Menikah Dengan Abang Ipar

Menikah Dengan Abang Ipar
Pelukan Hangat Dari Istriku


__ADS_3

Dimas membawa Alisa ke sebuah klinik dua puluh empat jam, untuk mengobati kakinya yang terluka.


“Sa, gunakan ranjang rumah sakit untuk kamu istirahat malam ini, besok pagi kita akan ke kantor polisi”


“Tapi aku, kan, tidak apa-apa Mas,” bisik Alisa.


“Sudah ... kamu istirahat saja, aku tadi sudah bilang kalau kamu juga pusing, dengan begitu, kita tidak perlu mencari hotel untuk tidur”


“Lalu Mas di mana?”


“Aku akan tunggu kamu di bangku di luar, tidur di kursi sudah biasa untuk kami”


Dimas berpikir cerdas dan cerdik, benar juga pemikirannya, kalau mereke keluar dari rumah sakit sudah pasti akan mencari penginapan atau hotel, selain mengeluarkan biaya yang lebih , ia juga menjaga  nama baik Alisa, ia tidak ingin ada anggapan orang, kalau ia membawa istri orang ke hotel, walaupun mereka akan beda kamar nantinya, tetapi Dimas tetap tidak ingin orang lain memandang rendah Alisa.


“Baiklah,” jawab Alisa merasa tidak enak.


Dimas memilih tidur diruang  tunggu klinik,  beruntung malam itu hanya mereka yang jadi pasien klinik tersebut, jadi, Dimas tidak menganggu kalau harus tidur di kursi tunggu.


                  *


Saat pagi tiba Alisa sudah bangun, seperti kebiasaannya setiap pagi, setelah bangun dan menunaikan ibadahnya, Alisa duduk  menunggu  Dimas bangun, perawat yang berjaga malam itu mengobrol dengan Alisa setelah saling cerita, perawat yang terlihat masih mudah itu meminjamkan pakaiannya pada Alisa, karena memang, penampilan Alisa sangat berantakan, pakaiannya penuh dengan lumpur saat mereka bersembunyi dari penjahat malam itu.


“Mba, mandi saja, jangan khawatir, itu masih baru, saya belum menggunakannya,” ujar wanita itu memberikan pakaian bagian dalam juga untuk Alisa.


“Makasih banyak ya Sus, saya memang sangat membutuhkannya, dari tadi malam saya sudah merasa tidak nyaman dengan pakaian saya yang tidak diganti”


“Ya, pakai saja Mba, kebetulan saya tinggal di gedung belakang dengan beberapa teman saya, kalau mau butuh apa-apa katakan saja”


“MasyaAllah baiknya hati Mba, makasih ya,”ujar Alisa , ia sangat terharu saat ia membutuhkan sesuatu yang ingin ia pakai, ternyata ia mendapatkannya.


Perawat itu meminjamkan banyak hal untuk Alisa, mulai dari peralatan sholat, pakaian ganti, bahkan bagian dalaman.


Dimas ternyata mendengar pembicaraan mereka, hanya saja ia pura-pura tidur.


Setelah selesai mandi sudah berganti pakaian Alisa duduk tidak jauh dari Dimas, ia ingin membangunkan lelaki berbadan tegap tersebut, tetapi ia ragu, jadi Alisa hanya menunggunya dengan gelisah, sesekali ia melirik Dimas yang sedang tidur di kursi, ia melepaskan pakaian loreng-loreng miliknya lalu ia menutup wajahnya dengan pakaian tersebut.


Sebenarnya malam itu, Dimas tidak tidur, ia berjaga sepanjang malam, ia mencari tahu siapa dalang yang ingin menangkap Alisa, sepanjang malam itu, matanya mengawasi laptop di depannya, setelah sholat subuh barulah ia merebahkan tubuhnya di kursi, karena ia tahu jam segitu Alisa biasa sudah bangun.


Tidak ingin Alisa menunggu lama Dimas bangun.


“Selamat pagi”


“Pagi Mas, mau aku pesan kopi dari warung sebelah?”


“Boleh”


Obrolan mereka hanya sebatas begitu, saling menjaga dan tampak sangat canggung satu sama lain. Alisa berdiri dan memesan kopi hitam dengan sedikit gula. Ia bahkan masih sangat hapal kopi kesukaan Dimas, ia juga memesan tahu isi yang baru di goreng, lalu membawa ke dalam klinik.


Melihat semua itu, Dimas hanya bisa menghela napas, ia tahu Alisa masih belum melupakan apa yang makanan kesukaannya dan masih ingat kebiasaannya.


‘Tapi apa artinya semua itu … toh, juga aku tidak bisa memilikinya lagi’ ucap Dimas dalam hati, ia menyeruput kopi pesanan Alisa, mereka berdua hanya diam, jurang pemisah itu kian semakin nyata di depan mata keduanya, kala Alisa ngin menjenguk suaminya.

__ADS_1


Mereka berdua sama-sama sibuk dalam pikiran masing-masing, tetapi anehnya seolah-olah saling mengerti walau tidak saling berucap.


Perawat yang baru datang, yang akan berjaga itu, sampai bingung melihat mereka berdua


“Sebenarnya mereka suami istri atau apa sih, saling perhatian, tapi  … saling diam,” bisik rekannya .


“Sttt … mereka mantan kekasih, mba Alisa sudah cerita denganku”


“Lalu …?”


“Mba Alisanya sudah menikah karena perjodohan”


“Wah … kasihan sekali mereka berdua, aku bisa lihat tatapan bapak tentara itu masih sangat sayang sama wanita itu. Wah … tegar sekali hatinya,” bisik perawat yang baru datang tersebut.


Sayangnya bisik-bisik ke dua perawat itu di dengar Dimas, ia hanya bisa menghela napas panjang, semua orang berpikir kalau ia sangat tegar, tetapi tidak ada yang tahu kalau ia beberapa kali merasa putus karena ditinggal wanita yang dicintai dan kali ini ia juga .... ia diminta berlapang dada untuk mengantar mantan kekasihnya tersebut, pada suaminya.


“Apa kamu sudah siap Sa?” Tanya Dimas memakai sepatu tentara miliknya.


Alisa menarik napas panjang membuangnya perlahan lalu ia berkata ;


“Aku sudah siap Mas”


“Baiklah, ayo kita pergi”


Alisa membayar semua biaya perawatan dan uang tambahan selama mereka menginap di sana.


                       *


Jadi  mereka menunggu di dalam mobil, sebenarnya Alisa merasa serba salah, takut ada orang yang melihat mereka berdua-duaan di dalam mobil.


“Aku tunggu di luar aja ya Mas, aku takut orang salah paham pada kita”


“Sa, sama saja kamu mengundang bahaya sama kamu”


Baru saja ia bicara seperti itu, ternyata orang yang mengikuti mereka malam itu baru keluar dari  dalam.


“Apa, apa Mas …?” Mata Alisa melotot saat Dimas menekan kepalanya untuk menunduk.


“Lelaki yang mengikuti kita tadi malam ada di sini”


“Apa?”


Alisa semakin yakin kalau nyawa  mereka dalam bahaya, ia semakin yakin kalau ia masuk ke kandang singa, karena orang yang mengincarnya menurut Dimas  orang-orang dari dalam.


“Apa kita keluar dari mulut buaya masuk ke kandang macan?” Tanya  Alisa.


“Kamu benar, Sa, apa kamu yakin akan bertemu Farel?”


“Aku ingin melihatnya, aku sangat khawatir padanya”


“Baiklah, berikan benda itu padaku”

__ADS_1


Alisa tidak punya siapa-siapa yang bisa membantunya, jadi, ia menyerahkan  benda yang paling dicari itu pada Dimas.


Setelah dapat izin menjenguk, Alisa masuk ke kamar Farel, matanya kaget melihat penampilan Farel yang sangat hancur


.


“Astaga … Ya Allah Mas”


“Alisa …!?” Farel sangat kaget sekaligus terharu melihat Alisa datang.


Alisa berlari ke pelukan suaminya dengan kaki pincang, ia menangis meraung-raung di pelukan lelaki yang sudah jadi imamnya tersebut.


“Sa … bagaimana kamu bisa sampai di sini. Apa yang terjadi dengan kakimu?”


“Mas … aku tidak tahan lagi, mereka ingin membunuhku,” ujar Alisa memeluk pinggang suami dengan begitu erat, ia meluapkan perasaan yang ia tahan selama beberapa hari ini, ia tidak mau menangis  di hadapan lelaki lain, ia hanya ingin menangis di pelukan suaminya.


Farel memeluknya dan mengusap-usap pucuk kepalanya dengan penuh sayang.


“Jangan menangis sayangku … kamu wanita kuat,” bisik Farel ke kuping Alisa.


Mendengar kata sayang dan mengingat kebersamaannya sama Dimas dari kemarin Alisa semakin menangis, merasa bersalah ia semakin menangis.


Apakah Farel akan marah Jika ia tahu kalau istrinya Bersama mantan kekasihnya?


Bersambung ….


🙏👇👇😘


Kakak Baik mohon bantunya ya, untuk like, vote dan komentar karya ini, kasih hadiah💐☕🍰 juga agar authornya tambah semangat untuk update tiap hari. Terimakasih


..


.


.


.


.


Baca juga karyaku yang lain ya


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (on going)

__ADS_1


Bintang kecil untuk Faila (tamat)


__ADS_2