
Saat sedang melewati jalanan sepi, tiba-tiba mobil Dimas kempes ban, ia merasa seperti ada suara ledakan. Dimas meminggirkan mobilnya, saat melihat kanan-kiri ia merasa tidak enak.
'Aku merasa ada sesuatu salah' Dimas membatin.
Dimas turun untuk melihat, ada sesuatu yang sengaja di ledakkan ban mobilnya dengan alat pengontrol, waktu yang dipilih, tempatnya sepi.
“Ada apa Mas?” tanya Alisa panik.
“Kamu tetap di situ Sa, aku akan periksa sebentar."
Dimas mengeluarkan sebilah pisau dari dasbor mobilnya, melihat ujung pisau mengkilap itu, jantung Alisa berpacu lebih cepat, ia mengunci pintu dari dalam, saat Dimas memeriksa dan ingin mengganti ban mobil tersebut, ternyata yang bocor bukan hanya satu ban, melainkan dua sekaligus, ia mencium bau dinamit dari ban mobilnya, akhirnya ia paham kalau mobilnya sudah diincar saat mereka berhenti makan tadi.
Sebuah alat di tempel di bannya di ledakkan saat mereka di tempat sepi.
“Sialan mereka mengincar Alisa”
Dimas berdiri buru-buru dan membuka pintu, lalu ia meraih tas miliknya di jok belakang mobil, tanpa aba-aba ia menarik tangan Alisa ke samping mobil membawanya ke rumput-rumput.
Alisa belum sempat bertanya apa-apa Dimas sudah menindih tubuhnya dari atas menyamarkan tubuh mereka dengan rumput.
Tidak lama kemudian dua mobil berhenti di samping mobil Dimas, mengarahkan lampu mobil kearah mereka.
“Temukan wanita itu bawa rekaman itu padaku secepatnya.
‘Suara itu siapa? Terdengar tidak asing’ Alisa membatin.
Tubuh tinggi besar itu melindungi tubuh Alisa, Dimas melakukan itu bukan karena mengambil kesempatan, tetapi pakaian yang hijau menyamarkan tubuh mereka dengan rumput, kemampuan seorang tentara untuk bersembunyi dari musuh di tunjukkan Dimas saat ini, Alisa sampai tidak bisa bernapas menahan beban diatas tubuhnya.
“Jangan bergerak Sa, nanti kita akan ketahuan,” bisik Dimas.
“Kamu berat Mas, aku tidak bisa bernapas,” balas Alisa di bali tubuh Dimas.
“Bertahanlah sebentar lagi, mereka akan pergi”
Alisa menurut ia membiarkan dada bidang Dimas menekan bagian terlembut dari dadanya.
‘Tidak apa-apa Sa, Dimas hanya ingin menyelamatkanmu’ ucap Alisa dalam hatinya.
Lampu mobil pengintai itu masih menyala menyorot ke arah mereka, karen itulah Dimas masih diam mematung diatas tubuh Alisa. Bahkan bagian bawa Dimas tepat diatas bagian sensitif Alisa.
Ia bergerak sedikit, ia yakin ular miliknya akan ikut bergerak, Dimas mengepal gengamannya dengan kuat menahan bagian tubuhnya yang ikut bergejolak, ia sadar, ia hanya manusia biasa yang hasratnya bisa bangun saat seperti ini.
Tetapi dengan keyakinan kuat dan demi menjaga kepercayaan Alisa padanya, Dimas mampu mengendalikan gejolak dari tubuhnya, bibirnya komat -kamit baca ayat-ayat yang bisa mengendalikan hawa napsu dalam tubuhnya.
__ADS_1
Alisa bisa melihat Dimas membaca ayat-ayat untuk menjaga agar ia mampu mengendalikan tubuhnya, keringatnya menetes ke wajah Alisa, ia juga bisa mencium dengan jelas aroma tubuh Dimas, bau keringat yang selalu ia rindukan.
‘Aku berharap, kamu sehat selalu Mas’ Bisik Alisa dalam hatinya, ia membuka mata menatap wajah Dimas yang menutup mata yang berada tepat dia wajahnya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mesin mobil menyala dan lampu mobil itu menghilang. Dimas menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Alisa. Tiba-tiba Alisa ingin bangun, Dimas menghalangi merentangkan lengannya.
“Kenapa Mas? Bukanya mereka sudah pergi?”
“Di devisiku itu disebut kucing menangkap tikus Sa”
“Jadi mereka masi di situ?”
“Ya, mereka balik bersembunyi, kalau kita keluar, barulah mereka menyergap”
“OH, baiklah, tapi aku merasa ada yang melintas di kakiku”
“Tetaplah diam, ia tidak akan menyakitimu”
“A-a-apa maksudnya?” Alisa mencengkram dada Dimas karena takut, hewan yang dimaksud dimas hewan melata yang melintas diatas kakinya, Dimas menangkap kepala ular tersebut saat ia naik keatas perut Alisa.
“Jangan khawatir aku sudah menyingkirkannya,” ucap Dimas setelah melempar hewan melata itu jauh dari mereka.
Alisa melepaskan cengkramannya dari dada Dimas , ia membuka mata.
“Maaf Mas, aku tidak senagaja aku hanya panik, saat tahu kalau ada ular di kakiku”
“Kita tidak bisa di sini terus Sa, kita akan keluar dari sini, sepertinya aku tahu tempat ini,” ujar Dimas.
“Lalu kita bagaimana keluar dari di sini, kalau mereka ada di sini?”
“Kita akan keluar tanpa alat penerang”
“Bagaimana kita melakukannya? Di sini sangat gelap.
“Tenang, di dalam tasku, aku punya satu kaca mata yang bisa menembus malam”
Dimas mengeluarkan kaca mata yang biasa di gunakan tentara saat latihan di malam hari, sayangnya hanya ada satu.
“Begini Sa, kaca matanya hanya ada satu, kamu yang memakai dan kamu akan membimbingku, atau aku yang akan membimbing mu?”
“Mas saja yang pakai”
Baiklah, Mereka keluar dari semak-semak dengan cara menunduk dan menjauh dari mobil, Dimas masih memegang tangan Alisa membawanya jauh, benar saja saat melihat daria atas bukit, mereka melihat mobil yang mengikuti mereka sedang menunggu tidak jauh dari mobil mereka yang mogok.
__ADS_1
Jalanan itu memang sangat sepi, nyaris tidak ada kendaraan yang lewat saat sudah malam di daerah tersebut, mereka berdua masih berjalan menjauh. Namun saat melewati pohon bambu kaki Alisa tertusuk bambu.
Ia meringis kesakitan, Dimas dengan cepat membuka tas ransel berwarna hijau miliknya, ia mengeluarkan kotak obat, dengan sigap ia menutup luka Alisa dengan kapas yang di olesi alkohol, wanita cantik itu meringis kesakitan. Dimas tidak tahan melihatnya.
“Naiklah ke punggungku Sa”
“Tapi Mas ….”
“Ini tidak kita sengaja Sa, aku tahu, apa yang kamu pikirkan”
“Aku dan kamu tidak ada niat untuk melakukan hal seperti ini … tetapi menolong orang juga ibadah bukan?”
Setelah berdebat sebentar dengan Dimas, Alisa akhirnya bersedia untuk di gendong mantan kekasihnya.
“Mas … mau kah kamu menolongku sekali lag?”
“Tentu”
“Kalau begitu tolong bantu aku untuk bicara dengan Farel, tolong bantu aku untuk bisa untuk menjenguk Farel”
“Apa kamu benar- benar mencintai Farel?” tanya Dimas.
“Dia suamiku Mas, bukanya kamu dulu bilang, kalau aku akan menjaga suamiku?”
“Baiklah aku akan mengantarmu ke suamimu”
Melihat bahaya yang mengincar Alisa , Dimas bersedia membantunya bahkan bersedia mengantar Alisa ke penjara untuk bertemu dengan suaminya. Apakah yang akan dikatakan Farel saat tahu istrinya bekerja sama dengan mantan kekasihnya?
Bersambung ….
Kakak Baik mohon bantunya ya, untuk like, vote dan komentar karya ini, kasih hadiah juga agar authornya tambah semangat untuk update tiap hari
Baca juga karyaku yang lain ya.
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (on going)
__ADS_1
Bintang kecil untuk Faila (tamat)