
Selesai dengan latihan, Caca sesekali menguap sambil mengikuti langkah Riki yang katanya ingin makan siang.
Di dekat gedung latihan ini memang ada restoran, "Kita makan apa Cil?"
"Mie, Om!" seru Caca semangat kembali.
"Aku masih sanggup ngasih makan yang baik dan bergizi."
"Dih, emangnya itu gak baik, apa?" tanya Caca ketus.
"Ya, emang 'kan?"
"Jarang juga Caca makannya, Om. Gak papa dong sesekali."
"Yaudah." Riki pasrah mengikuti kemauan Caca. Bagaimana pun seperti kata wanita itu, sesekali.
[Jemput saya di supermarket dekat gedung] pesan Riki dikirim ke sopir miliknya.
Mereka berjalan ke arah supermarket dengan sesekali Caca berlari selayaknya anak kecil.
Riki "Thor, ceritanya gini aja? Kapan nikahnya, dah? Lama banget!"
Author "Dih, sabarlah. Ntar, pasti nikah lu."
Riki "Sama si Bocil 'kan?"
Author "Yo, ndaklah! Sama si Nenek lampir!"🏃🏃
Dua mie cup instan telah dipesan Riki, mereka duduk di meja dan bangku yang telah tersedia. Riki memperhatikan Caca yang fokus menatap mie-nya.
"Habis ini, kita ke mana Om?" tanya Caca sambil mengunyah makanan.
"Kamu pulang aja, saya masih banyak urusan."
"Om kapan pulang ke Indonesia?"
"Belum tau, tapi, lagi berusaha pulangnya sama-sama kamu."
"Oh. iya. Ca juga bentar lagi pulang, ya?" tanya Caca yang baru ingat bahwa dirinya sebentar lagi juga akan pulang.
"Huum."
"Yee ... bisa pulang balik ke Indonesia, ketemu sama temen-temen. Oh, iya? Tante Fina apa kabarnya, ya?" tanya Caca menatap ke arah Riki yang hanya mengangkat bahunya.
"Ntar tanya Kak Aldy, deh!" sambung Caca memakan mienya lagi.
__ADS_1
"Pas pulang mau langsung kerja?" tanya Riki.
"Ya, paling libur dulu beberapa hari. Nanti baru masuk kerja yang udah di tetapkan oleh rumah sakit di sini."
"Kamu emangnya gak bisa milih?"
"Belum Om. Nanti pas kelar 2 tahun baru boleh."
"Tapi, boleh buka klinik sendiri?"
"Boleh, sih."
"Kamu 'kan gak daftar mau jadi profesor, setau saya boleh kok kalau emang mau berhenti nantinya."
"Iya, nanti Caca tanya deh gimana kebijakannya pas udah mau pulang."
Riki mengangguk, "Om, capek ya kerjanya?"
"Enggak, kok. Oh, iya, Mama ada nelpon kamu lagi?"
"Enggak Om, Tante Diva juga gak ada nelpon lagi," ujar Caca sambil memasukkan mie ke mulut. Matanya membulat kala tanpa sadar memberi tahu hal tersebut.
'Mampus!' batin Caca merutuki diri sendiri.
"Eh ... mmm," kata Caca berpikir, "itu, Om. Cuma nanya tinggal di mana aja."
"Gak usah bohong Ca, dia nanya apa?"
"Mm ... ngasih tau kalo Om dan dia udah tunangan dan juga ngasih liat cincin yang Om pilih ke dia," jawab Caca tersenyum getir.
Riki membuang napas, "Gak papa kok Om, Ca gak marah. Santai aja, hehe," kata Caca saat melihat Riki.
"Nanti kamu akan tau Ca, sekarang gak usah menjauh dari saya. Sebelum saya suruh menjauh maka jangan menjauh, saya mohon."
"Kenapa harus Caca?"
"Karena, cuma kamu yang bisa mengerti dan memahami saya. Kamu mampu merubah sifat yang tempremental saya menjadi orang yang lebih sabar dan terkendali."
"Bukankah itu artinya Om berubah?"
"Berubah menjadi lebih baik, siapa yang tak menginginkan itu?"
"Bukannya dulu Om deket banget sama Diva? Bahkan, Om ngantar dia pulang dan ke rumah dia. Caca pernah liat Om sama dia boncengan waktu di lampu merah."
"Iya, Ca. Saya tau kalau saya banyak salahnya sama kamu dan saya sudah menerima segala konsekuensi itu. Kamu ninggalin saya dan membuat saya tersiksa. Dari jauh, saya hanya bisa menatap kamu tanpa bisa menyapa."
__ADS_1
"Dari jauh? Om pernah ke sini waktu Caca masih kuliah?"
"Sering, bahkan beberapa kali tangan saya harus memukul laki-laki yang berniat jahat juga ingin menjadikan kamu miliknya." Mata Caca membulat kaget kala mendengar penuturan Riki.
"Om tau dari mana alamat Caca?"
"Apa yang saya gak ketahui? Saya tau semua hal tentangmu."
"Hmm ...."
"Jika kamu berpikir untuk menjauh lagi dari saya, saya mohon jangan lakukan itu Ca. Saya tak tahu seberapa parah hancurnya saya nantinya tanpa kamu."
Kutatap manik cokelat itu, tak ada kebohongan bahkan ketika berucap seperti itu embun di kedua bola mata itu terlihat jelas.
Dengan cepat, Om Riki memalingkan wajahnya dan menyapu ujung matanya menggunakan jempol.
"Om, Caca tak tau apa yang akan terjadi berikutnya. Bahkan, setelah mendengar ucapan Mama Om Caca malah menjadi semakin takut untuk dekat dengan Om setelah pulang dari sini," ungkapku yang bersarang di hati.
"Kenapa kau harus takut?"
"Ya, karena Caca sudah jelek di mata Mama Om. Caca udah gak baik lagi, Caca membuat Om bukan Om lagi."
"Enggak Ca, kamu ingat ini baik-baik," kata Riki menatap lekat ke arahku, "Aku mencintaimu tanpa kata tapi, aku menyayangimu tanpa kata karena dan aku tulus tanpa kata mungkin. Aku tau, kau pasti tak akan percaya mengingat kita 4 tahun tak jumpa. Bisa jadi aku sudah menyukai orang lain atau bahkan hanya mempermainkan dirimu saja," Riki menarik nafas untuk melanjutkan kalimatnya.
"Namun, satu yang harus kau percaya dan yakini. Bahwa, tak ada yang dapat menggetarkan hatiku, merubah sikapku dan juga pikiranku selain dirimu," sambungnya yang membuatku tersenyum.
"Aku tau, aku bukan pria peka. Yang tau apa ada di hatimu, maaf. Maaf karena sudah pernah membuatmu berada di zona serba salah hingga akhirnya aku membuatmu harus jauh dari Bunda dan menahan rindu yang begitu susah. Aku tau, aku salah dan jahat bahkan tak pantas untukmu. Tapi, apakah tak boleh seorang manusia yang munafik, naif dan lainnya ini mencintaimu dan menginginkan dirimu berada di sisinya selalu?"
Aku bergeming, entah apa yang ingin kukatakan. Lidah rasanya kaku dan nafas sulit untuk keluar-masuk.
Mematung dan seperti batu, itulah yang kulakukan dengan mata yang sesekali bekedip.
"Makan Om, mienya nanti dingin," kataku mengalihkan topik agar setidaknya jantungku aman terlebih dahulu.
Di susul suara notifikasi di dalam handphone Om Riki, 'Syukurlah, selamat lu Ca selamat,' batinku saat Om Riki membuka handphone-nya.
"Hmm ... cepat habiskan makananmu Cil, sudah ada Farhan dan juga sopir di depan," perintah Om Riki dan menatap ke arahku sambil menutup benda pipih tersebut.
"Siap, Om!" seruku sambil menyantap mie dengan lahap. Meskipun tanpa saos setidaknya mienya memang sudah ada rasa pedasnya.
Entah mengapa, rasanya ada yang berbunga-bunga di dalam hatiku padahal aku tak nanam bunga.
Bibirku terangkat mengingat ucapan Om Riki yang panjang kali lebar tadi. Apakah seperti ini rasanya kalau di tembak?
Bukan, bukan tembak yang ada palurunya, lho Guys! Tapi, di tembak dengan lope-lope gitu! Ah ... keknya aku gak akan tidur malam ini.
__ADS_1