Menikah Dengan Abang Ipar

Menikah Dengan Abang Ipar
Karena Cinta Atau Kasihan


__ADS_3

Alisa tadinya ingin marah pada orang tuanya karena terus memaksanya bercerai dengan Farel. Tetapi ia sadar semua karena hasutan Faisal pada keluarganya.


“Aku tidak ingin membahasnya Bu, aku ingin tidur, aku lelah memikirkan semua ini, tolong jangan membahas itu lagi, biarkan aku menyelesaikan sendiri, Yah,” ujar Alisa ia meninggalkan kedua orang tuanya.


Saat semua orang semua orang membenci Farel, tetapi entah kenapa hatinya sangat sedih, ia merasa kasihan pada Farel. Apakah hatinya sudah tumbuh benih-benih cinta?


Malam itu sebelum ia tidur, Alisa membereskan semua perlengkapan si kembar, ponsel miliknya berdering.


Dengan cepat Alisa menyambar benda pipih persegi empat itu, ia mengusap layarnya, tetapi ia terdiam mengangkat kedua alis matanya. Tidak ada nama pemanggil yang tertera di layar ponsel miliknya.


“Halo …”


“Sa, apa aku menganggu tidurmu?”


Wajah cantik itu berubah merekah bagai bunga tulip yang baru mekar.


“Mas Farel …?”


Alisa merasa jantungnya berdebar saat mendengar suara suaminya di ujung telepon, ia memegang dadanya karena jantungnya berpacu dengan cepat.


“Iya, tadi komandan memberikan ponsel ini untuk aku pakai, mereka juga memperbaiki AC dan televisi dan membawa air minum ke kamarku, bukan hanya itu komandan memberikan banyak makanan dan beberapa buku untuk aku baca.


“Alhamdulillah, itu bagus Mas, sudah makan?” tanya Alisa dengan tulus.


“Sudah Sa,” jawab Farel, bukan hanya Alisa yang berdebar-debar seperti jatuh cinta, bahkan mantan kakak iparnya beberapa kali menyeka keringat di dahi karena menahan, perasaan gugup.


“Su-sudah Sa, ka-kamu sudah makan?”


‘Ada apa dengan mas Farel, kenapa dia jadi gagap saat bicara denganku, apa ia merasa bersalah atas sikap kasarnya tadi?” Alisa membatin.


“Sudah Mas.”


Saat sedang bicara di telepon dengan Farel, suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.


”Mas, sudah dulu iya,”bisik Alisa mematikan sambungan telepon.


Dengan cepat ia membuka pintu kamarnya, ia takut ibunya mendengar ia bicara dengan Farel di telepon tadi.

__ADS_1


“Sa, apa kamu mau tidur?”


Alisa menghela napas, ia tahu kedatangan ibunya ke kamarnya pasti ingin membicarakan tentang hubungannya dengan Farel lagi.


“Iya … kalau Ibu tidak datang tadi, Lisa sudah tidur Bu,”ujar Alisa mencari alasan, ia tidak mau keluarganya menjelekkan tentang Farel.


“Ibu, hanya sebentar Sa, Ibu hanya ingin … minta maaf untuk kamu.”


“Untuk apa Bu?”


“Karena saat itu Ibu meminta kamu menikah dengan Farel, tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu, setelah tahu keadaan sebenarnya, hati ibu sedih Nak, kenapa selama ini kamu tidak pernah cerita sama ibu, kalau kamu menderita,” ujar wanita yang melahirkannya.


Saat luka di dalam hatinya sudah ingin sembuh, kini ibunya seolah-olah mengorek luka itu kembali.


“Ibu sudahlah, jangan membahas hal itu lagi aku sudah melupakannya.”


“Ya,Nak ibu tahu, karena itulah Ibu tidak ingin kamu kembali pada Farel.”


“Bu, menjadi seorang janda di usia yang sangat muda, aku tidak pernah mengharapkannya dan itu hal yang sangat memalukan untukku.”


“Tapi Nak, jika kamu bercerai, ada Faisal yang akan menikahi kamu nanti, Ibu mendukung kamu dengannya, dia seorang dokter.”


“Ibu …! jangan berkata seperti itu, aku tidak pernah suka dengan lelaki itu, aku masih istri Farel.”


“Ibu hanya mendukung hubunganmu dengan Faisal.”


“Dulu, ibu sudah menghancurkan hati ini dengan memaksaku menikah dengan Farel, tepat saat Dimas ingin melamar ku, apa ibu akan melakukan itu lagi padaku?”


Ibu Alisa terdiam, saat melihat bendungan di mata putrinya hampir tumpah. Alisa wanita yang sangat baik pada orang tuanya, ia selalu menurut kata mereka. Tetapi kali ini, ia ingin membuat keputusan sendiri , tanpa ada paksaan dari orang lain.


“Maaf …. Ibu salah Nak, Ibu saat itu hanya memikirkan nasip si kembar, Ibu tidak pernah memikirkan bagaimana nasibmu, tetapi kali ini, mendengar keadaan Farel yang tidak bisa memberimu nafkah batin, ibu merasa ibu merusak kebahagiaanmu, ini jugalah yang membuat ibu memintamu untuk berpisah dengan Farel dan menikahlah dengan dokter Faisal.”


“Ibu sudahlah, aku sudah bilang kalau aku tidak pernah menyukai doker itu, dengar Bu … apapun yang dikatakan sama ibu, jangan mudah percaya.”


“Maksudnya, dia berbohong?”


Alisa mengangguk, ia tidak ingin Faisal mempengaruhi pikiran orang tuanya, ia tidak mau lelaki itu menjelekkan ayah dari anak-anaknya di depan orang tuanya.

__ADS_1


“Iya Bu, karena itu tolong jangan paksa aku menikah dengannya, apa ibu percaya padaku?”


“Baiklah Nak, Ibu tidak akan memaksa kamu untuk menikah,” ujar ibunya dengan tatapan mata penuh tanya.


*


Di sis lain Farel tampak duduk lemas dengan menatap kosong kearah dinding, saat Alisa mematikan panggilan dengannya , ia sudah berpikir kalau Alisa tidak suka ia bertelepon.


‘Apa Faisal yang datang kerumahnya? Aaah … kenapa hatiku sakit, selama ini aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini, apa aku jatuh cinta pada Alisa?’ Farel berucap dalam hati.


Farel berpikir kalau Alisa tidak memikirkannya, ia menduga istrinya akan meninggalkannya.


Merindukan rumah memikirkan nasip rumah tangganya dengan Alisa membuat mata Farrel tidak bisa terpejam, ia semakin tenggelam dalam rasa kesepian yang sangat menyiksa.


Bagai setali dua uang,saat Farel memikirkan nasip rumah tangganya dengan Alisa, di sisi lain Alisa memikirkan hal yang sama, ia akan berusaha mengeluarkan lelaki dari penjara.


Besok paginya Farel kedatangan tamu kunjungan, ia menolak menemui, karena Faisal yang datang membuatnya menolak, tetapi lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu punya koneksi di kepolisian, ia meminta izin untuk dimasukkan ke dalam kamar Farel.


“Walau kamu menolak ku seribu kali untuk bertemu, tetapi aku punya cara satu juta kali, agar bisa menemui,” ujar Faisal.


Farel duduk santai, membiarkan mantan dokternya berkoar-koar, Farel sudah tahu, sekalipun ia menolak tetapi Faisal akan bisa masuk kerena ayahnya seorang pejabat negara.


“Sepertinya kamu sangat menikmati hidup di penjara karena di beri Fasilitas ini, dengar, saya ingin menikahi Alisa, aku datang ke sini ingin memberitahukan mu,” ujar Faisal, tetapi ia hanya diam.


Tiiing …!


Notif pesan dari ponsel Farel, karena ada Faisal ia menyembunyikannya dan mematikan ponsel miliknya.


Awalnya ia mulai terpancing dengan ucapan Faisal, lelaki itu berusaha memancing dia marah, tetapi Farel diam.


Ia mengingat ucapan Alisa kemarin yang mengatakan kalau Faisal sudah mengincarnya agar masuk penjara. Saat Faisal memancing emosinya, ia sudah mengepal tangan menahan emosi, tetapi bayangan wajah cantik Alisa yang datang ke kamarnya kemarin membuatnya menahan diri.


‘Aku tidak ingin Alisa datang lagi ke ke penjara, maka itu aku tidak boleh menambah masalah untuknya, Farel membatin menahan diri agar tidak terpancing dengan usikan Faisal.


Farel menjadi pemenang, ia tidak marah bahkan bersikap tenang membuat Faisal bingung dengan pertahanan Farel’


‘Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba jadi setenang ini?’ tanya Faisal dalam hati.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2