Menikah Dengan Abang Ipar

Menikah Dengan Abang Ipar
Sulitnya Melawan Penguasa


__ADS_3

Uang, Pemilik kekuasaan akan selalu, lebih di dengar, hak itu dirasakan Farel.


Dalam persidangan Kali ini, Farel semakin mendapat banyak tuduhan, bukan hanya di terima dari dr. Faisal dari rekan kerja.


Farel terlihat sangat tenang, karena ia tahu kalau ia akan mendapat banyak tekanan, karena kasus yang ingin ia bongkar, kasus besar.


Setelah pembacaan tuduhan bertubi-tubi pada Farel selesai, lelaki berwajah tampan tersebut sudah pasrah kalau  harus di penjara dengan waktu yang lama, hanya satu yang ia inginkan tidak ada yang menganggu keluarganya. Karena itulah ia menolak Alisa datang.


Saat sedang duduk diam dan hakim meminta  kesempatan pada Farel dan kuasa hukumnya untuk membela diri atas tuntutan yang ditujukan padanya, Farel sudah menggeleng dengan lemah, ia sudah lelah, jadi, meminta pengacaranya mengatakan tidak ada.


Tiba-tiba dari bangku Alisa mengangkat tangannya pada  pengacara.


“Terimakasih yang mulia, telah memberi kami kesempatan untuk membela diri, izinkan saya menunjuk seseorang yang akan  bersaksi,” ucap pengacara tersebut.


“Persilahkan  ….!”


Alisa maju ke depan, mata Farel dan Faisal sama-sama menatap kaget.


‘Sa, apa yang kamu lakukan, aku sudah bilang, jangan datang ke sini’ Farel membatin menatap Alisa dengan khawatir.


Alisa menceritakan semuanya tentang kejadian saat di jalan, di mana saat itu Farel menurunkannya di tol, ia berharap kebenaran yang ia ucapkan, membuka mata para penuntut suaminya.


“Apa benar saudara Pak Farel melakukan pemukulan?”


“Dari kami menikah sampai saat ini, suami saya tidak pernah melakukan pemukulan pada saya”


Faisal merasa sangat marah mendengar kesaksian Alisa, tatapan semua orang mulai melihat ke arah Faisal dengan tatapan aneh, lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu keluar dari ruang sidang, ia menunggu Alisa keluar dari ruang sidang.


Setelah selesai sidang Alisa menghampiri Farel dan memeluk suaminya dengan erat, banyak polisi yang saling melihat dengan bingung, karena sebagian polisi berpikir kasus Farel tentang kekerasan dalam rumah tangga.


“Jika benar dia melakukan kekerasan rumah tangga, tidak mungkin istrinya membela seperti itu,” bisik seorang polisi sama rekannya.


“Ada kasus besar di balik itu,” bisik rekannya lagi.


“Sebenarnya ini tidak ada adil, ketika ada polisi jujur seperti Pak Farel, dia malah di jebloskan penjara, maka di dunia, akan mati orang -orang jujur,” balas rekannya lagi.

__ADS_1


Apa yang mereka bicarakan ternyata di dengar Dimas, ia menatap  Alisa yang memeluk tubuh suaminya, maka di sini iman Dimas kembali diuji, apa ia juga membantu orang berusaha menegakkan kejujuran atau membiarkannya di penjara, karena wanita yang ia cintai.


Dimas merasakan kepalanya sangat pusing memilih, ingin rasanya ia membawa Alisa kabur dan menjauh dari sana.


 “Sa, kenapa kamu datang kesini?” Tanya Farel dengan sangat khawatir.


“Aku tidak akan membiarkan kamu di penjara, hanya karena kamu ingin mengungkap kasus kejahatan,” ujar Alisa.


“Sttt … jangan katakan seperti itu di sini, ada banyak mata-mata di sini,” bisik Farel, ia di beri kesempatan padanya untuk bertemu Alisa.


“Apa kamu bisa bebas Mas?” Tanya Alisa penuh harap.


“Aku tidak berharap banyak, kamu lihat lelaki yang berdiri di sana? Dia abang Faisal, Jangan melihatnya …  Dia seorang pejabat di kepolisian, apa menurutmu dia akan melepaskan ku?”


“Lalu kami harus bagaimana?”


“Bertahanlah, aku akan berusaha,” ujar Farel.


“Apa kamu merindukan mereka berdua?”


“Sangat … aku sangat merindukan mereka”


“Maafkan ayahmu ini ya Nak,” ujar Farel mengendong baby Akmal  memeluknya bayi gemuk itu dengan penuh sayang.


“Mas … di sangat mirip denganmu,  lihat ini.” Alisa memperlihatkan foto keduanya, foto Farel saat ia masih  bayi dan foto Akmal saat sedang duduk.


“Ya, ibu yang memberikannya”


“Ibu …?” Wajah Farel menahan sedih saat  mendengar nama ibunya, ia bahkan tidak bisa mendengar kabar tentang ibunya.


“Jangan khawatir Mas … ibu  baik-baik saja, aku selalu menelepon suster setiap  hari”


“Terimakasih Sa, terimakasih karena sudah memaafkan ibu … Tapi Sa, aku mau minta tolong sama kamu”


“Apa Mas?”

__ADS_1


“Aku sudah meminta orang untuk memasukkan ibu ke pantai jompo”


“Tapi kenapa Mas … aku sudah membayar perawat untuk menjaga ibu”


“Kamu dan aku dalam situasi sulit saat ini, tidak bisa menjaga ibu Sa, untuk sementara biarkan dia sana, kalau sudah situasinya baik kita akan menjemputnya nanti”


Alisa sebenarnya sangat kasihan, kalau orang tua itu akan diungsikan ke panti jompo, tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena Alisa juga sedang bersembunyi. Farel berpikir tidak mungkin bisa melindungi ibu dan istrinya, karena ia tahu kalau ia membongkar  semua kejahatan  rekan kerjanya dan atasannya ia yakin keluarganya yang akan taruhannya, tadinya Farel tidak melakukan semua itu, tetapi ia tidak tahan dengan perlakuan jahat mereka, saat ia dalam sel.


“Pulanglah, waktuku sudah habis, lakukan apa dikatakan Dimas, aku percaya padanya dia tidak akan menyakitimu,” ujar Farel. Ia tidak punya  pilihan lin selain menyerahkan istrinya pada mantan kekasihnya.


“Apa Mas akan baik-baik saja dalam penjara nanti?”


“Ya, mereka tidak akan macam-macam lagi, karena Pak Dimas sudah menyewa satu pengacara untukku”


“Alhamdulilah … senang mendengarnya Mas”


“Maka itu Sa, untuk sementara waktu, kamu cuti dulu”


“Baik Mas”


“Jangan pikirkan ibu … nanti dia akan dibawa panti jompo , aku juga sudah meminta pengacara untuk menjual rumah dan mobil dan toko almarhum kakakmu”


Sebenarnya Alisa sangat sedih mendengar tokoh dan rumah milik Ratna almarhum kakaknya di jual, tetapi ia tahu Farel melakukan itu semua karena keadaan mendesak.


“Aku juga masih punya tabungan Mas”


“Sa …, ini aku lakukan bukan karena kekurangan uang, tapi aku tidak ingin terlibat saat mereka diperiksa nanti, ini, pegang semua uangnya ada di sini kamu yang pegang … jik nanti aku tidak bisa bebas, pergilah keluar negeri, aku punya apartemen di sana. Bang Bona akan membantumu,” bisik Farel, menyerahkan kartu miliknya.


Alisa menatap dalam mata suaminya, bagaimanapun Farel menyembunyikan kekhawatirannya , ia bisa membaca dengan jelas kalau Farel, menyembunyikan hal besar di sana.


‘Apa benar … suamiku tidak akan mereka lepaskan?’


“Apa mereka tidak akan melepaskan mu, walau semua bukti sudah di depan mata, aku sudah bersaksi kalau kamu tidak pernah memukuliku, lalu, mereka menahan mu karena apa Mas,” bisik Alisa dengan pundak bergetar.


“Sa, kamu harus kuat, jangan tunjukkan kelemahan mu pada mereka,” ujar Farel memeluk tubuh istrinya lagi.

__ADS_1


Lalu ia melepaskan pelukannya dan membelai si kembar dan Farel masuk ke dalam selnya, menatap punggung suaminya yang  berjalan meninggalkannya, ia merasakan dadanya yang sangat sesak, akhirnya ia tahu alasan suaminya menolaknya memberi kesaksian, karena Farel sudah tahu, apapun yang akan ia lakukan ia akan tetap dituduh salah, karena yang ia lawan orang-orang yang berkuasa salah satunya kakak laki-laki Faisal.


Bersambung ...


__ADS_2