Menikah Dengan Abang Ipar

Menikah Dengan Abang Ipar
Menikah Kembali


__ADS_3

Farel lagi di kampung Alisa menjenguk Alisa dan kedua anaknya, ia sudah bolak balik ke sana untuk menjenguk Alisa. Kali ini ia datang membawa psikolog untuk Alisa, karena ia selalu menolak setiap kali diajak ke dokter jadi Farel membawa psikolog ke rumah.


Saat sedang bermain dengan si kembar Brata menelepon.


“Apa lagi sibuk Farel?”


“Tidak Pak. Ada apa?”


“Dimas sudah siuman,” ujar pria itu melaporkan.


“Alhamdulillah,” ucap Farel ikut senang,


“Itu berkat bantuanmu Farel, kalau kamu tidak membawa dokter dari Jepang itu mungkin ampai sekarang Dimas masih koma,” pungkas Brata.


“Tidak Pak, aku hanya ingin membalas kebaikan yang diberikan Dimas dia seperti itu karena saya meminta dia menikah dengan Alisa,” ujar Farel.


“Farel ….” Barata menggantung kalimatnya.


“Ya Pak … kenapa?”


“Kamu harus menikahi Alisa kembali.”


“Apa? A-ku belum memikirkan ke situ pak, Aku hanya ingin semua orang selamat. Alisa juga mengalami depresi,” tutur Farel. Lelaki tampan itu kaget saat Brata meminta menikah dengan Alisa lagi.


“Mungkin kamu merasa aneh karena baru bercerai tapi sudah menikah lagi. Tapi Alisa sangat mencintaimu.”


“Aku bukan Farel lagi Pak saat ini.”


“Wajahmu kan hanya karet, kamu bisa melepaskan itu dan kasih tahu Lisa yang sebenarnya. Aku yakin dia tidak akan marah. Kamu tidak ada niat mempermainkan pernikahan kalian, tapi kamu melakukan itu demi menyelamatkan keluargamu. Aku tahu perjuanganmu,” ujar Brata.


“Aku tidak tahu harus mengatakan apa sama Dimas,” ujar Farel.


“Jangan merasa bersalah. Ibu Dimas yang memaksa mereka bercerai itu bukan salahmu dan … Ibu Dimas ingin … Dila jadi menantu mereka aku tidak bisa melarang anak nakal itu,” ujar Brata dengan suara kecil.


“Dila … putri Bapak?”


“Ya. Dia sudah lama tergila-gila dengan Dimas.”


“Oh baiklah, Aku mengerti sekarang,” ujar Farel.


Farel paham kenapa Brata mendukung dirinya menikah dengan Alisa lagi, karena itulah yang terbaik untuk semua orang. Dimas memang akan terluka untuk kedua kalinya, tapi itulah yang terbaik.


“Ya, lakukan yang terbaik Farel, aku percaya padamu,” ujar Brata.


 Farel duduk di teras rumah memikirkan kembali ucapan Barata.


Tidak lama kemudian ayah dan Ibu Alisa keluar dari rumah duduk di samping Farel.


“Nak Diego apa bapak sama Ibu boleh bicara?” tanya lelaki paru baya itu dengan raut wajah sedih.

__ADS_1


“Ya Pak ada apa?”


“Apa Pak Diego sudah menikah?”


Perasaan pak polisi tampan itu langsung tidak enak, ia berpikir kedua orang tua Alisa melarangnya datang menemui anak-anaknya.


“Sudah Pak, tapi sudah meninggal,” jawab Farel pelan.


“Oh, baiklah.” Ayah Alisa menarik napas lega.


“Kenapa Pak?”


“Setidaknya tidak ada wanita lain yang marah jika kamu datang ke sini Nak.”


“Tidak ada yang marah Pak.”


“Baiklah begi Nak Diego … maukah kamu menikah dengan Alisa?”


Dug!


Jantung Farel berdegup keras saat bapak mertuanya melamar dirinya secara langsung untuk jadi menantunya kembali.


“Kenapa Pak?”


“Aku ingin kamu menyelamatkan hidup Alisa Nak, bawa dia dari sini. Kalau kamu hanya datang ke sini orang-orang akan bergosip lagi tentang dirinya,”


“Lalu apa yang akan aku lakukan Pak. Nikahin dia dan bawa dia dari rumah ini.”


“Dia pasti mau, bapak akan bicara padanya.”


“Baiklah, saya akan memikirkannya Pak.”


“Kalau bisa secepatnya Nak … tolonglah.”


“Kenapa Bu?”


“Tetangga sebelah minggu depan akan hajatan menikahkan putrinya Alisa akan semaki depresi …”


“Baiklah Bu, mari kita lakukan pernikahan secepatnya. Aku berharap ini yang terbaik, saya akan laporkan ke atasan saya dulu untuk izin menikah,” ujar Farel.


Mendengar pernikahannya akan tercatat di kesatuannya, kedua orang Alisa merasa lega, setidaknya pernikahan putri mereka akan tercatat di negara.


Saat diminta menikah sama ayahnya Alisa tidak menolak, ia hanya diam bagai mayat hidup, tidak membantah apapun yang dikatakan orang tuanya.


“Diego sangat sayang sama si kembar Nak, itu pertimbangan ayah.”


“Baiklah,” jawab Alisa.


Kali ini Ibu Alisa tidak berani bicara ia hanya diam membiarkan Ayah Alisa yang bicara.

__ADS_1


“Sa, apa kamu percaya sama ayah?” tanya lelaki itu dengan tatapan mendung.


“Aku percaya Yah.”


“Pihak pengurus desa mendatangi ayah beberapa hari yang lalu, mereka mempertanyakan hubungan Alisa dan Farel, karena pak polisi itu sering datang dan menginap di rumah Alisa. Padahal ia sering datang dengan Rizky adik laki-laki Alisa tetapi tetangga Alisa merasa sirik dan melaporkan pada pengurus. Itulah sebabnya  bertanya pada Farel apakah Farel bersedia menikah dengan Alisa ternyata pria yang sering menolong keluarganya tersebut bersedia menikah dengan putrinya. Mereka tidak tahu lelaki yang mereka lamar itulah Farel ayah si kembar.


               *


“Farel untuk menikah dengan Alisa lagi, kamu harus menikah dulu lalu bercerai. Baru boleh menikah dengan Alisa, begitulah syarat kalau ingin balikan lagi dengan mantan istri,” ujar Brata.


“Tapi Aku kan bukan Farel Pak Aku Diego,” bantah Farel.


“Nanti saat sama Alisa kamu tidak akan selamanya jadi Diego, Kamu akan kembali pada wujud aslimu sebagai Farel. Sudah jangan membantah dari pada ada masalah nantinya kamu datang ke rumahku kita atur di sana, tidak ada malah saya bisa atus semuanya,” ucap Brata.


“Baik Pak.”


Farel melakukan semua yang di katakan Brata, semuanya beres. Ia juga ikut pulang ke kampung Alisa bertindak sebagai orang tua Farel dan pernikahan  secara polisi berlangsung. Walau Alisa hanya diam tidak mengatakan apa-apa, tapi orang tua Alisa sangat bahagia karena Alisa menikah dengan layak bahkan menikah dengan meriah di kampung Alisa.


Seno atasan Farel juga datang ia melakukan penjagaan ketat di sepanjang pernikahan Farel.


Setelah menikah dengan Alisa besok harinya ia meminta izin untuk memboyong keluarganya.


“Bawa Alisa saja Nak, si kembar biar Ibu yang urus,” ujar Juminten


Tentu saja Farel menolak, karena kedua anak itulah ia punya semangat hidup selama ini.


“Tidak Bu, mereka berdua anak-anakku,” ujar Farel.


“Tapi ibu tidak ingin menganggu bulan madu kalian Nak.”


“Tidak akan menganggu Bu. Ibu sama Bapak ikut saja sama kami liburan, kita hanya liburan saja tidak akan ada apa-apa. Aku akan membiarkan Alisa tenang,” ujar Farel.


Orang tua Alisa sangat terharu dengan perhatian Farel.


“Ibu jadi terharu Nak, tapi Ibu tidak bisa ikut sebentar lagi kami akan panen,” ujar Juminten.


“Ya Bapak juga tidak bisa ikut punggung bapak sakit.”


“Oh tunggu sebentar aku lupa.” Farel masuk ke kamar ia membawa kursi pijit untuk ayah mertuanya.


“Ini apa Nak?”


“Saya meminta anak buahku kemarin membawa kursi pijat ini untuk Bapak dan Ibu, kalau lagi capek pulang dari sawah, Bapak duduk di sini akan mendapat pijatan di punggung sama pundak,” ujar Farel. Ia menarik tangan ayah mertuanya untuk mencoba kursi tersebut lalu menyalahkannya.


Wajah ayah Alisa terlihat sangat bahagia sekaligus terharu saat mendapat hadiah kursi pijat dari menantunya, ia tertawa bahagia, mereka berdua bahkan ganti-gantian di pijat.


“Wah ini sangat enak Nak,” ujar lelaki itu ia tertawa sembari mengusap sudut matanya.


Melihat ayahnya begitu bahagia, tiba-tiba raut wajah Alisa berubah, ia menoleh sang suami dengan diam-diam, selama ini ia selalu acuh pada Diego tapi kali ini perlakuan baik Farel pada ayah mertuanya membuat Alisa merasa tersentuh.

__ADS_1


 Bersambung.


__ADS_2