
Setelah beberapa bulan, akhirnya Alisa melahirkan bayi laki-laki Dimas dan keluarganya saat bahagia saat mendapatkan cucu pertama mereka.
Bahkan ayah Dimas untuk pertama kalinya mau menginap di rumah mereka karena rasa bahagianya, ia tidak mau jauh dari cucu pertamanya.
“Sa, maaf ya, kalau ayah sama bunda, bersikap posesif sama cucu mereka,” ujar Dimas, ia baru pulang dari mesjid dengan Akmal.
“Bunda, aku mau gendong dede,” ujar Akmal.
Anak lelaki berwajah tampan itu mau berusia tiga tahun dan lagi aktif-aktifnya dalam segala hal. Makanya sejak Alisa melahirkan Desi dan Nur harus berjaga dengan waspada, mereka berdua terkadang berebut ingin mengendong adik mereka.
“Nanti ya sayang, biarkan nenek dulu yang mengendong, kamu sama ayah ganti baju dulu,” ujar Alisa menyentuh pucuk kepala Akmal.
“Ya Bunda”
“Lekas ini, kita mau beli susu buat kamu sama dedek, apa kamu mau?”
“Kamu kan lagi capek Yah gak istirahat dulu.” Alisa melirik suaminya, Dimas baru pulang tugas, belum sempat istirahat ia mengajak Akmal untuk sholat Jumat.
“Nanti saja gampang, Bun, aku mau mengajak mereka jalan-jalan ke mall ke tempat bermain sekalian mau bertemu teman lama, biar Bunda bisa istirahat di rumah”
“Yakin ayah gak capek?”
“Ya, gak capek, aku sama Desi, biar Nur yang bantu Bunda jaga si kecil di rumah,” ujar Dimas.
‘Maaf ya Sayang, kalau aku tidak jujur’ ucap Dimas dalam hati, ia merasa bersalah pada Alisa karena membohongi wanita cantik itu.
“Ya sudah, baiklah,” balas Alisa, akhirnya ia punya istirahat sebentar, kedua anak kembar itu sangat aktif dan tidak bisa diam, apa lagi sejak mereka punya adik baru sikap keduanya semakin rame.
Sebenarnya Dimas ingin bertemu Farel, mereka berdua bikin janji ingin bertemu di mall, Farel ingin melihat kedua anaknya, Dimas mengajak Desi agar ada temannya untuk mengawasi Akmal dan Amina, kalau ia sendiri yang menjaga mereka berdua , ia akan kewalahan.
Terkadang kedua pengasuh mereka kewalahan mengawasi Akmal, Amina masih mau nurut kalau dilarang, tetapi kalau Akmal semakin di larang semakin di lakukan, rasa ingin taunya lebih besar dari adiknya.
“Pak, kita mau ke mall mana?’
“Mall yang waktu kita datangi”
“Jangan ke sana lagi ya Pak”
“Loh … kenapa, di sana kan banyak permainannya Des”
“Ya sih pak, tapi terlalu rame, nanti Akmal kayak kemarin lagi keinjak sama orang yang badannya yang lebih gede”
‘Waduh benar juga … tapi aku sudah minta Pak Farel datang ke sana’
“Waduh gimana donk, padahal saya sudah minta sama teman untuk bertemu di sana”
__ADS_1
“Ya sudahlah, tapi nanti bapak tolong bantuin liatin non Amina yang Pak”
“Oh, ok. Teman saya itu suka anak kecil, kalau dia misalkan yang gendong ga papa kan Des?” tanya Dimas menahan senyuman.
“Boleh sih Pak.” Desi tersenyum malu.
Pengasuh si kembar yang bernama Desi itu, baby sister keduanya dari sejak mereka lahir, menjaga keduanya dengan sangat baik dan perhatian, bahkan sangat porsesif sama si kembar, banyak tetangga yang bilang kalau ia tidak memperbolehkan ibu-ibu memegang apalagi mencubit pipi gembul Amina, ia bisa marah.
Karena sikap perhatian yang diberikan Desi sama si kembar, Alisa merasa sangat bersyukur dan berterima kasih, bahkan Akmal lebih mendengar omongan Desi dari pada semua orang.
Tiba di mall, seorang lelaki berwajah sangat tampan bertubuh tegap melambai kerah mereka.
“Itu dia”
Desi melihat Farel dengan tatapan takjub , ia tidak mengenal mantan majikannya itu lagi, ia adalah Farel, kini ayah anak-anak kembar itu sudah bertranformasi menjadi lelaki yang berbeda tampan dan berkarisma.
“Siapa itu tampan bangat,” ujar Desi terpesona.
“Dia Pak Diego teman saya “
“Apa dia seorang tentara juga Pak?”
“Tidak dia seorang polisi”
Desi hanya menatap tanpa berkedip, sementara Farel menatap kedua anaknya dengan tatapan Haru.
Ia ingin memberikan kesempatan pada Farel untuk menggendong anaknya.
“Baik Pak mana kuncinya”
Desi berjalan menuju parkiran, ia berjalan sembari mendumal, ia baru saja cuci mata melihat lelaki tampan mirip oppa-oppa Korea, langsung disuruh.
“Desi sangat protektif, dia tidak membiarkan orang asing memeng si kembar, maka itu aku memintanya pergi, padahal ponselku ada di saku”
“Oh, begitu.” Farel tertawa.
Ia mendudukkan tubuhnya menjajarkan wajahnya dengan si cantik Amina.
“Hai princes, apa kabar?”
“Ayah.” Amina takut ia bersembunyi di balik kaki Dimas.
“Dia tidak biasa berinteraksi dengan orang asing.”
Dimas mengendong Amina. “Dia, teman Ayah, tidak apa-apa Sayang, dia orang baik,” ujar Dimas menyakinkan Amina.
__ADS_1
Mata Farel berkaca-kaca, melihat putri cantiknya mirip ibu mereka, ia memalingkan wajahnya dan mengusap butiran air yang menetes dari sudut matanya.
“Apa dia tidak menculikku nanti?”
“Tidak, dia baik,” tutur Dimas.
Barulah ia mau digendong Farel, mengendong putrinya untuk pertama kalinya, Farel sangat bahagia, ia beberapa kali mendaratkan bibirnya ke ujung kepala Amina menciumnya dengan lembut.
‘Aku ayahmu Nak, aku sangat merindukan kalian berdua’ ucap Farel dalam hati.
“Kita bawa mereka bermain saja.” Farel mengajak mereka bermain, Akmal berbeda dengan adik kembarannya, kalau Aminah tadi takut, tetapi anak lelakinya tersebut sangat berani.
“Mal, salim teman Ayah,” pinta Dimas.
“Hai Om, aku Akmal.” Ia menyodorkan tangan mungilnya.
‘Jangoanku sudah besar, ganteng lagi’ Farel mengusap pundak Akmal.
Farel merasa sangat bahagia saat melihat anak-anaknya sangat dekat dengan Dimas, walau hatinya iri melihat kedekatan mereka tetapi Farel, merasa bersyukur karena Dimas menyayangi anak-anaknya, Pak tentara tersebut menepati janjinya untuk menjaga ke dua anaknya tersebut.
“Bagaimana dengan pengobatan Pak Farel , apa ada perubahan?”
Ia menggeleng, wajahnya tampak sedih, “untuk sementara dokter memasang alat bantu di sana, tetapi mereka mengatakan itu tidak akan bertahan lama, harus menemukan pendonor yang tepat, bagiku itu tidak apa-apa walau aku harus meninggalkan dunia ini,a ku sudah tenang karena kamu bisa menjaga ke dua anak-anakku dengan baik,” ujar Farel.
“Apa sudah separah itu?”
“Jangan mengasihani ku seperti itu Pak Dimas, bisa melihat anak-anakku saat ini, itu sudah membuatku sangat bahagia,” tutur Farel lagi.
“Aku berharap Pak Farel sehat,” ucap Dimas dengan tulus, baginya Farel sudah seperti sahabat dekat, mereka sering menelepon dan saling cerita banyak hal.
“Umur siapa yang tahu Pak Dimas, jika yang Kuasa mengambil, maka aku harus selalu siap dengan panggilannya, tapi … aku sangat berterimakasih karena kamu menyayangi anak-anakku”
“Mereka anak yang sangat tampan dan mengemaskan, siapa saja yang melihat mereka pasti akan sayang,” ujar Dimas.
“Tidak semua manusia seperti itu pak Dimas … Mba Dinar, pernah melukai mereka, tapi, bagaimana kabar jagoanmu”
Wajah Dimas langsung bersemangat, saat Farel menyinggung soal putranya, bayi laki-laki itu di beri nama Haikal Beyaned, dengan bangga ia menunjukkan foto anaknya dari layar ponsel miliknya.
“Wah, ini calon tinggi besar kayak bapaknya,” ujar Farel.
“Ya Bapak benar, kata semua orang dia sangat mirip denganku, kata ibuku juga kami sangat mirip saat baru lahir”
Farel sangat puas bermain dengan putranya, saat Desi datang ia kembali mereka suruh untuk makan dan belanja sepuasnya agar mereka ber empat bisa bermain bersama Farel yang menjaga Amina dan Dimas untuk Akmal.
Dimas menceritakan banyak pada Farel. setelah puas bermain dan membelanjakan anak-anaknya banyak mainan . Mereka pulang karena Alisa menelepon.
__ADS_1
Bersambung