Nur merapikan rambutnya yang berantakan.


“Eh … pak Diego, apa kabar?” tanya Desi malu-malu.


“Baik Mba Desi”


“Kalian saling kenal?” tanya Alisa.


“Pak Diego kan temannya Bapak Bu … gak tau?’ Alisa balik bertanya.


Alisa tidak ingin membahas lebih dalam , bagi saat ini anak-anaknya bisa aman dan tenang, Akmal masih menangis minta pulang. Ke dua polisi itu juga  sudah lelah membujuk mereka berdua agar tidak menangis.


“Apa  mereka sudah makan?”


“Saya sudah membeli makanan Pak”


“Tadi bubur untuk Haikal, tidak di bawa karena buru-buru”


“Oh, biar saya yang beli,” ujar Alisa.


“Biarkan anak buah saya yang membeli”


“Nanti mereka tidak tahu Pak, saya juga sekalian ingin membeli perlengkapan untuk kami,” ujar Alisa.


“Baiklah, biar saya yang menemani ke bawah lagi,” ujar Farel


Ternyata kedua anak kembar itu minta ikut, Farel mengendong Amina dan Akmal di pegang sama Alisa, saat mereka masuk dalam lift,  Alisa tersadar, kalau Amina tidak menangis, justru ia meletakkan kepalanya di pundak Farel.


Mungkin gadis kecil itu punya ikatan batin dengan ayah kandungnya , membuatnya nyaman  di gendongan Farel, lelaki berwajah tampan itu juga merasa  terharu saat putrinya merasa nyaman.


‘Tidurlah putri kecilku, tidurlah sayang, ini ayahmu, aku akan selalu menjaga kalian berdua’ ucap Farel dalam hati.


Alisa tidak bisa berpikir banyak, ia hanya dian melamun saat turun dari lantai atas.


Ting …!

__ADS_1


“Bun, kita sudah tiba apa belum?” tanya Akmal membangunkan Alisa dari lamunannya


“I-iya sayang , apa tadi?”


“Kita sudah sampai?”


“Ni sudah sampai, Farel membawa mereka ke mini market  di  lantai bawah.


“Belikan apa saja yang kamu pengen, nanti om yang bayar,” ujar Farel.


Bocah tampan itu tidak bersemangat saat melihat saudara kembarnya sudah tertidur, kalau biasanya mereka  berdua akan bersemangat, jika sudah ditawarin untuk pilih jajanan atau mainan.


“Kenapa tidak mau?” tanya Farel? padahal saat mereka bertemu terakhir kali, ia menawari beli mainan kedua anaknya sangat bersemangat.


“Aku tidak mau Om,” ujarnya  menolak.


“Kenapa dengannya?”


“Itu karena saudara kembarnya tidur,” pungkas Alisa..


“Oh, apa dia tidur?”


“Ya, sepertinya dia sudah mengantuk dari tadi, makanya rewel”


Farel  ikut berdiri memasukkan banyak jajanan dan mainan di ke keranjang Alisa.


“Apa yang bapak lakukan? Ini terlalu banyak”


“Tidak apa-apa agar mereka   tenang nanti, anak-anak akan di sana sampai situasi aman”


‘Astaga aku tadi mau beli apa?’


“Kenapa diam Bu, ayo:


“Astagfirullah aku lupa mau beli apa Pak”


Farel mengangkat kedua alisnya saat melihat Alisa seperti orang yang linglung, tetapi apa yang di rasakan Alisa ia bisa memaklumi, siapapun yang mengalami akan panik seperti Alisa.


“Tadi beli bubur bayi dan susu, sekalian membeli keperluan kalian”


“Oh, bapak benar ,” ujar Alisa, ia berjalan ke rak susu, tapi ia salah menyeret anak yang ia pegang tangannya bukan Akmal malah anak orang lain.


“Bun!” Panggil  Akmal menangis.


“Astaga maafkan Bun Nak, maaf iya bu,” ujar Alisa melepaskan tangan anak yang salah pegang tersebut.


Farel tidak mengatakan apa-apa ia hanya diam  melihat wajah Alisa yang panik, sesekali matanya menatap sekeliling  memastikan  tempat itu aman. Lalu dengan cepat tangannya memasukkan barang  belanjaannya dalam keranjang .


Saat ingin membayar, Alisa baru sadar kalau ia tidak membawa  tas saat turun.


 Farel mengeluarkan kartunya, karena ia tahu Alisa meninggalkan tasnya dan lupa membawa dompet.


“Dompet saya ketinggalan”

__ADS_1


“Biar saya saja,” ujar Farel, sebenarnya dari atas ia sudah melihat hal itu tadi, hanya saja ia tidak mau memperingatkan Alisa.


“Maaf Pak, nanti saya akan bayar,” ujar Alisa menunduk  merasa tidak enak.


“Tidak  apa-apa, anggap saja saya traktir jajanan anak-anak”


“Tapi ini bukan hanya jajanan Pak, ini ada susu anak -anak saya,”ucap Alisa.


“Tidak apa-apa juga saya adalah teman ayah mereka”


“Tidak, saya tidak mau punya hutang sama orang lain”


“Baiklah, kalau itu yang bu mau,” ujar Farel tidak ingin berdebat.


Saat tiba diatas, apartemen Farel hanya ada dua kamar,  ia berpikir satu kamar tidak akan buat untuk mereka semua.


“Pakai kamar saya juga tidak apa-apa, kami bertiga bisa tidur di sofa”


“Kami akan tidur dikamar ini”


“Tapi nanti kalian sempit, bagaimana kalau Akmal dan Amina tidur sama saya saja”


“Ah, Amina tidak usah, biar Akmal saja pak, bagaimana?”


Sebagai seorang ibu Alisa menjaga keselamatan  gadis cantik itu, ia pikir polisi tampan yang menolong mereka orang lain, ia tidak tau kalau lelaki itu ayah mereka berdua.


“Aku ikut sama abang,” ujar Amina mereka berdua  memang tidak bisa dipisahkan.


“Jangan khawatir, saya tidak suka makan anak kecil,” ujar Farel, ia menepis kekhawatiran Alisa.


“Baiklah”


Akhirnya ia memperbolehkan kedua anak itu untuk tidur di kamar pribadi Farel.  Saat di kamar Farel membuka koper kecil, ternyata beberapa minggu yang lalu saat ia ke Singapura untuk kontrol ia membelanjakan pakaian untuk mereka berdua.


“Om, aku ngantuk,” ujar Akmal, saat Farel  baru selesai membersihkan wajahnya dan menganti pakaian mereka. Ia bertindak layaknya seorang ayah.


“Om, kenapa ayah, tidak datang jemput kita?’ tanya Amina.


“Nanti ayah kalian akan datang, dia lagi ada pekerjaan penting,” ujar Farel, ia menyisir rambut ikal si cantik Amina.


“Boleh kami telpon?” tanya anak perempuan itu lagi.


Farel berpikir sejenak untuk  memikirkan alasan, lalu ia menelepon nomor Dimas yang tidak aktif.


“Om sudah coba, sepertinya ayah lagi bertugas di hutan , tidak ada sinyal, nanti kalau sudah ada pasti dia akan telepon ke nomor ini lagi,” ujar Farel.


Dimas  sukses jadi sosok ayah yang baik untuk anak-anaknya,  anak kembar itu  menemukan ayah idaman di Dimas.


“Baiklah,” jawab Amina ia mengigit ujung kukunya saat ia meras sedih.


“Aku iri sama Dimas,  karena jadi ayah yang baik untuk mereka berdua’ gumam Farel.


Ia menidurkan keduanya dengan cara menepuk-nepuk punggung ke duanya, ia sangat bersyukur karena bisa tidur bersama kedua anak-anaknya. Farel tidak tidur sedikitpun, ia selalu berjaga sepanjang malam berkutat di depan laptop, ia ingin mencari tahu siapa dalang di balik  orang yang memerintahkan penjahat tersebut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2