
Aku memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua dan kembali menutup pintu, duduk di bangku yang ada dan minum. Sungguh melelahkan rasanya menghadapi laki-laki itu.
Kulihat handphone dan berharap ada pesan dari Riki, karena katanya dia akan mengabari jika sudah sampai di rumah. Apa dia lupa? Atau ... terjadi sesuatu di perjalanan?
Tak ingin berpikiran yang macam-macam, kutekan tombol telepon dan berharap dirinya akan segera mengangkat. Sedikit lama panggilan tersambung hingga akhirnya dia pun menjawabnya.
"Om udah sampe rumah?" tanyaku yang langsung pada intinya saja.
"Belum," jawab Riki dengan suara parau. Apakah dia habis nangis? Kenapa bisa dia menangis?
"Om kenapa?"
"Mama masuk rumah sakit."
"Innalillahi," jawabku yang merasa teriris dengan kabar ini, "kata dokter kenapa Om?"
"Masih di tangani."
"Yaudah Om, Om fokus aja dulu sama Tante, ya. Ca matiin dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Siapa yang meninggal?" tanya seseorang yang masuk ke ruanganku tiba-tiba. Apakah dia sempat mendengar pembicaraanku? Kutatap wajahnya sebentar dan kembali kubuangkan ke sembarang tempat.
Bukannya pergi, Aldy malah duduk di depanku dan menatap wajah yang ingin cuek dan jutek padanya, "Wajahmu tak pantas menampilkan raut seperti itu," ujarnya sambil terus menatapku. Aku sedikit melirik ke arahnya itu sebabnya aku tahu jika dia tengah menatapku.
"Siapa yang meninggal?" tanyanya lagi yang sepertinya serius bertanya. Kualihkan wajah menghadap ke arahnya.
"Mamanya Om Riki," jawabku seadanya.
"Dia sempat ke sini?"
Dua anggukan kuberikan kepadanya sebagai jawaban, "Tapi gak lama, karena ada masalah di tokonya juga," tuturku menjelaskan.
"Hmm ... semoga Mamanya segera membaik."
"Aamiin."
Kami sama-sama diam dengan aku yang melihat ke arah meja yang sudah ada daftar pasien-pasien yang ada juga jadwal mereka periksa.
"Kak lu gak ada pasien?" tanyaku yang kepo pasalnya memang dari tadi dirinya hanya berkeliling saja bahkan beberapa kali jadinya bertemu denganku.
"Belum ada, gue masih disuruh untuk berkenalan dan juga melihat-lihat rumah sakit ini."
__ADS_1
"Gak bisa pindah ke lantai 2 aja lu?"
"Kenapa?"
"Biar gak ketemu mulu!"
"Dih, bukannya 4 tahun gak ketemu itu udah cukup?"
"Hmmm."
Aldy menatap ke arah pergelanganku yang ternyata gelang tersebut sedikit keluar, aku segera menyembunyikannya kembali.
"Umi rindu sama kamu katanya," ungkap Aldy dan melihat ke arah sampingku.
Aku hanya menampilkan wajah bingung dan bersalah karena memang pergi tanpa izin dan pamit dari siapapun kecuali Milda.
"Hmm ... maaf soal itu," ucapku dengan menatap ke arah meja.
"Kenapa tak pamit terlebih dahulu?"
"Aku tak ingin menjadi susah untuk pergi. Lagian, mau sebagaimana manisnya perpisahan toh tetap akan menyakitkan, bukan?"
"Iya, tapi setidaknya tak meninggalkan orang tersebut dalam keadaan dirinya bertanya di mana letak kesalahannya sehingga seseorang itu pergi tanpa pamit."
"Hmm ... aku tau aku salah."
"Sama-sama dengan Kak Aldy."
"Dipecat?"
"Lebih tepatnya dipindah tugaskan, nanti di Indonesia aku akan mendapatkan pekerjaan di rumah sakit yang memang sudah bekerja sama dengan rumah sakit di sini."
"Seharusnya berapa lama lagi?"
"Dua tahun mungkin."
Aldy hanya mengangguk mendengar jawaban-jawaban dari mulutku, kulihat dia mulai bangkit dan merapikan pakaiannya, "Yasudah, aku permisi dulu," katanya dan membuka pintu keluar dari ruangan.
Entah apa yang dia pikirkan, memang aku belum mau untuk membahas masalah kepergianku ini. Lagian, bukankah itu sudah lama? Kenapa masih dipertanyakan. Aku pun tak pergi dari Indonesia untuk bermain-main.
Ah ... tapi rasanya percuma menjelaskan ke orang apa yang kita rasa dan yang tengah kita perjuangkan. Biarlah mereka berpikiran sendirinya.
Kuambil handphone dan membuka galeri, rasanya jika jiwa lagi dalam kesedihan aku suka melihat-lihat fotoku yang tengah tersenyum atau dengan fose lainnya.
__ADS_1
Tanganku terhenti dan mataku terfokus pada satu foto yang baru saja ada di bulan ini, ya, aku sempat mem-foto cincin yang diberikan Riki padaku.
"Om, belakangan ini aku mulai menjadikanmu bahan pembicaraanku dengan Allah juga istikharah agar diri dan hatiku bisa yakin jika memang kau yang terbaik atau malah bukan kau yang terbaik," gumamku dengan ruangan yang kosong dan semoga tak ada lagi yang mendengar secara diam-diam.
"Kau tahu? Soal perasaan 4 tahun ini pun masih sama dengan perasaanmu, hanya saja aku pun perlu mempertimbangkan hal ini pada Allah. Karena, pernikahan bukanlah suatu hal yang main-main," sambungku berbicara pada foto yang seolah itu adalah Riki.
Jangan pernah terburu-buru memilih seseorang, apalagi untuk dijadikan penyempurna agama. Jangan pula mudah tertipu hanya karena diwaktu pacaran atau dekat dia begitu baik padamu.
Karena, bisa jadi itu memang triknya agar kau mudah terayu padanya. Jika memang sudah ingin ke arah yang serius, maka ada baiknya banyak-banyak bertanya pada Tuhan.
Dia yang lebih tahu tentang; sifat, sikap dan apa pun itu tentang ciptaan-Nya. Jangan pernah memilih seseorang dengan terburu-buru apalagi karena desakan orang lain.
"Permisi dokter Caca," ucap perawat pribadiku dengan membuka pintu.
"Iya?" tanyaku dengan cepat dan memasukkan handphone kembali ke saku jas.
"Pasien sudah mulai bisa diperiksa, ya,"
"Baik." Aku merapikan pakaian, mencoba tampilkan senyuman ramah untuk para orang-orang yang ingin sembuh dan berjuang dari sakitnya.
Ketika aku menatap perawat yang sudah mulai memanggil pasien, tiba-tiba aku teringat, 'Oh, iya, aku belum nanya soal sambungan cerita tadi,' batinku dan menatap perawat yang sedang fokus melakukan pekerjaannya.
Setelah keluar dari ruangan Caca, Aldy kembali ke ruangannya. Ya, dirinya belum mengambil pasien atau belum bekerja.
Ruangan yang sebelumnya memang kosong, dirinya ajukan ke bos--pemilik rumah sakit untuk sedikit merenovasi.
Para tukang sudah datang memang dari tadi, itu sebabnya Aldy merasa bosen dan berkeliaran sekalian melihat-lihat ruangan yang ada di rumah sakit ini.
"Apa Caca dan Riki sudah jadian, ya?" gumam Aldy bertanya dengan duduk di bangku koridor tepat di depan ruangannya.
"Ah ... kalau mereka sudah jadian memangnya kenapa Aldy? Bukan urusan kamu itu mah!" gerutu Aldy pada dirinya sendiri dengan memijit pelipisnya yang dirasa pusing.
"Dokter?" Seseorang datang ke hadapan Aldy dan membuat laki-laki itu mendongak.
"Iya?" tany Aldy dan berdiri.
"Kenalin, nama saya Jessica," katanya menjulurkan tangan ke hadapan Aldy.
"Aldy," kata Aldy menangkup tangannya di depan dada.
Jessica yang melihat hal itu langsung mengambil tangannya kembali dengan raut wajah yang sepertinya malu, "Oh, maaf-maaf. Saya tidak tau," gagap Jessica dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Oh, tidak masalah. Ada apa dokter Jessica?" tanya Aldy yang melihat jas putih yang dikenakan Jessica.
__ADS_1
"Tidak papa dokter, saya 'kan belum berkenalan dengan dokter yang dari Indonesia. Jadi, tidak ada salahnya 'kan kita buat kenalan?"
"Sangat tidak ada salahnya," jawab Aldy tersenyum ramah.