
Dalam satu divisi kerja atau satu kepemimpinan, pasti ada kata tidak suka atau pun tidak di terima.
Begitu juga di rumah sakit di mana Alisa bekerja. Sejak dr. Faisal menjadi salah satu pimpinan di rumah sakit, ada banyak orang yang tidak menyukai ke kepemimpinan nya. Banyak orang menganggap ia bersikap semena-mena dan membuat peraturan yang tidak masuk akal.
Begitu juga saat ia terluka, seorang calon dokter mengamankan camera cctv dan memberikannya pada Alisa.
“Ini apa Brian? Kenapa memberikannya padaku?”
“Tidak apa-apa Sa, diam lah dan bersikap tidak tahu apa-apa, tidak ada yang tahu aku mengambil rekaman cctv itu,” ujar dokter berkaca mata itu menatap serius.
“Tunggu … kenapa Brian melakukan itu? Tanya Alisa, saat lelaki muda berkaca mata itu menelepon dirinya, memberitahukan kalau Farel menganiaya Faisal.
Meminta bertemu dengan Alisa bertemu di salah satu cafe.
“Aku tidak suka dengan dr. Faisal sejak dia ingin memindahkan mu tanpa mengikuti prosedur, dan menolak proposal ku dengan alasan yang tidak masuk akal , kita semua tidak suka dengan ia bersikap semena-mena.
Ternyata setelah saya selidiki, kepala rumah sakit ini pamannya sendiri, aku yakin suami Ibu tidak akan di lepaskan dengan mudah, aku merekam semua apa yang mereka perdebatkan di sini.”
“Tunggu, apa yang kamu lakukan di gedung atap ini Brian?” Alisa menatap penuh penyelidikan, ia wanita yang kritis tidak mudah di pengaruhi orang lain, dan tidak muda percaya pada orang lain begitu saja. Ia selalu mencari kebenaranya.
“Saya sedang merokok, maaf boleh merahasiakannya, Bu?”
“Isss, kamu bagaimana seorang calon dokter malah merokok, kalau nanti di ketahui atasanmu, kamu akan di beri sangsi,” ujar Alisa.
“Aku tahu Bu, tetapi kalau aku banyak pikiran iya larinya merokok, aku bersyukur lelaki itu di hajar sama suamimu, aku seperti ini karena dia, apa yang aku lakukan selalu dipersulit.
Bagaimana saya mau lulus jadi dokter kalau ia selalu memberiku nilai jelek?” ucap lelaki muda itu dengan sendu.
Lelaki muda itu yang jadi saksi hidup saat Farel menganiaya Faisal. Karena rasa benci pada Faisal ia membiarkan lelaki itu sekarat dan menyingkirkan rekaman cctv , beruntung seorang perawat mencari Faisal karena akan melakukan operasi.
Brian bersikap pura-pura tidak tahu, ia bersikap tenang setelah menghapus jejak dan mengamankan cctv.
__ADS_1
Melihat suster mandar-mandir mencari Faisal, ia memberitahukannya setelah beberapa menit dibiarkan pingsan di lantai atap, tempat yang sepi.
“Tadi saya melihat Dokter Faisal ke lantai atap mungkin cari angin,” ujar Brian, tetapi ia sudah menyingkirkan kursi yang sudah hancur itu, menjauhkan dari tubuh Faisal.
Jadi kesannya ia terjatuh sendiri dan pingsan. Padahal Farel yang menghajar bagian dalam celananya, jadi tidak ada yang melihat luka di luar tubuhnya.
Setelah Faisal di bawa kamar rawat, Brian terus mengawasinya, rekan-rekan dokter menganggapnya hanya pingsan dan menunggu sampai sadar.
Setelah semua tenang barulah ia menelepon Alisa dan meminta bertemu.
*
“Lalu, kamu menginginkan apa?” tanya Alisa berpikir lelaki muda yang calon dokter itu ingin memeras.
“Aku tidak ingin menginginkan apa-apa Bu. Aku hanya menganggap kita berdua korban keegoisan lelaki sombong itu, maka itu aku memilih membela suami ibu Alisa.”
“Brian, tidak seharusnya kamu melibatkan aku, nanti kalau ada yang melihat aku menemui mu bagaimana?”
“Tidak ada yang mencurigai ku Bu, harusnya ibu mendengar apa yang mereka perdebatkan barulah ibu memutuskan membela siapa, ini aku kirim untuk ibu, saya tidak ada niat apa-apa hanya ingin Dr Faisal lenyap dari muka bumi ini,’ ujar Brian dendam membara.
dengar! kamu tinggal satu langkah lagi, jika kamu melibatkan diri atau kamu melakukan hal yang membuatmu terlibat.
Kerja keras orang tuamu di kampung akan sia-sia. Tahan dirimu, begitulah kalau dokter praktek, nanti kalau kamu sudah sukses, baru tunjukkan padan mereka kalau gagasan yang kamu ciptakan itu berhasil.”
“Tetapi aku selalu di rendahkan belakangan ini Bu, apa lagi saat aku mengobrol dengan ibu, dia selalu membuatku patah semangat.”
“Brian, kita satu kampung kamu kenal keluargaku dan aku kenal keluargamu, kita sama-sama anak ekonomi rendah, sama-sama miskin, jadi jangan buat dirimu terlibat apapun, itu akan sulit bagimu untuk selamat.
Mungkin Faisal tidak suka dengan kamu, karena aku kenal kamu dan kamu tahu tentang semua masalah keluargaku, jadi dia mungkin merasa diawasi atau entahlah … tolong jangan libatkan dirimu.
Jangan bela Farel dan jangan melakukan apapun . Jangan katakan pada Mario, kamu akan mendapat kesulitan nanti,” ujar Alisa, wajahnya serius.
__ADS_1
“Tetapi Mario sahabatku Bu.”
“Sahabat! Sahabat! dia polisi Brian ….! dia tidak suka dengan Farel, dia akan terus memaksa untuk menjatuhkan Farel.
Satu hal lagi, Jangan panggil aku IBU …! IBU …! ini bukan di rumah sakit!” teriak Alisa marah besar pada teman adiknya.
Brian sedang praktek di rumah sakit dengannya. Brian marah saat Faisal memindahkan Alisa, karena selama ini, Alisa yang selalu membelanya dan mengajari nya selama ia melakukan praktek di rumah sakit.
“Tetapi dia memindahkan Mbak, bagaimana denganku, semua orang di sana selalu merendahkan ku?” ujarnya dengan wajah sedih.
Melihat wajah sedih itu, Alisa menarik napas panjang, ia sebenarnya sangat kasihan pada Brian, lelaki itu anak yang kurang mampu, ia bisa masuk sekolah dokter karena kepintarannya, ia mendapat beasiswa.
Namun, karena kepintaran otaknya, ia sering sekali tidak di sukai para dokter senior karena sering sekali mengkritik para dokter senior, jika melihat tidak sesuai membuatnya tidak di sukai di rumah sakit.
Selalu mendapat nilai rendah karena sifatnya yang kritis. Kalau sudah ada masalah seperti itu Alisa yang selalu berdiri membelanya dan menyelamatkannya dari hukuman sangsi.
Tetapi saat mendengar Alias dipindah tugaskan membuatnya marah pada Faisal, dan sangat kebetulan sekali di depan matanya lelaki yang paling di benci itu di pukuli hingga pingsan. Ia tidak menolongnya malah ingin membiarkannya mati.
“Brian, kamu orang pintar tidak butuh dukungan dari siapapun, kamu hanya perlu memperbaiki sifat kamu dan cara kamu.
Begini … jika kamu tidak bisa jadi teman untuk para dokter jangan dirimu musuh untuk mereka, cukup ikuti aturan, ada saatnya nanti kamu bersuara dan terbang ke angkasa. Tetapi kamu akan terbang jika kamu sudah siap dan punya sayap.
Kamu mengerti maksudku?”
Brian hanya diam, jelas sekali itu bertentangan dengan pemikirannya dia selalu sikap kritis dan tidak suka jadi penjilat.
“Jangan mengkritik seniormu itu intinya Hal terpenting saat ini … jangan buka mulut tentang kejadian hari, walau Farel masuk penjara walau Faisal meninggal jangan membuka mulut.
Katakan tidak tahu, tutup matamu itu yang akan membuatku menjadi dokter nanti. Kamu tahu, kalau sedikit kamu buka celah, mereka akan menyerang nanti dan akan menjadikanmu ter sangkanya.
Kamu akan kambing hitamnya. Kamu dengar?” melihat wajah menakutkan dari Alisa.
__ADS_1
Akhirnya Brian diam dan mengangguk pelan, ia tidak akan menjadi saksi untuk Farel, ia akan menyelamatkan dirinya agar lolos jadi dokter.
Bersambung ....