
*Sejatinya, ketika ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Entah itu di saat kita sudah benar-benar siap berpisah atau belum. Intinya, kita harus mampu jika hari itu telah tiba*.
Kutatap cermin di depanku kini dengan lekat, tanpa terasa air mata hampir saja menetes mengingat banyak sudah hal yang kulalui di sini.
Koper-koper telah tersusun rapi, kupakai tas juga jas berwarna putih kebanggaan tak lupa dengan tanda pengenal kugantungkan di leher.
Membuka pintu apartemen dan berjalan ke gedung yang sepertinya sebentar lagi tak akan pernah kutatap lagi.
"Selamat pagi dokter Caca," sapa beberapa perawat dan keluarga pasien yang sudah kenal denganku.
"Selamat pagi semua," jawabku dengan senyum ramah.
Diujung sana, sudah kulihat ada tatapan sendu. Aku tersenyum dan merentangkan tangan menunggu pelukannya.
Dengan cepat dia berlari dan memelukku dengan erat, bahu yang terangkat kurasa dan suara isakan.
Kubalas pelukan dan mengusap punggungnya lembut sambil menghilangkan jejak air mata yang juga ada di pipiku.
"Sudah-sudah, kau juga akan mendapatkan dokter yang baru nanti," kataku menenangkan.
"Iya, sih, dokter Caca. Tapi, yang menyebalkan seperti dokter Caca tak akan ada lagi," ujarnya melepaskan pelukan dan menghilangkan jejak air mata di pipinya.
"Kamu!" ketusku dengan nada yang dibuat sok manja.
"Hahaha, jangan begitu dokter Caca. Aku semakin sulit nanti melepaskanmu," rengeknya dengan bibir yang manyun.
Aku menatapnya dan tersenyum ke arahnya, meraih ke dua tangan putih itu, "Makasih, ya, udah jadi pendamping, rekan, teman, sahabat yang baik buat aku. Aku ... gak akan melupakan kamu."
"Makasih juga dokter Caca gak menolakku waktu itu, padahal aku berulang kali membuat kesalahan yang mengakibatkan dokter Caca harus dimarahi."
Aku tersenyum dan menggeleng, "Gak, kok. Seharusnya aku yang lebih peka kepada rekan kerja, bukannya tak peduli akan hadirnya."
"Dokter Caca, disuruh sama boss untuk masuk ke ruang meeting sekarang juga," jelas perawat yang membuat kami mengalihkan pandangan menatapnya.
__ADS_1
Aku mengangguk, "Baik, terima kasih," tuturku dan beralih menatap ke arah perawat yang tangannya masih kugenggam.
Kulepas genggaman itu, "Dokter baik-baik di sana, ya, sesekali mainlah ke sini lagi. Jangan langsung lupa dengan tempat ini."
"Aku tak akan pernah lupa sama tempat ini, tempat yang membuat aku sangat dibutuhkan oleh orang-orang. Yaudah kalau gitu, aku ke ruang meeting dulu, ya."
Dia mengangguk lemah, dengan paksaan mengangguk. Aku segera berjalan dengan sepatu pansus hitam yang tengah kukenakan.
Kupegang gagang pintu dan membukanya perlahan, "Permisi, Pak," ucapku sebelum masuk dan langsung di tatap dua orang yang tengah berada di dalamnya.
"Iya, silahkan masuk dokter Caca," ujarnya mempersilahkan aku masuk. Aku mengangguk dan berjalan ke arah tempat duduk yang ada.
Jarak aku dengan Kak Aldy hanya beda 1 bangku, sengaja kubuat ada jarak agar biar bisa lebih lelusa.
"Seperti kata saya satu bulan yang lalu dokter Caca, ketika dokter Caca bisa menemani dokter Aldy selama satu bulan di sini. Maka, dokter Caca juga bisa pulang kembali ke negara asal dokter Caca." Aku mengangguk paham dengan yang dijelaskan oleh Bossku.
"Nanti, saya akan memberikan surat dan surat itu juga kabarnya sudah diterima oleh rumah sakit yang tak jauh jaraknya dari tempat tinggal dokter Caca. Itu, tergantung dokter Caca mau atau tidak kerja di situ. Kalau dokter Caca menolak juga tak apa, maka mereka bisa mencari dokter yang lain. Namun, mereka tetap akan menghubungi dokter Caca terlebih dulu untuk menanya pendapat dokter Caca. Di sana, dokter Caca tidak akan di kontrak. Jika dokter Caca mau berhenti maka boleh ajukan diri sebulan sebelum berhenti," jelas boss yang kudengar dengan seksama.
"Baik Pak, saya paham."
"Terima kasih Pak," ucapku tersenyum.
"Untuk dokter Aldy pun telah saya beri upahnya juga," katanya menatap ke arah Aldy yang daritadi menatap ke arahnya.
"Iya, Pak. Terima kasih."
"Baik, sepertinya hanya itu saja yang bisa saya sampaikan dan untuk dokter Aldy. Data yang Anda butuhkan untuk peningkatan dan pengajuan diri agar bisa buka praktik di rumah sudah saya suruh agar di konfirmasi oleh pihak tempat Anda bekerja dulu."
"Ha? Serius, Pak? Makasih banyak!" seru Aldy menjabat tangan boss dengan semangat 45.
'Maksudnya apa, sih? Kak Aldy mau buka praktik sendiri? Kenapa jauh banget minta ACC-nya?' batinku yang tak mengerti Bestie.
"Yasudah kalau begitu, kalian boleh siap-siap dan berkemas juga kalau mau foto dengan para perawat yang menemani kalian selama ini juga boleh sembari menunggu keberangkatan pesawat kalian."
__ADS_1
"Baik, terima kasih Pak." Kami serempak berdiri dan menundukkan punggung sebentar, setelahnya kembali keluar dan masuk ke ruang masing-masing.
Membuka pintu ruangan, dengan sedikit malas dan rasa tak ingin. Kulihat sebentar pintu yang selalu membuatku cemas.
"Selamat kembali dokter Caca!"
Tulisan di spanduk dan juga suara terompet menggema di dalam ruanganku, 10 perawat sepertinya ada di dalam ruangan ini atau bahkan lebih.
Aku berjalan masuk dengan pintu yang kubiarkan terbuka. Haru ... ah, aku sepertinya lemah sekali hari ini.
Bukan, ini bukan tangisan sedih. Melainkan bahagia dan sedih. Sedih karena harus perpisah bahagia karena akan berjumpa kembali dengan Bunda.
Aku berhambur ke pelukan mereka, mereka yang rata-rata cewek ikut menangis melihat aku menangis. Ah ... kalian cengeng!
"Udah-udah, ayo, kita foto!" seruku membuat semua kembali riuh. Kami berfoto dengan berbagai pose.
"Ini buat dokter Caca," kata perawatku memberikan paper bag.
"Eh, ngapain ngasih kado segala?" tanyaku menatap paper bag darinya ini.
"Buat kenang-kenangan, kita pasti akan sangat sulit untuk bertemu kembali atau bahkan tak akan pernah ketemu. Jadi, kalau dokter Caca merindukan perawat pribadi dokter Caca ini. Bisa lihat kado itu," jelasnya.
Aku tersenyum, "Terima kasih, ya." Dia membalas dengan anggukan.
"Oh, iya dokter Caca. Kita juga ada kado dong buat dokter, itu kadonya," tunjuk salah satu perawat ke arah mejaku.
"Ya, ampun. Kalian tak perlu padahal memberikan ini semua, itu sama saja kalian menunjukkan ekspresi kalau kalian bahagia tanpa adanya aku!" rajukku dengan meletakkan tangan di pinggang.
"Ih, bukan begitu dokter Caca. Biar ada kenang-kenangan lho," jelas salah satu lainnya.
"Hahaha, iya-iya. Aku hanya bercanda, makasih buat kado kalian semoga kebaikan kalian dibalaskan dengan yang lebih banyak lagi," kataku berjalan ke arah meja pribadiku. Kubuka jas dan meletakkannya di bangku.
Menatap isi ruangan dengan sendu, mengingat kembali bagaimana bahagianya, sedihnya, marahnya, capeknya aku di dalam ruangan ini.
__ADS_1
Sekarang, tanpa terasa sudah harus aku tinggalkan setiap kenangan dan peristiwa itu. Menata kembali takdir yang baru Allah rencanakan untukku.