
Saat Faisal memancing emosinya, ia sudah mengepal tangan menahan emosi, tetapi bayangan wajah cantik Alisa yang datang ke kamarnya kemarin membuatnya menahan diri.
‘Aku tidak ingin Alisa datang lagi ke ke penjara, maka itu aku tidak boleh menambah masalah untuknya’ Farel membatin menahan diri agar tidak terpancing dengan usikkan Faisal.
Farel menjadi pemenang, ia tidak marah bahkan bersikap tenang membuat Faisal bingung dengan pertahanan Farel’
‘Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba jadi setenang ini?’ tanya Faisal dalam hati.
“Aku akan pastikan kamu masuk penjara dalam waktu yang lama pak polisi,” ujar Faisal.
Farel masih bertahan dalam sikap tenang, ia mengingat nasihat Alisa saat datang berkunjung, Alisa berkata padanya terkadang orang kalah dalam segala hal karena ia mudah terpancing emosinya, untuk mengalahkan lawan cobalah untuk bersikap tenang maka musuhmu akan merasa takut.
Hal itulah yang terjadi dengan Faisal saat Farel bersikap tenang, Faisal menjadi bingung dan ragu dengan diri sendiri.
“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan Dokter,” ujar Farel tidak mengalihkan perhatiannya dari buku yang ia baca.
“Apa yang membuatmu begitu tenang dan seolah-olah kamu sudah yakin kalau kamu tidak akan terjadi apa-apa”
“Tidak apa Dok,sikap pasrah dan mencoba berdamai dengan diri sendiri itu akan lebih baik.” Farel menatap Faisal dengan tatapan tenang membuat tingkat kepercayaan diri Faisal menurun drastis.
“Aku sudah datang ke rumah orang tua Alisa, dan aku juga sudah menceritakan tentang kondisimu pada orang tua Alisa, sepertinya orang tua itu mendukungku,” ujar Faisal.
Farel mengepal tangannya di bawah buku, tingkat kesabarannya sudah mulai menurun, ingin rasanya ia menghajar lelaki itu sampai babak belur.
Saat ia ingin berdiri, tiba-tiba bayangan Alisa dan anak kembar itu melintas di pikirannya, ia menutup mata dan menghela napas panjang.
“Tidak apa-apa, jika Alisa mau memilihmu tidak masalah”
“Tentu saja dia akan memilihku, dia tahu mana yang terbaik untuk menemaninya sampai ahir tuanya”
Melihat sikap pasrah yang ditujukan Farel membuat dokter bingung, ia berpikir kalau Farel sudah putus asa, ia keluar dan meninggalkan kamar tahanan Farel.
‘Tetaplah putus asa seperti itu, kalau tidak aku berharap kamu depresi dan mati’ Faisal membatin matanya menatap sinis kamar tahanan milik Faisal.
Lalu ia meninggalkan kantor polisi, saat ia keluar tanpa terduga Alisa juga datang ke kantor polisi, saat melihat Faisal Alisa bersembunyi, ia berbelok ke kamar mandi.
Ia memegang dadanya karena hampir ia bertemu dengan Faisal di kantor polisi, jika lelaki itu tahu ia datang ke kantor polisi ia yakin Farel akan berada di keadaan yang semakin sulit.
__ADS_1
Ia masuk ke kamar mandi memakai kaca mata hitam dan masker untuk menyamarkan penampilannya berjaga-jaga jika berpapasan tidak sengaja dengan Faisal.
“Untuk apa lagi dia datang ke sini, pasti dia menemui Farel.” Alisa mengarahkan kamera ponselnya dengan diam-diam, ia merekam Faisal saat menemui beberapa polisi.
“Oh, dugaanku benar, jadi kalian bekerja sama untuk memenjarakan Farel, aku tidak akan membiarkan kalian melakukan itu,” ucap Alisa.
Ia menemui atasan Farel, ia berencana mengeluarkan Farel dari penjara dengan usahanya sendiri, setelah Faisal pulang dan Alisa sudah selesai mengurus semua berkas-berkas untuk mengeluarkan Farel dari penjara.
Setelah semua sudah selesai barulah ia menemui Farel, saat Ia datang diantar seorang penjaga lapas, saat itu Farel sedang tidur.
“Kenapa Sa?” wajah Farel kembali dingin saat Alisa bertemu .
‘Pasti Faisal mengatakan sesuatu membuat Farel marah’ ujar Alisa dalam hati.
“Tidak , aku hanya kebetulan lewat sini saat pulang tugas tadi Mas, jadi aku mampir,” ujar Alisa, terpaksa berbohong.
Tampang Farel masih muka bantal, ia duduk di sisi ranjang ia tidak mau menatap wajah istrinya ia selalu mengalihkan pandangan matanya saat Alisa menatapnya, tetapi saat Alisa melihat ke arah lain ia akan mencuri-curi pandang untuk melihat wajah istrinya.
“Mas, sudah makan?”
“Belum”
“Sa, jangan datang lagi ke sini, semua orang melihat saat kamu masuk ke sini, mereka berpikir kalau kamu ….” Farel menggantung kalimatnya. Tetapi Alisa tersenyum kecil, ia tahu maksud Farel.
“Biarkan mereka berpikir seperti itu Mas, lagian kenapa memang kalau mereka berpikir aku datang untuk memadu kasih, kan aku melakukannya untuk suamiku,” ucap Alisa ia berdiri dan mendaratkan satu kecupan kecil di pipi mantan kakak iparnya tersebut.
Wajah Farel tiba-tiba memerah bagai tomat rebus. Lalu ia melotot terkejut menatap Alisa.
“Sa, kamu …?”
“Kan, tidak apa-apa, aku melakukannya dengan imanku, suamiku tidak ada yang salah, mungkin hanya tempatnya yang kurang tepat. Mas, apapun yang dikatakan orang jangan dengarkan,” ujar Alisa.
Tiba-tiba Farel terlihat seperti patung saat istrinya mendaratkan bibirnya di pipinya.
“Iya, tadi Faisal datang membuatku sangat marah”
“Jangan percaya apapun yang ia katakan, percaya saja padaku Mas”
__ADS_1
“Tapi dia ta-”
“Pasti ia bilang kalau dia datang ke rumah dan ini itu kan?”
Farel mengangguk kecil dan kedua kepalan tangan dipegang dengan kuat.
“Sa, apa kamu tidak malu datang ke sini? Apa kamu malu saat rekan kerjamu tahu kalau suamimu masuk penjara?”
“Aku malu jika kasusnya masuk penjara karena mencuri atau memakai barang haram, tetapi kamu masuk penjara karena berusaha menjaga harga diri istrimu”
Wajah Farel, tiba-tiba sangat mendung matanya tampak berkaca-kaca.
Apa yang dikatakan Alisa menyentuh hati Farel.
“Alisa Maaf untuk segala yang telah kamu lalui”
“Tidak apa-apa Mas, itulah jalan hidup, ada banyak masalah dan persoalan selama kita masih hidup, bersabarlah, aku akan berusaha semampuku untuk mengeluarkan mu dari sini” Farel mengangguk ada setitik harapan di wajahnya.
“Sa, tadi … aku menahan diri agar tidak emosi saat Faisal datang,” Farel mengadu pada Alisa, dia tampak seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya berharap dapat pujian.
“Oh, benarkah? Ibu bagus Mas, itu hebat,” ucap Alisa, ia bangkit dan memeluk leher suaminya. Farel lagi-lagi dia membeku seperti patung saat istrinya memeluk lehernya. Padahal yang memeluk istrinya sendiri tetapi Farel tampak salah tingkah dan gugup. Alisa bukan ingin membuat hati suaminya kasmaran, ia berharap dengan pelukan dan kecupan yang ia berikan Farel mempercayai istrinya.
“Sa, apa kamu percaya padaku?” tanya Farel menatap sendu istrinya.
“Tentu Mas”
“Kalau kamu percaya tolong jangan datang lagi ke sini, tunggu aku di rumah aku akan datang.”
Tangan Alisa berhenti di box makanan yang ia bawa, lalu ia memainkan sendok di pinggir box berwarna putih tersebut.
“Kenapa seperti itu?”
“Faisal akan semakin menekan mu, jika ia melihatmu menjengukku”
“Tapi kamu suamiku Mas, apa salah istrinya menjenguk suaminya?”Alisa menunduk sedih.
Kali ini Farel yang mendekat ia memegang dagu Alisa.
__ADS_1
“Aku sangat khawatir kalau kamu datang ke sini, aku selalu memikirkan .Apakah dia sampai di rumah dengan selamat? Dia naik apa pulang? Apa ada yang berniat jahat padanya saat di jalan? Pertanyaan itu selalu datang di kepalaku. Tapi jujur aku sangat senang jika kamu ada di sini. Aku berharap kamu bersamaku di sini.” Farel menatap mata istrinya dengan sendu, ada ketulusan lewat sorot matanya
Bersambung