
Farel terpaksa menceritakan semuanya pada Dimas, karena lelaki itu hampir menyerah, menghadapi sikap dingin Alisa.
“Apa kamu punya waktu?” Tanya Farel.
“Besok, aku ingin istirahat beberapa hari”
“Apa latihan di luar kota melelahkan?”
“Latihan seberat apapun tidak pernah berarti untukku, yang membuatku tidak bisa berdaya hanya sikap Alisa”
Farel memikirkan satu hal, ia baru ingat kalau Alisa orang yang sangat patuh pada orang tua, terlihat dari sikapnya yang tidak bisa menolak pernikahan mereka berdua saat itu.
“Apa kamu masih di sana?” Tanya Dimas menatap layar ponselnya, panggilan itu masih terhubung tetapi Farel diam karena memikirkan kenapa sikap Alisa sangat berubah.
“Ya, masih … apa orang tuamu tidak menyetujui pernikahan kalian?”
“Tidak, tapi apa hubungannya?”
“Apa Alisa memberitahukan alasan ingin pisah?”
Dimas diam, ia bahkan tidak memberikan waktu untuk Alisa memberikan alasan.
“Tunggu … apa bapak pikir orang tuaku menemui Alisa?”
“Bisa jadi, kenapa kamu tidak bertanya pada Alisa”
“Kamu benar … mungkin bunda yang memintanya melakukan itu.”
Dimas terdiam, ia baru ingat, sehari setelah ia tiba di luar kota Farida kakaknya menelepon dan bertanya dirinya sedang di mana.
‘Apa bunda yang melakukannya?’ tanya Dimas dalam hati.
“Pak Dimas … begini, apapun yang terjadi, tolong jangan tinggalkan Alisa, aku berpikir keluarga Faisal tidak akan membiarkan begitu saja.”
Farel memberi nasihat.
“Aku berpikir ini ada hubungannya dengan orang tuaku, Pak Farel terimakasih sudah mengingatkanku, aku tutup telepon dulu, aku ingin bicara dengan Alisa,” ucap Alisa.
“Baiklah lakukan dengan baik, aku yakin Bapak bisa melakukannya”
Farel menutup sambungan telepon, lalu Dimas menghidupkan mesin motornya dan kembali ke rumah, ia ingin bicara lagi dengan Alisa, ingin bertanya alasan Alisa, mengapa ingin berpisah.
Saat tiba di rumah suasana rumah sudah sepi, untung Dimas punya nomor Desi untuk membuka pintu.
Saat ia masuk ke dalam kamar, Alisa sudah tidur, melirik jam yang ada di dinding kamar tersebut sudah jam satu pagi.
‘Egois rasanya kalau aku membangunkan Alisa hanya untuk bertanya hal itu, besok saja’ ucap Dimas dalam hati
Dimas duduk di kursi di samping ranjang, ia menatap, wajah Alisa yang tertidur pulas.
“Masya Allah kamu sangat cantik Sa,” gumam Dimas pelan saat melihat Alisa tidur tanpa kerudung, Hal yang sangat jarang Alisa lakukan saat di rumah, walau Dimas sudah jadi suaminya tetapi ia belum siap, karena banyak yang ia pikirkan termasuk orang tua dari Dimas dan teman-temannya.
‘Apa yang aku lakukan Sa, untuk meyakinkanmu ? aku sudah berjanji pada Farel akan selalu menjaga kalian’ ucap Dimas dalam hati, ia masih duduk di kursi di samping ranjang, tidak lama kemudian ia tertidur di kursi dan kaki di letakkan diatas nakas .
*
Suara tangisan bayi membangunkan Dimas, ia berdiri dan bergegas ke kamar si kecil saat mendengar suara tangisan.
“Kenapa Des?”
__ADS_1
“Tidak tau Pak, Akmal dari tadi tadi nangis terus.”Dimas menggendongnya, bayi laki-laki itu langsung diam.
Mereka saling menatap satu sama lain, padahal dari tadi mereka sudah berusaha membujuk tidak berhasil giliran Dimas ia langsung diam.
“Kenapa? Apa kamu kangen sama ayah?” tanya Dimas, ia memeluk Akmal dengan sayang.
Membawa bayi laki-laki itu ke luar , Dimas memang lebih sayang pada Akmal , ia mengarahkan kamera ponselnya ke dan mengambil gambar baby Akmal dan mengirim untuk Farel.
[Sangat mirip sama bapak] tulis Dimas dalam keterangan foto.
Farel baru juga selesai olah raga mendapat kiriman foto putranya ia terdiam dengan sangat lama, matanya menatap dengan dalam bayi Akmal.
[Foto princess menyusul, dia lagi mandi] isi pesan Dimas lagi.
“Anakku maafkan ayah Nak, suatu saat nanti kita akan bertemu bersabarlah,” ucap Farel.
Lalu ia mengirim pesan sama Dimas.
[Terimakasih Pak, rinduku terobati, tapi kenapa pipinya ada bintik-bintik merah?] tanya Farel saat ia memperbesar gambar yang dikirim Dimas ada bintik merah di sana.
[Kata Alisa dia alergi telur, pengasuhnya lupa Akmal di beri makan telur puyu. Bukankah Pak Farel alergi terlur juga?]
[Ya, aku alergi telur]
Tiba-tiba Farel sangat sedih saat mengenang Ratna istrinya .
[Baiklah, jagoan ini sudah diam, aku mau bawa dia kembali ke rumah] tulis Dimas dalam isi pesannya lagi.
[Aku berharap kalian baik-baik saja Pak Dimas, cobalah untuk bicara baik-baik dengan Alisa , apa alasan dia meminta berpisah, jangan marah atau emosi , kasihan dia pasti sangat bingung saat ini”
[baik Pak,Terimakasih atas dukungannya]
Setelah baby Akmal anteng ia membawanya kembali ke rumah, memberikannya pada Desi.
Kedua pengasuh itu menatap Alisa dengan wajah menegang, mereka berpikir kalau Dimas akan marah lagi seperti tadi malam.
“Baiklah.” Alisa memberikan Amina untuk pengasuhnya dan ia mengikuti Dimas keluar.
“Ada Mas?” Tanya Alisa setelah mereka duduk di kursi teras.
“Aku hanya ingin tahu ,apa alasan kamu meminta pisah dariku”
Apa Mas sudah mau mendengarkan sekarang?” tanya Alisa
“Ya”
“Itu karena bunda yang memintaku melakukannya, beliau memintaku meninggalkanmu Mas”
“Apa bunda datang ke sini?”
“Ya, datang bersama kak Farida”
“Kalau begitu ayo kita menemui keluargaku, kita akan jelaskan semuanya”
“Untuk apa Mas …?” Alisa menatap Dimas dengan panik.
“Tidak apa-apa, biar keluargaku tau, kalau semua ini bukan keinginan kamu tapi keinginanku”
“Mas … jangan seperti ini, nanti masalahnya akan panjang”
__ADS_1
“Lebih baik seperti itu Alisa biar semuanya tau”
Dimas memaksa Alisa untuk bertemu keluarganya, ia tidak ingin Alisa memikul beban itu sendirian.
“Mas, ayo kita bicara dulu sebelum bertemu keluargamu”
“Nanti saja Sa, nanti setelah kamu bertemu mereka, katakan saja apa yan kamu pikirkan”
Saat mereka tiba pagi itu orang tua Dimas terkejut.
“Assalamualaikum,” ucap Alisa menyalim tangan ke dua orang tua itu dengan hormat.
“Walaikum salam,” sahut Pak Sutomo ia melirik wajah Dimas yang terlihat marah.
“Apa benar Bunda meminta Alisa meninggalkanku?” Tanya Dimas.
“Ya, Bunda hanya …-”
“Begini Bun, Yah … aku yang mengemis cinta dan memohon untuk menikah dengan Alisa, kalau Bunda dan Ayah meminta dia meninggalkanku, dia akan melakukannya karena dia orang yang patuh pada orang tua, lalu, bagaimana dengan aku, apa kalian tidak memikirkan ku?” Tanya Dimas.
“Dimas … kamu bisa menemukan wanita yang lebih baik kalau Alisa, ingin cerai," ujar Bu Yani
“Bukannya tidak mau Bun, tapi dia menghargai bunda, begini saja … kalau aku tidak bisa memiliki kalian berdua dalam hidupku, biarkan aku saja yang pergi”
“Maksudnya … ?” Bu Yani menatap putranya dengan bingung.
“Aku akan ikut mengajukan diri tugas di konflik di Papua”
“HAAA!?”
Alisa dan Bu Yani sama-sama melongo.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Indentitas Tersembunyi Sang Menantu( BARU)
-Aresya
-Manusia Titisan Dewa
-Menikah Karena Wasiat( Cat story)
-Pariban jadi Rokkap
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
__ADS_1
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (Tama)