Menikah Dengan Abang Ipar

Menikah Dengan Abang Ipar
Tidak Dapat Restu


__ADS_3

Setelah tinggal satu rumah dengan Dimas, banyak hal akan ingin berubah, karena sikap Dimas dan Farel dua  hal yang sangat berbeda, Dimas tipe lelaki yang sangat pengertian pada pasangan, ia mau melakukan pekerjaan apapun di dalam rumah, berbeda halnya dengan Farel yang  selalu terlihat cuek dalam urusan rumah tangga, dan ia menyerahkan sepenuhnya kepada almarhum istrinya, ia juga maunya segala kebutuhannya selalu dilayani sama istrinya.


Namun tidak begitu sama Dimas, ia selalu berpikir, pekerjaan rumah selagi ia bisa membantu ia akan kerjakan tanpa gengsi.


Begitu juga pagi ini, setelah beberapa hari tinggal satu atap dengan Alisa dan si kembar, ia melakukan tugasnya sebagai suami, menyiapkan serapan pagi saat semua penghuni rumah bangun kesiangan.


Saat bangun pagi, Alisa terkejut karena Dimas sudah menyiapkan serapan pagi untuk mereka.


“Kami jadi tidak enak Bu,” bisik Nur suster Amina, ia bangun kesiangan karena kedua si kembar malamnya  susah untuk tidur.


“Tadi malam kami tidak tidur sudah malam bangat,” ujar Desi.


“Loh kenapa sakit?”


“Bukan Bu … tidak tau kenapa si kembar, mereka berdua tidurnya lama , mungkin karena rumah baru jadi mereka  lama tidur beberapa hari ini ”


“Oh, bisa jadi, setiap kita ganti rumah mereka memang lama tidur,”pungkas Alisa.


“Lalu bagaimana  Bu, apa Pak Dimas akan marah kalau kami bangun kesiangan?” Tanya Nur.


“Tidak Bu, dia baik”


Nur, tugasnya sebagai asisten rumah tangga, sekalian  membantu menjaga si kembar, saat mereka bertiga berdiri seperti orang asing, Dimas menoleh.


“Kemarilah  kalian sudah bangun”


“Ya, maaf Pak kami bangun kesiangan, tadi malam mereka berdua rewel,”ujar Nur, ia mendekat dan mencuci perkakas  bekas masak.


“Oh, tidak  apa-apa Bu, mari kita serapan”


“Bapak sama ibu saja yang duluan soalnya kalian mau kerja kami belakangan saja, saya mau membereskan botol susu mereka berdua.” Desi  mencari alasan.


Walau Dimas dan Alisa sangat baik sama Desi, tetapi wanita itu selalu bersikap sopan dan hormat, ia tidak pernah makan bersama dengan majikannya walau berapa kali dipaksa, Desi selalu menunjukkan batasan.


Kini mereka berdua duduk di meja makan setelah Dimas memakai seragam kebesarannya.


“Apa kamu sudah siap kerja di tempat yang baru Sa?” tanya Dimas memulai obrolan hangat.


“Aku sebenarnya  masih grogi Mas, mungkin, karena sudah sempat vakum selama beberapa  minggu”


“Kamu, kan, hanya tiga minggu cuti Sa”


“Ya, tapi tiga minggu itu sudah mengubah banyak hal dalam hidupku”


Dimas tahu kemana arah pembahasan mereka, ia diam, tidak ingin memperpanjang obrolan mereka  tentang cuti.


“Aku akan mengantarmu”

__ADS_1


“Tidak usah Mas, aku naik kendaraan umumnya saja, kalau tidak aku akan bawa motor sendiri”


“Kita satu arah Sa, kenapa harus menolak suamimu”


Mendengar kata suami,  Alisa tidak ingin membantah lagi, ia seolah-olah sadar kalau ia seorang istri.


“Baiklah,” ucapnya kemudian.


Setelah serapan Alisa  pamit sama sikembar, kini bayi gendut lagi gemas-gemasnya, tadinya Alisa berpikir kalau Dimas tidak begitu perduli sama mereka berdua, nyatanya … semua pemikiran Alisa salah, Dimas sangat sayang pada mereka berdua, terutama bayi laki-laki yang  bernama Akmal tersebut.


Dimas saat sholt, ia akan mendudukkan bayi gembul itu di sampingnya tujuannya agar anak laki-lak itu melihat dan meniru apa yang di lakukan Dimas.


Sebelum  berangkat kerja, Alisa mengendong Amina dan Dimas mengendong Akmal, memberi ciuman di pipi tembem mereka  berdua bergantian, Dimas juga melakukan hal yang sama. Jika dilihat sekilas tampak seperti sebuah rumah tangga yang harmonis, setelah pamit Alisa dan Dimas berangkat kerja.


“Sa, nanti pulang kerja, aku akan ke rumah Bunda”


“Mas, maaf aku belum siap bertemu mereka”


“Tidak usah, biarkan aku yang akan mengatakan semua ke mereka”


“Baiklah Mas, terimakasih”


Setelah mengantar Alisa untuk kerja, ternyata Dimas putar balik ia kerumah orag tuanya, ia sudah beberapa bulan tidak pulang ke rumah, saat ia dilarang dekat dengan Alisa kini ia pulang.


“Assalamualaikum”


“Dimas …?” Pak Sutoma yang baru menyelesaikan lima putaran mengeliling rumah, ia berdiri menatap putranya yang gagah dengan seragam loreng-loreng yang ia kenakan.


“Eh … uda, tumben datang pagi-pagi,” timpal Farida adiknya perempuannya yang  selalu  mengkritiknya.


“Aku mau bicara sama Bunda dan sama Ayah,” ujar Dimas langsung  pada intinya.


Wajah kedua suami istri itu langsung saling melihat, baru juga tadi malam mereka membahas tentang gosip yang beredar kalau Dimas menikahi janda dari almarhum Farel.


‘Jadi benar gosip yang beredar itu’ ucap Bu Yani menghela napas panjang.


Setelah mereka duduk dengan tenang barulah Dimas memulai obrolan.


“Aku dam Alisa sudah menikah Bun, mungkin kalian sudah mendengar berita dan gosip yang beredar, aku hanya memberitahukan itu”


“Jadi benar berita itu”


“Ya, benar,” jawab Dimas dengan tenang.


“Memang kamu tidak bisa hidup tanpa dia Dimas, banyak wanita cantik dan baik di dunia  ini. Tapi, kenapa harus janda dari almarhum musuhmu”


“Bun, aku mencintainya Alisa dan Farel bukan musuhku”

__ADS_1


“Tetapi kenapa harus wanita bekas orang lain, aku malu sama keluarga Dimas, Bunda tidak merestui kalian, jangan bawa dia ke rumah ini sampai kapanpun”


“Bun, aku hanya ingin memberitahukan keluarga ini, kalau aku sudah menikah, agar bunda dan ayah tidak penasaran”


“Jadi kamu mau bilang restu orang tua tidak penting!?” Bentak Bu Yani dengan marah.


“Aku sangat menghormati ayah dan Bunda dari dulu, bunda tau itu kan?”


“Ya, bunda juga tahu kalau kamu anak yang berbakti sama kedua orangtuamu, tapi sekarang kenapa kamu jadi melupakan bakti orang tuamu Nak”


“Aku selalu  menghormati dan sayang ayah, Bunda selamanya dan itu tidak akan berubah, tapi aku juga mencintai Alisa”


“Jadi sekarang kamu mau bilang kalau kamu lebih memilih Alisa dari pada keluargamu? Begitu yang ingin kamu katakan?”


“Bun, aku tidak ingin memilih, aku ingin Alisa dan   keluarga juga, tolong terima pernikahan kami, tolong restui kami, karena anakmu ini sangat mencintai wanita itu”


“Tidak, bunda tidaka akan menerima dia lagi di rumah ini,” ujar Bu Ayni dengan marah.


Tetapi Pak Sutomo tidak ingin memihak siapapun, baik istrinya dan Anaknya.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)

__ADS_1


__ADS_2