
Kini Sam pun telah sampai di kantornya,Sam dan Luna keluar dari mobil.
"Waaah...apakah ini kantor ayah.???"tanya Luna memandang gedung kantor Sam dengan takjub.
"Ya sayang,ayo kita masuk!!" ajak Sam menggandeng tangan kecil Luna.Semua karyawan memandang ke arah Sam dan Luna mereka bertanya-tanya siapakah anak kecil yang di bawa oleh bosnya.
"Siapa anak itu.??? setauku bos Sam belum memiliki anak." ucal salah satu karyawan
"Aku juga tidak tau,tidak mungkin kan dia adiknya bos Sam."jawab salah satu temannya
"Mana ada,lihat saja mirip juga enggak dengan bos Sam.Mmmmpp.....atau jangan-jangan dia anak selingkuhannya bos Sam." ujar karyawan tersebut yang berjenis kelamin perempuan.
"Hussst kau ini sembarang sekali kalau bicara." tegur temannya
"Lah ter....." belum juga si wanita tersebut menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Rian datang menghampiri mereka.
"Ekheeem....mau kerja atau ngegosip.?"sindir Rian si sekertaris Sam.
"Hehe maaf pak." jawab kedua karyawan tersebut.
"Sudah sana kerja lagi." titah Rian dengan segera kedua wanita itu pun kembali ke tempatnya masing-masing.
Rian pun berjalan mendekati Sam.
"Selamat pagi pak,nona kecil." sapa Rian.
"Pagi." jawab Sam,mereka pun berjalan ke arah lift menuju ruangan sang direktur.
"Apakah semuanya baik-baik saja.???" tanya Sam kepada Rian saat mereka sudah memasuki lift.
"Semuanya baik-baik saja pak,bapak tenang saja." jawab Rian tegas.
"Syukur kalau gitu,kemarin aku sangat panik saat mendengar Arini pingsan."ucap Sam
"Bagaimana keadaan nona Arini sekarang.???" tanya Rian
"Dia baik-baik saja dan sebentar lagi kami akan memiliki anak." jelas Sam
"Waah selamat ya pak,saya sangat senang mendengarnya." ucap Rian
"Terima kasih Ian,makannya kamu cepetan nikah.Lihat umurmu bahkan 2 tahun lebih tua dariku." Sam sedikit mengejek sekertarisnya.
"Hehe...belum nemu yang cocok pak." Rian hanya bisa menjawab dengan cengengesan.
"Banyak alasan kau ini." Sam menepuk pundak Rian dan berjalan keluar lift saat pintu sudah terbuka.
"Apakah ini ruangan ayah.??" tanya Luna saat melihat satu ruangan di depannya.
"Ya sayang." jawab Sam tersenyum,mereka pun masuk ke dalam.Sam mendudukan Luna di sofa kantornya.
__ADS_1
"Nah Luna duduk disini ya,kalau butuh apa-apa panggil ayah atau panggil om Rian." ucap Sam
"Iya ayah." jawab gadis kecil itu.Anak itu begitu baik dia sangat penurut sekali bahkan tidak mengganggu aktivitas Sam sama sekali.Sesekali Sam melihat ke arah Luna yang sedang bermain dengan boneka barbienya,karena dia sengaja membawa mainan dari rumah.
"Ayah." panggil Luna
"Ya sayang.?" Sam mengandahkan kepalanya melihat ke arah Luna.
"Luna haus." ucapnya
"Tunggu akan ayah ambilkan." Sam segera bangkit dari duduknya dan mengambil air minum.
"Ini minumlah." Sam memberikan gelas yang berisikan air putih.
"Makasih ayah." ucap Luna Sam pun tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Luna.
"Sama-sama sayang,yasudah kamu main lagi ya nanti kita makan siang bersama." ucap Sam dan di angguki oleh Luna.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar " Tok.tok..tok.."
"Masuk." jawab Sam
"Maaf pak, di depan ada ibu Selvi dia ingin membicarakan prihal kerjasama kita lagi." Ucap Rian
"Yasudah biarkan dia masuk." titah Sam dan di angguki oleh Rian,Rian pun segera keluar untuk memanggil Selvi.
"Makasih sekertaris Rian." jawab Selvi ramah
"Selamat siang tuan Sam." sapa Selvi matanya sebentar melirik ke arah Luna yang sedang bermain.
"Siang Nona Selvi,silahkan duduk!!" titah Sam,sebenarnya Sam sangat tidak suka dengan Selvi namun ada daya mereka sudah terikat kontrak pekerjaan.
"Jadi ada perlu apa anda kesini.??? bukankah sekertaris saya sudah mengurus kerjasama kita." Sam membuka suaranya saat mereka sudah duduk.
"Ah iya,tapi ada sebagian hal yang perlu kita bahas lagi." ujar Selvi.
"Baiklah,silahkan anda jelaskan." ucap Sam ,lalu Selvi pun mulai menjelaskan perihal kerjasamanya dengan detail.
"Bagaimana apakah anda setuju dengan usul saya.???"tanya Selvi setelah dirinya selesai menjelaskan semua persoalan kerjasamanya.
Sejenak Sam berpikir dengan semua penjelasan Selvi." Baiklah saya setuju dengan ide anda." ucap Sam
"Oke kalau gitu deal." Selvi menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan,sejenak Sam menatap tangan Selvi seoalah-olah dia enggan untuk menerima uluran tangan wanita itu.
"Ah maaf." Selvi yang paham akan tatapan Sam akhirnya mengurungkan niatnya untuk berjabat tangan.
"Kalau begitu saya permisi dulu." ucap Selvi bangkit dari duduknya dan di angguki oleh Sam, lagi-lagi dia memandang ke arah Luna ingin rasanya dia bertanya "siapakah anak itu.?" karena Selvi tidak tau bahwa Sam sudah menikah.
"Dia putri saya." tiba-tiba Sam berkata seperti itu saat melihat Selvi terus memperhatikan Luna.
__ADS_1
"Waw,,,saya tidak menyangka anda masih muda tapi sudah memiliki keluarga."ucap Selvi dan hanya di balas senyuman oleh Sam.
"Oke kalau begitu saya permisi dulu,terima kasih atas waktunya." Selvi melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Sam.
"Kami permisi dulu sekertaris Rian." ucap Selvi saat dia keluar dari ruangan Sam dan disana ada Rian dan sekertarisnya Amira yang sedang menunggu.
"Ah baiklah hati-hati di jalan nona Selvi ,nona Amira." Jawab Rian dan di angguki oleh kedua wanita tersebut.
"Menyebalkan sekali pria itu." grutu Selvi saat dirinya sudah berada di dalam mobil.
"Pria yang mana bu.???" tanya Amira saat mendengar grutuan bosnya.
"Siapa lagi kalau bukan rekan kerjasama kita." jawab Selvi dengan ketus.
"Maksud ibu pak Sam.???" tanya Amira.
"Menurutmu.???" Selvi begitu kesal dengan tingkah Sam yang tidak mau menerima uluran tangannya.
"Memangnya dia pikir di siapa huh,bahkan menerima uluran tanganku saja tidak mau.Kalau saja papah tidak kekeh untuk melanjutkan kerjasama ini ogah sekali aku harus datang kesini dan pura-pura bersikap ramah." cerocos Selvi dengan emosi.
"Sabar bu,jangan marah-marah.Nanti kalau ibu jatuh cinta sama pak Sam tau rasa loh." ucap Amira sembari terkekeh.
"Idiiih amit-amit,ogah sekali kalau harus jatuh cinta sama pria sombong seperti itu." Ucap Selvi
"Mending cari pria lain saja."ucapnya lagi.
"Hahaha awas loh bu nanti kemakan omongan sendiri tau rasa." ejek Amira dengan nada menggoda.
"Kau ini menyebalkan sekali." Grutu Selvi sembari tangannya memukul kepala Amira dengan pelan.
"Awww sakit bu." rengek Amira mengelus-ngelus kepalanya.
"Bomat,tau rasa kan." jawab Selvi kesal.Langsung dia pun memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil matanya menatap jalanan dan bangunan yang dia lewati.
"Mungkin kalau dia belum menikah aku akan menyukainya." batin Selvi tiba-tiba hatinya berkata seperti itu.
"Ya ampun Selvi apa yang kamu ucapkan barusan,no no no jangan sampai kamu jadi pelakor." ucapnya pelan sambil memukul-mukul kepalanya.
"Bu....bu..." panggil Amira saat melihat bosnya memukul-mukul kepalanya sendiri.
"APA.???" tanya Selvi ketus
"Ibu baik-baik saja kan.???" tanya Amira hati-hati
"Menurutmu aku gila huh.???" jawab Selvi sembari melotot.
"Hehe....mungkin saja." ucap Amira
"Dasar sekertaris kurang ajar." ucap Selvi dan hanya di balas tawa kecil oleh Amira.
__ADS_1