
Dalam rumah sakit Dimas masih terbaring tidak sadarkan diri, walau ia merasa sangat terpukul dan shock ia, masih memikirkan anak-anaknya.
“Bagaimana dengan anak-anakku Pak,? mereka ada di rumah hanya di jaga suster”
“Saya sudah meminta anak buah saya, untuk mengawasinya, tenanglah”
“Saya ingin pulang, saya akan menjaga anak- anak saya,” ujar Alisa ia ingin keluar.
“Bu, tenanglah, saya takut mereka menunggumu di bawah”
“Sampai kapan penjahat itu akan mengincar hidup saya, kenapa mereka melakukan ini lagi,” lirih Alisa sedih.
“Apa maksudnya, apa hal seperti ini sudah pernah terjadi?” Bu Yani menatap tajam Alisa.
“Bun, tenanglah, nanti kita akan bicarakan”
“Bagaimana aku mau tenang Yah, anak kita terluka parah di lukai orang!” teriak Bu Yani.
Saat Farel sedang menelepon, Bu Yani menghampiri seorang polisi, ia bertanya tentang kejadian yang sebenarnya, saat Farel menyembunyikan kejadian yang sebenarnya sama orang tua Dimas, ternyata polisi bawahan Farel malah menceritakan semuanya dan menunjukkan bukti teror yang di lakukan pada Dimas belakangan ini.
“Jadi ini semua karena kamu Alisa!”
“Bun, apa maksudnya?” Alisa ikut terkejut.
Orang yang mencoba menghabisi anakku , orang yang membunuh suami pertamamu , ingin membunuh anakku “
“Bun, jangan berkata seperti,” tutur Alisa dengan wajah sedih, ia tidak ingin Farel mantan suaminya di sangkut pautkan dengan kejadian ini.
“Bunda, berkata benar Alisa, musuh masa lalumu mengincar keselamatan anakku”
“Astagfirullah Bun, tolong jangan membawa-bawa nama Mas Farel, lagi biarkan dia tenang,” ujar Alisa mengusap ujung matanya.
Farel yang baru habis menelepon, ia masuk kembali dan mendengar semuanya, ia mengepal tangannya dengan kuat saat Alisa mengusap air matanya.
“Alisa, harusnya kamu tidak membawa anakku dalam bahaya,” pungkas wanita itu lagi.
Tiba-tiba ia sangat berubah jadi benci sama Alisa saat melihat anak terluka parah karenanya.
“Bun, itu bukan salah Alisa, itu hanya takdir, percayalah Dimas akan baik-baik saja,” ujar suaminya.
“Aku juga sedih Bun, melihat Dimas terbaring begini”
“Kalau anakku tidak menikah denganmu , dia tidak akan terluka parah seperti ini, ini semua karena ulahmu, kalau anakku sampai kenapa-kenapa aku akan menuntut mu!” Teriaknya dengan marah.
“Alisa kamu pulang saja jaga anak-anak, nanti akan ayah kabarin kalau Dimas sudah sadar,” ujar ayah mertuanya, meminta Alisa pulang untuk menjaga anak-anak.
“Baik Yah.” Alisa menurut, ia tidak mau jadi bahan perhatian di ruangan itu karena di teriakin ibu mertuanya.
“Saya akan mengantar ibu pulang, bahaya kalau ibu pulang sendiri,” ujar Farel.
Otak Alisa seolah-olah tidak bisa berpikir lagi, ia setuju dan apapun yang dikatakan Farel, ia setuju, pak Polisi tampan itu membelikannya sepotong roti isi kacang ijo, ia memakan tanpa protes. Ia bahkan tidak menyadari kalau Farel tahu roti isi kacang ijo kesukaannya dan memberi sebotol minuman botol rasa jeruk tidak dingin.
Alisa bagai robot, saat ia diminta memakan roti tersebut ia memakannya, sesekali mengusap buliran air yang jatuh dari matanya.
__ADS_1
“Jangan menangis sambil makan nanti kamu keselek,’ ujar Farel, ia menghidupkan mesin mobilnya.
Alisa sekilas menatap wajahnya karena suaranya , sangat mirip dengan suara Farel.
“Kita mau ke mana?”
“Saya akan membawamu bertemu anak-anakmu, orang-orangku menyembunyikannya di apartemenku, jangan khawatir di sana aman,” pungkas Farel.
“Tapi siapa orang yang mencoba mencelakai suamiku, Pak”
“Bu, polisi dan tentara banyak musuh, kita tidak tahu siapa yang melakukannya”
“Saya, baru ingat, aku pernah melihat orang yang mengikuti ku”
“Apa kamu yakin?”
“Katakan, seperti apa orangnya?”
“Mobil minibus berwarna silver,” ujar Alisa.
“Dan, mobil itulah yang menabrak suamimu pagi ini”
“Apa? Jadi kecurigaanku benar!” Ia menatap Farel dengan wajah serius.
“Ya, mereka orang yang sama, dari mana Bapak tau?”
“Pak Dimas sebenarnya sudah melaporkan ini padaku pagi ini kami sudah janjian akan membahas ini, tapi sayang mereka sudah bertindak duluan”
Farel diam, sebenarnya ia tidak ingin mengungkit tentang lelaki jahat itu, tetapi ia tidak tau, apa ini ada hubungannya dengan Faisal, atau ini perbuatan polisi yang dapat sangsi di pecat
‘Harusnya Dimas tidak usah ikut jadi saksi dalam kasus itu’ Farel membatin.
“Bapak tidak tau tentang Faisal?’ tanya Alisa.
‘Bukannya tidak tau Alisa, hanya tidak ingin menyebut dan mengingat wajah dan nama iblis jahat itu, aku tidak tau apa ini perbuatanya apa perbuatan yang lain?’
Farel masih diam, sikap introvet Farel sebagai ciri khas pria itu masih melekat, ia hanya banyak diam saat Alisa menceritakan siapa Faisal.
“Aku akan menemuinya di kantor polisi,” ujar Alisa dengan pundak naik turun.
“Untuk apa?” tanya Farel, matanya terfokus ke jalanan.
“Aku ingin tanya apa dia yang melakukannya”
“Lalu?” tanya Farel
“Lalu aku akan tanyakan padanya, apa maunya”
“Lalu ?”
“Kok bapak tanya lalu, lalu terus …? hanya ingin dia berhenti menggangu hidupku dan rumah tanggaku,” ujar Alisa ia menatap jengkel pada lelaki yang berpakaian seragam polisi tersebut.
“Apa kamu pikir seorang penjahat akan mengakui kejahatannya? Kalau semua orang mengaku, penjara akan penuh Bu Alisa”
__ADS_1
“Lalu apa yang harus aku lakukan untuk melindungi keluargaku dan anak-anakku?”
“Bersembunyi dan menjauh”
‘Kenapa gaya bicara mirip Farel’ Alisa melirik wajah Farel.
Lalu, ia menggeleng pelan, ia tidak yakin, karena wajah keduanya jauh berbeda Farel yang ia lihat saat ini lelaki tampan ber-usia sekitar dua puluh enam tahun.
Sementara Farel umur tiga puluh lima tahun, jadi Alisa tidak menyadari.
Alisa diam ia sibuk dengan pikirannya, Farel juga diam, ia sangat menjaga sikapnya pada Alisa karena ia sadar Alisa istri dari sahabatnya. Tidak berapa lama, mereka akhirnya tiba di apartemen Farel.
Ia berjalan duluan, melihat apartemen tersebut Alisa terdiam.
“Kenapa?”
“Apa anak-anak saya ada di sini?”
“Apa ibu takut?”
“Ya”
“Baiklah saya paham”
Farel menelepon anak buahnya yang ia minta menjaga mereka.
“Ya Pak”
“Kasih pada Desi pengasuh anak-anak itu”
“Baik Pak”
“Ini, bicaralah sama suster”
Setelah bicara dengan Desi barulah Alisa percaya, mengikuti Farel masuk Lift, dalam lift pun Farel menjaga jarak dengan Alisa, tetapi karena wanita itu itu penasaran, ia menyisik tubuh mantan suaminya dari bawah sampai ke atas.
‘Pasti, dia sudah curiga dengan suara’ Farel sadar kalau dirinya dilihatin.
“Uhmmm!”
“Apa bapak sudah menikah?” tanya Alisa.
“Kenapa Bu?”
Jangan khawatir, aku hanya ingin bersilaturahmi sama istri Bapak, jika sudah, jaman sekarang kita tidak bisa percaya sama sembarangan orang, walau pun itu penegak hukum sekalipun,” ujar Alisa
“Kita sudah sampai Bu,” jawab Farel, ia selamat dari pertanyaan Alisa karena kebetulan lift terbuka.
Mereka masuk ke apartemen milik Farel di mana anak-anaknya di sembunyikan.
Apakah Alisa akan mengenal Farel?”
Bersambung.
__ADS_1