
Pak Seno dan Brata masih di Singapura untuk bertemu Farel, ia merasa sayang kalau Farel harus melepaskan profesinya sebagai polisi, padahal ia mengalami hal seperti itu demi membongkar kasus korupsi di instansinya.
“Bagaimana pak Farel? Apa tawaran saya di terima?”
“Saya akan memikirkannya kembali Pak, sebenarnya saya sudah berniat meninggalkan kepolisian dan beralih jadi pengusaha Pak”
“Sayang di sayangkan kalau kepolisian akan menyia-nyiakan anak seperi kamu Farel.” Pak Brata menatap Farel, lelaki mantan polisi itu mendukung Farel kembali bertugas.
“Tenang saya akan memberikan promosi naik jabatan dan saya akan menjamin keamanan untuk kamu juga,” ujar Pak Seno membujuk.
“Saya tidak bisa kembali sebagai Farel Pak Seno, karena semua orang sudah menganggap ku sudah meninggal”
‘Aku juga tidak ingin mengganggu kehidupan Alisa, biarkan wanita baik itu menikmati kebahagiannya’Farel membatin.
“Saya akan membiayai operasi wajah untuk kamu, yang penting kamu bisa kembali. Akan aku pastikan tidak ada yang mengenal kamu, kita akan ganti indentitas menjadi yang baru”
Setelah di bujuk dan di rayu dengan segala macam tawaran akhirnya, ia setuju.
Di sisi, tepatnya di Jakarta.
Akhirnya Dimas pulang dari luar kota setelah bertugas beberapa hari di sana, setelah kedatangan Bu Yani dan Farida, Alisa kembali berubah dingin bak batu es terhadap Dimas, lelaki berambut cepak itu hanya diam dan mencoba untuk tenang ia tidak tahu kalau ibunda tercinta sudah menyakiti perasaan Alisa.
“Apa kamu sakit Sa?” tanya Dimas saat Alisa, ia berpikir kalau Alisa datang bulan, karena ia tahu kalau Alisa datang tamu bulanan wanita cantik akan jadi pendiam beberapa hari, Dimas tahu kebiasaan itu saat mereka menjadi pasangan kekasih dulu.
“Tidak Mas”
“Lalu kenapa kamu jadi diam?”
“Nanti kita akan bicara, aku akan membereskan ini dulu,” ujar Alisa menunjuk belanjaan susu bulanan si kembar.
“Baiklah Sa, aku akan menunggumu di kamar kita,” ujar Dimas menahan napas. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan sangat keras.
‘Apa terjadi sesuatu selama aku tidak di rumah?’ Dimas membatin , ia merasa sangat gugup sudah punya firasat yang tidak baik.
Di dapur Desi ikut membantu merapikan belanjaan si kecil.
“Bu, apa ibu akan memberitahukan Pak Dimas, saat ibu dan adiknya datang?” tanya Desi dengan hati-hati.
“Ya, Des saya tidak ingin masalah semakin panjang ke depannya”
“Bu tapi ….” Desi menggantung kalimatnya.
“Kenapa Des?”
“Kasihan Pak Dimas Bu”
“Semua juga kasihan Des, bukan hanya Pak Dimas yang lebih kasihan si kembar kehilangan ibu dan ayahnya, jadi biarkan saja … biar semua transparan”
“Baiklah Bu, tapi Desi berharap Ibu dan Pak Dimas baik-baik saja”
Alisa mengangguk, ia mengerti apa yang di pikirkan pengasuh si kembar, ia juga merasakan perubahan sikap nyonya rumah itu setelah ibu Dimas melabraknya. Sementara Alisa merasa semakin merasa sedih setelah kedatangan ibu Dimas.
‘Harusnya kamu tidak meninggalkanku Mas, agar tidak ada omongan seperti itu padaku’ ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Setelah beres-beres akhirnya Alisa masuk ke kamar mereka, Dimas sudah duduk sisi tempat tidur, ia menunggu Alisa dengan diam, matanya mengikuti kemana Alisa melangkah, sesekali ia menghela napas panjang karena gugup.
Setelah Alisa keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur ia, duduk di kursi yang ada di kamar mereka.
“Mas, aku ingin bicara”
“Sa, tidak bisakah kamu bicara dekat denganku”
“Aku sudah di sini saja,” ucap Alisa.
‘Sa, kenapa kamu menjauhiku seperti ini, kenapa kamu membenciku, kamu memperlakukanku seperti orang lain’ ucap Dimas dalam, tetapi ia menahan diri.
“Baiklah kalau begitu, katakan kamu mau ngomong apa?”
“Ayo kita berpisah saja”
Mata Dimasa melotot kaget , ia seakan-akan tersambar petir di siang bolong dengan apa yang dikatakan Alisa.
“Apa aku tidak ada artinya sedikitpun di matamu, mudah sekali kamu mengatakan itu padaku Alisa!”
“Mas dengarkan aku dulu”
“Kamu yang perlu mendengarkan aku Sa, aku sudah cukup mendengarkan beberapa bulan ini, sekarang giliran kamu yang mendengarkan aku!”
Dimas akhirnya meluapkan semua yang di pendam dalam hati, setelah mereka resmi menikah.
“Baiklah katakan ,” ujar Alisa ia tahu kalau Dimas sudah marah besar.
“Aku sudah menahan diri selama ini Sa, kamu bilang belum siap melayaniku sebagai suami, aku tidak pernah memaksa, aku menunggu “
“Ka- Kamu yang perlu dengarkan aku Nona Alisa,” potong Dimas, ia sangat marah.
Alisa hanya bisa menutup mata, ia tidak ingin membuat lelaki itu marah, tetapi ia hanya ingin menuruti apa yang dikatakan orang tua Dimas, ia sudah memikirkan sudah beberapa lama ini, sebenarnya ia juga sudah banyak mendengar sindiran orang padanya karena pernikahannya dengan Dimas, bahkan ada beberapa orang yang mengatakan kalau Alisa bahagia atas kematian abang iparnya, agar ia bisa menikah dengan mantan kekasihnya tersebut.
Alisa bahkan menutup akun sosial media miliknya karena tidak mau melihat postingan orang yang menyindir dirinya.
“Aku menikah denganmu bukan karena kelicikan Sa, bukan aku yang membunuh Farel, justru ia yang meminta kita menikah, aku hanya ingin membantumu dan si kembar, tidak ada niat mencari kesempitan dalam kesempitan …,” ujar Dimas lagi.
“Mas sudah? Apa aku sudah bisa bicara?”
“Aku tulus mencintaimu Sa, aku sangat mencintaimu dari dulu … bahkan sampai sekarang, tetapi kamu! Tidak pernah menganggap ku. Apa salahku?”
Dimas menggila saat Alisa menyebutkan kata pisah, bahkan ia tidak memberi kesempatan untuk Alisa alasan hingga terbesit kata berpisah.
Dimas terlihat begitu marah, ia merasa sangat terluka setelah pengorbanan besar yang ia lakukan ternyata orang yang begitu ia cintai tidak mencintainya lagi.
“Mas dengarkan aku menjelaskan”
“Sa, tidak perlu di jelaskan … aku sudah tahu alasan yang ingin kamu katakan padaku.” Dimas berdiri ingin meninggalkan Alisa.
“Setidaknya izinkan aku menjelaskan apa yang terjadi”
Dimas berdiri dan menyambar kunci motor miliknya meninggalkan Alisa, saat di tegah jalan, ia berhenti dan berteriak dia atas jembatan, tidak menghiraukan tatapan orang padanya, ia mengeluarkan perasaan amarah dalam hatinya. Setelah berpikir beberapa saat, ia memutuskan menelepon Farel.
__ADS_1
Setelah memasukkan kode negara dan mencoba menelepon beberapa kali, akhirnya nomor Farel aktif juga.
Lelaki tampan itu menyengitkan kedua alisnya saat Dimas menelepon.
Ia berpikir terjadi hal buruk pada si kembar, dengan buru-buru ia menjawab panggilan dari Dimas.
“Halo”
“Apa aku menggangu tidurmu?” tanya Dimas.
Mendengar suara Dimas, ia sudah bisa menebak telah terjadi hal buruk
“Tidak ada apa Pak Dimas?”
“Aku tidak tahan lagi …”
“Maksudnya ….?”
“Alisa ingin berpisah”
“Kenapa? Apa kalian bertengkar?”
Ia menceritakan semuanya pada Farel berharap ayah kedua anak kembar itu memberikan solusi yang terbaik.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Indentitas Tersembunyi Sang Menantu( BARU)
-Aresya
-Manusia Titisan Dewa
-Menikah Karena Wasiat( Cat story)
-Pariban jadi Rokkap
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (Tama)