Menikah Dengan Abang Ipar

Menikah Dengan Abang Ipar
Uang Tidak Mengenal Saudara


__ADS_3

“Apa yang kalian lakukan di rumahku!” teriak Bu Sima saat berada di depan pintu, kursi roda itu, di dorong Alisa.


“Kakak! A-A-Alisa …?” Wanita bertubuh gemuk itu gelagapan.


“Ibu tenanglah, nanti kamu lebih parah dan mereka akan makin senang, bisik Alisa, sebelumnya ia sudah menyuntik tubuh ibu mertua dan meminta minum obat jantung, agar ia tidak shock saat melihat yang terjadi.


“Siapa yang menyuruh kalian tinggal di rumahku?”


“Kami hanya menempati selama kakak di rumah sakit, kakak sakit, Dinar dipenjara Farel juga di penjara, jadi apa salahnya kami yang menempati,” ujar wanita itu tanpa merasa bersalah.


“IBu jangan repot, aku akan panggilkan polisi,” ujar Alisa.


“Baik, baik lakukan Alisa.”


Adik sang mertua terus memprovokasi pikiran sang kakak, agar mengalami serangan jantung , tetapi Alisa menutup kuping ibu mertua dengan headset apapun yang mereka teriaki tidak di dengar.


Alisa mendorong kursi ke lantai atas, tetapi salah seorang putri adik mertua, menarik kursi rodanya ingin menjatuhkan.


“Kenapa kamu tidak mati saja bersama semua keluargamu, agar kami bisa menikmati kehidupan mewah ini.”


“Aaah, apa yang kamu lakukan … kamu bisa mencelakai ibu!” teriak Alisa.


Ia menahan kursi roda sekuat tenaga, sampai-sampai pakaiannya robek untuk mempertahankan agar ibu mertua tidak jatuh dari tangga. Tangga yang dibuat akses bisa di gunakan saat pakai kursi roda.


“Aku tidak perduli, dari dulu aku memang sudah ingin menyingkirkan wanita cerewet ini karena kesombongannya,” teriak wanita itu dengan marah.


Keluarganya hanya menonton membiarkan anak perempuan mereka ingin melakukan tindakan kriminal demi harta, mulut Alisa terus saja menyebut meminta pertolongan pada Sang Kuasa.


“Biarkan dia mati!” teriak sang ayah juga, seakan-akan ikut mendukung aksi putri mereka.


Tidak ingin ibu mertua mati di depan mata, Alisa berteriak minta tolong.


“Toloooong …!”

__ADS_1


“Toloooong!”


Suara teriakan Alisa membuat anak laki-lakinya bertindak nekat, ia membekap mulut Alisa dari belakang, agar ia tidak berteriak, ia juga mencekik lehernya dengan jilbab yang ia kenakan.


Melihat menantu dalam bahaya, Ibu Farel berusaha berdiri dari kursi roda yang ditarik, dengan sebelah tangannya ia berpegangan pada pembatas tangga, dan menendang kursi roda yang ia duduki, alhasil anak perempuan yang menarik dari bawah ikut terjatuh dan berguling-guling di tangga dan berakhir terluka di bagian kepala.


Melihat ibu mertua bergelantung di pembatas tangga, Alisa berusaha melepaskan diri dari jeratan pemuda yang mencekik lehernya, ibu mertua berusaha menolongnya dengan menggigit kaki pemuda yang mencekik leher Alisa, tetapi lelaki menendang Ibu Farel, nyaris terjatuh dari tangga, saat mereka berdua nyaris kehilangan nyawa, akhirnya Polisi datang.


“Angkat tangan!” Polisi mengarahkan pistol kearah pemuda yang menjerat leher Alisa.


Ia melepaskan, tetapi mendorong tubuh Alisa, untungnya seorang polisi berlari dan menahan tubuhnya, jadi dia tidak mengalami cidera, Alisa juga bergerak menahan tangan ibu mertua.


“Alisa, ha …ha.. ibu sangat takut, ibu sangat takut kamu terluka,”tangis wanita tua itu memeluk Alisa.


“Tolong pak, tangkap mereka, orang-orang ini ingin mencelakai ku dengan ibu,” teriak Alisa.


Saat ayah mereka ingin kabur, tepaksa polisi mendaratkan satu timah panas di bagian betis. Mendengar suara tembakan, nyali satu keluarga itu jadi ciut.


“Mbak Sima, kami hanya ingin menempati sementara, selama Mbak keluar dari rumah sakit,” ujar wanita itu memohon.


Lelaki itulah yang mengungkap semuanya, kalau ia tidak datang menemui Alisa hari itu, semua harta milik Farel akan hilang tidak bersisa.


“Apa? Barang apa yang mereka jual?” tanya ibu Farel dengan wajah menegang.


“Mobil Pak Farel dan mobil Non Dinar sudah mereka jual Bu, rumah ini juga sudah mereka tawarkan ke orang.”


“Astagfirullah.” Alisa mengelus dada mendengar keberanian satu keluarga itu.


Mendengar hal semua hartanya sudah dijual Ibu Farel memegang jantung.


“Tenanglah Bu, kita akan mengambilnya kembali,” ujar Alisa.


“Pak tolong tahan mereka, ibu ingin tahu apa yang mereka lakukan?” Polisi mengikat tangan tiga orang dan dan membawa anak perempuan yang terluka, ke rumah sakit.

__ADS_1


“Pak Bayu, tolong periksa ke kamar.”


Bayu berlari ke kamar utama, kamar yang ditempati suami istri. Benar saja, dalam koper di bawah kolong tempat tidur di temukan uang dalam jumlah yang banyak, hasil penjualan barang-barang berharga di rumah dan ditemukan juga paspor .


Bayu membawa semuanya ke lantai dasar, memperlihatkan langsung ke hadapan wanita bertubuh gemuk itu.


“Ini uang dari mana?” tanya Ibu Farel.


“Mereka semua diam, terlihat raut wajah kecewa, hitungan satu hari lagi, harusnya, mereka sudah menikmati hidup jadi orang kaya di luar negeri.


“Ini sepertinya hasil penjualan dua mobil dan perhiasan Bu, ini ada kwitansinya.”


Bayu memperlihatkan tanda terima penjualan mobil dan perhiasan. Jumlah uang dari hasil penjualan barang-barang berharga, bahkan cincin pernikahan Farel ikut mereka jual.


“Iya ampun, tega sekali kamu melakukan itu pada kakakmu sendiri,” ujar Ibu Sima kaget dengan yang di lakukan sang adik.


“Mbak yang memaksa ku berbuat seperti ini, Mbak selalu memperlakukan ku dan anak-anakku seperti pembantu, setiap kali meminta tolong mana pernah mbak mau menolong kami.”


”Mbak kurang apa sama kamu? Toko kamu yang menguasainya, aku tidak meminta hasilnya dan aku juga sudah memberikan satu rumah untukmu,’ ujar Ibu Sima dengan suara lemah.


“Toko itu sepi dan rumah yang kamu berikan pada kami kurang besar anak-anakku banyak.”


‘Dasar, orang yang tidak tahu berterimakasih, sudah dikasih bukanya berterimakasih, malah maruk’ Alisa membatin.


“Kamu keterlaluan, walau seburuk apa sifat ku padamu selama ini, tidak sepantasnya kamu ingin mencelakai ku seperti itu, karena aku kakakmu.”


“Kamu selalu sombong dengan kekayaan yang kamu miliki, aku benci sama Mbak, teriak wanita itu dengan menunjuk-nunjuk Bu Sima.


“Uang sudah menggelapkan matamu, kamu akan mendapatkan hukuman dengan berat atas apa yang kamu lakukan padaku, sekarang aku percaya dan yakin dibalik teror yang kami terima selama ini, itu pasti kelakuanmu, karena hanya kamu yang tahu semua tentang keluarga ini.


Pak periksa anak-anak lelakinya aku yakin lelaki dan suaminya pasti menyembunyikan barang setan di kamar yang mereka tempati. Karena suaminya dan anak-anak mereka semua pemakai”


“Mbak, kok kamu tega bangat, mbak sudah janji tidak akan-”

__ADS_1


“Pak, aku ingin menuntut wanita ini dengan kasus penipuan, percobaan … Dia ingin mencelakai ku dan menantuku. Aku ingin satu keluarga ini dihukum berat!” Ibu Farel sangat marah.


Bersambung ....


__ADS_2