Menikah Dengan Abang Ipar

Menikah Dengan Abang Ipar
Di Balik Sikap Dingin Alisa


__ADS_3

Tok … Tok … !


Farel bersikap kaget karena ada polisi.


“Sa, aku membawa Pakaian ganti untukmu dan makan siang.”


Kedua polisi yang mendatangi Alisa berdiri menyapa Farel dengan hormat. Lalu mereka bergegas pamit pada Alisa


Padahal belum mendapatkan apa yang mereka inginkan, Dr Faisal mendekati Alisa.


“Hubungi aku jika kamu butuh bantuan dan jika kamu berubah pikiran,” ucap Faisal . Alisa hanya mengangguk kecil meng -iyakan ucapan lelaki yang sudah menolongnya.


Polisi yang menyelidiki keluarga Farel akhirnya keluar dari rumah sakit setelah melihat Farel datang, mereka tampak sangat kecewa menatap Alisa, karena tidak mau diajak kerja sama untuk menghukum Dinar, wanita jahat yang telah menganiaya Baby Akmal, Dr Faisal mendekati Alisa.


“Hubungi aku jika kamu butuh bantuan dan jika kamu berubah pikiran,” ucap Faisal . Alisa hanya mengangguk kecil meng -iyakan ucapan lelaki yang sudah menolong dirinya.


Faisal dan kedua polisi meninggalkan kamar Alisa, kini hanya Alisa dan Farel yang tinggal berdua.


“Ini, aku mengambil beberapa lembar pakaian untuk kamu.” Farel meletakkan di atas nakas.


Alisa masih diam, ada banyak hal yang ingin ucapkan pada Farel, tetapi ia tidak tahu harus memulai dari mana, Farel juga demikian, ia ingin bertanya pada istrinya apa yang ia lakukan untuk tawaran kedua polisi yang memintanya melaporkan dirinya.


Setelah diam beberapa menit, Farel membuka mulut lagi dan ia bertanya.


“Apa yang akan kamu lakukan? Kalau kamu kesulitan mengambil keputusan aku bisa membantumu untuk memilih,” ujar Farel wajahnya pasrah. Ia berpikir akan menerima apapun keputusan Alisa, ia siap jika harus dilaporkan istrinya dengan tuduhan KDRT seperti yang disarankan Faisal pada Alisa.


“JIka kamu ingin melaporkanku, lakukan saja tidak apa-apa, kalau kamu aku bisa mengantarmu ke kantor polisi.”


“Kamu mengantarku ke polisi untuk melaporkanmu? Kenapa?”


“Karena aku memang salah karena meninggalkanmu di jalanan malam itu.”

__ADS_1


“Kenapa Mas Farel melakukanya, kalau tahu hal itu salah?”


Lelaki berbadan tegap bertubuh atletis itu mengusap-usap kepala tangannya, situasi yang menggambarkan kalau ia gelisah dan ia takut kalau Alisa marah.


“Alisa, aku sakit, aku punya penyakit besar yang bisa menghancurkan hidupku,” ujar Farel dengan wajah sangat senduh.


Alisa menatapnya dengan serius, ia berpikir kalau suaminya akan membahas tentang keperkasaannya yang sudah tidak berfungsi sejak kecelakaan itu. Alisa sudah mengetahui semua rahasia itu dari catatan kesehatan yang ia baca.


“Semua penyakit kalau tidak di coba di obati dan diperiksa tidak akan tahu hasilnya Mas.”


“Ini bukan penyakit yang seperti kamu pikirkan.” Alisa menatap lebih dalam.


“Apa ada penyakit ganas?”


“Sejak kecelakaan itu, aku mengalami penyakit tidak bisa mengontrol emosi jika saat marah, saat aku marah, aku berpikir ada jiwa lain yang menguasai, karena setiap kali aku selesai melakukannya aku tidak mengingatnya.”


‘Apa dia juga pernah melakukan itu pada Mbak Ratna?’ ia membatin ada ketakutan dalam dirinya.


“Apa yang kamu lakukan padaku malam itu, apa itu juga sama?”


“Apa yang kamu lakukan, saat tidak menemukanku?”


“Aku meminta rekan polisi membantu mencari.”


“Lalu apa kamu juga menyembunyikan kakakmu?”


“Bukan menyembunyikannya, aku hanya memintanya pergi sementara waktu.”


Alisa sangat geram, setelah tahu kalau Farel meminta kakaknya pergi bersembunyi.


‘Dia melakukan kesalahan, bukannya seharusnya ia di hukum mas Farel, kenapa kamu malah menyembunyikan seorang kriminal?’ ucap Alisa dama hati.

__ADS_1


Farel hanya diam, kini otaknya dipenuhi dengan pertanyaan yang membuat kepalanya sakit, Sikap Alisa sangat tenang, ia tidak mengatakan apa-apa tentang tawaran polisi untuknya, ia juga membahas tentang semua yang terjadi.


Alisa hanya diam seribu bahasa menyembunyikan semuanya dalam hatinya dan menutupinya dengan bersikap tenang dan diam membuat Farel kebingungan.


Alisa tidak membahas apapun pada Farel, baik mengenai Dinar yang menyakiti Baby Akmal, baik tentang saat Farel meninggalkannya di jalan dan tidak membahas mengenai tanggapannya tentang ajakan Faisal yang akan memberi hukuman untuk Farel.


Farel berusaha memperbaiki hubungannya dengan Alisa dengan cara ia menjaga wanita itu selama menjalani perawatan, dan Farel juga sudah mulai berusaha menerima si kembar.


Tepat satu minggu setelah Akmal sudah di perbolehkan pulang, baby Akmal tidak ada mengalami cidera yang parah menurut dokter, walau sempat pingsan beberapa lama, itu karena benturan kuat yang mengenai kepalanya tetapi setelah di periksa tidak ada cidera di dalam kepalanya, hanya wajahnya yang lebam dan bibir pecah dan keningnya yang terbentur membuat ia pusing dan pingsan.


Alisa sangat bersyukur karena keponakannya tidak mengalami hal buruk, tetapi saat melihat wajah lebam dan bibir, yang pecah itu membuat meremas tangannya dengan kuat, Tetapi ia tidak menunjukkannya pada Farel.


Tidak ada yang tahu dalam hatinya saat ini, ia sangat merasa marah pada Dinar, terlebih pada Farel karena lelaki itu memilih menyembunyikan kakaknya yang jelas-jelas sudah salah.


‘Kalian akan menerima balasannya nanti’ ujar Alisa menatap Akmal dari jauh. Ia tidak tega melihat wajahnya yang lebam, ulu hatinya terasa perih kala melihat bayi ber usia empat bulan itu mengalami kekerasan fisik sebegitu kejam di usianya yang masih sangat muda.


Maafkan Bunda sayang, kita akan beri mereka pelajaran nanti karena telah menyakitimu’ ucap Alisa dari balik kaca.


Alisa kembali ke kamar di mana ia dirawat, ia harus menerima perawatan yang lama karena kesalahannya dan kepanikannya.


Racun yang dimaksud dokter dalam perutnya adalah semua karena kesalahan Alisa. Ia meminum suplemen makanan dalam dosis yang banyak, saat ia merasa kelaparan tengah malam di rumah sang mertua. Ia takut untuk makan ke dapur , karena saat ia makan yang ada ibu mertuanya akan mengoceh terus menerus.


Jadi dari pada hal itu terjadi, maka jika ia merasa lapar malam ia akan meminumnya, awalnya hanya sekali-kali lama-lama jadi kebiasaan ia jadi melupakan makan, dan hanya mengkonsumsi suplemen itu untuk membuatnya tetap kuat dalam beraktifitas.


Memang satu kebodohan karena ia sendiri tahu hal itu salah, karena ia seorang bidan. Namun, beban pikiran yang begitu berat ia pikul sendiri membuatnya dirinya lalai menjaga kesehatan dan berakhir seperti saat itu.


Alisa harus di rawat bersama keponakan. Keponakan yang sudah ia anggap anaknya sendiri.


Alisa hanya aksi diam, tetapi tidak ada yang tahu apa yang terjadi dibalik aksinya diamnya. Alisa ingin membalas suaminya dan keluarganya dengan caranya sendiri. Alisa hanya menunggu waktu keluar dari rumah sakit.


‘Tunggulah Mas Farel kamu akan menangis menyesal suatu saat nanti’

__ADS_1


Bersambung.


Bantu subscribe dan like kakak agar ceritanya masuk Rank bantu juga, baca cerita yang lain.


__ADS_2