
Orang tua yang baik, akan mengalah dan membuang keegoisan kalau itu untuk kebahagian sang anak, hal itulah kira-kira yan dirasakan Bu Yani, setelah berpikir panjang dan dinasehati suaminya, akhirnya mau menerima Alisa kembali di rumah sebagai menantu dengan syarat harus melakukan pernikahan yang sah dan menggunakan adat yang biasa di keluarga mereka.
Alisa pulang ke kampung sore itu juga, karena ia dan adiknya Risky memang sudah sepakat untuk pulang kampung menggunakan kereta api sore itu.
“Ada apa Mba? Kenapa diam dari tadi?” tanya Risky saat mereka duduk dalam kereta.
“Mbak bingung …”
“Bingung kenapa?”
“Orang tua Dimas ingin melamar mbak secara sah”
“Oh, bagus itu”
“Bagus bagaimana Ky, kami sudah dinikahkan secara agama”
“Ya, tapi acara adat kan belum,” ujar adiknya dengan santai.
“Justru Mbak tidak ingin seperti itu, mbak, kan, sudah pernah menikah, sepertinya kurang pantas saja di lakukan pernikahan seperti itu lagi”
“Mba, sudahlah lupakan masa lalu, raih masa depanmu, mungkin Pak Dimas yang memang jodoh untuk Mba”
Alisa diam, kini ia terjebak dalam perasaan sendiri, tetapi untuk kebaikan semua orang, karena dukungan kedua orang tuanya juga, akhirnya Alisa setuju diadakan resepsi untuk pernikahan mereka, karena pernikahan mereka berdua saat itu memang sangat dadakan dan terkesan dipaksakan, karena tidak ada pihak keluarga dari pihak keluarga mereka masing-masing, hanya Farel saat itu jadi saksi dari Dimas yang lainnya orang lain.
“Apapun keputusanmu Nak, ayah akan mendukung, ayah berharap ini pernikahan yang membawa kebahagian untukmu,” ujar ayah Alisa.
“Ibu juga akan mendukung apapun yang jadi pilihan hidupmu Nak, raihlah kebahagiaanmu, biarkan anak-anak ibu yang jaga, jangan khawatir mereka akan sehat,” ujar Juminten, wanita paruh baya itu tidak mau lagi mengurusi pilihan hidup Alisa, ia mendukung.
“Aku juga mendukung Mba,” ujar adiknya Risky.
Setelah mendapat restu, dari semua orang Alisa menelepon Dimas .
“Apa kamu sudah ikhlas menerimaku sebagai suamimu kan Sa, karena bunda sudah merestui kita”
“Baiklah, aku siap lahir batin jadi istrimu Mas,” ujar Alisa.
“Aku janji akan menjadi ayah yang baik untuk mereka berdua , akan merawat dan menjaga mereke berdua sepanjang hidupku,” ujar Dimas.
“Baiklah terimakasih sudah menerima anak-anak sebagai anak”
Dimas merasa sangat bahagia karena Alisa akhirnya menerima dirinya kembali. Dimas menelepon Farel.
“Bagaimana apa Alisa setuju?”
“Terimakasih Pak Farel, dia sudah setuju”
“Baiklah semoga acaranya berjalan dengan baik.
Pak Dimas …. Aku sudah operasi wajahku”
Dimas terdiam, ia berpikir kalau Farel akan mengambil anak-anaknya.
“Lalu apa Bapak ingin …-”
“Tidak jangan khawatir aku tidak akan mengungkapkan identitas ku pada Alisa, hanya, aku ingin minta tolong”
“Apa ?”
__ADS_1
“Aku akan kembali sebagai polisi, dengan identitas yang baru dan akan membongkar kasus lama yang pernah terkendala, mungkin nanti akan menyeret nama Farel lagi karena kasus ini, kasus lama yang pernah aku tanganin dengan Pak Brata”
“Apa yang bisa aku bantu?”
“Kalau misalkan aku dan rekan polisi yang lain datang ke rumah, aku minta kerja samanya “
“Baik Pak Farel, aku akan mengingatnya”
Setelah mereka berdua sepakat acara resepsi dan pernikahan adat dari Dimas akhirnya terlaksana.
Setelah resepsi itu selesai Alisa sangat gugup.
“Apa mba sakit perut, kok bolak -balik ke kamar mandi?” Tanya Farida.
“Aku sangat gugup”
“Gugup karena mau malam pertama?”
“Ya”
“Kan, sudah pernah menikah,” ujar Farida dengan hati-hati, ia takut kakak iparnya jadi tersinggung, hubungan Alisa dan Farida memang sudah akrap dari dulu saat Alisa dan Farel pacaran , kemudian retak saat Alisa menikah dengan Farel. Tetapi, kini persahabatan mereka kembali.
“Sebenarnya ….” Alisa menggantung kalimatnya.
“Apa? Kamu lagi datang bulan?”
“Aku belum pernah melakukannya”
“HAAA?”
“Kamu yakin?”
“Ya, aku sangat yakin”
“Sakit loh … sakit bangat,” ujar Farida.
Farida sudah menikah, ia mendahului Dimas, hanya ia belum di kasih keturunan, Farida juga dengan sang suami LDR an, suami Farida seorang tentara sedang bertugas di Sulawesi Utara.
“Jangan menakut-nakuti”
“Sumpah dah emang sakit, apa lagi Uda Dimas badannya tinggi besar, sudah pasti anunya juga panjang besar,” bisiknya lagi, sembari terkekeh.
“Atagfillahajim, aku nyesel kasih tau kamu,” ujar Alisa memegang pipinya yang terasa panas.
Dimas yang saat itu sedang duduk sama keluarga besar, melirik adiknya yang terkekeh meledek Alisa.
‘Makanya jangan kasih tau sama dia Sa, sudah tau mulut Farida bawel kayak burung beo’ Dimas membatin.
Ia tahu apa yang kedua wanita itu digosipkan, terlihat dari gerakan tangan Farida, Dimas juga tahu hal itu, karena Farel sudah cerita kalau Alisa belum di sentuh.
Akhirnya malam yang menegangkan itu akhirnya tiba.
Sebelumnya Dimas sudah boking satu kamar hotel untuk mereka berdua, namun, ibunya sudah mendekor satu kamar di rumah untuk pengantin baru, Alisa baik Dimas tidak enak menolak, semua keluarga sudah pulang jadi suasana dalam rumah tidak terlalu bising lagi.
“Apa kamu takut?” Tanya Dimas, saat Alisa meremas ujung gaun pengantinnya.
“Kalau boleh jujur, ya Mas, aku sangat gugup”
__ADS_1
“Jangan gugup Sa, kalau kamu belum siap malam ini, tidak apa-apa kita bisa melakukannya lain waktu, mungkin kamu capek hari ini,” ucap Dimas pengertian.
“Kamu benar Mas, kebetulan aku juga sangat lelah”
“Tidak apa-apa, sini ku bantu melepaskan gaun pengantinya agar kamu bisa membersihkan diri sebelum istirahat”
Alisa berjalan ke kamar mandi , tetapi di sana ia bertarung dengan pikirannya sendiri, naif rasanya jika ia tidak menginginkan malam pertama, bahkan sudah sangat lama ia ingin melakukannya dengan Dimas, setelah mereka menikah tetapi ia terus saja menahan dirinya.
Tetapi kali ini setelah semuanya sudah mendukungnya dan tidak ada batu penghalang lagi dalam perjalanan rumah tangga mereka. Ia berpikir kenapa ia harus menunda kewajibannya.
“Tapi, kasihan Mas Dimas, kalau aku terus menundanya, dia juga menginginkan aku melakukan kewajiban ku”
Alisa menghembuskan napas panjang dari mulutnya untuk membuang rasa gugup dalam hatinya.
Ia memutuskan untuk melakukan kewajibannya dan menyelesaikan satu ritual pernikahan mereka.
Alisa keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang di berikan Farida padanya, ia sengaja menutupi dengan memakai handuk yang berbentuk pakaian itu.
“Sa …?” Dimas mengangkat kedua alisnya saat Alisa keluar malu-malu dari kamar mandi, ia memperlihatkan rambutnya yang sebahu.
“Mas …” Suara Alisa berat dan tertahan.
“Kenapa … kamu sudah siap?” Tanya Dimas berdiri tepat di depan istrinya, ia meraih dagu Alisa dan mencium bibirnya dengan lembut.
“Ya, aku sudah siap, mar kita lakukan,” ujar Alisa.
Bersambung ….
KAKAK BAIK …. JANGAN LUPA KASIH lLIKE , VOTE DAN KOMENTAR DI SETIAP BABNYA YA, KASIH HADIAH JUGA , AGAR AUTHORNYA SEMANGAT UP TIAP HARI.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Indentitas Tersembunyi Sang Menantu( BARU)
-Aresya
-Manusia Titisan Dewa
-Menikah Karena Wasiat( Cat story)
-Pariban jadi Rokkap
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (Tamat)
__ADS_1