
Pagi itu tidak ada yang menduga kalau sikap yang tidak biasa yang diperlihatkan Haikal dan Amina , sebagai tanda, akan terjadi sesuatu yang buruk pada Dimas.
Baru juga ia keluar dari kompleks perumahan, saat tiba di perepatan, sebuah mini bus tiba-tiba melaju dari arah samping dengan kecepatan tinggi lalu menabrak Dimas, dengan begitu keras, tubuhnya terpental beberapa meter bersama motornya yang ia kendarai, lalu mobil tersebut melarikan diri.
“Oiii! Tabrak lari, kejar!”
Dimas masih empat sadar dan menyebut nama istrinya.
"Alisa, tolong peringatkan dia," ucapnya lemah, lalu pingsan.
Beberapa ojek pangkalan berlari menghampiri tubuh Dimas yang tergeletak di jalan bersimbah darah.
“Pak Dimas, ini kan Pak Dimas.” Beberapa tukang ojek pangkalan mengenal Dimas, karena Alisa sering memakai jasa mereka saat berangkat kerja.
Dimas di larikan ke rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Pagi itu Farel juga mengetahui kabar kalau Dimas, kecelakaan, ia kebetulan menelepon untuk mengajak Dimas bertemu, Farel sudah dapat identitas orang yang mengikuti Dimas beberapa hari belakangan, saat ia menelepon tukang ojek yang mengangkat telepon.
“Halo Pak, maaf ni saya tukang ojek, Pak Dimasnya mengalami kecelakaan tidak bisa menerima telepon.
"Kecelakaan? Astaga!"
“Sekarang dia dimana?”Farel panik.
“Kami membawanya ke rumah sakit”
Tukang ojek pangkalan menyebutkan alamat rumah sakit tempat Dimas dirawat ia masuk keruangan UGD dalam penanganan dokter.
Rumah sakit yang di sebutkan tukang ojek tidak jauh dari tempat Farel, menunggu Dimas, ia menghidupkan mesin mobilnya dan menuju rumah sakit.
“Jangan ya Allah, kasihan anak-anak kami kalau sampai pak Dimas kenapa-kenapa,” ucap Farel, menginjak pedal gas dan mobil itu melaju cepat menuju rumah sakit.
Tidak berapa lama ia tiba di rumah sakit , karena datang berpakaian dinas Farel di layani dengan baik.
“Bagaimana, Dok?”
“Pasien tidak sadarkan diri, pundak sebelah kiri patah terhempas bahu jalan, untungnya beliau pakai helem, kalau tidak pasti sudah remuk”
“Apa dia akan sadar?”
“Kita lihat saja Pak, sebaiknya pak Polisi mengbari keluarga yang bertanggung jawab, karena tukang ojek yang mengantar dia sudah pergi, mereka takut jadi jaminan,” ujar dokter dengan wajah lelah.
“Saya keluarganya Dok, saya akan menjamin,” ujad Farel , wajahnya terlihat sangat panik.
“Bapak keluarganya? Bukan polisi yang menyelidiki penyebab kecelakaan?”
“Saya abangnya Dok, tolong lakukan yang terbaik, dia tidak boleh terluka, anak-anaknya masih sangat kecil”
“Baik Pak, kami akan berusaha,” ujar dokter tersebut meninggalkan, Farel duduk tidak berdaya di ruang tunggu.
“Apa mereka orang yang mengikutimu yang kamu ceritakan padaku? Kamu harus bangun Bro, agar kita bisa menangkap orang yang mencelakai kamu,” gumam Farel pelan, ia berdiri di balik kaca, melihat Dimas dengan sedih.
__ADS_1
Ia tidak bisa membayangkan reaksi Alisa nanti, wanita cantik itu akan terluka untuk kedua kalinya, karena dua laki-laki yang menikahinya meninggal, Dimas duduk dengan raut wajah sedih, ia duduk dan menundukkan kepala.
Disisi lain.
Kabar tentang Dimas kecelakaan sampai juga ke teliga Alisa, baru juga ia akan berangkat kerja, ojek langganannya datang ke rumah.
“Loh, baru juga saya mau telepon bapak,” ujar Alisa.
“Sudah ada felling kali,” ujar ibu mertuanya yang saat itu mereka berdua sedang duduk mengendong cucunya di kursi. Sementara Akmal tidak mengenal rasa capek, ia masih menendang bolanya ke segala arah.
“Bu, jangan kaget ya”
“Ada apa Pak?” tanya Alisa menatap wajah pak ojek dengan raut wajah yang serius
“Itu … pak Dimas”
“Ya kenapa?”
“Pak Dimas kecelakaan”
“Apa! Kecelakaan?” Alisa mundur beberapa langkah ke belakang karena terkejut.
“Dimas ke-kecelakaan! Dimana!” Bu Yani teriak histeris.
Nur meminta Haikal dari gendongannya karena ke dua pasangan suami istri sangat shock.
“Teman-teman sudah membawanya ke rumah sakit Bu,”jawab Pak Ojek.
“Tolong bawa saya ke sana Pak,” ujar Alisa, mengusap air mata yang tumpah dari mata
“Des, tolong urus mereka ya”
“Baik Bu,” jawab Desi menangis sesegukan.
Bagi wanita bertubuh gemuk itu Alisa dan Dimas sudah seperti keluarga sendiri, karena Alisa dan Dimas memperlakukan Desi dengan baik juga .
“Jangan menangis di depan Mina, nanti dia ikut menangis juga”
“Baik Bu, Desi berharap Bapak tidak kenapa-kenapa”
“Amiiin.” Alisa bergegas ke rumah sakit menggunakan ojek.
Setiba di rumah sakit, melihat kondisi Dimas yang mengalami luka parah, Alisa tidak bisa mengendalikan diri, ia berteriak histeris melihat setengah wajah Dimas diperban karena mengalami luka serius.
“Maaf, ibu siapanya?” Tanya seorang suster.
“Biarkan saja Sus, dia istri Pak Dimas,” ujar Farel.
Ini pertama kalinya Alisa melihat Farel setelah mengubah wajahnya, wanita cantik itu tidak mengenali mantan suaminya tersebut.
“Mas, bangun! Kamu harus kuat, demi anak-anak kita,” lirih Alisa dengan suara bergetar, “jangan biarkan aku mengalami hal sama lagi, aku mohon,” ujar Alisa menenggelamkan wajahnya di tangan suaminya, Farel, ikut meneteskan air mata melihat Alisa menangis tidak berdaya.
__ADS_1
‘Kamu harus kuat Sa, aku tahu kamu wanita yang tangguh’ Farel membatin.
“Pak ada yang terjadi sama suami saya?” tanya Alisa matanya menatap name tag yang bertuliskan Diego, ia tidak tahu lelaki di hadapannya mantan suaminya.
“Sabar ya Bu, masih tahap penyelidikan”
Saat mereka mengobrol, kedua ibu mertua Alisa juga datang, lagi-lagi Bu Yani pingsan melihat kondisi Dimas.
Saat mereka dalam ruangan, seorang polisi bawahan Farel datang.
Farel menghampiri.
“Bagaimana?”
“Menurut keterangan saksi yang ada sekitar, mobil itu sudah ada dari setengah enam, mulai dari warung itu buka ”
“Jadi menurutmu mereka, sudah merencanakan ingin mencelakai Dimas?”
“Menurut penyelidikan saya, itu pembunuhan berencana, Pak"
Permbicaraan mereka di dengar Alisa yang berdiri di belakang Farel, wajah Alisa semakin pucat dan ketakutan memikirkan nasip anak-anaknya.
‘Ada yang sengaja mencelakai Dimas, lalu bagaimana dengan anak- anakku?’ Alisa membatin.
Lalu ia menghampiri Farel. “Apa suami saya ing-”
“Bu tenanglah, kita akan bicarakan nanti, ” potong Farel.
“Bagaimana aku mau tenang anak-anakku ada di rumah, mereka masih kecil-kecil”
“Alisa, ada apa?”
“Maaf Bu Pak , kita harus bicara, kita akan memindahkan Pak Dimas ke kamar lain, saya akan meminta anak buahku untuk menjaga kamarnya”
Ayah Dimas pensiunan tentara, mendengar ucapan Farel, ia tahu kalau anaknya dalam bahaya.
“Apa anak saya-”
“Ya Pak, tapi jangan khawatir, kita akan mengawasinya dan saya sudah meminta orang -orang saya, untuk mengawasi rumah Pak Dimas.
“Apa situasinya separah itu, siapa yang mencoba mencelakai anak saya, selama ini dia tidak pernah ada musuh”
“Bun Dimas tentara, ada banyak orang di luar sana yang tidak suka dengan tentara, tenanglah, kita harus kuat agar Alisa kuat,” bisik ayah Dimas menenangkan Bu Yani.
Siapa orang yang mencoba mencelakai Dimas?
dapatkan Farel menangkap otak pelaku yang menabrak Dimas?
Ikuti terus ya ceritanya
Bersambung
__ADS_1
KAKA YANG BAIK JANNGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA KASI LIKE , KOMEN DAN VOTE
TERIMAKASIH