Menikah Dengan Abang Ipar

Menikah Dengan Abang Ipar
Dulu Di Tolak Sekarang Ingin Di Rebut


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, si kembar kini hidup sudah lebih baik, hidupnya di Kelilingi orang-orang yang menyayangi mereka.


Tinggal di rumah yang baru di beli Alisa, kedua orang tuanya akhirnya luluh dan mau tinggal bersama Alisa untuk membantu merawat si kembar.


Awalnya kedua orang itu menolak untuk tinggal di ibukota, mereka lebih senang di hidup di desa untuk bertani.


“Ibu, Ayah, kasihan Desi kewalahan jaga si kembar, pengasuh mereka yang kemarin sudah pulang kampung jadi tidak bekerja lagi di sini. Ibu saja sama Ayah di sini,” bujuk Alisa saat ibunya meminta pulang.


“Baiklah ayah dan ibu akan di sini untuk mereka.” Ayah Alisa menggendong Akmal mengajak bermain.


Saat kedua orang tuanya dan adik lelakinya bersedia tinggal di rumah Alisa, ia merasa sangat tenang karena tinggal bersama orang -orang yang mencintainya.


Alisa sangat bersyukur karena bisa berkumpul dengan keluarganya . Walau ia akan menyandang status janda sebentar lagi. Saat Farel menalak dirinya ia berpikir ia sudah tidak punya hubungan lagi dengan ayah anak-anaknya.


Walau agama belum mengetuk palu untuk mereka berdua.


Alisa berangkat kerja setelah hampir dua minggu mengambil cuti.


“Ibu berangkat kerja ya sayang, kalian berdua baik-baik sama nenek , iya,” ujar Alisa mencium kedua pipi bayi gembul yang mengemaskan itu.


“Bu, hati-hati, aku yakin Farel tidak akan tinggal diam, setelah ia tahu kalau mereka anak-anaknya,” ujar Alisa.


“Baik Nak, ayah mengerti,” ujar lelaki paru baya itu menoleh kanan kiri memastikan tidak ada orang lain yang mengawasi mereka lagi.


Karena dua hari yang lalu saat Mario pulang dari pekerjaan, ia melihat dua orang berpakaian hitam-hitam mengawasi rumah sang kakak. Ia mengejarnya tetapi mereka melarikan diri, Alisa yakin itu orang-orang Farel karena dari mobil yang mereka gunakan memakai plat merah.


Tetapi Alisa tidak pernah taku karena ia punya sanga adik yang akan menjaga dirinya dan kedua kembar. Adik Alisa seorang anggota polisi.


Adik Alisa menjada semua keluarganya dengan baik, ia menempatkan dirinya sebagai pelindung.


“Ibu jangan keluar-keluar dari gerbang , jika ada yang bertamu, jangan di izinkan masuk,” ujar Mario, lalu ia menghidupkan mesin motor.


“Baiklah Nak, jangan khawatir ibu dan ayah akan hati-hati, berangkatlah, hati-hati bonceng Mbak mu,” pinta sang ayah mengingatkan putranya.

__ADS_1


Alisa serasa mendapat bodyguard saat ini, sejak sang adik bertugas di Jakarta. Pulang kerja di jemput saat berangkat kerja diantar, kadang untuk makan selalu di ingatkan. Alisa terkadang tersenyum sendiri saat adik selalu mengingatkannya untuk makan, mengingatkannya pada mantan kekasihnya Dimas.


Motor Mario berhenti disalah rumah sakit milik pemerintah, di sinilah sang kakak berkarier.


“Mbak, nanti aku pulang malam, tidak usaha tunggu aku iya, langsung pulang saja nanti, aku pesan Go-Jek sama mbak. Jangan naik angkutan umum apalagi jalan kaki,” ucap Mario.


Alisa tersenyum gemas, ia menyentuh hidung adik lelakinya.


“Iya Bos,” ujar Alisa bercanda, ia tidak pernah menduga adik bungsunya kini sudah dewasa dan sudah menjaganya layaknya bodyguard.


“Aku serius loh Mbak, jangan naik angkutan umum, bahaya untuk wanita secantik Mbak naik angkutan umum”


“Baik, baiklah adikku , sayang,” ucap Alisa lagi-lagi memencet hidung Mario, membuat muka lelaki berkulit kusam itu jadi cemberut karena Alisa selalu memperlakukannya seperti saat SD dulu.


Dengan wajah cemberut Mario menghidupkan kembali mesin motornya dan meninggalkan Alisa yang tersenyum kecil melihat wajah kesal adiknya.


Saat ia melangkah masuk ke dalam gedung kakinya terhenti, ada Farel berdiri di depannya. Tidak bisa dipungkiri Alisa merasa takut saat melihat lelaki yang masih berstatus suami untuknya. Alisa berjalan ingin melewati, niatnya ia tidak perlu menghiraukan farel. Namun Farel menghampirinya.


“Ayo kita bicara dulu,” ucap Farel dengan suara tegas.


“Saya ada janji dengan pasien, dua puluh menit lagi kita bicara di sini saja,’ ucap Alisa dengan sikap waspada, matanya menatap Farel dengan takut dan ia juga membuat jarak tubuhnya dari suaminya.


“Tenanglah Alisa, aku tidak akan memakan mu,” ujar Farel melihat Alisa membuat jarak darinya.


“Iya Mas Farel mau bicara apa, saya masuk ini,” ujar Alisa memperlakukan suaminya seperti orang lain.


“Ayo kita cari tempat lain Alisa, kita tidak mungkin bicara di sini.”


“Baiklah.” Wanita berwajah cantik itu mengajak Farel duduk di taman rumah sakit. “Baiklah, katakan ada apa Mas?”


“Aku ingin anak-anakku kembali, aku ayah mereka.”


Apa yang di pikirkan Alisa terjadi juga, ia akan melakukan itu jika ia tahu si kembar hasil dari benihnya sendiri. Tetapi Alisa tidak ingin melakukan kesalahan dan tidak ingin memancing kemarahan Farel juga.

__ADS_1


“Nanti bicara dengan pengacara saja Mas Farel,” ujar alisa hati-hati.


“Untuk apa aku bicara pada pengacara untuk anak-anakku!” teriaknya dengan emosi.


Karena aku ibu mereka saat ini, menurut hukum ibu yang di bawah umur, hak asuh mereka jatuh ke tangan ibu, karena kita saat ini lagi proses perceraian.”


“Aku tidak akan menceraikan kamu Alisa, katakan itu pada kedua orang tuamu. Katakan pada Ibu kalau kedua putri y berharga mereka akan tetap jadi istriku selamanya.”


“ Baiklah kalau mas maunya seperti itu, nanti kita bicarakan lagi,” ujar Alisa mencoba bersikap tenang. Karena dengan bersikap tenanglah ia bisa selamat dari Farel.


“Aku akan menjemput pulang bersama anak-anak,” ujar Farel, tetapi saat ia ingin mendekat. Alisa mundur, sikap Alisa yang menjauhinya membuat marah.


“Kamu masih istriku! Kenapa kamu bersikap seolah-olah kamu jijik melihat ku. Haaa …!” teriakan keras itu, mengundang perhatian orang-orang sekitar.


"Mas, bukan seperti itu, saya hanya ingin buru-buru bekerja, kalau mas ingin tahu kabar anak-anak nanti datanglah ke rumah untuk menemui mereka," ujar Alisa terpaksa berbohong aga dia bisa lepas.


"Apa kamu yakin? apa orang tuamu, akan mengizinkan?"


"Mereka anak-anakmu Mas, tenanglah."


Farel mengangguk pelan.


"Kalau begitu aku akan nanti ke rumahmu."


"Iya datanglah Mas."


Farel meninggalkan Alisa,


"Dulu kamu tolak dan kamu benci, lalu sekarang kamu ingin memilikinya? tidak akan aku biarkan. Aku tidak biarkan kamu menjadi ayah mereka.


Bersambung...


Bantu like dan komen si setiap bab nya ya kakak,biar semakin semangat menulisnya dan bisa up date setiap hari,mudah mudahan kaka suka dan terhibur dengan karya saya.

__ADS_1


Baca juga karya saya yang lain ya kakak


Terima kasih kakak


__ADS_2