Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Cincin?


__ADS_3

Aku mengangguk pertanda menyetujui bahwa ingin ikut bertemu dengan Mary, perawat yang menjaga Mary akhirnya berjalan terlebih dahulu dan kuikuti saja ia dari belakang.


Padahal bukan ingin ke ruang jenazah, tapi entah kenapa perasaan takut dan gelisah menghampiri diriku. Apakah aku takut ingin bertemu dengan wanita itu? Bukankah aku juga sudah bertemu tadi?


Pintu dibuka perawat dan dirinya mempersilahkan aku duluan masuk, kulihat Mary terbaring dengan wajah menghadap jendela dan membelakangi pintu.


Mengapa dia tak melihat ke arah pintu langsung saat pintu terbuka? Seharusnya, dia memutar badan melihat orang yang masuk.


Jika orang jahat yang masuk bagaimana? Bisa-bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada dirinya.


Kulangkahkan kaki menuju jendela yang gordennya tak sama sekali dibuka, ya, Mary hanya melihat gorden putih yang memang tak terlalu tebal.


Akan tetapi, tetap saja tak bisa melihat dengan jelas suasana luar, "Gordennya dibuka, biar kamu bisa liat jelas kebahagiaan yang nantinya juga akan kamu rasakan," kataku sambil membuka gorden ke samping.


Perawat masih berdiri di dekat pintu, kenapa dia tak pergi? Apa takut terjadi hal yang tidak-tidak kepadaku? Pintu pun masih dia buka dengan lebar, "Tutup pintunya," titahku dan diangguki oleh perawat.


Kutatap wajah pucat itu, makanan yang sama sekali tak berkurang dan obat-obatan yang masih penuh tabletnya, berjalan mendekatinya dan duduk di bangku yang memang telah di sediakan di dekat brankar.


"Kenapa kau tak makan?" tanyaku melihat ke arah nampan dan melihatnya dengan mencoba selembut mungkin.


"Bukankah kau ingin sembuh? Apa kau ingin selamanya ada di sini? Bahkan, aku saja tak ingin selamanya di sini. Aku pun ingin pulang ke negaraku." Ah ... apakah dia sekepo itu tentangku? Ngapain aku promosi jika ingin pulang ke negaraku?


Dia diam, tak menjawab sama sekali dan tak merespons apa-apa. Pandangannya seperti kosong, kenapa dia? Apakah memang selalu seperti ini?


Kuambil nampan, berharap dia ingin makan atau setidaknya mari berdebatlah padaku tentang menolak disuap.


Saat kunaikkan sendok berisi bubur, matanya yang seperti kosong kini menatapku, "Aku tak mau," tolaknya.


"Jadi, kau mau apa?" tanyaku yang berusaha agar dirinya mau makan.


"Aku mau mati saja," ucapnya itu-itu saja. Apakah wanita ini tak pernah bosan dengan kalimat itu? Banyak orang yang berjuang ingin hidup di dalam gedung ini, lantas kenapa dia malah ingin mati?

__ADS_1


"Di dalam gedung ini, semua orang ingin cepat sembuh dan bisa kembali kumpul dengan keluarganya, beraktivitas, mewujudkan impian. Kenapa kau malah ingin cepat mati?"


"Karena aku hidup pun tak ada yang peduli."


"Jika mereka tak peduli, mereka tak akan mau masukkan kau ke ruang VIP atau malah mereka tak akan membawa kau ke rumah sakit," jawabku dengan penuh hati-hati.


Dia diam, memalingkan wajah menatap luar, "Kau tak ingin seperti mereka? Yang bahagia dan bisa melakukan apa pun itu?"


"Apakah aku bisa sembuh?" tanyanya dengan manik biru yang sudah membendung air mata.


Kugenggam tangan putih yang dingin itu, berniat untuk menyalurkan energi positif juga kekuatan untuknya, kuletakkan nampan ke nakas dan kudekatkan wajahku ke wajahnya itu.


"Kau bisa jika kau ingin dan Tuhan berkehendak," kataku meyakinkannya.


Tangannya sebelah langsung memegang punggungku dan menyuruh tubuh ini memeluknya, ya, terkadang orang lupa untuk memberikan sebuah; genggaman, pelukan juga semangat untuk orang yang sedang ingin berjuang dari sakitnya.


Mereka hanya fokus untuk mencari uang, uang dan uang agar kesehatan orang tersebut cepat terjadi.


"Kau makan, ya," rayuku dan mengambil kembali nampan. Mary mengangguk lemah, entah sudah berapa hari dia tak makan. Aku pun tak tahu, biarlah yang lalu masalah lalu. Sekarang, Mary ingin sembuh dan sebisa mungkin akan kubantu.


Perawat kulihat tersenyum ke arah kami, sebegitu khawatirnya 'kah dia pada Mary? Mary makan tiga suap bubur dan kubantu dirinya untuk meminum obat.


Di obat itu ada obat tidur karena katanya Mary tak tidur sudah dua hari, "Aku ingin dapat pendonor dokter," ucapnya menatapku.


"Baik, nanti saya akan kasih tau ke dokter yang memang menangani kamu atau dengan perawat agar dia yang mengasih tau ke dokter," kataku menatap perawat.


Ia akhirnya mendekat ke arah kami, "Ada apa dokter?" tanyanya yang merasa tengah dibicarakan.


"Dia ingin mendapatkan pendonor," tuturku dan diangguki oleh perawat dengan wajah tersenyum tak luntur dari wajahnya.


"Aku juga ingin dokter yang menemaniku nanti di saat oprasi," timpal Mary dan membuat aku yang tengah menatap perawat langsung mengalihkan pandangan.

__ADS_1


Aku hanya mampu tersenyum dan mengangguk, "Kalau begitu, kau sekarang tidur," jelasku sambil mengusap rambutnya.


Seketika matanya langsung tertutup, "Aku keluar dulu, kau ceklah tentang keadaannya," titahku dan berdiri dari bangku.


"Makasih dokter."


Aku terdiam sebentar, kemudian tersenyum dan mengangguk kemudian berjalan ke luar ruangan ini.


Kututup pintu ruangan Mary dan keluarlah apa yang kutahan tadi, bulir bening yang ternyata sudah tak mampu lagi. Segera kuhapus agar tak terlihat oleh siapa-siapa.


"Kau kenapa?" tanya seseorang yang berada di sebelah kiri membuatku kaget.


"Ha? Gak papa kok Kak," jawabku cepat dengan tersenyum kepadanya menutupi diri yang baru saja menangis.


Aldy melihat Caca keluar dari ruangan apa, "Kau ngapain di dalam?" tanya Aldy yang sudah membaca pamplet ruangan.


"Nanam padi Kak!" ketusku dan berlalu pergi dari hadapannya. Bagaimana pun aku masih kesal karena tingkahnya tadi.


Oh, iya, aku harus memberi pelajaran pada perawatku itu. Bisa-bisanya dia pergi begitu saja ketika Aldy menyuruhnya untuk menjelaskan tentang anak kecil tadi.


"Dia itu, sangat tidak sopan," gerutu Aldy melihat punggung Caca yang semakin menjauh.


"Dokter habis dari mana?" tanya perawat peribadiku kala kami sama-sama ingin masuk ke ruanganku karena pasien rawat jalan atau yang ingin periksa sudah akan mulai berdatangan.


"Ngajuin ke boss agar kau tak jadi perawatku lagi," omelku dengan wajah datar dan semoga saja menyeramkan.


"Ya, sudah kalau dia tak jadi perawatmu lagi. Dia akan menjadi perawatku saja," kata Aldy yang tiba-tiba muncul di antara mereka yang berdiri di depan pintu ruangan Caca.


Kunaikkan bibirku sebelah pertanda; kesal, ilfeel atau lainnya biarlah cuma aku yang tau apa yang tengah kuucapkan dalam hati ini melihat tingkah Aldy.


'Perasaan dulu dia gak kek gini deh, sekarang kok jadi sangat menyebalkan?' batinku dan tak sengaja melihat sesuatu.

__ADS_1


'Cincin?' batinku mempertanyakan apa yang kulihat dan segera kualihkan agar tak tertangkap basah tengah melihat ke jarinya.


__ADS_2