
Mendengar kabar Farel meninggal karena ditembak, Alisa sangat shock, ia sampai pingsan, sekarang ia tahu alasan Farel menikahkannya dengan Dimas.
Walau Farel sudah jadi mantan suami, tetapi tekanan dan keadaan lah yang memaksa Farel menceraikannya, Alisa tahu akan hal itu, makanya ia gak marah atau dendam pada Farel.
“Kenapa harus melakukan itu, kenapa harus memancing Faisal untuk menembaknya,"ujar Alisa menangis.
“Kamu harus kuat demi anak-anak,” ucap Bona.
Walau ia dan Dimas sudah menikah, tetapi mereka berdua belum tinggal satu rumah, Dimas pindah ke rumah dinas, sementara Alisa masih disembunyikan di rumah Bona.
“Aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kalinya Pak Bona,” ujar Alisa dengan tangisan.
“Jangan lakukan itu Bu, pengorbanan yang dilakukan Pak Farel akan sia-sia, jika Ibu terluka, situasi saat ini sedang mencekam, polisi yang menjebak dan memukuli Farel saat itu akhirnya ditangkap dan dimasukkan ke penjara”
“Bagaimana dengan lelaki jahat itu, apa dia juga akan di penjara?”
“Akan aku pastikan dokter jahat itu mendekam seumur hidupnya di penjara, aku juga akan membongkar kejahatannya sama keluarga almarhum kakakmu”
“Aku hanya ingin melihatnya sebentar saja pak Bona, kamu lihat dari sini saja” Reimon yang saat itu sedang cuti, ia menjaga Farel di rumah sakit, Ia memperlihatkan tubuh Farel yang terbujur kaku di ranjang rumah sakit, Alisa akhirnya yakin kalau mantan suaminya sudah meninggal.
Sementara Dimas mengurus pemakaman Farel, tadinya instruksi dari kepolisian, ia ingin dimakamkan secara protokol kepolisian, tetapi ibunya Farel yang marah menolak semuanya.
“Anakku bukan polisi … kenapa setelah meninggal kalian akui dia sebagai polisi, saat dia masih hidup, kalian perlakukan seperti binatang!”
Wanita yang duduk dikursi roda itu marah dan mengusir para polisi yang meminta persetujuannya.
“Bu, kami hanya ingin memberi penghormatan pada Pak Farel”
“Tidak perlu, anakku bukan polisi lagi, aku ingin anakku di makamkan hari ini juga”
Ia mengusir semua polisi yang mendatanginya, lalu Dimas mengurus pengambilan jenazah dari rumah sakit dan membawa jenazah Farel ke Sukabumi, rencana akan dimakamkan di samping ayahnya, dalam mobil jenazah ada Dimas dan Reimon dan satu orang dokter.
Perjalanan menuju Sukabumi sudah malam, dalam mobil itu satu orang dokter yang menyamar sebagai supir ambulance memberi suntikan pada Farel tidak lama kemudian ia sadar kembali.
Mereka semua hampir mati terkena serangan jantung, kalau saja terlambat dua puluh menit lagi, Farel akan meninggal selamanya, karena suntikan yang diberikan dokter ada batas waktunya, tadi saat mengurus tubuh Farel, sempat ada kendala karena beberapa polisi sempat menghalangi membawa tubuh Farel dari rumah sakit, maka itu rencana mereka hampir gagal.
“Aku mau mati pingsan, karena melihat waktunya,” ucap Reimon.
__ADS_1
“Aku hampir jadi pembunuh, jika lewat dari dua puluh menit,” ujar Dimas.
“Aku percaya pada kalian semua” Farel tersenyum kecil.
Sebelum tiba di tempat pemakaman, mayat yang sudah disiapkan dokter sebelumnya sudah dimasukkan kembali ke dalam keranda dan Farel melepaskan kain kapan dari tubuhnya dan berganti pakaian.
“Apa mayat ini aman?”
“Aman, dia sudah hampir satu minggu dirumah sakit tidak ada keluarga yang menjemput, dia korban kecelakaan, ada tiga orang korban tanpa identitas yang dimakamkan hari ini, dimakamkan di pemakaman tanpa nama, jadi aku tinggalkan satu"
“Jadi tidak ada masalah, Ya”
“Tidak ada Pak,” ucap dokter muda tersebut, dia adalah Brayen, dokter muda yang teman adik Alisa dokter yang pernah membenci Faisal.
Jadi, Farel memalsukan kematiannya agar dia selamat. Apa yang mereka lakukan pagi itu sudah direncanakan bersama dokter, apa yang mereka rencanakan semuanya berjalan lancar Sesuai rencana, para bajingan yang menjebak Farel akhirnya masuk perangkap.
Untuk jenazah yang menggantikan Farel akan dimakamkan hari itu juga, semuanya sudah disiapkan, mayat korban tabrak lari tanpa identitas yang akan dimakamkan sebagai Farel hari ini.
Saat tiba di pemakaman sudah ada beberapa keluarga Farel yang tinggal di kampung halaman yang akan ikut saksi di pemakaman, karena ibu Farel sudah mengabari sebelumnya kalau Farel akan dimakamkan malam itu juga.
Sebelum turun Farel memberi aba-aba pada mereka.
Mendengar penuturan Farel, mereka memperbaiki kain kapan mayat akan dikuburkan tersebut, agar wajahnya tidak terlihat jelas, saat mayat diturunkan dari mobil Jenazah Farel juga menyelinap dan ikut turun, ia merasa kalau mobil ambulance itu juga akan diperiksa.
Saat mereka tiba beberapa orang membantu mengangkat keranda,dan diantarkan ke pemakaman, Farel yang sudah menyamarkan penampilannya ikut di sana ia melihat ke sekeliling dan ia menemukan mata-mata polisi. Ia mengirim pesan pada Dimas dan yang lainnya.
[Hati-hati mereka ada dua orang di sini baju hitam dan pakaian putih pakai kopiah] pesan Farel.
[Baik] balas Dimas.
Mereka berempat berusaha menghalangi wajahnya agar tidak dilihat jelas, akhirnya jenazah Farel palsu di masukkan ke liang Lahat, semua berjalan lancar dari ekspresi kedua mata-mata tersebut mereka yakin kalau itu Farel, mereka tidak curiga.
Saat malam tiba Dimas membayar dua orang warga untuk mengawasi kuburan, ia takut para penjahat itu ingin memastikan kalau yang dimakamkan itu Farel.
Setelah pemakaman, dokter yang menyamar jadi pengantar jenazah itu kembali ke Jakarta, dan sudah saling berjanji tidak akan mengatakan apapun karena menyangkut nyawa mereka. Farel, Dimas, Reimon bertemu di hotel.
“Lalu bagaimana? Kamu sudah bebas, apa kamu ingin membawa Alisa?”
__ADS_1
“Dia sudah istrimu sekarang dia tanggung jawab mu, tolong bahagiakan dia”
Dimas diam, ia tidak tahu harus mengatakan apa, karena ia selama ini selalu berdoa dan berharap agar Alisa bisa kembali kepadanya, tetapi ia tidak tahu kalau Alisa benar-benar akan di serahkan sepenuhnya padanya.
“Tapi bagaimana kalau dia tahu dan dia membenciku, karena kita merencanakan semua ini … dia sudah jatuh cinta padamu pak Farel, "ujar Dimas, lelaki itu tidak mau mengambil kesempatan dalam kesusahan orang lain.
“Aku akan pergi jauh, mungkin operasi wajah dan mengganti identitas, aku tidak akan mengganggu rumah tangga kalian,” ujar Farel dengan tulus.
'Aku tidak ingin egois, aku tidak bisa memberi nafkah batin untuk Alisa, dia masih muda, kasihan kalau dia tetap bersamaku, aku yakin kamu bisa membahagiakannya' ucap Farel dalam hati.
Ia menyerahkan Alisa sepenuhnya pada Dimas, ia tidak ingin egois, ia tahu kalau ia tidak bisa memberi nafkah batin pada Alisa, hanya Dimas yang bisa memberinya kebahagian dan memberi nafkah lahir batin, karena mencintai seseorang tidak harus memiliki.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
Bintang kecil untuk Faila (tamat)