
Saat perjalanan pulang dari kantor polisi Alisa masih diam, melihat wajah Farel yang babak belur, ia merasa sangat sedih, berpikir keras bagaimana caranya, agar suaminya bisa keluar dari sana. Tidak adil rasanya bagi Farel ia seorang polisi karena ingin mengungkapkan kejahatan, ia mendapat perlakukan tidak manusiawi, saat sedang sibuk dalam pikiran sendiri, Dimas menoleh kearahnya dan bertanya;
“Apa kamu baik-baik saja, Sa?”
“Tidak, aku sedang tidak baik, melihat Farel seperti itu … dengan wajah yang hancur bekas pukulan hatiku sedih,” ujar Alisa tetapi di hadapan Dimas ia tampak tegar, berbeda saat di hadapan suaminya tadi.
“Farel memintaku membawamu ke rumah kalian”
“Rumah kami?”
“Ya, dia bilang dia dan almarhum kakakmu, pernah membeli sebuah rumah di Kelapa Gading, kalian lebih aman di sana”
“Bagaimana dengan anak-anak dan ibu”
“Begini saja Sa, bagaimana kalau ibu kita minta pulang kembali ke kampung supaya dia tidak dipengaruhi sama Faisal”
“Benar juga, masalahnya apa ibu mau, soalnya dia tidak mau pisah sama ana-anak, lalu bagaimana dengan bapak? Apa dia baik-baik saja?”
“Tenang saja Sa … aku akan mengaturnya , bukankah rumah kalian masih ada di kampung, soal ayah kamu, mereka tidak akan berani menyakitinya, kekuatan media yang kamu bilang itu sedang bekerja”
“Apa maksudnya ….?”
“Tadi Farel memintaku mengirim rekaman itu, ke satu media ternama dan aku aku mengenal salah seorang dari dalam, mereka akan membuat sebuah berita”
“Mereka tidak akan mau, karena itu menyangkut nama baik ke polisian”
“Tenang, polisi juga manusia, bisa melakukan dosa dan kesalahan, tapi begini kita akan pancing dengan pemberitaan kecil dulu, kita mulai dari berita di media sosial dan kita viralkan, aku sudah meminta seseorang untuk melakukannya,” ujar Dimas.
Dimas dengan berani menyebarkan rekaman pemukulan Farel di penjara, berkat bantuan seorang hacker kenalannya, berita penganiayaan dan ketidakadilan yang dilakukan pada Farel langsung menjadi Viral, melihat berita itu.
Polisi yang memerintahkan memukuli Farel langsung memindahkan Farel ke sel umum. Reimon yang sempat dapat penyiksaan karena membantu Farel ikut terseret juga. Lelaki muda itu jadi orang yang paling dicari, untungnya Dimas sudah meminta teman-temannya untuk mengamankan Reimon. Apa yang dikatakan Farel benar, akan banyak yang kepanasan saat berita itu menguap kepermukaan.
“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Alisa ia penasaran apa yang dibicarakan antara suami dan mantan kekasihnya.
“Tidak ada hanya sebatas rekaman,” ujar Dimas, mata lelaki itu menatap fokus kearah jalanan.
Alisa tidak tahu kalau Farel meminta tolong pada mantan kekasihnya tersebut untuk menjaga keluarganya, setelah bertukar mobil sesuai pesan Farel, Dimas membawa Alisa ke rumah yang dikatakan Farel. Tenyata saat mereka tiba si kembar dan kedua suster mereka sudah ada di sana.
“Bagaimana kamu bisa membawa mereka ke sini?”
__ADS_1
“Saat kamu menjenguk Farel tadi Desi sudah meneleponku dan aku meminta membawa mereka berdua”
“Lalu bagaimana dengan Ibu dan ayah?”
“Jangan khawatir dengan terungkapnya masalah ini, mereka tidak akan macam-macam lagi”
“Jadi ibu …?”
“Aku meminta ibu di bawa ke kampung”
“Mas yakin?” Alisa kaget karena Dimas tidak main-main untuk menolongnya.
Alisa masuk ke dalam rumah langsung memeluk kedua si kembar, melihat mereka berdua membuat hatinya bertambah sedih, melihat wajah Akmal yang mewarisi wajah tampan Farel, ia seakan-akan melihat suaminya di anak lelaki tersebut. Anak kembar itu sangat beruntung karena mereka mendapatkan ibu sambung tante mereka sediri yang begitu menyayangi Akmal dan Aminah.
Juminten dan ayah Alisa untuk sementara waktu pulang kampung , Dimas mengatur semuanya, ia melakukan itu agar Faisal berhenti memanfaatkan ibu Alisa.
“Bu, kami takut bangat sama ibu tidak pulang ke rumah, untungnya aku menelepon Pak Dimas, dia yang meminta kami membawa si kembar keluar dari rumah”
“Bagaimana kamu keluar dari, bukannya kamu bilang kalau ada empat orang menjaga rumah?”
“Ya, di luar rumah ada empat orang lelaki berjaga dari kemarin, terpaksa kami berbohong bilang si kembar sakit , jadi mereka memperbolehkan kami keluar”
“Gak Bu, hanya aku merasa tidak nyaman saja karena mereka ada di sana”
Dimas terpaksa menyembunyikan Alisa dan anak-anaknya di salah satu rumah yang dikatakan Farel, tidak lama kemudian kasus pemukulan yang di lakukan rekan kerja di penjara menjadi berita besar dan kasusnya sedang diselidiki penyebabnya, penganiayaan itu terjadi dan motif di balik itu semua.
Dimas sengaja membayar beberapa orang preman dari tempat itu, untuk mengawasi rumah Alisa , jika suatu nanti Faisal atau orang suruhannya datang mereka bisa mengusir.
Dimas pergi lagi kekantor polisi bertemu Farel, ia membawa pengacara temanya.
Farel sangat kaget saat Dimas membantunya sampai sejauh itu, bahkan pengacara yang ia bawa salah seorang pengacara kondang yang biasa menangani kasus besar.
“Kenapa kamu membantuku, bukankah kamu membenciku?”
“Ya, aku memang membencimu tapi aku kasihan pada anak-anakmu dan Alisa,” ujar Dimas.
“Harusnya kamu tidak membantuku agar kamu bisa memiliki Alisa”
Dimas tertawa kecut mendengar ucapan Farel yang terdengar putus asa.
__ADS_1
“Apa kamu seputus asa itu?” tanya Dimas.
“Ya, aku merasa kasihan pada Alisa, apa kamu mau membantu satu hal yang sangat penting”
“Aku akan membantumu jika aku mampu, tetap aku tidak bisa berjanji,” ucap Dimas.
Sementara di sisi lain, rekan yang yang meminta Farel dipukuli ia sudah takut, ia takut Farel bebas dan membalasnya.
*
Harapan baru akhirnya datang untuk Farel, setelah menderita selama beberapa bulan di penjara akhirnya kasusnya di proses, ini sidang pertamanya dan ini pertama kalinya dihadirkan dalam sidang, sidang yang digelar secaa tertutup, dalam tuntutannya Faisal menuduhnya memukulinya karena ia menyelamatkan Alisa istrinya, Farel juga di tuduh melakukan KDRT.
Tidak disangka Alisa dihadirkan sebagai saksi dalam sidang, padahal Farel sudah meminta Alisa tidak datang demi keselamatannya dan anak-anak mereka. Namun, wanita cantik bermata bulat itu datang, Faisal dan Farel sama-sama kaget, saat Alisa maju ke depan untuk bersaksi.
‘Apa yang dia lakukan di mana dia selama ini bersembunyi’ Faisal sangat marah ia menatap tajam padanya.
Alisa membantah semua tuduhan pada suaminya, ia bahkan bilang , kalau ia dan anak-anaknya sangat merindukan suaminya.
“Aku berharap suamiku bisa bebas, karena aku dan anak-anak sangat merindukannya,” ujar Alisa.
Faisal kaget ia merasa malu saat Alisa membantah semua tuduhannya pada Farel.
Bersambung ….
Kakak Baik mohon bantunya ya, untuk like, vote dan komentar karya ini, kasih hadiah juga agar authornya tambah semangat untuk update tiap hari
Baca juga karyaku yang lain ya.
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (on going)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)
__ADS_1