
Suara bell terdengar, mengusik penghuni yang tengah bekerja melalui laptopnya. Dia berjalan dengan langkah kaki tegap agar segera melihat siapa yang memencet bellnya.
Apakah orang salah kamar? Atau orang yang dikenalnya datang. Pintu dibuka dan menampilkan seseorang yang sudah berdada-dada kepadanya.
"Mau ngapain?" tanyanya menaikkan alis dan menatap apa yang dibawanya.
"Gak disuruh masuk dulu, nih Om?" tanya Caca menatap ke arah dalam apartemen dari celah tubuh Riki.
Menghembus nafas pelan dan membuka pintu penuh yang tadinya hanya separuh, "Makasih," kata Caca langsung masuk begitu saja.
Mencoba tersenyum dan bersabar menghadapi tamu yang datang, Riki menutup kembali pintu dan berjalan ke arah Caca.
Apartemen Riki memiliki tingkat, di tingkat atas tempat tidurnya dan di bawah tempat sofa serta ruangan tamunya.
"Ambil piring Om!" perintah Caca yang sudah duduk di balkon ruangan. Melihat keindahan dari ketinggian di hari yang tak terlalu panas ini.
Riki hanya bisa menuruti perintah meskipun dirinya masih tak tahu apa yang dibawa Caca tadi karena tertutup tak dapat dilihatnya.
"Buat apa?" tanya Riki yang sudah duduk di depan Caca menyerahkan piring juga sendok.
Caca membuka rantang yang cuma dua tingkat itu, "Om ada nasi?" tanya Caca dengan polos.
"Nasi?" tanya Riki ulang.
Caca hanya mengangguk, "Iya, Om."
"Mana ada, saya 'kan baru datang ke sini. Lagian kalo pun mau beli beras ya nanti belanja."
"Kirain bawa makanan instan yang ada nasinya, soalnya beras di sini mahal banget. Mending kemarin Om bawa beras minimal satu karung yang 5 kg aja," jelas Caca mengambil makanan dari rantang dan diletakkan ke piring yang ada.
"Di sini beras itu satu kgnya bisa 68, 522. Kalo Om bawa aja yang 5 kg, nih, ya. Jadi 68 rb aja deh. Dikali 5 udah dapat 340rb dan harga 5 kg di Indonesia cuma 108, 000," sambung Caca lagi yang hanya membuat Riki terdiam dengan jalan pikirnya sekarang.
"Terus?" tanya Riki maksud dirinya.
"Terus, ntar Om bisa kaya raya dan lamar anak orang deh."
__ADS_1
Riki mendekatkan wajahnya membuat Caca spontan menjauhkan wajahnya dari laki-laki itu, dirinya menatap dengan heran mengapa laki-laki itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya.
"Emangnya kamu udah siap? Gak harus jualan beras saya udah mampu buat nikahi kamu, kok," kata Riki membuat Caca diam beberapa detik.
Sendok yang di pegang Caca langsung dibuat di dada Riki untuk mendorong laki-laki itu agar menjauh dari dirinya.
"Agak jauhan Om, gak enak dilihat burung tuh," ucap Caca dan langsung dilihat Riki ke arah yang dimaksud.
Ada dua burung yang tengah bertengker di wayar listrik apartemen dengan gedung di sampingnya, Riki hanya tersenyum miring melihat alasan Caca.
"Nih, Om makan!" Caca memberikan makanan yang di piring juga sudah ada nasi.
Riki mengambil pemberian itu dan menatap makanan yang sudah terisi di piring, Caca menaikkan alisnya kala melihat Riki begitu serius menatap makanan yang ada.
"Kenapa?" tanya Caca menatap wajah Riki.
"Siapa yang masak?" tanya Riki menatap Caca gantian.
"Caca, kenapa?"
"Sejak kapan kamu bisa masak?"
"Eh, saya tidak berkata demikian. Saya hanya bertanya sejak kapan kamu bisa masak doang."
"Sejak di sini."
"Oh, baiklah." Riki mulai memakan sayur yang dimasak Caca. Pelan-pelan sayur itu dirasa mencoba apakah masakan Caca ada yang kurang atau enggak.
Sedangkan Caca memasukkan makanan ke mulutnya dan menatap laki-laki yang seolah tengah menjadi chef yang merasa masakan kontestannya.
"Enak 'kan?" tanya Caca tersenyum kala melihat Riki langsung mengunyah dengan cepat dan memasukkan makanan itu lagi ke mulutnya.
Anggukan diberikan Riki kepada Caca, sedangkan Caca hanya makan secara perlahan sambil sesekali menatap langit dan melihat jalanan yang dipenuhi oleh pengendara juga pejalan melalui trotoar.
"Setelah ini, mari kita belanja. Biar besok-besok kamu bisa masakkan aku lagi," kata Riki dengan piring yang sudah hampir habis.
__ADS_1
Caca yang kaget dengan ucapan laki-laki itu langsung tersedak, secepat mungkin dia mengambil air ke dalam apartemen Riki.
Setelah dirasa lega, ia kembali ke balkon dengan membawa air minum dua gelas. Satu untuk dirinya dan satu untuk Riki tentunya yang masih setia makan bukannya membantu Caca karena tersedak karena ucapannya.
"Biasakan membawa air minum ketika akan makan," tegur Caca duduk kembali dan meletakkan satu gelas ke dekat Riki.
"Kan, kau hanya menyuruh bawa piring. Bahkan tadi tidak memberi tau jumlahnya dan juga sendok."
"Hmm," jawab Caca malas.
Riki telah selesai dengan makannya sedangkan Caca menyambung kembali makanan yang sempat ia hentikan.
"Jadi, gimana?" tanya Riki dengan penawarannya tadi.
"Boleh, tapi kalo Caca shiftnya sore, ya. Kalo pagi Ca gak bisa masakin, soalnya gak sempat."
"Iya, gak papa."
Riki menatap langit juga sesekali melihat ke arah Caca yang juga tengah menatap langit yang sama dengan kerudung yang sesekali terbawa angin.
"Apakah kau bahagia di sini? Kenapa tak pulang ke Indonesia dan bertemu dengan Bunda?" tanya Riki menatap Caca.
"Masalah bahagia dan enggaknya. Ca pasti selalu bahagia berada di mana pun itu, asal temen atau karabatnya bisa saling menghargai maka Ca akan bahagia. Untuk pulang Ca pasti pulang, namun setelah mengambil ilmu dari para profesor dan senior yang ada di sini. Agar, ketika di Indonesia jika Caca keterima kerja bisa langsung di praktekkan ilmu dari mereka," jawab Caca dan menatap wajah Riki.
Makanan telah habis, air di gelas juga telah habis. Caca menyusun piringnya juga Riki berniat untuk mencucinya.
"Biar saya saja, kau duduklah dulu di sofa," ucap Riki dan mengambil alih piring juga mengambil rantang milik Caca tadi.
Caca hanya menatap Riki yang telah masuk duluan dan berjalan ke arah dapur, dirinya bangkit dan menutup kembali balkon.
Melihat-lihat tataan Riki yang ada, juga pajang-pajangan yang sengaja dibeli Riki setelah sampai di Amerika.
Caca menatap kantong kresek yang ada di samping meja kerja Riki dengan tetap terbungkus, "Ini 'kan skincare kemarin yang dibeli," ucap Caca ketika membuka kantong kresek dan melihat isinya.
Berjalan ke arah sofa sambil membawa kantong kresek, Caca menghidupkan TV yang ada di ruang tamu atau ruang keluarga ini untuk menunggu Riki selesai mencuci piring.
__ADS_1
Caca menatap pemilik apartemen yang berjalan ke arah dirinya dengan tangan yang sudah basah, "Lah, mana perban? Gak perih emangnya Om kena air?" tanya Caca fokus melihat kedua tangan itu.
"Gak papa, saya sudah biasa merasakan sakit. Namun yang paling sakit adalah saat kau pergi tanpa memberi tahuku terlebih dulu," kata Riki duduk di samping Caca dan menatap dirinya sang empu yang ditatap juga menatap balik pemilik mata cokelat itu.