
Alisa sempat mengagumi pria tampan itu, karena berpikir ia baik, dulu ia sempat mempertanyakan sang kakak ’Kenapa memilih Farel dari pada dr. Faisal yang tampan dan baik?’
Tetapi pertanyaan itu, akhirnya terjawab juga saat ini, ia pria egois yang hanya memikirkan diri sendiri , tidak perduli dengan bagaimana perasaan orang lain dan tidak menerima pendapat orang lain.
“Tapi saya tidak pernah membuat janji akan menikah dengan Bapak’ kan?”
“Iya, tetapi saya yakin kalau kamu akan mau menikah denganku, Alisa.”
“Keyakinan bapak sepertinya salah, saya tidak pernah berniat akan menikah dengan bapak,” ucap Alisa mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
“Tetapi kenapa?” Wajah lelaki berkulit putih terkejut dengan jawaban Alisa.
“Kamu sadar tidak suamimu tidak akan bisa membahagiakanmu, dia tidak ada lagi gunanya sebagai pria karena dia tidak akan bisa memuaskan mu di atas ranjang Alisa, kasihan kamu masih muda, tetapi akan di anggurin, sama seperti selama ini.”
“Aku tidak pernah berpikir untuk hal itu Pak, tujuan utama menikah bukanlah semata hanya ingin untuk melakukan itu, aku menganggapnya hanya sebagai pelengkap saja,” balas Alisa, mencoba bersikap tenang menghadapi Faisal yang saat ini terbawa emosi.
“Munafik kamu Alisa, coba kamu tanya wanita-wanita di luar sana, kebanyakan mereka selingkuh karena suami mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan ranjang mereka, mana ada wanita yang mau menikah dengan lelaki yang sudah impoten ,” ujar Faisal dengan lantang.
“Pemikiran setiap orang dan kebutuhan setiap orang juga tertentu berbeda Dok.”
“So …? Kamu mau bilang kamu tidak membutuhkan malam pertama?”
“Kok kita, jadi membahas masalah ranjang dan malam pertama sih, Dok?”
“Iya, aku mau bilang setiap orang yang suka menikah akan menginginkan kan dan itu yang paling utama mereka cari, tidak usah berpikiran terlalu sempit dan primitif, membicarakan masalah ranjang sesama orang dewasa sudah hal biasa kali, kamu ,kan berprofesi sebagai bidan harusnya pemikiran kamu sudah luas,”ucap Faisal seakan-akan merasa paling benar tidak ada niat untuk mengalah untuk siapapun.
Ia terus yang lebih banyak bicara lebih panjang, sementara Alisa akan menanggapinya dengan santai dan sabar.
“Saya mengerti Pak, tetapi begini … saya tidak ada niat untuk menikah dengan siapapun, jika kalau nanti harus berpisah dengan Farel, saya belum ada niat untuk menikah, mungkin akan kuliah lagi”ucap Alisa menolak dengan cara yang halus dan sopan.
__ADS_1
“Itu artinya kamu menolak ku? Lebih memilih lelaki impoten itu?”
“Pak Dokter-”
“Jangan panggil aku seperti itu panggil saja aku Faisal.” Lelaki egois itu, mulai marah, karena Alisa menolak lamaran nya, wajahnya mulai memerah.
“Baik lah Faisal, sebaiknya kita akhiri pembicaraan kita sampai di sini yang penting Bapak sudah tahu jawaban saya,” ujar Alisa ingin bergegas.
“Kamu yakin tidak akan menyesal?”
“Isya Allah tidak Pak,” jawab Alisa dengan wajah tenang, walau dalam hatinya ia sudah ingin mengusir Faisal dan ingin menyempal mulutnya.
‘Ganteng sih, tapi sayang mulutnya tidak ada rem’ ucap Alisa dalam hati.
“Itu artinya kamu memilih lelaki banci itu jadi suamimu.”
“Pak, Farel bukan banci ataupun impoten seperti yang bapak sebutkan, Farel bisa sembuh, kok, kalau dia melakukan penyambungan saraf organ vitalnya, saya sudah membaca catatan kesehatan milik Farel.”
‘Aku yakin Farel lebih baik dari lelaki sombong ini, jika aku harus menikah, kamu tidak masuk dalam daftarku, masih ada Dimas yang jadi kandidat paling pertama di dalam hati ini, sebagai calon suami’ ucap Alisa membatin.
“Kamu tidak lebih pintar dari saya, saya lebih tahu apa yang terjadi padanya.”
“Tetapi aku yakin, Farel tidak selamanya begitu pak, kalau dia mau menerima perawatan lagi.”
“Kamu sungguh membuatku sangat kecewa Alisa, padahal aku sudah membantumu dengan begitu banyak, apa balasan untuk yang aku lakukan,” ucap Faisal, tanpa merasa malu ia meminta imbalan dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini untuk Alisa dan si kembar.
“Bapak, ingin uang biar aku ganti?”
“Kamu merendahkan-ku?” bentak nya dengan marah, lelaki itu seolah-olah mencari titik lemah dari Alisa setelah ia di tolak.
__ADS_1
“Tidak, Bapak, kan, meminta imbalan dengan apa yang bapak yang sudah lakukan pada kami, saya tidak tahu bapak ingin apa?”
“Aku hanya ingin kamu Alisa, masa kamu yang tahu sih …”
“Itu dia masalahnya Pak, saya tidak bisa menerima pinangan Bapak, karena saya masih istri seorang Farel ayah anak-anakku.”
Mendengar Alisa menyebut ayah anak-anak, ia langsung sangat marah, wajahnya menghitam dan urat-urat rahangnya saling bertarikan, menandakan lelaki berprofesi sebagai dokter itu di puncak kemarahan.
“Kamu, masih menyebut lelaki gila itu, sebagai ayah anak-anak itu?”
“Iya memang benar, kan, Farel ayah anak-anak, tidak mungkin jadi Bapak Faisal.”
“Seharusnya aku yang jadi ayah anak-anak itu, kalau saja kamu tidak datang ke rumahku!” Bentak nya dengan marah.
“Pak, tidak baik menyembunyikan kebenaran dan membohongi orang sudah meninggal, tidak baik Pak,” ujar Alisa masih dengan sikapnya dan pembawaan yang lemah lembut.
“Berhenti menggurui ku, Ratna juga senang, di kuburan sana, jika anak-anaknya diurus olehku. Dia tidak bodoh seperti kamu,” ujarnya sudah mulai mengeluarkan sifat aslinya , arongan , sombong dan suka merendahkan orang lain , ia juga tidak mau mendengarkan masukan dari oran lain.
“Apa Bapak akan tenang jika sudah melakukan itu? Apa Bapak akan merasa puas?” tanya Alisa. Ia diam-diam menyalakan perekam di. ponselnya, ia berharap dengan kemarahan Faisal ia mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya, mungkinkah dengan cara bisa membantu proses hukum Farel.
“Tenang …? Kamu bertanya , tentang bagaimana perasaanku? Iya! aku pasti akan merasa tenang dan senang, damai jika sudah melakukan itu, karena aku melakukan hal yang benar,” ujarnya dengan yakin, selalu merasa dirinya yang paling benar.
“Maaf aku tidak akan pernah setuju dengan apa yang bapak rencanakan, Farel tetaplah akan menjadi ayah biologis mereka, dan saya juga tidak pernah mengatakan kalau mereka anak yang aku lahirkan, mbak Ratna yang akan selalu mama anak-anak dan aku hanyalah ibu pengganti untuk mereka, tidak akan pernah bisa menggantikan posisi kakakku.”
“Mereka beruntung karena mendapatkan ibu seperti kamu, tetapi tidak beruntung karena mendapatkan Farel sebagai ayah mereka, tetapi akan lebih baik, jika aku yang akan menjadi ayah anak-anak dan kamu jadi ibu, itu baru tepat,” ucap Lelaki itu, dengan sikap memaksa.
Bersambung.
Bantu like dan komen di setiap bab ya kak,biar makin semangat menulisnya,
__ADS_1
terima kasih sudah membaca karya saya.