
“Ibu, sudahlah, biarkan aku nanti yang menjelaskannya pada mereka, aku sudah tahu kebenaranya.
Keluarga ini …. Akan kita hukum,” bisik Alisa ke kuping ibunya. Wanita tua itu menatap Alisa dengan tatapan terkejut, ia tidak tahu, kalau Alisa sudah mengetahui kebenaranya.
“Bawalah pulang cucumu, aku akan tetap di sini, untuk memberi mereka pelajaran,” ujar Alisa.
Ibu Alisa tahu semua rahasia siapa ayah anak dari si kembar, karena hanya pada ibunya lah Ratna menceritakan semua masalah keluarganya tentang penyakit yang dialami Farel.
Tetapi ia tidak tahu, kalau Alisa pada akhirnya tahu juga kebenaranya. Alisa tahu semua rahasia itu, berawal saat ia menginap di kamar dr. Faisal, ia menemukan dokumen di dalam laci meja di kamar dr. Faisal, ia juga membuka computer milik sang dokter, Alisa menganggapnya sebagai kesempatan untuk mengetahui kebenaran dan ia bersyukur malam itu Faisal membawanya ke kamarnya dengan begitu rahasia sang kakak akhirnya terbongkar.
“Tidak Alisa, katakan saja pada mereka semua kebenarannya, lalu kita pergi dari rumah ini. Kalau kamu tidak mau mengatakannya biar ibu saja yang katakan!”
“Rahasia apa yang ingin ibu katakan.”
Wajah Farel terlihat bingung.
“Rahasia yang akan membuat kamu dan ibumu sesali seumur hidup, tetapi sebelum itu, aku ingin kamu menceraikan putriku, aku sudah tidak sudi lagi punya besan dan menantu yang kejam seperti kalian” ujar Ibu Alisa dengan kemarahan.
“Baik kalau itu yang ibu mau,” ujar Farel dengan marah, ia mengucapkan kata-kata yang pada akhirnya ia sesali juga.
“Ibu, jangan membuat keputusan dengan gegabah,” Ayah Alisa memperingatkan istrinya.
“Saat ini, aku sudah sadar, mungkin saat aku menyerahkan putriku Alisa, mataku saat itu ditutupi rasa ketakutan, aku takut aku tidak melihat cucuku.
Tetapi aku tida pernah menduga kalau mereka tidak di terima di rumah ini, bahkan mereka ingin di lenyapkan.”
“Aku ingin membantu Ibu, ayo kita tuntaskan semuanya dan kita bawa anak-anak dan kakak keluar dari rumah ini.”ujar Mario adik Alisa.
“Bawa saja, itu yang saya inginkan dari dulu, sudah berapa kali saya mengusir Alisa dan meminta dia pergi dari rumah ini, tetapi dia masih bertahan. Sekarang, karena kalian sudah datang ke sini, jadi bawa anakmu dari rumahku,” ujar si nenek lampir.
“Ibu, aku sudah bilang, ibu jangan ikut campur!” teriak Farel marah.
“Baik aku muak melihat keluarga ini, Alisa ibu tidak tahan lagi.”
__ADS_1
“Ibu tenanglah, kita akan menjelaskan dan meyelesaikan semua dengan baik, kalau begitu aku akan meminta temanku ke sini.” Rio, adik lelaki Alisa ia calon polisi, baru menyelesaikan pendidikan polisi.
Mario meminta seorang pengacara yang di kenal untuk mengurus kasus yang dihadapi Alisa.
Semua keluarganya tampak sibuk dan mereka sangat terkejut dengan kenyataan pahit yang selama ini dialami Alisa , sikap kasar dari Farel dan sikap semena-mena dari kakak ipar dan ibu mertua, semua itu tidak pernah ia ceritakan pada keluarganya.
Alisa selalu menyimpan semua masalah itu di dalam hatinya, itulah yang membuat ibu Alisa menangis.
“Alisa, ibu atau kamu yang akan menceritakan semuanya?” tanya wanita berkerudung hitam menatap putrinya.
“Tidak usah Bu, biar saya saja.”
Lalu Alisa mengeluarkan ponsel miliknya lalu menelepon seseorang
“Sudah di mana?”
“Saya sudah mau nyampe, tunggulah sebentar lagi,” ujar seorang di ujung telepon.
Tidak sampai lima menit orang yang di tunggu, akhirnya sampai, Dr. Faisal dan dua orang dokter temannya.
”Untuk apa kamu datang ke sini?”
“Tenanglah Mas, aku yang meminta dia datang,” ujar Alisa.
“Untuk apa? Kamu mau bilang kalau kamu jug selingkuh dan tidur di apartemennya!” ujar Farel dengan emosi yang memuncak, bahkan ia tidak menunjukkan rasa hormat lagi di hadapan mertuanya.
“Astafilahajim.” Ibu Alisa sampai mengelus dada melihat kelakuan menantunya.
“Biar nanti kita buktikan Mas, duduklah tenang ,” ujar Alisa, ia tidak mau Farel terbawa emosi dan mengamuk. Ia takut rencana yang ia susun akan berantakan, maka itu ia selalu bersikap tenang.
“Alisa, sebaiknya bawa anak-anak keluar dari sini, sebelum kita membongkar semuanya,” pinta Faisal.
“Aku takut hal buruk terjadi pada mereka saat kita membongkar siapa ayah biologis mereka.”
__ADS_1
“Baiklah, kamu benar.” Alisa menelepon Desi meminta membawa si kembar keluar dari rumah.
“Apa yang ingin kamu lakukan Alisa, aku sudah berjanji padamu, untuk memperbaiki semuanya, lalu kenapa kamu membawa anak-anak malam-malam, antara kamu dan aku belum ada keputusan.”
“Tadi kamu sudah menalak ku Mas di depan keluargaku, nanti sisanya akan di urus pengacara.”
“Lalu apa ini, apa kamu mau bilang kalau Faisal ayah anak-anak?”
Farel mulai menunjukkan kemarahan, Alisa meminta ibunya dan ayahnya untuk pergi, ia takut Farel mengamuk dan ayahnya punya penyakit jantung.
Alisa takut penyakit ayahnya kambuh, jadi , ia meminta kedua orang tua untuk meninggalkan rumah keluarga Farel.
Saat melihat kedua anak kembar itu turun dan menghampiri mereka, Ibu Alisa berlari dan menghampiri mereka, ia terus memeluk dan mendaratkan bibirnya di kening Akmal dan Aminah.
Momen haru itu menjadi tontonan mereka semua. Saat ayah Alisa dan ibunya begitu menyayangi keduanya, justru hal yang terbalik yang di lakukan keluarga Farel.
Kini ayah Alisa menggendong si tampan Akmal dengan tangisan rindu, lelaki tua itu terus saja membelai kepala cucunya di gendongannya.
Hebatnya lagi kedua boca kakak beradik itu sama sekali tidak menangis. Walau kakek dan nenek mereka memeluk dan menggendong bergantian.
“Iya ampun cantik dan tampannya cucu kita, Bu,” ucap lelaki tua itu dengan haru, wajah kriputnya semakin berkerut saat ia menangis.
“Ibu, pergilah dari sini aku sudah meminta seorang supir untuk membawa kalian ke rumah baru yang sudah aku persiapkan, jangan khawatir Bu. Itu rumah baruku,”ujar Alisa.
Ibu dan ayahnya mengangguk patuh, lalu menggendong si kembar, membawa mereka meninggalkan, rumah yang mirip neraka itu. Rumah yang membuat keduanya hampir kehilangan nyawa, rumah di mana kehadiran mereka tidak diterima.
Farel hanya menatap sendu melihat kedua anak kembar itu menjauh, saat mereka dibawa pergi, ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, di dalam dadanya, Farel merasakan ribuan pasir menumpuk di dadanya, sesak dan terasa sakit, ia ingin menghentikan agar kedua anak itu tidak dibawa, tetapi bibir dan lidahnya terasa kaku.
Padahal satu minggu ini, ia sudah mulai menerima kehadiran keduanya, ia juga sudah membuatkan kamar khusus untuk keduanya sebagai bukti, kalau ia sudah dapat menerima keduanya.
Tetapi saat ini, anak kembar itu sudah pergi meninggalkan rumahnya.
Bersambung ....
__ADS_1
Bantu review dan subscribe iya kakak.mudah mudahan kakak suka dan terhibur dengan karya saya Terimakasih