
Alisa mengiyakan semua yang dikatakan Farel, bahkan saat lelaki itu meminta si kembar. Alisa hanya mengangguk setuju, ia tidak tahu kalau di hati Alisa sangat kesal.
‘Berani bangat dia meminta anak-anak setelah apa yang sudah diperbuat pada mereka’ Alisa membatin, tetapi ia tidak membantah.
Farel meninggalkan Alisa, setelah meminta izin pada Alisa untuk menemui anak-anak. Ia berjalan tenang suasana hatinya lagi sedang baik saat itu, karena ia berpikir tidak ada masalah apa-apa. Ia berpikir Alisa menerima dirinya kembali. Tetapi saat ia tiba di kantor.
Ada seseorang yang menunggu dirinya, lalu Farel membawa lelaki berjas itu ke ruangannya.
“Selamat pagi Pak Farel, kenalkan saya Bagas pengacara Alisa.
Farel langsung diam, saat lelaki itu memperkenalkan diri sebagai pengacara Alisa, Farel terdiam, ia sudah memprediksi apa yang akan terjadi.
“Iya ada apa?” tanya dengan raut wajah tidak bersahabat.
“Klien saya ingin tahu status perceraian yang bapak lakukan.”
“Memang siapa yamg mau cerai? saya tidak ingin bercerai,” ujar Farel tegas.
“Tetapi menurut klien saya, bapak sudah menceraikan klien saya secara agama, jadi kita tinggal urus cerai dari negara, iya itu di pengadilan.”
“Itu tidak ada, itu semua kesalahan, saya tidak ingin bercerai, sekarang kamu keluar dari ruangan saya …!katakan pada Alisa dan keluarganya sampai kapanpun saya tidaka akan cerai.”
Farel membuka pintu ruangan kerja dan meminta sang pengacara meninggalkan ruang kerja Farel.
“Baiklah, kalau begitu saya akan mendaftarkan pengajuan perceraian millik klien saya ke pengadilan, biar pengadilan yang membantu bapak membuat pilihan,” ujar pengacara, ”Jika saya bisa memberi saran, kalau memang tidak bisa dipertahankan lagi, lebih baik berpisah dari pada bertahan dan saling menyakiti menurutku lebih baik berpisah dan saling memperbaiki diri,” ujar pengacara mengajari Farel.
“Kamu tahu apa tentang hidupku. Tahu apa kamu!” bentak Farel dengan marah.
“Klien saya, ibu Alisa sudah menceritakan semua pada saya pak Farel.”
“Aku akan bicara langsung pada Alisa dan keluarganya,” ujar Farel dengan percaya diri.
“Harusnya bapak melakukan itu sebelum Ibu Alisa melayangkan surat tanggapan cerai. Itu artinya dia hanya menanggapi, dalam arti memperjelas status pernikahan bapak dan ibu Alisa, karena sebelumnya bapak lah yang katanya menalak ibu di hadapan keluarga, itu artinya bapak sudah cerai dalam agama.”
“Itu tidak ada, itu tidak akan terjadi, saya akan tetap bersama istri dan anak-anakku. Apa kamu dengar itu!” suara Farel meninggi sampai rekan kerjanya mendapatkan kelemahannya lagi.
__ADS_1
Sang pengacara hanya menggeleng kesal, lalu keluar setelah di dorong paksa untuk keluar, ia berpikir kalau Farel orangnya angkuh dan percaya diri.
Setelah pengacara keluar dari ruangannya Farel mengeluarkan ponselnya dan ia menelepon Alisa, panggilannya tidak di jawab, Farel semakin marah, panggilan telepon tidak dijawab, pesan juga tidak di balas.
“Alisa kamu ingin mempermainkan ku Haaa?” Farel melampiaskan kemarahannya dengan melempar barang-barang yang ada di ruangan.
Tidak cukup menghancurkan barang-barang di atas meja, ia menyambar kunci mobil, ia mendatangi rumah sakit di mana Alisa bekerja, untuk pertama kalinya lelaki berbadan tinggi tegap itu masuk dan ingin menemui Alisa di ruangan kerja. Tetapi saat ia mencari ke ruang informasi , tubuhnya tiba-tiba terasa lemas.
Alisa sudah pindah tugas ke luar kota, kedatanganya hari ini ke rumah sakit untuk terakhir kali.
“Maaf apa boleh saya tahu kemana istri saya pindah tugas?” tanya Farel dengan wajah memelas.
“Maaf Pak, saya tidak tahu, kalau bapak ingin tahu, bapak boleh menemui Dr.Faisal beliau tahu.”
“Faisal …?”
“Iya pak, itu orangnya, kebetulan datang,” perawat yang duduk di meja informasi menunjuk seseorang yang amat ia benci dan kali ini juga sangat membenci.
“dr Faisal yang mengurus semua pegawai rumah sakit,” bisik nya pelan.
“Apa kamu yang melakukannya?” tanya Farel saat Faisal mendekat.
“Kenapa? Kamu ingin marah? Saya kepala bagian di sini, tetapi kalau kamu ingin bicara denganku ayo kita bicara di luar.”
Farel mengikuti dr. Faisal keluar.
“Apa kamu yang melakukanya?” Farel menatapnya dengan penuh kebencian.
“Tidak juga, tetapi saya pikir Alisa wanita yang baik pantas mendapatkan yang baik juga, saya dengar anda sudah menalaknya, itu artinya secara agama kalian sudah berpisah, bukan?”
“Bukan urusanmu!” teriak Farel marah.
“Akan jadi urusanku karena aku berusaha untuk menggantikan posisimu sebagai ayah anak-anak yang mengemaskan itu, apa kamu tahu setiap malam aku akan selalu bermain dengan mereka, melihat kecantikan Aminah mengingatkan aku sama ibunya saat kami kuliah dulu, bibirnya yang kecil dan matanya yang bulat.”
“Jangan sesekali kamu bermimpi menjadi ayah anak-anakku.”
__ADS_1
“Kita lihat saja nanti, bukankah kamu yang selalu bilang kalau mereka anak-anakku?"
Aku akan membuat tuduhan itu akan jadi kenyataan. Lihat bahkan wallpaper ponselku foto keduanya, jadi aku merasa sangat dekat dengan mereka, mungkin karena aku membantu mereka tumbuh di rahim ibu mereka, jadi aku seakan-akan punya hubungan batin yang kuat, dulu setiap bulan, aku selalu menyentuh mereka di rahim ibunya mendengarkan detak jantung melihat perkembangan keduanya. Kamu apa? Kamu hanya pohon bibit untuk mereka.”
“Berhenti memancing emosiku!” teriak Farel, wajah itu mulai menegang.
“Tidak, aku hanya mengatakan kebenaranya, aku tahu kamu juga belum menyentuh Alisa, kan, hampir lima bulan menikah aku dengar dari asisten rumah tangga dan kata ibumu, kalian tidur terpisah. Itu artinya Alisa masih perawan, bukan?
Wah … sangat di sayangkan. Jadi dia nanti akan janda perawan dong?” Faisal seolah-olah memang sengaja memancing emosi Farel.
Karena tidak bisa menahan emosi , ia memukul Faisal sekali tinju, tetapi ia melakukannya di bagian perut tidak meninggalkan bekas ataupun tanda.
Tetapi lelaki itu merasa belum puas, ia terus saja memprovokasi pikiran Farel membuat lelaki itu kehilangan kontrol diri, hal itu memang tujuannya, ia rela tubuhnya terluka parah yang penting Farel jadi tersangka.
Itulah tujuannya kata-kata provokasi yang ia lontarkan menyulut emosi Farel dan ia masuk kedalam jebakan Faisal.
“Dengar, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, kamu sudah cukup menghancurkan rumah tanggaku dengan Ratna, jangan kamu ulangi lagi.”
“Tidak mendapatkan kakaknya Ratna aku tidak keberatan mendapatkan Alisa, walau ia nanti jadi mantan istrimu. Namun, ia masih perawan dan aku juga mendapatkan bonus anak kembar, kami tunggu saja , hidupku kamu akan hancur seperti yang aku inginkan,” ujar Faisal.
“Bermimpi lah, kamu tidak akan mendapatkan itu, Alisa orang yang pintar, ia tahu mana yang otaknya licik dan mana yang tulus.”
“Tidak masalah … itu artinya, aku akan bekerja keras. Oh, nanti malam ibu Alisa mengundangku makan di rumah, apa aku menginap di sana dan menghangatkan tubuh Alisa? karena kamu tidak mampu melakukannya. Kasihan wanita itu punya suami berguna seperti kamu,” ujar Faisal, kalimat-kalimat merendahkan itu membuat Farel menggila.
Habis kesabarannya ia mengambil kursi dan memukul ke badan Faisal dan yang lebih tragis. Farel memukul ke bagian intinya memukul kursi ke pangkal paha dan menginjaknya sampai Faisal berteriak kesakitan.
“Aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan juga, akan aku buat milikmu ini tidak berfungsi, jadi berhenti menghinaku dan menyebut tidak berguna, aku juga tidak ingin seperti ini. Kamu tahu jelas, itu karena kecelakaan. Jadi aku lakukan padamu juga.” Farel benar-benar tidak terkontrol.
“Buaak …!
Ia memukul bagian paha Faisal dengan kuat, lelaki itu pingsan ***** miliknya terluka parah.
Farel meninggalkannya dan menyerahkan diri ke polisi.
Bersambung
__ADS_1