
Dikatakan, iblis tidak mencobai orang yang jahat karena di sudah jadi anggotanya, ia akan mempermainkan hidup orang-orang yang beriman agar mereka lemah dan meninggalkan Tuhannya, begitu katanya
Ucapan itu ada benarnya juga, Alisa wanita yang baik dan soleha, ia tidak pernah menyakiti hati orang lain, selalu menjalankan ibadahnya dengan taat. Tetapi cobaan hidup silih datang menghampiri hidupnya untuk melemahkan wanita soleha tersebut.
Setelah kakak perempuannya meninggal, ia dipaksa menikah dengan abang ipar, walau hatinya menolak, karena orang tuanya yang meminta ia mu menikah. Lalu Farel menceraikannya, ia menikah dengan mantan kekasihnya Dimas. Tetapi kali ini, takdir hidupnya sangat menyesakkan dada, Dimas kecelakaan dan belum sadarkan diri, di kalah hatinya rapuh tak berdaya.
Cobaan itu datang menimpah hidupnya lebih berat lagi. Setelah dua minggu Dimas belum sadarkan diri, ibu mertuanya tidak memperbolehkannya menjenguk suaminya tersebut dan lebih parah ia dipaksa menandatangani surat cerai di hadapan keluarganya.
“Kenapa jadi begi Ayah. Alisa salah apa?” tanya Alisa dengan tangan bergetar.
‘Cobaan hidup seperti apa yang Engkau ijinkan menimpaku, Kuatkan aku Ya Allah’ ujar Alisa dalam doanya.
Alisa sampai membawa kedua orang tuanya menemu orang tua Dimas, niat hati, agar ibu mertuanya memperbolehkan menjenguk suaminya, tetapi bukan bertambah melunak, di hadapan keluarga Alisa, ia dipaksa bercerai.
“Kami hanya ingin Dimas selamat, Alisa … bukan kemauan kami,” lirih ayah mertua dengan wajah sendu,
“Tapi, kenapa harus bercerai? Aku juga ingin merawat dan ingin mendampingi Dimas , Yah,” ujar Alisa, wajah cantik itu di banjiri air mata, bagaimana tidak sakit, ibu mertuanya memintanya bercerai di hadapan ayah ibu Alisa.
“Kamu pembawa sial untuk anakku, gara-gara kamu anakku celaka!” teriak Bu Yani.
“Jaga mulut Ibu, anakku tidak pembawa sial!” Sahut Juminten ibu Alisa.
“Suamimu yang pertama, gara-gara kamu juga mati. Apa kamu ingin membunuh anakku juga, pergilah dari sini”
“Anakku wanita baik-baik, wanita dan soleha,” sahut Juminten suara tidak kala mengkelengar.
Niat hati ingin suasana lebih damai, apa daya keributan yang terjadi, keluarga mereka sampa diamankan keamanan rumah sakit karena saling berteriak dan bertengkar. Ibu Alisa tidak terima anaknya di ceraikan dengan kejam dan tidak terima saat Bu Yani menyebut anaknya pembawa sial. Ayah Dimas dan ayah Alisa hanya tertunduk diam, kedua laki-laki itu tentu tidak menginginkan rumah tangga anak-anak mereka hancur.
Baru beberapa bulan lalu mereka berkumpul bahagia, menyambut cucu laki-laki yang di lahirkan Alisa, tetapi saat ini, karena tekanan seseorang yang mengancam menghabisi Dimas, terpaksa mereka memaksa Alisa menandatangani surat cerai.
Farel yang saat itu ikut mengantar Alisa mengusap ujung matanya, saat melihat Alisa memohon untuk tidak memaksa menandatangani surat cerai dan Farel juga sangat marah, saat bunda Dimas, menyebut Alisa wanita pembawa sial.
“Maafkan aku Sa, kalau aku tahu akan seperti ini aku tidak akan menikahkahkan kalian berdua,” gumam Farel, ia berjalan ke arah taman rumah sakit.
__ADS_1
Farel membuang napas pendek-pendek dari mulutnya, lelaki tampan itu merasa dadanya terasa panas, melihat situasi yang di hadapi Alisa. Ia tidak bisa berbuat banyak kalau ia ikut campur takut di tuduh jadi selingkuhan Alisa.
Alisa menolak berpisah, ia mau berpisah kalau Dimas yang memintanya.
“Jangan melakukan ini Yah, jangan hukum aku dengan cara seperti ini, aku juga tidak ingin suami celaka,” ujar ALisa memohon pada ayah mertua.
“Ayah minta maaf Sa, Aku juga tidak ingin seperti ini, tapi kami tidak tahan dengan teror yang datang setiap hari”
Lelaki ber uban itu menunjukkan kertas-kertas yang berisi teror untuk keluarga Dimas, Ibu dan Ayah ALisa saling melihat.
“Siapa yang melakukan itu?”
“Siapa lagi kalau bukan lelaki yang jadi selingkuhan anakmu.”
“Bun, aku tidak pernah macam -macam,” lirih Alisa dengan suara lemah.
“Aaa, lah … kamu mau lihat apa yang di kirim ke kami?”
Bu Yani menyodorkan amplop dalam gambar itu ada wajah Alisa dengan lelaki lain, tapi anehnya ia tidak pernah pergi ke tempat di dalam foto tersebut.
“Kamu masih mengelak …? Saat suamimu berjuang hidup, kamu bersama pria lain”
“Astagfirullah … aku tidak pernah melakukan itu Bun, itu bukan aku”
“Ah … drama.” Farida ikut menekan.”
Semua orang menuduhnya, bahkan ibunya sempat menatapnya dengan ragu, tetapi ayah Alisa percaya, kalau orang dalam foto itu bukanlah Alisa. Karena ia tahu, putrinya wanita baik-baik, hanya melihat pose-pose dalam foto tersebut, ia yakin kalau itu bukan Alisa, hanya kepalanya saja yang diedit jadi kepala Alisa.
Alisa menolak melakukan apa yang diminta keluarga Dimas, ternyata tidak sampai di sana masalahnya, keluarga Dimas bahkan meminta hak asuh Haikal. Wanita cantik itu hampir gila memikirkan semuanya. Mereka pulang ke rumah lama Alisa, rumah itu ditinggali adiknya Risky.
Melihat kondisi Alisa yang tiba-tiba jadi murung Farel meminta keluarga membawa ke kampung agar pikiran Alisa tenang, tetapi wanita berkerudung itu menolak.
“Sa, ibu akan mengurus mereka bertiga”
__ADS_1
“Aku tidak mau menandatangani surat itu sebelum Dimas yang memintanya Bu”
“Kamu kan kehilangan Haikal, mereka akan menuduhmu yang macam-macam, lakukan saja apa yang mereka minta, kalau Dimas nanti sudah sadar, baru kalian bicarakan lagi,” bujuk ayah Alisa.
“Mba … mereka akan menebar fitnah, lalu, hak asuh Haikal akan jatuh ke tangan mereka, pengadilan akan menuduhmu bersalah,” bujuk Risky adik Alisa.
“Antarkan aku ke penjara,” ujar Alisa.
“Untuk apa?”
“Aku ingin bicara dengan Faisal, aku ingin meminta dia melepaskan ku”
“Sa, orang jahat seperti dia, tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang di mau,” ujar Risky.
Keluarga Dimas sebenarnya tidak ingin memisahkan Alisa, teror yang datang hampir tiap hari, memaksa keluarga itu mengambil langkah sulit, memisahkan Dimas dari Alisa , lalu merebut hak asuh Haikal.
Karena Haikal masih bayi sudah otomatis hak walinya jatuh ke tangan ibu yang melahirkan, karena hal itu, Bu Yani seolah-olah belum puas memisahkan Dimas dan Alisa, demi mendapatkan cucunya, ia bahkan tega memfitnah ALisa menyebut kalau ALisa membayar orang untuk mencelakai Dimas, agar perselingkuhannya dapat berjalan lancar.
Fitnah lebih kejam dari pembunuhan itu benar, mendapat tuduhan dan berita seperti itu Alisa hampir gelap mata, saat pulang dari kerja turun dari ojek di jalan persimpangan rumahnya.
Ia ingin mengakhiri hidupnya, untung saja Farel datang dan mengikuti Alisa saat pulang kerja. Alisa berdiri di tengah jalan, ia berdiri di tengah jalan membiarkan dirinya ditabrak mobil, Farel menghentikan mobil dan menarik Alisa ke pinggir jalan.
“Kamu gila!” Teriak Farel saat ia menarik tangan Alisa .
“Biarkan saja aku mati Pak, biar mereka puas, aku tidak tahan mendengar mulut orang yang mengosippiku di rumah sakit”
“Apa kamu pikir, setelah kamu mati semua masalah akan selesai? Mereka akan senang, karena anakmu akan jadi milik mereka,” ujar Farel ia mengusap keringat yang bercucuran karena berlari.
“Lalu apa yang aku akan lakukan, aku tidak bisa berpikir lagi”
“Tenang dan hadapi Sa, ini demi anak-anakmu,” ujar Farel.
Farel membawanya ke rumah dan menceritakan semuanya pada keluarga Alisa, ia terpaksa keluar dari pekerjaannya karena Fitnah kejam yang menimpah dirinya.
__ADS_1
Bersambung ..
Bantu lika komen dan vote ya kakak, terimakasih