Menikah Karena Wasiat

Menikah Karena Wasiat
Bab 93


__ADS_3

"Bagaimana apakah kamu sudah meminta rekaman cctv nya?" tanya Sam saat Rian sudah kembali.


"Sudah bos,dan tidak ada hal yang mencurigakan ataupun seseorang yang menculik anak kecil." jelas Rian


"Bagaimana cctv di dekat toilet?" tanya Sam lagi


"Itu masalahnya bos,seseorang telah merusaknya." jawab Rian kembali.


"Hmmm...aku yakin orang ini pasti sudah sangat lama merencanakan semua ini." gumam Sam pelan nyaris tidak terdengar oleh orang lain.


"Kau sudah melihat cctv bagian pintu keluar.?" tanya Sam lagi


"Sudah bos,tapi saya tidak menemukan hal yang aneh." jawab Rian


"Siapa yang berani menculik anakku." gumam Sam tangannya mengepal erat,menandakan dia sedang menaham amarah yang luar biasa.


"Saaaam....bagaimana Luna Sam." Arini terus menangis


"Aku memang ibu yang tak berguna." Arini terus menyalahkan dirinya.


"Sssst....Luna pasti baik-baik saja.Aku akan mencari putri kita sampai ketemu,kau tenang dulu." Lembut Sam mengelus-ngelus kepala Arini.


"Di saya minta tolong bawa Arini pulang dan temani dia sampai saya kembali." pinta Sam dan di angguki oleh Diana


"Aku gak mau pulang,aku ingin mencari Luna Sam." ucap Arini penuh permohonan.


"Sayang...biar aku sama Rian saja yang cari ya,kamu tunggu kita di rumah ya." Sam mencoba membujuk istrinya agar mau menuruti perkataannya.


Arini mengangguk" Baiklah,tapi kamu harus janji padaku bawa Luna kembali dengan selamat." Sam mengangguk dan mencium kening Arini.


Arini Diana dan juga Titi pulang lebih dulu ke rumah Sam.


"Darimana aku harus mencari Luna,bahkan tidak ada satu petunjuk pun." Sam mengacak rambutnya dengan prustasi.


"Tenang bos,aku yakin pasti non Luna akan segera kita temukan." Rian mencoba menenangkan majikannya itu.


Meskipun Luna anak angkat,tapi kasih sayang Sam dan juga Arini begitu besar terhadapnya layaknya akan kandung.


"Siapa yang tega menculik anak sekecil itu,apa salahnya.?" Racau Sam ,air matanya menggenang di pelupuk mata.


Tiba-tiba Sam teringat sesuatu,dia ingat pernah membelikan kalung kepada putrinya dan di bagian liontinnya Sam memasangkan gps.


"Anda mencari apa bos ?" tanya Rian saat melihat majikannya seperti sedang mencari sesuatu di saku celananya.


"Ponselku mana? dimana ponselku.?" teriak Sam karena dia tak menemukannya.


"Mungkin ponsel bos ketinggalan di kantor." jawab Rian


"Ooh shiit.!" Sam mengacak rambutnya


"Ke kantor sekarang!!" ujar Sam buru-buru berjalan menuju mobilnya.


20 menit kemudian akhirnya mereka telah sampai di kantor.Sam buru-buru turun dan berlari masuk ke dalam gedung.


"Ayooo cepaaatlah " Sam terus memencet tombol lift yang tak kunjung kebuka.


"Ting" Akhirnya pintu lift pun terbuka,semua karyawannya melihat dia dengan keheranan karena Bos nya terlihat acak-acakan.


"Liat apa kalian? bubar!!" Suara Rian mengagetkn semua orang


Sam masuk ke ruangannya,buru-buru dia pun mengambil ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya.


Sam langsung membuka aplikasi gps dan benar saja disana terlihat keberadaan putrinya.


"Bos mau kemana.??" tanya Rian karena Bos nya sudah keluar lagi saat dia masuk.


"Aku sudah menemukannya,kau hubungi polisi." ucap Sam langsung pergi sembari mengambil kunci mobil yang di pegang Rian.


"Tunggu ayah sayang."batin Sam saat dia sudah masuk ke dalam mobil,Sam pun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh sumpah serapah terdengar keluar dari pengendara lainnya.


"Aku tidak akan memaafkan orang yang sudah berani bermain-main denganku."gumam Sam mengepalkan tangannya.


"Tid..tid...minggir." teriak Sam saat ada mobil yang menghalangi jalannya,dia terus menyalakan klakson mobilnya bagi siapapun yang menghalangi jalannya.


40 menit kemudian akhirnya Sam sudah sampai di sebuah rumah tua,diaman itulah titik keberadaan Luna.


Sam buru-buru keluar dari mobil, dia langsung menendang pintu tersebut dengan sekuat tenaga.


"Lunaaaaa.....sayang kamu diaman.?" teriak Sam terus memanggilnya.


"Ayaaaaah." jawab Luna yang sedang terikat di kursi.Sam berlari ke arah Luna dan langsung memeluknya.


"Aku takut ayah,aku takut." ucap gadis kecil itu sambil menangis,terlihat di wajahnya ada luka lebam.


"Ayah ada disini nak,kamu tenang saja." ucap Sam mencium kening anaknya.Dia pun membuka tali ikatan di tubuh Luna.


"Jangan menangsi nak,ayah bersamamu." Sam memeluk Luna dengan erat.Sam tak habis pikir bagaimana bisa ada orang yang tega melukai anak sekecil ini.


"Apakah ini sakit.??" Sam memegang pipi lebam Luna.


"Iya ayah,dia memukulku." Luna menangis sejadi-jadinya.


"Sudah jangan menangis,ayah disini bersamamu.Ayo kita pulang!!" Sam menggendong tubuh mungil itu


"Prok...prok..prok.." tiba-tiba sebuah tepukan terdengar.


"Wah wah...kau cukup hebat Sam bisa menemukan putrimu dalam waktu cepat " ucap orang tersebut.


Sam membalikan badannya,dia sangat terkejut saat melihat siapa orang yang ada di depannya.


"Kau,jadi kamu yang telah menculik putriku " teriak Sam penuh amarah.


"Hahaha menurutmu.??" ejek pria tersebut dengan tertawa.


"Kau gila Rega,bagaimana bisa kamu lakukan ini pada temanmu sendiri hah.?" tanya Sam


"Teman? kau bilang kita teman ? hahaha kau sangat lucu sekali,kau bahkan telah merebut wanita yang aku cintai " teriak Rega.


"Apa maksudmu.??" Sam tak paham dengan apa yang di ucapkan Rega.


"Kau pura-pura atau emang bodoh." ujar Rega


"Aku mencintai Arini dari awal aku melihatnya,aku yang lebih dulu mengenalnya tapi dengan tiba-tiba kau menikahinya." teriak Rega


"Kau bahkan selalu menjadi nomor satu dari segala hal,aku sangat muak aku tidak suka." teriaknya lagi


"Bahkan Ariniku saja kau rebut."ucapnya dengan tertawa penuh kesedihan.


"Maafkan aku Ga,aku tidak tau bahwa kau tulus mencintai Arini.Aku mohon maafkan aku." ucap Sam


"Maaf katamu? jika kau mati baru aku akan memaafkanmu hahaha. " Rega mengeluarkan pistol dari saku celananya.


"Jangan lakukan ini Ga aku mohon,kita adalah teman kau melupakan itu." ucap Sam sembari menurunkan Luna dari pangkuannya.Tubuh mungil itu bersembunyi di belakang tubuh Sam.


"Kamu tunggu ayah disini ,jangan kemana-mana.Ayah akan melindungimu." ucap Sam kepada Luna gadis kecil itu pun menganggukan kepalanya.


Sam menatap Rega dengan intens,tangannya mengepal.Bagaimana bisa dia memiliki sahabat bak binatang.


"Jika kamu ingin menembakku,maka silahkan bunuh aku tapi jangan bunuh putriku." Sam mencoba mendekati Rega mendekatkan pistolnya tepat di dada Sam.

__ADS_1


"Hahaha itu bagus jadi aku tidak akan susah payah untuk membunuhmu,dan satu lagi aku bisa hidup dengan Arini hahahaha." bisik Rega,


Dengan secepat kilat Sam langsung menendang perut Rega sehingga dia tersungkur ke lantai.


"Kaaaaaau." teriak Rega penuh amarah dia pun bangun dan langsung menyerang Sam.Terjadilah pertempuran yang sengit di antara mereka berdua.


Bug...bug..." begitu banyak pukulan yang mereka layangkan satu sama lain.


"Bugh...bug....aku tidak akan memaafkanmu.Kau telah melukai putriku." Sam terus memukul wajah Rega dengan keras hingga Rega terkulai lemas.


"Ayaaaaah." Sam tersadar ketika mendengar suara tangisan putrinya.Dia pun menghentikan pukulannya terhadap Rega yang sudah terkulai lemas.


Sam berjalan ke arah Luna dengan wajah yang babak belur dan tubuh yang lemas,namun tiba-tiba....


"Ayaaaah awaaaas!!" teriak Luna gadis kecil itu pun mendorong tubuh Sam hingga tubuhnya tersungkur ke lantai dan " Braaaaak" sebuah besi cukup besar menimpa tubuh mungil itu.


"Lunaaaaaaaaa." teriak Sam ,buru-buru Sam pun mendekati tubuh putrinya yang sudah terkulai lemas di lantai ada darah mengalir dari hidungnya.


" Sayaaaang bangun nak." Sam menggoyang-goyangkan tubuh gadis kecil itu.


"Ay....aah akhu... menyayangimu." ucap gadis kecil itu terbata-bata


"Ayah juga nak,sangat menyayangimu bangunlah jangan tinggalkan ayah." Ucap Sam namun sayang gadis kecil itu tak kunjung membuka matanya.


"Lunaaaaaaaa " Sam memeluk tubuh Luna dengan erat,di tatapnya pria yang sudah membunuh putrinya dengan tajam.


"Aku tidak akan memaafkanmu." ucap Sam mengeratkan giginya sampai berbunyi.


"Hahaha aku sangat puas melihat pemandangan ini." Rega tertawa penuh bahagia,tidak ada rasa sesal di hatinya karena telah membunuh anak kecil.Baginya melihat Sam terluka itu adalah kebahagiaannya.


Dengan sekuat tenaga Sam langsung menendang tubu Rega,Sam terus memukul Rega hingga dia benar-benar tidak berdaya.


"Ini semua untuk putriku,bug bug." Dengan amarah yang menggebu-gebu Sam terus memukul Rega.


"Bos hentikan, kau bisa membunuhnya " Rian datang dengan 2 polisi.


"Lepaskan aku Rian,dia pantas mati dia sudah membunuh putiku." teriak Sam berontak


"Luna putriku bangunlah nak,jangan tinggalkan ayah dan juga bunda kau bahkan belum melihat adikmu." Sam menangis sambil memeluk tubuh mungil yang sudah tak bernyawa.


"Maafkan ayah nak maafkan ayah." Sam menangis sejadi-jadinya.


___________


"Makan dulu Rin " ucap Diana mencoba menyuapi Arini.


"Aku tidak lapar Di." Arini menolak,matanya memandang ke sembarang arah dengan tatapan kosong.


"Kamu harus isi perutmu,ingat bayimu dia butuh asupan makan." Diana terus merayu Arini.


"Aku akan makan jika putriku sudah pulang " jawab Arini dan Diana hanya bisa membuang napasnya pelan.


"Bagaimana Di ??" tanya mamah Arini


"Dia tidak mau makan tan." jawab Diana


"Yasudah biar tante saja yang coba nyuapi Arini." Diana pun memberikan piring yang berisikan makanan kepada mamahnya Arini.


"Sayaaaang,makan dulu yuk." ucap mamahnya dengan lembut.


"Aku tidak lapar mah." jawab Arini dengan nada dingin.


"Tapi bayi di dalam perutmu pasti kelaparan nak,ayolah jangan begini.Mamah yakin Luna pasti baik-baik saja." bujuk mamah Arini.


Arini pun membalikan badannya menghadap sang mamah.


"Aku tidak tenang mah,aku sangat khawatir terhadap Luna." ucapnya dengan menangis.


"Nah sekarang istirahatlah." ucap sang mamah setelah selesai menyuapi anaknya.


"Aku ingin menunggu Luna mah." jawab Arini.


"Baiklah,kamu tunggu disini ya.Jika Luna sudah datang mamah akan memberitahumu." lembut mamah Arini sambil tersenyum.


"Gimana tan? apakah Arini mau makan.?" tanya diana saat melihat ibu Arini keluar dari kamar anaknya.


Mamah Arini menganggukan kepalanya dengan tersenyum.Tapi tiba-tiba terdengar suara ambulance memasuki pekarangan rumah.


"Loh kok ada mobil ambulance kesini." ujar mamah Arini keheranan.


" Aku juga gak tau tan,ayo kita lihat " ucap Diana,buru-buru mereka pun ke luar.


"Ini ada apa Sam,kenapa ada mobil ambulance kesini.?" tanya sang mertua saat melihat menantunya keluar dari dalam mobil.


Sam tidak menjawab,pandangannya kosong.Wajahnya yang biasa terlihat tampan sekarang terlihat babak belur pakaiannya terlihat acak-acakan ada noda darah di bajunya.


"Sam ini ada apa.??? katakan sama mamah!!" mamah Arini mulai panik.


"Luna mah...." Sam tak mampu melanjutkan perkataannya.


"Ada apa dengan Luna Sam." tiba-tiba terdengar sebuah suara dari balik mamahnya.


"Arini." ucap Sam pelan


"Dimana Luna Sam,dimana ? tanya Arini menghampiri anaknya.


"Diaman putriku Sam." teriak Arini karena tidak mendapat jawaban dari suaminya.


"Maafkan aku.." Sam menangis tak sanggup mengatakan kepada Arini.


Pandangan Arini beralih terhadap mobil ambulance yang terparkir di depan rumahnya.


"Jangan bilang....." pikiran Arini melayang


"Maafkan aku." ucap Sam lagi menganggukan kepalanya.


"Tidaaaaaak,ini semua tidak mungkin." tangis Arini pecah tubuhnya terkulai lemas.Diana dan juga mamah Arini begitu syok saat tau kebenarannya.


"Lunaaaaaaaa,,,,,jangan tinggalin bunda.Maafkan bunda nak." Arini berteriak histeris


"Aku mohon jangan begini sayang,kita harus ikhlas." Sam memeluk tubuh Arini dan terus mencium keningnya.


Petugas pun menggotong tubuh Luna yang sudah di bungkus kain kapan,gadis kecil yang selalu ceria kini sudah tak bersama lagi dengan mereka.


"Kamu yang sabar nak,kamu harus kuat.Luna sudah bahagia di alam sana." Mamah Arini mencoba menguatkan putrinya.


"Sam kamu bersihkan dulu tubuhmu,setelah itu kita mengaji." ucap sang mertua.


Sam mengangguk" titip Arini mah." ucapnya lirih


"Luna sayang,maafkan mamah nak." Arini berbicara tepat di dekat telinga jenazah Luna.Air matanya terus mengalir.


Tak bisa membayangkan,apa yang sebenarnya terjadi.


" Sudah nak,kamu harus kuat." lagi-lagi mamah Arini mencoba menguatkan putrinya.


"Kita semua juga merasa kehilangan,tapi mungkin Allah punya rencana lain untuk kita." ucapnya lagi.


"Assalamu'alaikum" ucap mamah Sam dan suaminya yang baru saja tiba di rumah putranya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." jawab semua orang yang ada disana.


"Apa yang terjadi nak.? ibu Sam langsung memeluk menantunya.


"Maafkan Arini mah,ini semua salah Arini karena lalai menjaga Luna." Arini menangis kencang di pelukan mertuanya.


"Sudah...sudah...kamu harus kuat.Ini semua musibah dari Allah jangan salahkan diri kamu ya." ibu Sam mencium kening Arini.


"Cucu oma,oma menyayangimu kamu tenang ya disana.Kita semua akan selalu menyayangimu." ucap ibu Sam berbicara di depan jenazah Luna,dia pun langsung pergi karena tak kuasa menahan tangis.


"Diaman Sam.??" tanya ayahnya kepada Rian.


"Di kamar Tuan, sedang membersihkan diri." jawab Rian.


"Bagaimana ini bisa terjadi,gimana ceritanya.???" tanya ayah Sam.


"Ini semua gara-gara Rega Tuan." jelas Rian


"Rega.? bukankah dia teman Sam bagaimana bisa dia setega itu apalagi sampai membunuh anak kecil." ucap ayah Sam matanya sudah berkaca-kaca,dia tidak menyangka teman anaknya setega itu.


Rian pun mulai menjelaskan kejadiannya kepada ayah Sam.


"Lalu dimana sekarang manusia iblis itu.?" tanya ayah Sam penuh amarah.


"Sudah di tangani oleh pihak yang berwajib Tuan " jawab Rian


Sam pun keluar dari kamarnya,dia langsung memeluk ayahnya sembari menangis.


"Putriku sudah tiada pah,aku lalai menjaganya.Dia mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan aku." Sam menangis sambil memeluk tubuh ayahnya dengan erat.


"Sudah nak,kau harus ikhlas.Kau harus kuat ini semua takdir dari Allah." Ayah Sam mencoba menenagkan putranya.


Acara pemakaman pun akan segera di mulai,Sam meminta untuk menguburkan anaknya di belakang ruamhnya.


Arini menangis histeris saat melihat tubuh putrinya di masukan ke liang lahat,tubuhnya ambruk saat Sam mengadzani putrinya.


"Lunaaaaa." tiba-tiba saja dia pingsan tak sadarkan diri.


"Ya Allah nak,tolong angkat dan bawa ke kamar." ucap mamah Arini kepada ibu-ibu yang ada di sana.


__________


Seminggu sudah Luna meninggalkan Sam dan juga Arini, seminggu itu juga suasana terasa hampa baik Arini maupun Sam sama-sama tak memiliki semangat hidup.Apalagi Sam yang hanya mengurung diri di kamar karena dia merasa kematian putrinya adalah gara-gara dirinya.


"Sam sampai kapan kamu mau begini,kasian istrimu dia juga butuh perhatian apalagi sebentar lagi dia akan melahirkan." ucap sang mamah mencoba memberikan nasihat.


"Maafkan Sam mah, Sam tak becus jadi ayah dan juga suami " tangis Sam pecah di dalam pelukan mamahnya.


"Sudah,jangan menyalahkan dirimu terus.Luna pasti akan sedih melihat mu seperti ini.Kamu adalah hero nya dia maka dari itu kamu harus kuat." ucap mamah Sam


"Makasih mah." Sam memeluk kembali tubuh ibunya.


"Bos....bos..." teriak Rian dari luar kamar.


"Ada apa.???" tanya mamah Sam saat membuka kan pintu.


"Itu Nyonya Arini sepertinya mau lahiran." ucap Rian,Sam yang mendengarnya buru-buru keluar dan berlari mengampiri Arini.


"Sayang kamu kenapa.?" tanya Sam panik


"Sakit Sam " rintih Arini,buru-buru Sam pun mengangkat tubuh Arini dan membawanya ke dalam mobil.


"Ti bawa perlengkapan persalinan ibu." titah Sam dan di angguki oleh Titi


"Biar saya yang menyetir bos " ucap Rian dan di angguki oleh Sam.


"Hati-hati di jalan ,nanti kita nyusul." ucap mamah Sam


Mobil pun melaju keluar dari pekarangan rumah Sam


30 menit kemudian akhirnya mereka sampai di rumah sakit,dengan cepat Arini pun di bawa ke ruang UGD dan langsung di tangani oleh dokter.


"Sabar bos,nyonya pasti baik-baik saja." ucap Rian memberikan semangat.


"Amin,makasih Ri " ucap Sam,sesungguhnya Sam hati sangat cemas tak karuan.


20 menit kemudian dokter pun keluar.Sam segera menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok.?" tanya Sam tak sabar


"Alahmdulillah ibu dan anaknya baik-baik saja,bapak bisa masuk untuk mengadzani anaknya." titah Dokter tersebut.


"Makasih dok,Ian saya masuk dulu." Di angguki oleh Rian buru-buru Sam pun masuk ke dalam.


"Sayang." Sam mencium kening Arini yang masih lemas.


"Sam,,bagaimana anak kita.?" tanya Arini dengan nada pelan.


" Dia baik-baik saja, suster sedang membersihkannya." ucap Sam


Tak lama suster pun datang membawa bayi mereka.


"Selamat ya pak,putrinya sangat cantik seperti ibunya.Silahkan di adzani dulu." suster pun memberikan bayi tersebut kepada Sam.


" Makasih sus." ucap Sam dan langsung mengadzani putrinya.


"Dia sangat cantik sepertimu,makasih sudah melahirkan malaikat kecil di hidup kita." ucap Sam mencium kening Arini dan Arini pun tersenyum.


"Siapa nama anak kita Sam ?" tanya Arini saat di menyusui anaknya.


"Aluna Putri Mahesa." ucap Sam


" Nama yang cantik seperti kaka nya." Arini teringat Luna ketika mendengar nama putrinya dia pun menitikan air matanya.


"Ya,,,agar kita terus mengenang kakanya." Sam tersenyum lembut.


Kini Arini sudah di pindahkan ke ruang rawat,semua orang sangat bahagia atas kelahiran buah hatinya.


"Sam selamat ya." ucap ayah Sam.


"Makasih yah." jawab Sam memeluk ayahnya ,semua orang pun tersenyum setidaknya dengan hadirnya bayi kecil di sisi mereka Sam dan Arini akan memulai lembaran baru lagi.


*Flashback off*


"Luna sudah bahagia disana Sam,yang perlu kita lakukan hanyalah mendo'akannya dari sini." ucap Arini memeluk Sam.


Sam mencium kepala Arini,dia memeluk istrinya dengan erat.Mata nya memandang ke luar jendela.


"*Kau akan selalu di hati kami nak." batin Sam tersenyum sambil mema*ndang ke arah kuburan Luna yang terlihat dari kamarnya.






__ADS_1


#T. A. M. A. T#


ALHAMDULILLAH AKHIRNYA SAYA BISA MENYELESAIKAN NOVEL INI.MAKASIH BUAT SEMUANYA YANG SUDAH SETIA MEMBACA KARYAKU.MAAF JIKA KARYAKU TIDAK MEMUASKAN.🤗


__ADS_2