Menikah Dengan Abang Ipar

Menikah Dengan Abang Ipar
Memberi Waktu Sendiri Untuknya


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah orang tua Dimas, Alisa dan Dimas hanya diam  di dalam mobil.


“Aku tidak ingin kamu pergi Mas,” ucap Alisa kemudian.


‘Akhirnya kamu takut juga nona Alisa’ Dimas membatin.


“Lalu kamu ingin aku melakukan apa Alisa?”


“Ya jangan ikut ke tempat konflik itu, mereka kan sangat kejam,” ujar Alisa.


“Itu sudah jadi tugasku sebagai abdi negara Alisa.”


“Ya, tapi kenapa  harus kamu?”


“Bukan hanya aku, ada banyak orang yang akan ikut Alisa , itu sudah jadi tugas kami menjaga keamanan negara ini,” ujar Dimas.


“Tapi kamu pergi saat kita ada masalah.”


“Jangan khawatir Alisa,  dengan begitu bunda tidak akan mengusik kamu lagi, aku juga tidak  mau  bercerai dari kamu, aku sudah berjanji pada Farel kalau aku akan menjaga kamu.”


“Lalu bagaimana?”


“Kamu tetap tinggal di rumah itu dengan anak-anak,  biarkan aku  yang pergi.”


Alisa tidak bisa bicara lagi, ia hanya diam, ia bahkan tidak tahu harus berkata apa, tetapi ia berpikir mungkin  itu hal yang tepat untuk mereka, Dimas menepati janjinya.


Setelah tiba di rumah, ia mengumpulkan pakaiannya dalam tas, ia akan pergi lagi, padahal  ia juga baru tiba di Jakarta.


Di  rumah keluarga Dimas.


Ayah Dimas marah pada istrinya setelah anak mereka mengancam akan pergi ke  tempat  berbahaya .


“Apa ini yang Bunda inginkan?” Lelaki itu menatap istrinya dengan marah.


“Bunda tidak menginginkan  anakku celaka, aku hanya ingin dapat menantu yang lebih baik dari Alisa,” ujar wanita itu dengan isakan tangis.


“Bun, dia sudah pilihan anak kita,  kita bisa apa?”


“Dia … punya karir yang bagus, ada banyak wanita yang  mau dengannya, anak Pak Brata juga mau dengannya , ayah harus membujuknya.”


“Bun jangan egois, apa kamu mau Dimas pulang  tidak bernyawa?”


“Maka itu ayah harus membujuknya lakukan sesuatu.”


“Terserah bunda saja, kalau Dimas pergi ke tempat konflik tersebut dan  terjadi hal buruk padanya , bunda jangan menyesal,” ujar ayah Dimas meninggalkan istrinya .


Wanita bertubuh gemuk itu masih  mempertahankan keinginannya, ia ingin Alisa dan Dimas berpisah dan mencari jodoh masing-masing.


Untuk Alisa,  tidak masalah, ia sudah terbiasa dengan kehidupan yang keras,  semua yang ia lakukan saat itu, bukan lagi tentang hanya  untuk dirinya dan cinta, tetapi  ia berpikir untuk kebaikan  kedua anak kembar dan kebaikan semua orang.


Saat Dimas membereskan pakaiannya ke dalam tas, Alisa berdiri di samping Dimas menatap lelaki kekar itu dengan perasaan bersalah.


“Maaf.”

__ADS_1


“Maaf untuk apa Sa?”


“Karena aku menyakiti perasaanmu.”


“Aku tidak apa-apa Sa, sudah terbiasa, yang penting kamu tidak ikut terluka, aku berharap kamu bisa menenangkan pikiranmu selama aku tidak ada,” ujar Dimas.


“Apa kamu harus  menyelesaikan masalah dengan  cara pergi, tidak menyelesaikannya dengan baik-baik?”


“Itu sudah cara yang terbaik yang bisa aku lakukan Sa.”


“Lalu apa yang harus aku lakukan Mas.”


“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan Sa, aku tidak akan melepaskan kamu, tetapi jika ada lelaki yang lebih baik dariku, aku akan melepaskan kamu jika itu yang membuatmu bahagia, tetapi untuk sat ini, aku  masih tetap  suamimu.”


                         *


Akhirnya Dimas meninggalkan rumah  memberikan waktu untuk Alisa berpikir dan memutuskan apa yang terbaik untuknya, setelah beberapa minggu Dimas pergi Alisa membawa anak-anak itu pulang ke kampung  halamannya.


Karena kedua orang Alisa sudah tinggal di kampung sejak kejadian yang menggemparkan itu.


“Apa kamu akan tinggal di kampung sama anak-anak?”


“Tidak Bu, aku hanya menitipkan  mereka beberapa minggu di sini, aku akan  bekerja beberapa hari di Batam.”


“Baiklah, maaf kalau ibu bertanya  banyak hal sama kamu Nak. Bagaimana dengan Nak Dimas?” tanya Bu Juminten, wanita itu sudah berubah sejak terbukti  Faisal bersalah.


“Bu,  ibunya tidak menerima Alisa sebagai menantu, jadi, aku meminta untuk berpisah, aku sangat egois jika mempertahankan rumah tangga kami, sementara orang tuanya melarang,” ujar Alisa dengan mata berkaca-kaca, tetapi seberat apapun beban dan  masalah yang ia hadapi, ia tidak pernah menangis di hadapan orang tuanya dan dihadapan orang lain, ia  pernah menangis di depan Farel suaminya.


“Tidak apa-apa Bu, ini mungkin sudah takdir hidup untuk Alisa jalani,  saat ini prioritasku hanya untuk mereka berdua, aku akan bekerja keras untuk si kembar,” ujar Alisa.


“Sa, mulai saat ini, ibu dan ayah akan selalu mendukung kamu.”


“Baiklah Bu, terimakasih sudah mendukungku, aku titip mereka di sini, aku keja dulu,” ujar Alisa.


Atas kesalahan yang di lakukan ibunya di masa lalu, wanita paru baya itu tidak lagi banyak menuntut pada Alisa, terlebih setelah  ia mendengar kabar kalau orang tua Dimas menolak Alisa, padahal dulu sebelum Alisa menikah , hubungan  tua mereka akrap.


Alisa kembali ke Jakarta setelah ia menitipkan si kembar dan pengasuhnya ke rumah orang tua Alisa, ia tidak khawatir kalau   mereka di rumah orang tuanya. Alisa masih sering merasa takut, ia takut orang suruhan Faisal datang mengusik hidupnya, itu juga yang dipikirkan Farel, makanya ia meminta Dimas menikahi Alisa agar bisa menjaganya dan anak-anaknya.


                      *


Beberapa hari kemudian, Alisa  berangkat tugas  ke Batam bersama rekannya sesama bidan, mereka  menginap di hotel, setelah mengikuti Seminar ia dan rekannya makan, Alisa tiba-tiba melotot kaget, karena ia melihat seseorang yang  mirip dengan almarhum suaminya Farel.


“Fa-Farel …?” Alisa menatap lelaki yang berdiri memakai topi.


“Ada apa?” Tanya Rini.


“Aku melihat almarhum  mantan suamiku,” ujar  Alisa ia berdiri dan ingin menghampiri Farel.


Di sisi lain,


Untung Pak Brata melihat Alisa, ia memberitahukan Farel kalau Alisa melihatnya.


“Farel, menjauh dari sana, arah  jam enam ada Alisa yang sedang  melihatmu,” ujar Pak Brata.

__ADS_1


“Baiklah, aku bisa mengatasinya,” ujar Farel, ia tidak berani menatap ke arah Alisa. Ia berakting  menghampiri  seorang wanita dan anaknya  berpura-pura sebagai suaminya.


“Alisa, apakah lelaki itu maksudmu? Itu istri dan anaknya, kamu salah lihat, istighfar Alisa … dia sudah mantan, kamu sudah punya suami” ujar rekannya mengingatkan Alisa.


“Astagfirullahaladzim … aku salah,” ujar Alisa memegang dadanya yang terasa sakit.


‘Bicara memang mudah mba … tapi kalian tidak tau apa yang sebenarnya terjadi antara kami’ ucap Alisa, ia wanita yang kuat dan tegar.


Sementara Farel berhasil melarikan diri dari Alisa.


“Hampir saja aku tertangkap basah sama Alisa, kenapa Dimas tidak mengabari ku kalau Alisa ingin ke Batam?”


“Kita bicara di tempat lain, di sini sepertinya tidak nyaman, kamu pakai  ini saja, aku takut ada orang  lain yang mengikuti Alisa,” ujar Pak Seno, ia memberikan topeng karet ke Farel.


Mereka sengaja bertemu di Batam, membicarakan satu kasus penting yang pernah di tangani Pak Brata dan Farel, tetapi belum juga  mereka   membahas Farel sudah di lihat sama Alisa.


Alisa berpura-pura ingin ke kamar mandi,  padahal ia keluar dari hotel dan mencari Farel di  luar hotel.


‘Aku tidak salah lihat, kan? Jelas sekali  itu seperti Farel’ ucap Alisa dalam hati.


Apakah Alisa dapat bertemu dengan Farel?


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Indentitas Tersembunyi Sang Menantu( BARU)


-Aresya


-Manusia Titisan Dewa


-Menikah Karena  Wasiat( Cat story)


-Pariban jadi Rokkap


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (Tama)

__ADS_1


__ADS_2