
Setelah bertemu dengan ke dua anaknya, rencanannya, Farel akan kembali ke Singapura untuk kontrol jantung, saat itu hidup Farel tidak ada lagi yang mengusik, karena ia sudah berganti wajah dan indentitas diri, bahkan ia sudah kembali bertugas kembali sebagai polisi dengan jabatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
“Apa Bapak yakin aman dengan identitas baruku ini, takut ada yang menyelidiki tentang indentitas diri saya”
“Tenang, sebelum kamu ditetapkan bertugas di sini. Pak Seno sudah mengurusnya, bahkan ia meminta mengurusnya dari bawah, kalau ada uang apa saja bisa di beli Farel, jangan beli indentitas palsu, nyawa orang saja bisa di beli dengan mudah,” ujar Brata saat mereka duduk berdua.
“Saya hanya takut indentitas saya terungkap dan membahayakan anak-anakku”
“Jangan terlalu khawatir tidak akan terjadi apa-apa yang perlu kamu lakukan saat ini kamu harus menjaga tubuh kamu tetap sehat, mudah-mudahan dokter bisa memberi kita kabar baik, instansi kepolisian saat ini, membutuhkan orang jujur dan pintar seperti kamu,” ujar Brata.
“Terkadang jadi orang jujur itu tidak enak Pak, jadi musuh banyak orang”
“musuh di dunia, tetapi kejujuran dan kebaikan seseorang jadi jembatan masuk surga Farel, karena itulah mari kita lakukan banyak kebaikan di dunia ini, nanti, jika kita sudah mati, kita kembali pada pemilik asli kita,” ujar Brata.
“Baik Pak”
Aa yang di katakan Farel ada benarnya juga, jadi orang jujur itu terkadang tidak di sukai beberapa orang.Setelah Farel menganti identitas ia berubah nama jadi Diego Kumar.
“Tapi ngomong-ngomong kenapa, kamu pakai Kumar di belakang namamu?” tanya Pak Brata.
“Tidak hanya terinspirasi dari polisi di film India , kalah dulu atau mati dulu, lalu bangkit kembali membasmi kejahatan, tadinya pengen itu Pak, aku pikir penyakit ini kan sembuh ternyata …”
“Jangan khawatir Farel, kamu pasti sembuh”
“Insya Allah ,Pak”
Farel kembali menjalankan tugasnya sebagai polisi di beri kesempatan untuknya, Farel menggunakan dengan baik, ia memberantas semua para korupsi di kepolisian, ia memperbaiki citra polisi yang sempat tercoreng karena ulah oknum beberapa pejabat polisi yang rakus uang
“Biarkan aku yang melakukannya Pak Seno, yang penting untuk saat ini, jangan sampai indentitas ku sampai bocor, biarkan aku yang memberantas mereka, bapak hanya memantau saja,” ujar Farel
Tidak punya keluarga membuatnya tidak mengenal rasa takut, ia meminta semua jajarannya membersihkan para preman, yang biasa memalak di pasar-pasar dan terminal, walau mereka punya bos Farel tidak takut, ia justru menangkap bosnya dan menjebloskannya ke dalam penjara, ia mendengar ada polisi yang sering melakukan pungutan liar pada pengemudi truk, ia meminta anak buahnya menyamar jadi supir saat punya bukti Farel menangkap dan memberi sangsi tegas penurunan pangkat dan ada juga di mutasi ke daerah terpencil.
Saat Farel datang banyak polisi yang takut untuk melakukan ha-hal curang, kini ia punya kekuatan untuk memberantas semua kejahatan di kepolisian.
‘Setidaknya aku melakukan sesuatu yang berguna sebelum aku mati’ ujar Farel dalam hati, nama barunya sangat ditakuti di instansinya saat itu.
“Tidak sia-sia saya mengajak Pak Farel untuk bertugas kembali,” ujar Seno.
__ADS_1
“Saya berharap apa yang saya lalukan tidak berhenti di sini saja Pak”
“Tidak akan berhenti Pak Farel, kamu akan melatih orang-orang mu untuk mengikuti jejak yang kamu kerjakan”
‘ Umur tidak ada yang tahu Pak’ ucap Farel dalam hati.
*
Saat itu usia Haikal putra Dimas dan Alisa genap lima bulan
Dimas sangat bahagia menikmati perannya menjadi ayah untuk tiga anaknya, ia tidak pilih kasih, ia menyaingi kedua anak kembar tersebut, bahkan mereka sangat dekat.
“Aku sangat bahagia sayang, bahagia bangat, akhirnya impianku terkabul juga”
“Memang apa impian ayah?” tanya Alisa.
“Menikah dengan kamu dan punya anak laki-laki”
“Hanya itu?”
“Ya, impianku hanya sesimpel itu, melihat mereka bertiga menyambut ku setiap pulang kerja rasanya sangat bahagia”
“Allah kasih hadiah besar untukku”
“Apa hadiahnya?”
“Ya kalian berempat sayang,” ujar Dimas.
Alisa hanya menanggapi dengan senyuman dan tawa, karena Dimas tipe orang yang sangat romantis, tiap pagi sebelum berangkat kerja ia selalu ucapkan kata-kata romantis untuk Alisa, bukan hanya itu, ia juga akan bawa si kembar mutar-mutar naik motor keliling komplek baru ia berangkat kerja.
“Terimakasih sayang, kata-kata romantis mu setiap pagi pingin aku -”
“Munta …?” tanya Dimas.
“Gak, bikin aku bersemangat,” ujar Alisa.
Dimas tertawa dan mencubit pipi Alisa dengan gemas, mereka berhenti bercanda saat bunda dan ayah Dimas datang.
__ADS_1
“Bunda datang, sana kamu berangkat kerja,” ujar Alisa merapikan kera baju seragam loreng-loreng suaminya.
“Bentar lagi, aku belum puas bermain sama mereka bertiga,” balas Dimas ia kembali duduk di taman depan mengendong baby Haikal.
“Eh, Dim … tumben belum berangkat jam segini?’’ Tanya Bunda Yani.
“Bentar lagi, masih ingin bermain sama mereka bertiga”
“Nanti malam kan masih bisa, sudah sana, berikan sama bunda cucuku,” ujar Bu Yani.
Saat ingin di serahkan sama neneknya Haikal menangis kelenger, ia tidak mau melepaskan kerah baju ayahnya, saat adiknya menangis Amina malah ikut menangis ia memegang kaki Dimas.
“Eh, sicantik nenek malah ikut menangis, sini sama nenek,” ujar Bu Yani ia merentangkan tangannya.
Tetapi anak cantik berambut ikal itu menolak, ia masih memegang satu kaki Dimas dan satu tangannya memegang botol susu.
“Mina, kenapa Sa?” Tanya Bu Yani.
“Tidak tau Bun, dari tadi pagi bangun tidur dia begitu, dia ikuti ayahnya kemana-mana, makanya dari tadi dia belum berangkat di pegangin mulu,” ujar Alisa.
Mereka tidak curiga, Amina memang setiap pagi akan banyak drama setiap kali Alisa dan Dimas berangkat kerja, selalu tidak mau di tinggal.
“Lalu kamu gak kerja Sa?”
“Nanti saja Bun, tunggu Mina tenang, kayaknya badannya juga hangat,” balas Alisa.
Mereka semua mencoba membujuk Amina, tetapi anak perempuan cantik itu menggeleng, ia tidak memperbolehkan Dimas untuk berangkat kerja.
“Eh, kamu lucu bangat sih, kenapa tidak boleh ayahnya kerja?” Bu Yani mengusap kepalanya dengan lembut.
“Mungkin dia masih kurang kali tadi keliling naik motor itu, Yah, coba lagi,” ujar Alisa.
Lagi-lagi Amina meminta, ia minta ikut sama Dimas, kalau kembarannya menangis minta ikut Akmal malah sebaliknya, ia bersikap bodoh amat dia bermain bola sendiri di halaman depan.
Karena Amina tidak mau melepaskan kako Dimas, maka terjadilah pemaksaan. Alisa meminta mengendong paksa Amina, gadis cantik itu menangis sekencang-kencangnya, ia mengeluarkan semua kekuatannya untuk menangis, mendengar suara tangisan, Haikal juga menangis, maka rumah itu penuh dengan suara tangisan dari dua bayi.
Mereka tidak tahu apa yang di lakukan kedua bayi polos itu sebuah pertanda.
__ADS_1
Saat Dimas berangkat ke kerja menggunakan motor, tiba-tiba sebuah mobil menabrak dari belakang, Dimas terluka.
Bersambung