Menikah Karena Wasiat

Menikah Karena Wasiat
Bab 75


__ADS_3

Setelah bertanya kepada resepsionis dan berkeliling mencari ruangan Arini,akhirnya Sam melihat Luna dan Diana sedang duduk di depan ruangan yang Sam yakini adalah ruangan istrinya, namun wajah mereka terlihat cemas.Buru-buru Sam pun berlari mendekati mereka.


"Bagaimana keadaan Arini.???" tanya Sam mengagetkan Diana.


"Sam."ucap Diana segera berdiri dari duduknya.


"Ayaaaaaah." begitu pun dengan Luna dia langsung berhambur memeluk Sam.


"Tenang bunda pasti baik-baik saja."Sam mencoba menenangkan putri kecilnya,walau dalam hatinya dia pun sama sangat mengkhawatirkan istrinya.


"Apakah Arini sudah lama berada di dalam sana.?tanya Sam kepada Diana


"Mungkin setengah jam an." jawab Diana


"Terima kasih sudah bawa Arini kesini." ucap Sam penuh syukur karena Diana datang di waktu yang tepat.


"Di..." teriak seseorang yang tak lain adalah Devan


"Ini tas dan ponselmu." ucap Devan memberikan tas kepada Diana.


"Cepat hubungi suami Arini."titah Devan yang belum tahu bahwa Sam adalah suaminya,karena mereka tidak pernah bertemu.


"Dia suami Arini,namanya Samuel." tunjuk Diana kepada Sam yang sedang memandang ke arah Devan,begitupun dengan Devan dia segera mengikuti arah tangan Diana.


Seketika Devan pun kaget,karena pria yang dia temui di parkiran tadi adalah suami Arini.


Kebetulan tadi Diana menyuruh Devan untuk mengambil tasnya yang tertinggal di dalam mobil,dan kebetulan mobil Sam menghalangi mobil Devan.


"Kamu." ucap Devan


"Maaf apakah anda kenal saya.?"tanya Sam karena kebetulan Sam tidak ingat bahkan tidak melihat wajah Devan saat di parkiran.


"Apakah anda lupa kepada saya.??"tanya Devan dan itu membuat Sam sangat bingung dengan pertanyaannya.


"Memangnya kita pernah ketemu?" Sam balik bertanya kepada Devan.


"Ini ada apa sih.?"tanya Diana tak kalah bingung.


"Sudahlah lupakan saja." ucap Devan.


"Dia siapa.?"tanya Sam kepada Diana.


"Dia Devan teman aku dan Arini di kampus,kebetulan dia juga yang bawa Arini kesini." jelas Diana


Sam sebenarnya tidak suka saat mendengar dia membawa Arini ke Rumah Sakit,sudah pasti istrinya di gendong oleh pria ini.Namun apa daya Sam tidak boleh kekanak-kanakan dia tahu bahwa situasinya sangat urgent.Jadi Sam mencoba memaklumi tindakan pria yang bernama Devan itu.


"Ooh...!!!terima kasih." ucap Sam namun nadanya terdengar acuh.


"Sama-sama,lagian Arini juga temanku." jawab Devan,tak lama dokter pun keluar buru-buru Sam dan yang lainnya mendekati sang Dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya dok.??" tanya Sam cemas.


"Apakah anda suaminya ???" tanya sang Dokter kepada Sam.

__ADS_1


"Ya." jawab Sam singkat,dia cukup kesal kenapa sang Dokter bertanya seperti itu.


"Tuan tidak perlu khawatir,istri anda baik-baik saja." jelas sang dokter seraya memberikan senyuman.


"Tapi tadi teman saya pingsan dok." timpal Diana


"Itu wajar,karena ibu Arini sedang hamil muda dan perutnya kosong belum di isi makanan apapun." jelas dokter tersebut.


"Apa dok.??? istri saya hamil.?"tanya Sam seraya tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Iya pak,usia kehamilannya memasuki 4 minggu." ucap sang Dokter.


"Alhamdulillah Ya Allah." ucap Sam penuh syukur.


"Nak...sebentar lagi kamu akan memiliki adik."Sam memberitahu Luna atas kabar bahagia bundanya.


"Apa ?adik.?? horeeeee.!!" Luna tak kalah senang mendengarnya.


"Luna senang ???" tanya Sam


"Sangat,Luna akan menjaga adik bayi dan bunda mulai sekarang." ucapnya antusias.


"Tapiiiii......"lanjut Luna dengan nada pelan


"Tapi kenapa sayang.?" tanya Sam


"Apakah ayah dan bunda akan tetap menyayangi Luna meskipun kalian sudah memiliki adik bayi.??"tanya Luna sendu.


"Tentu saja,kami akan tetap menyayangimu.Karena kamu adalah putri pertama kami." ujar Sam seraya mencium pipi Luna gemas.


"Apakah saya boleh masuk ke dalam dok.???"tanya Sam


"Tentu." jawab Dokter


"Kalau begitu saya permisi." ucapnya lagi dan di angguki oleh Sam.


Sam dan yang lainnya pun masuk ke dalam,disana ada Arini yang sedang berbaring matanya memandang semua orang yang baru saja masuk ke ruangannya.


"Bundaaaaaa."Luna turun dari pangkuan Sam dan berlari ke arah Arini.


"Sayang...bunda baik-baik saja kok." Arini mencoba menenangkan Luna yang terus menangis di sebelahnya.


"Aku senang sayang." ucap Sam menghampiri Arini dan mencium keningnya.


"Aku juga Sam,akhirnya aku bisa memberikan keturunan kepadamu." ucap Arini penuh haru.


"Selamat ya Rin,loe harus jaga amanah ini."ujar diana sambil mengelus perut rata Arini.


"Makasih Di." jawab Arini tersenyum


"Tunggu deh kok loe sama Devan bisa ada disini.???" tanya Arini heran


"Iyalah,,orang kita berdua yang bawa loe kesini." jelas Diana.

__ADS_1


"Ya ampun makasih ya Di,Van." Arini tersenyum senang karena memiliki kedua sahabat yang baik.


"Maaf ya udah ngerepotin kalian berdua." ucapnya lagi


"Loe ngomong apaan sih Rin,lagian gw juga kebetulan mau ke rumah loe eh taunya datang di waktu yang tepat."ucap Diana


"Iya Rin,kamu tidak usah sungkan sama kita.Lagian kamu adalah sahabat kita dan selamat atas kehamilanmu."ucap Devan namun dari nadanya terdengar getir.


"Aku sadar,aku salah mencintainya.Mulai sekarang aku akan menghilangkan rasa ini Rin." batin Devan menatap Arini dan itu tak luput dari perhatian Sam.


"Ekheeeem." Sam berdehem dan itu membuat lamunan Devan tersadar.


"Sayang...kata Dokter kamu jangan cape-cape dulu,jadi mulai sekarang kamu cuti kuliah dulu ya." lembut Sam membelai pipi Arini.


Sam sengaja memperlihatkan kemesraannya di depan Devan,agar dia tau bahwa dia mencintai wanita yang salah.


"Tapi Saaam." Arini hendak protes namun Sam dengan cepat memotongnya.


"Pokoknya tidak boleh,aku tidak menerima bantahan."ucap Sam dan Arini hanya bisa cemberut.Kebetulan kandungan Arini lemah jadi dia harus banyak istirahat.


"Aku sudah kasih tau mamah nanti dia akan kesini.Dan mamah Andin masih di luar kota mungkin besok dia akan pulang." jelas Sam


"Aku gak mau disini,aku mau pulang."rengek Arini.


"Tapi kamu masih butuh perawatan,disini aja dulu ya semalam." Sam mencoba membujuk Arini.


"Gak mau aku gak betah disini."Kini Arini sudah mengeluarkan air matanya dan itu membuat Sam tak tega.


"Yaudah iya,tunggu disini aku mau izin dulu sama Dokter." ucap Sam,setelah itu dia pun pergi untuk menemui Dokter.


"Rin...kalau gitu kita pamit dulu ya,loe gapapa kan gw tinggal." ucap Diana.


"Gapapa Di,makasih ya."jawab Arini.


"Ayo Van.!!"ajak Diana


"Kita bareng aja pulangnya sama Arini."Devan menolak ajakan Diana.


"Gapapa Van loe pulang aja duluan,sebentar lagi juga gw bakalan pulang." ucap Arini


"Noh dengerkan apa kata Arini,ayo kita pulang." Diana menyeret tangan Devan.


"Yaudah gw pulang dulu ya Rin,salam sama suami loe." ucap Devan dan di angguki oleh Arini.


"Hati-hati." teriak Arini sedikit keras.Devan dan Diana pun pergi meninggalkan Arini dan Luna,tak berselang lama Sam pun datang.


"Gimana.?" tanya Arini langsung to the point.


"Ya...kata Dokter boleh pulang,tapi gak boleh cape-cape."jawab Sam dan itu membuat Arini senang mendengarnya.


"Dimana kedua temanmu???"tanya Sam celingukan.


"Mereka sudah pulang,ayo bantu aku duduk di kursi roda."pinta Arini dan Sam pun menggendong Arini dan memindahkannya di kursi roda.

__ADS_1


"Ayo sayang." ajak Sam kepada Luna.Mereka pun keluar dari ruangan menuju parkiran Rumah Sakit.


__ADS_2