Menikah Dengan Abang Ipar

Menikah Dengan Abang Ipar
Penolakan dari Istri


__ADS_3

Keajaiban benar-benar terjadi saat itu, saat Farel meminta dengan tulus kesembuhan untuk Baby Akmal. Tetapi Farel menganggap Ibu mereka yang membantu membangunkan Akmal.


“Terimakasih, karena kamu sudah membangunkan dia,” ujar Dokter Vero ikut tersenyum bahagia.


Farel berpikir roh Ratna yang membangunkan anak kembarnya.


Para Dokter yang menangani bayi Malang tersebut, mereka terlihat bergembira saat Akmal menangis.


Semua dokter menyebutnya anak ajaib karena ia bisa bangun dari koma.


Farel hanya mengangguk kecil saat semua dokter mengucapkan selamat padanya dengan tulus karena sang anak akhirnya siuman.


“Aku percaya kekuatan ikatan batin itu sangat kuat,” ujar seorang dokter.


Lagi-lagi Farel tersenyum datar menanggapi yang menyebut baby Akmal bangun karena kekuatan ikatan batin dan sentuhan darinya.


Setelah Akmal bangun, Desi menangis histeris, dari semua orang di ruangan hanya dia yang benar-benar merasa terpukul karena wanita itu menarik Akmal dari gendongannya dan melemparnya ke lantai.


“Sayang, terimakasih sudah bangun, terimakasih,” ucap Desi memeluk tubuh mungil Akmal.


“Dia sudah sadar karena ayahnya,” ucap Dokter melirik Farel.


Desi mengalihkan pandangannya kearah Farel, tatapan mata Desi menolak pernyataan dokter yang menyebut Akmal bangun karena kekuatan batin ayah dan anak.


‘Ayah apa ... dia bukan ayahnya, lelaki ini dan keluarganya hanya monster jahat’ ucap Desi dalam hatinya.


‘Hanya Alisa yang benar-benar mencintai mereka berdua ‘ sambung Desi membatin.


Melihat tatapan protes dari Desi Farel keluar, ia merasa dadanya sangat sesak, saat di luar ia baru ingat kalau Alisa juga di rawat di rumah sakit yang sama dengan Akmal.


Setelah mendapat informasi kamar Farel berjalan menuju kamar Alisa, saat ia masuk wanita belum bangun, dokter terpaksa menyuntiknya dengan obat bius ringan karena ia terus berontak ingin melihat Akmal.


“Apa bapak suami pasien?” tanya perawat yang mengganti infus milik Alisa.


“Iya.”


“Mari Pak, saya antar menemui dokter yang merawat Ibu.”


“Apa ada yang menghawatirkan, Sus?”


“Nanti dijelaskan dokter iya Pak.” Wanita berseragam putih-putih itu membawa Farel ke ruangan dokter.


“Silahkan duduk Pak” Dokter yang terlihat sudah senior itu meminta Farel untuk duduk di kursi di depan mejanya.


“Ada apa Dok?” tanya Farel mulai menunjukkan wajah serius.

__ADS_1


“Ini tentang istri Bapak, dia mengalami radang lambung yang sudah akut dan itu sangat berbahaya bagi seorang wanita, bahkan kami menemukan lendir yang beracun di lambungnya, apa Bapak bisa menjelaskan itu?”


“Apa? Maksudnya ada yang meracuni istri saya?”


“Saya tidak bilang ada yang meracuni, tetapi cairan yang kami temukan itu membuktikan ia sepertinya meminum sesuatu yang bisa membuatnya mati tanpa … meninggalkan jejak. Apa sebelumnya kalian bertengkar?”


Farel diam ‘ Apa dia ingin menyakiti dirinya sendiri?’ Farel keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang benar-benar pucat, ia merasa dirinya juga sakit, dari tadi malam ia juga tidak tidur dan tidak makan. Rasa lapar yang dia rasakan di kalahkan rasa bersalah di hati Farel, apa lagi, saat mendengar Alisa ingin menyakiti dirinya.


Ia keluar dari ruangan dokter dan masuk kembali ke kamar Alisa. Tetapi saat ia masuk matanya melotot terkejut Alisa berusaha bangun dari ranjang.


Farel berlari menghampiri Alisa yang akan melepaskan selang infus di tangannya.


“Apa yang kamu ingin lakukan Sa?”


Mata bulat itu menatap suaminya dengan tatapan tajam, terlihat jelas di wajahnya yang cantik kalau ia marah besar pada lelaki yang telah meninggalkannya di pinggir jalan. Dengan sisa tenaganya ia mendorong tubuh Farel.


“Jangan menyentuhku!”


“Sa, kata dokter kamu harus banyak istirahat,” ucap Farel memegang tangan istrinya.


“Apa peduli mu? menjauh lah dariku, dengan tenaga yang sangat lemah di berusaha menyingkirkan tangan Farel.


” Aku ingin melihat akmal. Ya Allah tolong dia.” Ia menangis memanggil nama sang kakak.


“Tenanglah, dia tidak apa-apa.”


Alisa berdiri dengan susah payah, tangannya memegang erat sisi ranjang agar tubuhnya bisa dengan stabil.


Farel masih menahan tubuhnya, walau Alisa memberontak dan berusaha menyingkirkan tangan Farel dari tubuhnya, tetapi tenaga yang sangat lemah itu tidak bisa berbuat banyak, hanya penolakan yang sia-sia.


“Alisa! Akmal sudah sadar tadi.”


“Aku tidak percaya lagi padamu Mas, kamu dan keluargamu sungguh orang-orang yang kejam dan tega."


Air matanya mengalir deras bagai sungai kecil, tidak ada isakan tangis tidak ada teriakkan kemarahan dari Alisa, tetapi air mata yang mengalir deras itu, membuktikan, ia sangat sedih terluka dan putus asa.


Farel memeluk tubuh lemah istrinya, ia melakukan itu untuk membuatnya tetap tenang, walau Alisa menolak tubuhnya, seakan -akan tubuhnya menjijikkan untuk wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut.


Farel semakin memeluknya dengan erat, ini juga pertama kalinya ia menyentuh wanita itu selama mereka menikah.


“Lepaskan aku Mas, aku ingin memastikan sendiri,” ujar Alisa dengan suara parau yang nyaris tidak kedengaran.


“Nanti aku akan membawamu kesana, istirahatlah dulu.”


“Bohong, kamu ingin menyakiti kami seperti yang di lakukan Mbak Dinar."

__ADS_1


Alisa mencakar wajah Farel hingga berbekas, itu satu wujud penolakan yang ia lakukan.


Wajah Farel terluka karena kuku Alisa meninggalkan goresan panjang di wajahnya. Lelaki itu tidak marah, ia sadar, luka yang ia lakukan pada hati Alisa tidak sebanding dengan luka yang ia diterima.


“Aku tidak akan melakukan itu, percayalah.”


“Kamu meminta ku percaya Setelah apa yang kamu lakukan padaku? Kamu meninggalkanku di jalan saat malam. Kamu sangat kejam! "


“Aku tahu Alisa, istirahatlah dan kita akan bicarakan lagi nanti jika kamu sudah sembuh” Farel tidak perduli dengan penolakan Alisa, lalu ia menggendong kembali ranjang .


“Aku hanya ingin melihat sebentar, tolonglah.” Alisa memohon sedih.


Farel tidak tega melihat wajah pucat Alisa. Ia mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan vidio call pada Desi


“I-iya Pak.” Desi yang memegang ponsel di depannya, wanita itu tampak gugup


“Ibu ingin melihat Akmal, apa kamu bisa mengarahkan camera ponsel milikmu padanya?”


“Bu! Akmal sudah bangun ia sudah menangis, ia masih hidup Bu” Wanita itu kembali menangis pada Alisa.


“Alhamdulillah, Ya Allah, aku sangat senang, bagaimana dengan Minah, Sus?"


"Dia sudah tertidur lelap Bu. Tadi Pak Farel sudah mengurus satu kamar untuk kami istirahat,” ujar Desi.


Setelah melihat dan mendengar kebenarannya, barulah dia merasa tenang. Tetapi bukan berarti ia mau memaafkan suaminya saat itu juga, ia mengusir Farel dari kamar.


“Keluarlah, aku ingin istirahat,” pungkasnya tegas.


Apa Farel bisa menyembuhkan hati Alisa yang ia sakiti?


Apa nanti Alisa akan tetap bertahan pada suaminya yang tidak pernah mencintainya atau akan kembali pada mantan kekasih yang masih mengharapkan dirinya?


Bersambung....


Bantu like dan komen di setiap bab ya kakak,biar makin semangat menulisnya


Semoga kakak terhibur dengan karya saya


Terima kasih...


Baca juga karyaku yang lain


-Menjadi Tawanan Bos Mafia (Tamat)


_Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)

__ADS_1


-Pariban Jadi Rokkap (ongoing)


Terimakasih.


__ADS_2