
Saat sang kakak masuk penjara karena perbuatanya, kini giliran ibu Farel yang berbaring di rumah sakit.
Wanita tua itu mengalami penyakit struk ringan, setelah jatuh pingsan usai persidangan.
Saat sukses dan banyak uang barulah akan dipandang saudara, hal itu terjadi untuk keluarga Farel.
Saat ibunya sehat dan putrinya belum masuk penjara, banyak keluarga yang datang bertamu kerumahnya, baik hanya ingin memantau kehidupan mereka atau untuk meminjam uang.
Namun, setelah ia terbaring di rumah sakit tidak ada keluarga yang datang menjenguk, bahkan adik ibu Farel mendadak menjauh setelah tahu kakaknya masuk rumah sakit dan Dinar ke penjara. Padahal dulu, tante Farel selalu datang ke rumah.
Karena ia yang mengurus usaha toko pakaian milik almarhum Ratna, tetapi, saat ini semua menjauh.
Farel seakan-akan kehilangan semangat untuk hidup, saat ibu berbaring di ranjang rumah sakit dan sang kakak di penjara. Kini ia juga harus diperiksa polisi karena laporan Dr. Faisal.
Disisi lain di rumah Alisa mendengar kabar Dinar di tangkap polisi, mereka semua bersyukur.
“Mampus kamu, rasain!” teriak Desi geram.
Semua orang mensyukuri dan menganggap apa yang dialami keluarga Farel adalah kutukan dan karma dari segala perbuatanya.
Tetapi entah kenapa Alisa merasa kalau Farel ada korban dari ketidakadilan.
Saat semua orang tertawa atas nasip yang mereka alami. Wanita bermata indah itu justru merasakan hal yang sebaliknya. Ia merasa kasihan melihat keluarga suaminya.
*
Keesokan harinya Alisa mendatangi rumah sakit di mana ibu mertuanya di rawat. Hatinya merasa sangat sedih ketika wanita tua itu di rawat tanpa ada satupun keluarga yang mendampingi.
Saat ia datang dan berdiri di sisi ranjang, ibu mertuanya kehilangan berat badan hampir setengah dari berat badan tubuhnya.
“Alisa …?”
“Iya, ini aku Bu,” jawab Alisa duduk di sisi ranjang. Ia melihat makanannya tidak berkurang sedikitpun.
“Mau ngapain?” tanya Ibu mertua dengan suara yang tidak begitu jelas, karena bibirnya miring akibat mengalai struk ringan.
“Ibu makan iya, saya suapi.”
Ibu Farel menangis, ia menggeleng lemah, merasa tidak pantas disuapi menantu yang selama ini ia siksa.
“Tidak apa-apa Bu, ibu harus sehat dan kuat, jika ibu sakit bagaimana dengan Farel, jika ibu kuat mereka juga ikut kuat.”
__ADS_1
“Ibu pantasnya mati Alisa, ibu berdosa, ibu jahat pada kamu, aku seorang monster.”
“Tidak Bu, yang menentukan hidup mati seseorang itu hanya Allah, alangkah baiknya kita memperbaiki diri sebelum Sang Kuasa memanggil kita.”
Wanita tua itu mengangguk dengan air mata yang berlinang. Alisa meminta perawat makanan yang masih baru dan menyuapi ibu mertuanya.
“Sa?” Seorang dokter perempuan berdiri di belakangnya.
“Eh, Mbak Narti.” Alisa menyalim tangan dokter di depannya.
“Siapa kamu?”
“Dia ibu mertua saya Dok.”
“Ha …? kamu sudah menikah, kapan?”
Alisa hanya tersenyum kecil, tangannya terus menjulurkan sendok bubur ke mulut ibu mertuanya.
“Nanti kita bicara iya Dok, saya urus makanan dan obat ibu dulu.”
“Oh, jangan lupa kamu harus cerita padaku, kalau kamu kasih tahu ini ibu mertuamu akan berbeda kasusnya Sa, ibu ini pasienku soalnya.”
“Tolong dirawat iya Dok, ibu saya,” ujar Alisa mengembangkan kedua sudut bibirnya.
Saat Alisa yang memberinya makan, Mertua menghabiskan satu mangkok bubur.
“Ibu minum obat iya.”
“Iya.” Ibunya mengangguk tidak ada bantahan. Tetapi satu tangannya secara tidak sengaja memegang ujung pakaian Alisa, seolah-olah ia tidak mau ditinggalkan sang menantu.
Wajahnya terlihat ketakutan dan kesepian, karena selama ia berbaring di rumah sakit tidak ada satupun keluarga yang menjenguk, hanya Farel yang menelepon pihak rumah sakit, meminta agar ibunya di rawat dengan baik, soal biaya tidak ada masalah. Jadi selama itu, hanya suter yang sesekali menjenguk.
“Alisa … ibu minta maaf iya Nak.”
“Tidak apa Bu, ibu harus sehat.”
“Kamu sangat baik Sa, sama seperti Mbakmu, maafkan aku telah menyakiti kalian berdua, ibu juga tidak tahu, kenapa aku berbuat seperti itu, itu semua berawal dari kecelakaan yang di alami Farel, itulah yang mengubah hidup kami.”
“Kenapa itu bisa mengubah Bu?”
“Seseorang mengirim foto kakakmu bersama pria lain, awalnya aku tidak percaya, tetapi semua jadi begitu nyata, saat ia mengirim hampir setiap Ratna keluar.”
__ADS_1
“Siapa yang mengirim Bu?”tanya Alisa ikut merasa bingung.
Wanita itu menggeleng lemah.
“Ibu tidak tahu nak, dialah yang mencuci otak ibu selama ini, mencemari pikiran ibu dengan kecurigaan dan keraguan pada Ratna, dan akhirnya berujung fitnah, aku percaya dengan gosip yang mereka berikan padaku,” ujar wanita itu, bicara sedikit demi sedikit terdengar sangat jelas.
“Apa ibu punya musuh?” tanya Alisa menatap mata ibu mertua dengan begitu tegas.
Jadi apa yang di katakan sang kakak dalam rekaman videonya benar.
Alisa memutuskan memaafkan sang mertua karena ia mendengar penuturan sang kakak, yang menyebut kalau keluarga mertuanya sengaja di hancurkan oknum yang tidak menyukai Farel dan keluarganya.
Ratna menyebut Ibu mertuanya awalnya dia datang, seorang ibu yang baik dan lemah lembut, rajin sholat, bahkan selalu mengingatkannya. Tetapi, sejak Farel kecelakaan semua sangat berubah .
Mendengar video dari penuturan almarhum sang kakak, yang menyebut kalau ibu mertuanya pada dasarnya wanita yang baik, tetapi punya kelemahan mudah di hasut orang lain.
Ratna yakin tuduhan perselingkuhan yang di tuduhkan padanya mempengaruhi sikap ibu mertua, membuatnya berubah menjadi jahat, Begitu juga Farel yang merasa dikhianati karena ia kehilangan keperkasaan-ya.
“Alisa, ibu punya banyak musuh,” ujarnya dengan sendu.
“Tetapi apa Ibu punya bukti foto-foto yang dikirim sama ibu atau ada yang lainya?”
Wanita itu mencoba mengingat-ingat.
“Ada di kamar ibu di laci.”
“Siapa yang mengawasi rumah, maksudku siapa yang menjaga rumah saat ini?”
“Tidak ada, rumah kosong.”
“Bagaimana kalau kita pulang dulu ke rumah lalu kita akan datang lagi ke sini, untuk mengambil barang-barang ibu?”
“Iya, ibu mau” Wanita itu terlihat sangat bersemangat saat di bilang mau pulang.
Menggunakan kursi roda dan di bantu perawat, Alisa membawa ibu mertua pulang.
Saat tiba di rumah, mata wanita itu melotot kaget, rumahnya memiliki penghuni baru.
Tetapi wajah Alisa tidak kaget, memang inilah tujuan Alisa membawa pulang ibu mertua, menunjukkan kalau rumahnya sudadi sabotase sang adik perempuan yang maruk harta.
Saat ia dan anak-anakmu menderita, Ternyata ada orang lain yang menari di atas penderitanya, yang membuat hati wanita itu perih, yang melakukannya adik sendiri.
__ADS_1
Bersambung