
Waktu terus berlalu bahkan Arini sudah melahirkan putri pertamanya,tepatnya 8 bulan yang lalu kini usia anaknya sudah menginjak 3 bulan.Bayi yang sangat lucu nan cantik.
"Saaam." sapa Arini membelai kepala suaminya.
Terlihat wajah suaminya yang murung,matanya yang lelah efek kurang tidur.
Sam menoleh sembari tersenyum,lebih tepatnya memaksakan untuk tersenyum.
"Kamu melamunkan apa hmm.???" tanya Arini duduk di pangkuannya sambil melingkarkan tangannya di leher Sam.
"Entahlah, aku hanya merenungkan kejadian di masa lalu." Ucapnya menatap mata istrinya.
Arini tersenyum manis,tangannya membelai pipi Sam " Cup" satu kecupan mendarat di bibir suaminya.
"Lupakan semua kejadian itu,semuanya sudah berlalu." lembut Arini menatap suaminya.
"Aku masih tidak percaya,mengapa,mengapa teman terdekatku setega itu kepadaku." Ucap Sam menatap ke sembarang arah,pikirannya mengingat kejadian di masa lalu tepatnya 5 bulan yang lalu.
*Flashback*
Siang itu Arini dan juga Diana berencana pergi ke Mall untuk membeli perlengkapan bayi Arini,karena kebetulan kandungan Arini sudah memasuki bulan 9.Dokter memperkirakan Arini akan melahirkan sekitar 2 minggu lagi.
"Sayang aku pergi dulu ya." ucap Arini kepada Sam.
"Kamu udah siap.?" tanya Sam memandang penampilan istrinya yang sudah rapi.
Arini menganggukan kepalanya.
"Biar aku antar saja,aku khawatir jika kamu berangkat dengan Diana apalagi hanya berdua." ucap Sam bangun dari duduknya dan memeluk pinggang Arini.
"Sayang,,,,aku bisa jaga diri kok,lagiankan cuman sebentar." ucap Arini meyakinkan Sam
"Lagian kan meeting ini sangat penting untuk perusahaanmu." ucapnya lagi sembari merapikan dasi Sam.
"Tapi tetap saja aku tak tenang sayang." Ucap Sam.
"Maka dari itu kamu harus percaya bahwa aku akan baik-baik saja."Lagi-lagi Arini mencoba meyakinkan suaminya.
"Hmmmm baiklah,tapi ingat kalau terjadi sesuatu kabari aku." titah Sam
" Siap Boss." ucap Arini mencium bibir Sam sekilas.
"Yaudah ayo kita keluar,kasian Diana sudah nungguin aku dari tadi." ucap Arini,mereka berdua pun keluar dari kamar dan benar saja disana sudah ada Diana dan juga Rian yang sedang menunggu.
"Eheeem.." deheman Arini mengejutkan kedua orang yang sedang berpandang-pandangan.
"Rin." Tubuh Diana sedikit tersentak.
"Pacarannya nanti saja,sekarang antar aku dulu." bisik Arini
"Apaan sih." Diana salah tingkah,ya Diana dan Rian sedang dalam proses PDKT.
Jika kalian bertanya hubungan Diana dan Gary,mereka sudah putus.
"Ayo bos." ucap Rian salah tingkah karena kepergok oleh majikannya.
"Pacaran di rumah orang,gak modal banget." ucap Sam pelan namun masih terdengar oleh Rian.
"Hehe" Rian hanya bisa tertawa pelan menanggapi ucapan bosnya.
"Ayo sayang." Sam merangkul pinggang Arini keluar dari rumah.
"Diaman Luna.?" tanya Arini matanya mencari ke seluruh Arah.
"Luna sudah di mobil dari tadi Rin." jawab Diana.
"Oooh." Arini hanya berohria saja.
Arini dan Sam berjalan keluar dari rumahnya,sedangkan Diana dan Rian berada di belakang mereka tentunya kedua orang tersebut salah tingkah gajelas.
"Bunda Ayah kenapa kalian lama sekali,aku bahkan sudah tertidur di mobil."ucap gadis kecil itu.
"Unnccch anak gadisnya bunda marah-marah,maafin bunda ya." ucap Arini gemas mencubit pipi Luna.
Sam membukakan pintu mobil untuk Arini "Makasih sayang" ucap Arini dan di balas senyuman oleh Sam.
Sengaja Sam meminta istrinya untuk berangkat bareng dengannya.Mobil pun melaju keluar dari pekarangan rumah Sam.
"Sayang...sepertinya sebentar lagi asistenmu akan melepaskan label jomblonya deh." goda Arini.
"Bisa jadi,udah keliatan kebelet nikahnya." Sam tak kalah menggoda asistennya
"Apaan sih bos,suka ngadi-ngadi." jawab Rian yang sedang menyetir.
"Bukan ngadi-ngadi,tapi fakta.Tuh liat aja cewe yang di sebelahmu sudah senyum-senyum senang." ucap Sam menyindir Diana.
"Nah betul tuh asisten Rian, itu Diana sudah ngarep banget di lamar." celetuk Arini
"Arinooooong." Ucap Diana
"Kenapa? mau marah? emang fakta kan,kamu sudah tidak tahan ingin cepet-cepet di lamar oleh asisten Rian" Ejek Arini.
"Bumil brisik." grutu Diana ,sedangkan yang lainnya hanya tersenyum melihat wajah merah Diana.
Akhirnya mobil pun telah sampai di depan Mall,semua orang keluar dari mobil.
" Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku." ucap Sam mencium kening Arini.
"Iya sayang,kamu tenang aja lagian disini ada Diana dan juga mbak Titi( pengasuh Luna)." ucap Arini
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu aku pergi dulu ya." ucap Sam
"Sayang jagain bunda dan adik bayi ya,kamu jangan nakal." ucap Sam kepada Luna.
"Tenang aja ayah." jawab gadis kecil itu dengan gemas.
Sam pun masuk ke mobilnya,perlahan-lahan mobilnya melaju meninggalkan lobby Mall.
"Yaudah kita masuk yuk " ajak Arini setelah melihat mobil Sam sudah tak terlihat lagi.
"Ayo sayang." Arini menggandeng tangan Luna.Mereka pun masuk ke dalam Mall.
"Jadi apa aja yang belum lo beli Rin.??" tanya Diana
"Banyak,udah deh kamu ikutin aku aja hehe." ucap Arini
"Di kasih tips nganter gak nih?" canda Diana
"Hahah tenang aja,lo mau apapun tinggal ambil nanti gw yang bayar." ucap Arini berlagak sombong.
"Waaah Nyonya sudah mulai aktif ya,sudah mulai menghabiskan uang suaminya. " goda Diana dengan nada menggoda
"Hahaha. " Arini hanya tertawa menanggapi ucapan temannya.Mereka pun memasuki toko perlengkapan bayi dan anak.
"Mbak Titi tolong jagain Luna ya " Titah Arini
"Ibu Bu." jawab Titi
Arini pun mulai memilih barang-barang yang belum dia miliki,sedangkan Diana sibuk melihat-lihat baju-baju cewek.
"Dii..." panggil Arini
"Apa.??" tanya Diana sembari menghampiri Arini.
"Bagusan yang mana.???" tanya Arini memperlihatkan dua buah sepatu yang sangat lucu.
"Mmmmpp...dua dua nya bagus. " ucap Diana.
"Isssh kau ini,pilih salah satu dodol." terang Arini.
"Tapi emang kedua nya bagus Rin,udah sih beli dua-dua nya aja.Kan lo tinggal gesek aja." titah Diana.
"Ah lo mah ngajak boros,tapi gapap deh hehe." Akhirnya Arini membeli kedua sepatu tersebut.
"Mbak Titi Luna haus." rengek gadis kecil itu.
"Haus ya,bentar ya mbak ambilin dulu minumnya." ucap Titi sembari mengambil tas gendongnya yang berisikan keperluan Luna.
" Loh kok gak ada ya ?" gumam Titi saat botol minum Luna tak dia temukan di rangselnya.
"Mbak Titi mana minum Luna.?" tanya Luna
"Bentar non,mbak masih mencarinya." jawab Titi
"Mana mbak ?" tanya Luna
"Gak ada non, kayaknya ketinggalan deh." ucap Titi
"Yaaaaah. " jawab Luna lesu
"Yaudah non Luna tunggu dulu disini ya,jangan kemana-mana mbak Titi mau beli minum dulu." ucap Titi
"Ingat jangan kemana-mana ya." sekali lagi Titi memperingati Luna dan di angguki oleh Luna.
Titi pun pergi meninggalkan Luna sendirian.
"Bunda lama sekali." gumam Luna matanya melihat ke arah Arini yang masih sibuk memilih-milih pakaian.Kebetulan Luna menunggu di dalam toko tersebut.
"Bundaaaaa." Teriak gadis kecil itu beranjak dari tempat duduknya.
"Eh sayang,ada apa.??mbak titi nya mana.??" tanya Arini celingukan mencari pengasuh anaknya.
"Lagi beli minum,katanya botol Luna ketinggalan." jelas Luna
"Ooh ." ucap Arini
"Bunda masih lama ya.??" tanya Luna
"Sebentar lagi sayang,kenapa emangnya.???" tanya Arini.
"Luna pengen pipis Bun." rengek gadis kecil itu.
"Ooh yaudah bunda antar ya,ayo!!"ajak Arini menggandeng tangan Luna
Mereka berjalan ke toilet umum yang ada di Mall sana.
"Bunda tunggu aja disini,aku bisa sendiri kok." ucap gadis kecil yang usianya sudah 4 tahun lebih
"Yakin.???" tanya Arini
"Iya bun,sekarang kan Luna udah gede udah mau punya adik.Jadi Luna harus mandiri ,lagian mbak Titi suka ngajarin Luna kok." jelas gadis kecil itu
"Oke baiklah,bunda tunggu disana ya.Ingat jangan lama-lama."Arini menunjuk tempat duduk yang tak jauh dari toilet tersebut.
Luna pun mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Bunda pasti bangga padaku,karena aku tidak merepotkannya lagi "ucap gadis kecil tersebut setelah selesai buang air kecil.
Luna pun keluar dari toilet,matanya mencari keberadaan bundanya.Dia pun tersenyum saat melihat bundanya yang sedang duduk sembari bermain ponsel.
__ADS_1
"Bun......" baru saja gadis kecil itu akan melangkahkan kakinya dan memanggil Arini,tiba-tiba seseorang membekap mulut gadis kecil itu hingga terkulai lemas( kebetulan saat itu toilet sangat sepi hanya ada Luna".
"Luna lama sekali sih." gumam Arini sembari melihat ke arah toilet umum.Arini pun bangun dari duduknya berjalan ke arah toilet berencana mencari Luna.
"Lunaaa...sayaaaang." teriak Arini mencoba memanggil nama putrinya
"Ah maaf saya mau nanya,apakah mbak melihat anak kecil disini.?" tanya Luna kepada seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet.
"Tidak." jawab wanita tersebut.
"Oh ,terima kasih." ucap Arini terus memanggil nama anaknya.Dia pun mencoba masuk dan membuka pintu toilet satu persatu namun dia tak menemukan keberadaan Luna.
"Luna sayang kamu diamana.??" gumam Arini dengan wajah terlihat sangat cemas.
Arini pun kembali ke toko tadi, berharap putrinya ada disana.Namun dugaannya salah Luna tidak ada disana.
"Ti apakah Luna datang kesini.??" tanya Arini dengan wajah panik nya.
"Tidak ada bu,bukankah tadi kata mbak Diana non Luna bareng sama ibu ke toilet." ucap Titi
"Iya,tadi Luna pengen pipis lalu saya antar ke toilet tapi pas mau masuk Luna larang saya ikut ke dalam karena dia bilang bisa sendiri." jelas Arini,kini wajahnya semakin terlihat panik.
"Ada apa Rin,diamana Luna.??" tanya diana menghampiri mereka.
"Luna hilang Di."ucap Arini mulai menangis.
"Apa.??? kok bisa Rin?"tanya Diana dan Arini pun menceritakan kejadiannya kepada Diana.
"Yaudah kamu tenang dulu, duduk disini.Mungkin Luna masih ada di sekitar sini.Biar aku dan Titi yang cari Luna." ucap Diana mencoba menenangkan Arini.
"Kamu disini tunggu saja,ini minum dulu biar kamu tenang." ucap Diana memberikan botol aqua yang di beli oleh Titi.
"Bagaimana aku bisa tenang Di,putriku hilang gara-gara aku lalai jagain dia." ucap Arini,tangisnya semakin menjadi.
"Udah jangan salahin diri kamu,aku akan cari Luna.Kamu tunggu disini "titah Diana, dia pun pergi mencari Luna bersama Titi.
"Tolong temukan Luna."gumam Arini terus menangis.
Dia pun merogoh ponselnya,mencari nomor sang suami dan mencoba menelponnya.
Tut....tut...tut..."Terdengar sambungan telpon dan tak lama di angkatlah dari sebrang sana.
"Hallo sayang.? kenapa.? sudah selesaikah belanjanya.???" tanya Sam dari sebrang sana.
"Saaaam." jawab Arini dengan nada tersedu-sedu.
"Sayang kenapa kamu menangis,? ada apa.? apa terjadi sesuatu padamu ???" tanya Sam dengan cemas.
"Saaam....Luna,,,Lunaaa." Lidah Arini kelu untuk memberitahu suaminya.
"Ada apa dengan Luna sayang? jangan buat aku khawatir " ucap Sam semakin panik
"Luna hilang Sam." Ucap Arini tangisnya pecah.
"Hilang.? kok bisa ??? tanya Sam namun Arini hanya bisa menangis
"Kamu tenang dulu,aku akan kesana sekarang." ucap Sam langsung menutup panggilannya.
30 menit kemudian akhirnya Diana dan Titi kembali.
"Gimana Di.???" tanya Arini berdiri dari duduknya.
Diana menggelengkan kepalanya." Kita udah cari tapi gak ketemu Luna Rin." jawab Diana dengan napas ngos-ngosan.
"Bagaimana mungkin." tubuh Arini ambruk duduk terkulai lemas di lantai.
"Luna kamu diamana sayang." ucap Arini sembari menangis.
"Rin jangan begini, Luna pasti baik-baik aja." ucap Diana
"Putriku hilang Di ,bagaimana aku bisa tenang." teriak Arini,tak peduli kepada orang-orang yang melihatny.
Tak lama Sam dan Rian pun datang,kebetulan Rian sudah menanyakn keberadaan mereka kepada Diana.
"Arini." panggil Sam
"Saaam " Arini mengandahkan kepalanya saat mendengar suara yang familiar di telinganya.
"Saaam....Luna Saaam." Arini memeluk tubuh suaminya dengan erat.
"Aku ibu yang tak becus menjaga anaknya,maafkan aku Sam." ucap Arini terus menangis.
"Kamu tenang dulu,ceritakan padaku kepada Luna bisa hilang.?" tanya Sam ,dia mencoba setenang mungkin di depan istrinya.
Arini pun menceritakan semuanya kepada Sam.
"Maafkan aku Sam,maafkan aku telah lalai jagain Luna." ucap Arini.
"Sssttt....kamu tenang dulu ya.Jangan salahkan dirimu." Sam mencoba menenangkan Arini.
"Ian." panggil Sam
"Ya bos ?" jawab Rian.
"Pinta semua rekaman cctv di mall ini " titah Sam
"Baik bos."jawab Rian,dengan segera dia pun pergi
"Sudah kamu tenang ya,kasian dede bayinya kalau bundanya nangis terus pasti dia juga bakalan sedih." ucap Sam mencium kening Arini.
__ADS_1
"Sekarang kita berdoa saja semoga Luna cepat ketemu." ujar Sam
"Dimana kamu sayang.?" batin Sam,sesungguhnya hatinya sangat gelisah sekali .