Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Keceplosan


__ADS_3

Riki yang merasa keceplosan langsung tersedak mendengar ucapan Caca dengan nada kaget, Caca meminta minum pada pedagang tersebut.


"Nih, Om. Cepet-cepet minum!" seru Caca dengan nada panik. Makanan Riki dipegangnya dan gelas berisi air diberikan kepada Riki.


Setelah meneguk 3 kali dan merasa rongga tenggorakan sudah tak pedas atau sakit lagi, Riki menatap Caca dengan memegang gelasnya itu.


"Apa?" kata Riki menatap Caca dengan kesal. Karena wajahnya seolah tengah ingin mengintimidasi seseorang.


se


"Apa, sih Om? Caca cuma senyum doang, senyum itu adalah ibadah. Dan sekarang, Caca tengah ibadan nih!" Caca mengembalikan mangkuk Riki dan mulai memakan makanannya.


"Katanya ke sini buat pekerjaan, eh, ternyata buat seseorang," ejek Caca menatap ke arah lain sambil mengunyah makanan.


"Dih, langsung geer dah itu!"


"Bukan geer, Om. Tenang aja, Ca gak akan sampai umumkan ke Masjid tentang perjuangan Om ini, kok," jawaban Caca menatap wajah Riki yang sedang menahan; kesal, malu atau mungkin marah karena mulutnya tak bisa diajak untuk berbohong.


"Gosah bangga!" ketus Riki yang berharap bahwa Caca bisa berhenti untuk menggoda dirinya.


"Ya, harus bangga dong. Kapan lagi seorang Om Riki laki-laki yang terkenal akan dingin dan jarang bercengkrama ini bisa senekat sekarang. Memperjuangkan wanita yang kini ada di sebelah dia," ujar Caca yang seolah bangga karena membuat anak orang menjadi berjuang deminya.


"Udah, makan!" ketus Riki mencoba mengalihkan topik pembicaraan Caca kini.


"Iya, ini juga di makan," jelas Caca memasukkan makanan ke mulutnya dengan mata yang tetap melihat ke Riki sedangkan yang di tatap Tenga menyendok makanan.


"Liat tuh makanan, ntar salah masuk tuh sendok. Bukan ke mulut malah ke hidung," peringat Riki yang mulai kesal atau bahkan tambah kesel karena sikap Caca.


Caca hanya membalas tawa saja, ketika melihat laki-laki di sampingnya kesal seolah menambah mood dirinya tersendiri.


Makanan telah habis, Caca juga sudah minum air putih gratis dan juga meminum jus tanpa es di malam hari karena dilarang oleh Riki.


Mereka duduk di situ lebih dulu, menurunkan nasi yang baru masuk ke dalam perut. Caca membuka tasnya dan Riki menatap aktivitas wanita itu sekarang.


Dari dalam tas, Caca mengeluarkan; gunting, plester, obat merah juga perban. Dia meletakkan kembali tas di samping kakinya.

__ADS_1


"Sini Om!" titah Caca sambil menadahkan tangan sebelah kirinya.


"Apa?" tanya Riki yang masih belum paham dengan apa yang akan dilakukan Caca.


"Hadeuh, tuh tangan!" jawab Caca sambil menunjuk tangan Riki menggunakan bibirnya.


Riki memberikan tangan yang sebelah kirinya lebih dulu, "Titip bentar, ya!" ujar Caca menyerahkan gunting juga plaster karena Caca ingin membersihkan luka terlebih dahulu ditakutkan waktu di tutup lukanya ada debu atau serpihan lainnya.


Riki hanya menatap kepala wanita yang sekarang ada di hadapannya ini, dengan pelan dan hati-hati Caca melakukan tugasnya itu.


Ia merasa beruntung bisa bertemu dengan Caca kembali dan beruntung bisa bersama atau bahkan tidak kembali itu tak terlalu dia pikirkan.


"Kamu ada pacar, Ca?" tanya Riki begitu saja membuat Caca mendongak melihat Riki.


Bukannya jawaban malah tertawa yang menjadi jawaban Caca, Riki menaikkan alisnya karena merasa bahwa pertanyaannya tak ada yang salah.


"Kenapa?" tanya Riki yang bingung apakah pertanyaan itu salah.


"Gak papa, Om. Ca gak punya pacar," jawab Caca dan mulai menutup lukanya dengan perban setelah di oles obat merah.


"Gak ada juga," jawab Caca singkat dan fokus ke tangan Riki yang tengah di perban kembali sekarang.


"Masa, sih? Di sini 'kan ganteng-ganteng orangnya juga pada tajir."


"Terus?"


"Ya, masa gak tertarik akan hal itu?"


"Gak semua wanita hanya memandang uangnya, Om." Caca menatap Riki dan membuat laki-laki tersebut terdiam mendengar jawaban dari mulut wanita itu.


Kedua tangan Riki telah di tutup dengan perban di area jarinya, Caca memasukkan kembali peralatannya tadi ke tas.


"Maafin saya, Ca kalo ucapan saya tadi terlalu lancang," ujar Riki yang merasa bersalah karena bertanya seperti itu.


Caca memakai tasnya kembali, "Gak papa kok, Om. Yaudah, yuk kita pulang!" seru Caca tersenyum.

__ADS_1


Riki berjalan ke arah penjual makanan tadi untuk membayar nominal harga makanan mereka tadi dan berjalan kembali ke arah mobil yang di parkir.


Menatap arloji yang digunakan di pergelangan sebelah kiri, "Masih ada waktu," ucap Riki saat baru melihat pukul 9 malam sekarang.


"Mau ke mana lagi?" tanya Caca melihat ke arah Riki yang berada di sampingnya namun memiliki jarak yang tetap cukup jauh.


"Ada, deh!"


Sebelum mengizinkan Caca masuk, Riki berjalan ke arah sopir lebih dulu mungkin untuk memberi tahu ke mana tujuan selanjutnya.


"Masuk," titah Riki membukakan pintu.


"Ngapain bisik-bisik gitu tadi? Ca emang gak boleh tau?" tanya Caca yang merasa tak diberi tahu ke mana tempat selanjutnya.


"Nanti juga tau."


Caca hanya memajukan bibirnya kesal dan masuk ke dalam mobil, Riki berputar dan kembali duduk di samping Caca.


"Aku ingin tau apa saja yang kau dapatkan di sini dan saat jauh dari keluarga," kata Riki yang sejak awal mereka belum bertukar cerita satu dengan lain.


"Hmm ... apa, ya, Om," ucap Caca menjeda dan berpikir tentang hal menarik dan berkesan apa yang akan dia ceritakan.


"Palingan, Caca sekarang tahu pentingnya bagi wanita memiliki sesuatu bidang yang memang harus dia tekuni juga gemari. Mau itu; jualan, dokter, guru, seniman, dan lainnya."


"Kenapa?"


"Karena ... kita hidup di dunia ini tidak boleh menerka atau berharap sama manusia atau pasangan. Jangan karena pasangan yang kaya atau cukup memenuhi kebutuhan kita jadi males-malesan dan menghamburkan uang," ungkap Caca dan di dengarkan dengan seksama oleh Riki.


"Kita gak tau kapan dan saat apa Allah memberikan ujian. Bisa aja tiba-tiba perusahaannya bermasalah soal ekonomi, atau dia yang tiba-tiba selingkuh dan membuat kita jadi tak bisa bertahan dan memilih bercerai atau bahkan dirinya yang dipanggil Illahi. Jika kita tak punya skill dalam bidang apa pun akan jadi apa dengan kita kemudian ke depannya?" tanya Caca menjeda ucapannya sebentar dan menatap Riki.


"Apakah kita berpangku tangan? Atau berharap mukjizat turun dari langit tanpa melakukan suatu hal? Mangkanya itu, selagi muda maka asah skill kita. Jika sudah menikah, kalau memang tak diberi izin suami untuk melanjutkan skill tersebut, ya, gak papa. Yang penting kita sudah ada keterampilan tersendiri. Modal dasar dan pegangan hidup nantinya," jelas Caca dan tersenyum karena merasa sudah menjawab satu pertanyaan dengan leluasa.


Tepukan tangan, anggukan juga senyuman diberikan oleh Riki kepada Caca. Laki-laki itu tak tahu jika pemikiran wanita yang dulu sangat berbeda dengan yang sekarang.


"Kayaknya Mbaknya boleh kapan-kapan bertemu dengan anak saya dan memberi motivasi padanya," celetuk tukang sopir yang membuat Riki juga Caca menatap ke arah depan.

__ADS_1


__ADS_2