Menikah Dengan Abang Ipar

Menikah Dengan Abang Ipar
Bisikan Rindu Dari Pemilik Cinta di Masa Lalu


__ADS_3

Angin lembut menyapu wajah Alisa , duduk di kursi taman di depan rumah menikmati pagi yang indah, sesekali bibirnya tersenyum kecil saat melihat ayah dan adiknya mengajak si kembar bermain di rumput di depan rumah.


Membiarkan si kembar bergerak bebas merangkak menyusuri halaman yang rumput yang masih basah. Celana panjang yang mereka pakai tampak kotor di bagian lutut.


Mulut mungil Akmal tidak henti-hentinya memainkan bibirnya mengeluarkan suara terdengar seperti deru motor yang sedang dipanaskan.


Ayahnya ikut sekali-kali mengikuti gaya cucunya merangkak mengitari halaman rumah yang di tumbuhi rumput.


Ibu Alisa tertawa ngakak melihat kelakuan suami dan putranya yang membiarkan bayi mengemaskan ibu bermain bebas di luar rumah.


Untungnya kedua orang tua Alisa bukan orang tua yang pemikiran kuno, kalau biasanya orang tua dari kampung Alisa selalu banyak aturan anak tidak boleh ini dan itu. Tetapi, ibu dan ayah Alisa selalu mendengarkan apa kata Alisa, agar tidak membatasi ruang lingkup anak-anaknya yang penting harus diawasi.


Menurut alisa dengan begitulah motorik jaringan di otak anak-anak bayi itu hidup dan saling merespon dengan begitu anak-anak itu akan jadi anak yang pintar jaringan di otak mereka akan selalu berkembang.


Saat ia sedang asik melihat anak-anak tiba matanya teralih ke ponsel.


Ting …!


Bunyi notip ponsel Alisa , dengan cepat ia mengusap layar ponselnya dan membaca pesan yang masuk. Sebuah pesan dari lelaki yang selalu ia rindukan, tetapi ia menolak keinginan hatinya dan mengunci rapat perasaan cinta itu, karena bukan miliknya lagi.


Dimas mengirim pesan untuknya;


[Kamu tidak apa-apa aku melihat kakak ipar mu ditangkap polisi?”]


[Aku baik-baik Mas, jangan khawatir, aku tidak tahu kalau dia diringkus polisi , setahu saya Mbak Dinar lagi keluar negeri]


balas Alisa


[Aku melihatnya ditangkap di Bandara]


[Aku tidak tahu Mas, coba aku cari tahu dulu nanti[ Balas Alisa.


Dimas tidak tahu harus bertanya apa lagi pada mantan kekasihnya, padahal tadi ia sudah lama mengumpulkan keberanian untuk tanya kabar pada Alisa.


sudah sepulu kali ia tulis dan ia harus pesan itu. Sangat lama ia menentukan isi pesan yang ia kirim untuk Alisa. Tetapi kali ini ia kembali memandang lama ke layar ponsel miliknya ia masih duduk di ruang tunggu bandara.


Tidak ada lagi balasan dari Alisa, padahal banyak yang ia tanyakan pada wanita yang belum bisa ia lupakan itu,

__ADS_1


Sebelum ia memutuskan pergi.


Sebenarnya orang tuanya ingin menjodohkannya dengan teman ayahnya . Namun, ia belum bisa melupakan Alisa wanita cantik itu sudah membuatnya patah hati dan tidak bisa membuka hati lagi untuk perempuan Lain.


“Dim, sampai kapan kamu akan begini?” tanya Bundanya menatap sedih pada putra sulungnya pagi itu.


“Bunda, jangan membahas lagi, aku tidak ingin membahas hal yang itu, itu terus,’ ujar Dimas meletakkan ponselnya.


Ibunya menangkap basa dirinya sedang melihat-lihat foto saat ia bersama Alisa.


“Bagaimana Bunda tidak membahas hal itu, jika kamu sendiri masih mengharapkan Alisa, ayolah Nak, Bunda sudah tua, ingin melihatmu menikah sebelum Sang Kuasa memanggil Bunda.”


“Bun, Farida kan sudah ada calonya dan sudah mapan juga, kenapa mereka tidak menikah duluan saja?”


“Dim, kamu anak pertama dan anak lelaki satu-satunya di rumah ini, Bunda sama ayah tidak ingin kamu dilangkahi adik-adikmu.”


“Bun, sekarang ini tidak ada hal dilangkahi dan soal melangkahi, kalau Farida dapat jodoh lebih cepat dari aku masa aku harus melarang.”


“Apa Uda, masih mengharapkan Alisa?sadar Da, dia sudah milik orang lain, dia sudah bahagia,” timpal Farida dari dapur.


“Iya ampun Da, mengharapkan bini orang lain, dosa, sama saja Uda menginginkan milik orang lain. Apa jangan , jangan mengharapkan Mbak Alisa bercerai?”


“Iya, aku mengharapkan dia bercerai dengan suaminya, lalu kami akan bersama.”


“Astaghfirullah Dimas, istighfar Nak.”


“Dia tidak bahagia Bu, di sengsara, bagaimana aku bisa tenang.”


“Dimas, itu bukan urusan kamu lagi Nak.”


“Bun, aku sudah berusaha melupakannya, tetapi takdir seolah mempermainkan, aku sampai minta dipindah tugaskan ke Kupang agar jauh darinya, tetapi saat aku bertugas di sana menangani banjir, seorang dokter relawan menceritakan padaku, dokter itu dan temannya, melaporkan Dinar kakak Farel, karena menganiaya salah seorang putra kembar kakaknya Alisa.


Sebelumnya Farel menurunkan Alisa di pinggir tol malam-malam, aku sedih mendengarnya, Hatiku sakit Bun, dia wanita yang sangat baik, tetapi mengapa mengalami hal pahit seperti itu dan kata dokter Alisa.


Berminggu-minggu tidak makan di rumah mertuanya. Ibu mertua dan kakak iparnya sangat jahat tidak memperbolehkan Alisa makan di rumah.


Hatiku sangat sakit mendengar semua penuturan mantan asisten rumah tangga Farel, saat ini wanita itu bekerja di rumah dokter Vero, dia menceritakan semua penderitaan Alisa Bun.”

__ADS_1


Semua keluarganya hanya diam melihat mata Dimas yang dipenuhi air mata, saat mendengar Alisa menderita ia juga menderita.


“Tetapi apa yang bisa kita lakukan Nak, setiap manusia sudah punya suratan takdir masing-masing, tetapi maaf, ayah tidak bisa menerima dia lagi jadi menantu di rumah ini.


Tidak ada sejarah di keluarga kita menikahi bekas orang lain. Jadi berhenti mengharapkan wanita itu dan ketahuilah, sampai kapanpun ayah tidak akan menerimanya lagi,” ujar lelaki paruh baya yang sedari tadi hanya duduk mendengar. Tetapi sekali bicara , semua diam.


“Dengar Uda, kita semua juga tidak akan menerima di lagi di rumah ini,”ujar sang adik.


Semua keluarga di rumah Dimas menolak Alisa kembali menjadi


bagian keluarga mereka.


“Baiklah aku mengerti.” Dimas mengemasi barang-barang miliknya ke dalam tas. Lalu ia turun ke lantai bawah.


“Loh, kamu mau kemana? Baru tiba tadi malam, kok langsung pergi saja, lalu bagaimana dengan anak teman Ayahmu?”


“Aku akan berangkat sekolah ke Jerman Bun, seperti yang pernah aku katakan, aku memutuskan berangkat, lebih cepat saja Bun.”


“Lah, bukannya kami bilang dua satu minggu lagi. Kamu bilang paspor kamu belum selesai. Sini duduk dulu, kamu itu bukannya mau bepergian ke luar kota atau tugas di daerah. Tetapi kamu akan melakukan pendidikan di luar negeri.


Jerman negara yang jauh Nak, Jangan begitu,” ujar Bunda Dimas.


“Tidak apa-apa Bun, aku mau ke markas dulu untuk mengurus keperluan, aku mungkin berangkat besok kalau tidak lusa.”


Semua keluarga diam, menyesal telah memojokkan lelaki yang sedang patah hati itu, semua raut wajah sedih, tidak seharusnya mereka semua memojokkan Dimas, karena pemilik cinta yang tulus, akan merasa sakit, jika orang yang dicintai terluka, mereka tidak mengerti perasaan Dimas.


Harusnya mereka membiarkan luka itu mengering dan sembuh dulu, tidak perlu memaksa dirinya.


Besok paginya akhirnya ia berangkat ke Jerman untuk menempuh pendidikan Militer. Tetapi saat ia di bandara, matanya melihat Dinar ditangkap, ingatannya kembali pada Alisa, lalu dengan berpikir panjang ia akhirnya mengirim pesan pada Alisa.


[Alisa, aku berangkat ke Jerman untuk sekolah, aku berharap saat aku pulang kamu menungguku] isi pesan Dimas, lalu ia berangkat.


Alisa hanya membaca dan menghela napas panjang, rongga dadanya kembali terasa sesak.


‘Pergilah Mas, jangan tunggu aku, temukan cinta yang jauh lebih baik, karena kamu pantas mendapat yang terbaik’ ucap Alisa dalam hati.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2