
Keadaan Neil ssemakin membaiks saat ia diangkut ke dalam kapal, mereka akan mencari tempat persembunyian yang jauh untuk menghindari incaran orang suruhan Ketua.
Ketua gangster itu marah pada Stanley karena tidak melakukan semua yang diperintahkan padahal ia sudah dibebaskan olehnya.
Dulu mereka bertiga jadi andalan untuk ketua untuk menghandel, penjualan di luar penjara, tetapi hari ini mereka bertiga akan dilenyakan.
“Apa kapal ini kuat?” tanya Billy menghawatirkan kondisi badan kapal yang sudah karatan.
“Masuklah ke dalam, terkadang apa yang kita lihat dluarnya belum tentu juga keadaan sebenarnya,” ucap Azka.
“Apanya yang spesial,” ujar Stanley, masuk ke dalam kapal di susul Neil dan Billy, sat di salam mata mereka bertiga melonggo, di dalam kapal ternyata sangat mewah di lengkapi kamar dan tempat tidur dan kebutuhan sehari-hari.
“Wah … ini mah hotel,” ujar Billy, “kapan kamu melakukan ini Bro?”
Billy menatap dengan kagum, kapal itu bahkan dilengkapi dengan bathtud untuk berendam dan dapur.
“Jika bisa menggunakan kapal ini untuk keliling Indonesia,” ujar Azka.
Stanley, mendatangi Azka ke ruang kemudi, menatap pria itu dengan curiga, “ kamu sebenarnya pekerjaaanya apa?” Lelaki pemilik rahang tegas itu mengimintidasi Azka dengan berbagai pertanyaan.
“Kenapa …? Kamu tertarik denganku?”
Stanley mendengus seperti kuda nil, saat mendengar ucapan Azka.
“Saya menduga kamu orangg yang banyak rahasia, hanya mengantifasi tidak ingin masuk jebakan untuk kedua kalinya, saya pikir urusan kita sudah selesai. Kamu boleh melakukan apapun skarang, jangan libatkan dirimu dengan masalah kami.”
“Kita bisa jadi team.” ucap Azka.
“Saya tidak ingin berbagi masalah dengan orang lain.” Stanley.
“Kamu sangat memburuhkanku, aku bisa menghapus tato kalian bertiga. Ketua tidak akan menemukan kalian lagi.”
“Baiklah, bawa kami ke tempat itu.” Stanle akhirnya mengalah ia ingin menghapus tato mereka agar tidak selalu ditemukan Ketua lagi.
Saat ia keluar dari ruang kemudi, Azka menatapnya dengan tatapan dalam seakan-akan ia memikirkan sesuatu, udara malam semakin dingin, kapal terus melaju menyusuri lautan, Azka sengaja membawa mereka ke satu pulau tak berpenghuni, memancing kedua orang yang mengincar mereka.
“Kita kemana?” tanya Stanley saat kapal menuju sat pulau.
“Kita akan pancing mereka ke sini.”
Setelah kapal tiba di pulau tersebut, mereka berkerja sama merencanakan jebakan, Neil belum bisa membantu ia hanya duduk diam hanya sebagai penonton.
Menyalahkan api ungun, untuk memancing musuh, Billy mencari posisi keatas bukit dari sana ia bisa melihat kapal yang datang.
“Bagaimana. Apa ada pergerakan?” tanya Stanley lewat alat komunikasi yang diselipkan di dalam teliga.
“Belum ada Bos.”
“Baiklah tetap waspada,” titah Stanley, ia mempersiapkan jebakan.
__ADS_1
Malam itu mereka berempat berjaga seanjang malam mereka tahu lelaki bayaran itu pasti akan menemukan mereka.
*
Saat pagi tiba, apa yang mereka pikirkan benar, kapal berwarna putih mengarah kearah mereka.
“Bos mereka datang.”
Azka Stanley memulai rencana, di tepi pantai sudah dipsang sebuah jebakan.
“laporkan mereka ada berapa orang?”
“Ada lima orang Bos.”
Mendengar jumlah mereka lebih banyak Azka dan Stanley saling menatap, “bagaimana kalau kita lumpuhkan mereka saat di dalam air, jika mereka sampai ke darat kita akan kewalahan, pistolku ada di mobil,” ujar Azka.
“Billy apa kamu bisa melakukannya?”
“Baik Bos, saya akan coba.”
“Bidik kapalnya dan ledakkan Bro,” pintah Azka.
“Jaraknya tidak tepat Bro, saya takut bidikannya terlalu jauh, saya akan tunggu mereka sampai ke darat.”
Berhubung Azka ketinggalan pistol di mobil dan Neil kondisinya masih belum memungkinkan untuk pegang senjata, jadi hanya dua orang yang punyasenjata.
“Satu berkurang, sisa empat,” ucap Billy melaporkan.
“Apa kamu bisa membidik nahkodanya?” tanya Azka.
“Akan aku usahakan Bro.”
Dor …!
“Sial,” umpat Billy.
“Kenapa?” Stanley berpikir Billy meleset, saya hanya mengenai tangan gangannya Bos.
“Tidak apa-apa, kita sudah siap di sini, kita akan kubur mereka di pulu tak berpenghuni ini.”
Mereka mendapat perlawanan sengit, orang-orang Ketua sudah dibekali dengan senjata yang lengkap , semementara mereka ketinggalan senjata, masih harus merawat yang terluka juga. Namun.
“Sepertinya kita akan kesulitan Bos,” ujar Billy dengan berat.
“Ada apa?”
“Ada tambahan kapal lagi.”
“Kita mundur!”pinta Stanley.
__ADS_1
Mereka hanya empat orang satu yang terluka sementara musuh, meminta bantuan. Tidak mungkin bagi mereka melawan, jalan yang tepat untuk saat itu mundur, mereka berempat meninggalkan tepi pntai dan masuk ke dalam pulu.
Mereka bersembunyi dalam sebuah lubang.
“Kalian masuk ke dalam aku akan menghapus jejak kaki dan mengalihkan kearah sana,”ujar Stanley.
“Kita bagi jadi tiga kelompok Billy, kamu di sini dengan Neil, aku ke kiri dan Stanley ke kanan,” tutur Azka.
“Baik.” Billy dan Neil yang terluka masuk ke dalam lubang dan Stanley menyamarkan tapak kaki menggunaka ranting pohon.
Mereka satu berjalan kearahmu kalian berdua. Saya akan membidiknya satu tembakan mengenani pria yang menenteng senjata laras panjang.
Suara tembakan pistol Stanley , pistol itu tidak mengeluarkan suara ledakan karenasebelumnya ia sudah memasang peredam, di tembak di area yang mematikan pria berkulit gelap itu langung tersungkur ditanah tepat di depan lubang tempat persebunyian Billy. Mereka berdua menyeret tubuh itu ke dalam gua dan merebut senjata musuh.
Tidak lama kemudian sekitar sepuluh musuh maju bersenjata lengkap, masuk ke dalam pulau menyisir segala tempat dengan jumlah sebanyak itu mereka tidak ada harapan untuk kabur.
Billy sudah pasrah.
“Tetaplah diam, mereka menujuh ketempatmu, saya akan mengalihkan perhatianya.” Stenley naik kearah bukit, lalu menembak musuh.
“Dor!”
Sentaja laras panjang jenis V5 A1 memiliki kurasi tembakan yang jitu, senjata itu milik Billy tetapi kali ini Stanley yang menggunakanya.
DOR!
DOR!
Suara tembakan keras itu menewaskan tiga orang.
“Penembak diatas bukit!” Teriak musuh, mereka berlari mengejar keatas bukit.
“Larilah Bro, mereka mengejarmu.” ujar Azka mengingatkan Stanley, lelaki itu berhasil menarik perhatian musuh untuk mengejarnya.
“Jangan hiraukan aku, kalin pergilah kearah kapal.”
“Kita akan hadapi besama Bos,” ujar Billy.
Ia keluar dari lubang meninggalkan Neil di sana menembak musuh menggunakan senjata yang direbut, pertemuran yang tidak seimbang berlangsung pada akhirnya mereka terluka, Billy tertembak di kaki, Stenly di perut.
Saat mereka hampir mati tertembak sebuah helikopter melintas dan terbang rendah , mereka menembaki para musuh.
DEZIING! … BUMM!
Suara ledakan dari senjata yang ditembakaka dai helikoter tepat di kerumunan musuh, tubuh para lelaki itu terlempar ke segala arah, erangan kesakitan terdengar piluh dari bibir mereka, tidak cukup sampai disitu, sekitar lima orang turun dari helikoter menggunakan senjata lengkap dan rompi anti peluru.
Siapa yang meminta tentara menyelamatkan mereka? Baca terus ya.
Bersambung.
__ADS_1