Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Bolehkah Aku Merindu


__ADS_3

Riki hanya menatap wajah yang sekarang tengah menertawakan ucapannya tadi, diam dan membiarkan orang di sampingnya ini untuk berhenti tertawa.


Air mata keluar sedikit dari sudut mata dan memegang perut yang dirasa sakit karena berlebihan tertawa, "Aw ...," ujar Caca memegang perutnya.


"Eh, kamu kenapa?" tanya Riki sigap menatap Caca. Beberapa detik kemudian mata mereka saling pandang, Caca bungkam dan menatap wajah itu dengan lekat.


Menetralkan degub jantung juga membuat jarak karena saat ini mereka sangat dekat akibat Riki yang khawatir dengan perut Caca yang seperti kesakitan tadi.


"Gak papa kok, Om," jawab Caca dengan melepaskan tangan dari perut dan duduk dengan tegap kembali diikuti oleh Riki.


Mobil mulai dijalankan karena Riki sampai lupa menyuruh sopir untuk jalan pulang kembali ke apartemen.


Besok Caca libur, dirinya hanya bekerja setiap Senin sampai Jumat. Namun, terkadang dirinya bisa masuk di hari Sabtu atau Minggu jika ada dokter yang menyuruhnya untuk membantu mereka.


Dirinya tak pernah merasa keberatan atau dimanfaatin oleh mereka yang sudah bisa digelar sebagai senior.


Karena pekerjaannya merupakan pekerjaan mulia meskipun kesehatan pada akhirnya hanya bisa kita serahkan kepada Allah semata.


"Oh, iya. Om gimana dengan Mbak Diva? Dia sehat atau sudah menikah?" tanya Caca di sela-sela perjalanan menuju apartemen.


Riki melihat ke arah Caca, "Aku tak tahu. Cuma kata Mamanya dia sakit karena aku menolak ajakan menikah dari dia."


"Kenapa Om tolak?"


"Karena aku tak ada perasaan apa-apa sama dia."


Caca menatap Riki dengan wajah kaget dan sedikit marah, "Jadi, kalo memang dari awal Om gak ada rasa sama dia. Kenapa seolah memberi harap dengan memperlakukan dia dengan begitu manis bak seorang ratu?"


"Aku hanya memperlakukan dia seperti aku memperlakukan wanita pada umumnya."


Caca tersenyum miring mendengar jawaban Riki dan memalingkan wajahnya sebentar dari Riki lalu menampilkannya kembali, "Om, jika memang dirimu tak punya perasaan kepada seseorang jangan pernah tolong dia padahal dia tak minta di tolong. Itu ... sama aja Om tengah memberikan harap yang kemudian akan hirap untuknya," ungkap Caca yang memalingkan wajah menatap lurus.

__ADS_1


Sedangkan Riki termenung mencerna ucapan Caca. Apakah dirinya yang salah? Bukankah memang harus bersikap baik kepada sesama? Lantas, ada di mana letak salahnya?


"Apakah jadi baik itu salah? Apakah baik ke perempuan itu salah? Apakah kita harus baik ketika memiliki perasaan doang kepada seseorang?" tanya Riki berturut-turut dan melihat wajah Caca. Caca menatap wajah laki-laki yang sudah lebih dulu menatap dirinya.


"Jadi baik tak salah, baik ke perempuan tak salah. Hanya yang salah penempatan kebaikan tersebut bukankah, kita harus baik ke seseorang saat kita melihat dia kesusahan saja?"


"Jika dia bisa melakukan sesuatu sendiri ngapain kita bantuin? Biarin aja dia, apakah ketika dia bisa menyebrang sendiri harus kita bantuin?" tanya Caca yang membuat Riki bungkam.


"Ya, aku salah soal itu. Namun, aku juga sudah memberikan tanda-tanda bahwa tak menginginkannya dan menjauh kembali padanya."


Bagaimana pun Caca tak tahu apa masalah di antara Riki dan Diva, dirinya memilih diam saja. Karena jika terus berbicara kepada Riki yang ada hanya perdebatan yang akan muncul nantinya.


"Hmm ... kamu besok libur?" tanya Riki mulai mencairkan suasana kembali.


Bukannya suara yang menjadi jawaban melainkan anggukan yang didapatkan, Riki hanya diam dan mengangguk juga tanda paham.


Mereka telah sampai di gedung apartemen, Caca memegang hoodie juga kresek yang berisi skincare. Berjalan bersama dan masuk ke lift yang kebetulan bukan berisi cuma mereka bedua.


Di dalam lift sudah ada sepasang kekasih dengan wanita menggunakan pakaian kurang bahan tengah bermesraan.


Mereka berdua berada di depan kedua orang tadi, Caca terus menunduk sedangkan Riki melirik ke belakang karena bertepatan laki-laki tersebut di belakang Caca.


Dirinya tak ingin laki-laki yang mabuk itu menyentuh bagian dari tubuh Caca, "Apakah kau selalu melihat pemandangan seperti ini?" tanya Riki melihat ke arah Caca.


"Tidak terlalu Om."


"Apa ini alasanmu tidak bepergian di kota ini?"


"Ca baru beberapa bulan di sini Om. Kalo pas kuliah Ca tinggal di mess kampus, jadi gak pernah liat yang seperti ini. Dulu juga sekolah paruh waktu sebagai guru les private, tentu tidak ada yang seperti ini," jelas Caca tetap dengan posisinya.


Pintu terbuka, Riki dengan segera membawa Caca tanpa sadar telah menyentuh pergelangan wanita itu. Caca yang menyadari langsung berhenti dan membuat Riki juga ikut berhenti.

__ADS_1


"Maaf, Om," kata Caca berharap laki-laki itu melepaskan pergelangan tangannya. Riki yang sadar maksud Caca langsung melepaskan pergelangan Caca.


"Ma-maaf, saya gak maksud," ujar Riki dengan terbata dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Gak papa Om, yaudah kalau gitu. Ca masuk duluan, ya."


"Iya, good night Dokter Caca."


"Hahaha, good night CEO tua," jawab Caca dan menutup pintunya sebelum mendapatkan amukan dari harimau.


Riki hanya menatap datar ke pintu yang pemiliknya sudah masuk ke dalam, ia pun segera masuk ke kamar apartemen miliknya.


Melempar; tas, kresek dan hoodie ke kasur. Caca langsung membaringkan tubuhnya dengan senyum yang merekah di pipi.


Ia memegang pipinya berharap tak ada hawa panas tercipta, bisa-bisa tomat busuk pun akan timbul nantinya dari pipinya tersebut.


"Ya, ampun Om. Gimana orang gak melting, coba? Lu sosweet bener dah!" ungkap Caca melihat ke arah barang di sampingnya.


"Sekarang udah peka, bisa menahan sabar, lebih banyak diam untuk mendengarkan. Huh ... sudah bisa masuk kategori suami idaman deh!"


Entah pujian-pujian apalagi yang diucapkan Caca, dirinya tak sengaja melihat gelang di sebelah kirinya itu.


Mulut yang dari tadi mengeluarkan kata-kata yang entah apa saja kini diam, bibir yang melengkung bahagia kini datar.


Caca duduk dan menatap gelang, "Om Aldy sekarang gimana, ya, keadaannya?" Tak bisa dipungkiri bahwa pasti sesekali akan mengingat seseorang yang pernah dekat dengan kita.


Berjalan ke arah kaca balkon yang tertutupi gorden berwarna putih, Caca menyingkap gorden dan terlihatlah lampu serta gedung yang ada dari dalam apartemennya itu.


"Caca rindu Om." Kalimat yang keluar begitu saja dari bibir Caca. Dirinya menatap langit yang gelap. Tanpa adanya; bulan dan bintang.


"Apa Om di sana juga rindu sama Caca? Kenapa langsung lost kontak sama Bunda, Om? Kan yang salah Caca bukan Bunda," ujar Caca seolah berbicara kepada Aldy melalui langit gelap yang tengah di tatapnya.

__ADS_1


"Tapi ... Caca juga langsung lost kontak sama Umi juga, sih. Jadi wajar kalo Om lakuin hal yang sama," sambung Caca menatap keramik balkonnya.


"Om ... maaf, izinkan Caca rindu kali ini akan dirimu, ya. Bolehkan aku merindumu?" Tanpa sadar, air mata menetes begitu saja dari ujung matanya.


__ADS_2