Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Tak Dianggap


__ADS_3

POV Diva


Kuhempaskan handphone ke kasur, tak terima dengan ucapan wanita tadi. Kubuang beberapa barang yang ada di meja riasku, "Ada apa Nak?" tanya Mama yang masuk ke kamar.


"Gak papa Ma."


"Kamu jangan bohong, kenapa?"


"Ada seseorang yang ingin merebut Riki dariku Ma," kataku menatap Mama dengan posisi aku duduk di bangku meja rias.


"Ngapain kamu harus takut?" tanya Mama dan meraih tangan kiriku, "liat, cincin darinya sudah melingkar di jarimu."


Mendengar ucapan itu, aku tersenyum dan menatap ke arah yang Mama maksud. Mungkin, memang cincinnya tak terlalu mahal akibat lamaran yang mendadak.


"Oh, iya, kapan kamu dan Riki mau nyari cincin yang lebih bagus?" tanya Mama mengingatkan.


"Hmm ... kayaknya hari ini deh Ma, Diva juga harus ngurus yang lainnya juga nanti. Waktu 4 bulan itu rasanya akan sangat sebentar," jawabku.


Ya, memang hari pernikahanku dan Riki hanya diberi jarak 4 bulan untuk aku dan keluarga mempersiapkan pesta yang kuinginkan.


"Yaudah, kamu minta antar jemput sama Riki aja. Jangan terlalu capek, ya, Sayang," ucap Mama, "kalau gitu Mama ke luar lagi, ya." Aku hanya membalas anggukan, sebelum keluar Mama sempat mengelus rambutku.


Kuambil handphone-ku tadi dan mencari nomor orang yang 4 bulan lagi akan sah menjadi suamiku, "Halo, Sayang," ucapku kala panggilan telah tersambung.


"Hilangkan kalimat menjijikkan lu itu!" jawabnya tegas.


"Baby ... jemput aku, dong! Kita beli cincin sama-sama."


"Ke mall yang deket toko gue, 10 menit lu gak datang. Gue pulang dan lu beli sendiri!" Panggilan dimatikannya begitu saja.


Aku mendengkus kesal dan marah melihat perlakuan Riki kepadaku yang sama sekali tak ada manisnya, bahkan dia enggan untuk menjemputku.


Padahal, menuju mall yang dia maksud melewati kompleks rumahku. Kutarik napas pelan dan merapikan rambut juga pakain, tak lupa tas mahal milikku juga kuletakkan ke bahu.


"Riki gak jemput?" tanya Mama yang tengah duduk di ruang tamu.


"Enggak Ma, dia lagi sibuk. Diva pergi sendiri aja, udah pesan taksi kok."


"Kamu hati-hati, ya."


"Oke, Ma. Byee."


Aku keluar dari rumah dan masuk ke taksi yang sudah menungguku, "Pak, ke mall, ya."


"Baik Mbak."


Sesekali kulihat make-up juga lipstikku, masih ada atau tidak atau sudah bagus dan rapi atau tidak. Aku tak ingin malu nantinya atau membuat Riki yang malu.

__ADS_1


Setelah sampai, kuberi ongkos kepada supir dan langsung masuk ke mall begitu saja untuk mencari keberadaan laki-laki itu.


"Baby, sorry aku telat," kataku dengan memegang tangannya.


"Pilih!" ketusnya dan melepaskan tanganku.


Aku memilih cincin, "Ini bagus tidak Baby?" tanyaku menunjukkan ke Riki yang malah asyik bermain handphone.


"Hem," balasnya tanpa melihat sedikit pun ke arahku terlebih dahulu.


"Liat dulu Baby."


"Iya, bagus."


"Oke!" seruku bahagia saat dia mau melihat, "mbak, mau yang ini, ya."


"Baik, saya urus surat-suratnya dulu, ya Mbak." Kuanggukkan kepala dan menuju ke arah laki-laki yang tengah duduk sambil tetap fokus ke arah handphone.


"Baby, aku cantik 'kan? Aku make-up berjam-jam lho," gerutuku.


Merasa tak digubris aku menggoyangkan tangannya dan dia pun menatapku, "Jangan bergaya seolah kita adalah pasangan! Karena, gue jijik jika harus mendapatkan gelar itu!" sinis Riki dan berdiri ke arah Mbak penjaga toko.


Dia kembali ke arahku setelah membayar cincin tadi, "Nah," ucapnya memberikan papar bag, "dan ini." Diberikan uang dua lembar berwarna merah padaku.


"Untuk apa?" tanyaku menaikkan sebelah alisku.


Kuambil dua lembar uang tadi dan kuremas, "Liat aja nanti Baby, kamu akan jatuh cinta padaku," kataku melihat punggungnya yang semakin menjauh.


Aku berdiri dan membawa paper bag, keluar mall untuk mencari taksi yang biasanya akan berlalu-lalang.


Dapat! Aku langsung menyuruh sopir ke salah satu toko yang akan kutuju, cincin belum kuganti. Biarlah ini saja dulu, lagian tetap saja akan terlihat cantik.


Kuedarkan pandangan melihat bangunan setelah keluar dari taksi, beberapa karyawannya melihat ke arahku dengan wajah yang kebingungan.


"Pak Rikinya ada?" tanyaku ke kasir.


"Lagi di ruang meeting, ada apa ya?"


"Gak papa, saya sebagai calon istrinya cuma mau ketemu sama dia," ucapku dengan tersenyum remeh ke arah mereka.


"Dih, bukannya si anak SMA itu calon istrinya? Kok, sekarang malah nenek lampir?" kata karyawati yang baru datang.


Sontak, aku langsung melihat ke sumber suara itu dengan wajah yang tak suka, "Heh! Lancang banget kamu ngatain saya seperti itu!" bentakku padanya.


"Lah, kok ngamuk?" tanyanya santai.


"Kamu liat aja nanti, saya akan pecat kamu dari sini!" ancamku dan malah dibalas dengan tawa olehnya.

__ADS_1


"Hahaha, kamu yang nanti akan dipecat! Karena suka ngawaur."


Kukepal tangan dan pergi dari situ menuju ruangan calon suamiku, bisa-bisa cepat tua nanti aku jika harus berlama-lama di sana.


Kubuka ruangan Riki dan berjalan ke arah meja juga bangku yang biasanya akan bisa berputar-putar.


"Wah, ternyata nyaman juga bangku Baby," kataku tersenyum dan sesekali berputar menggunakan bangku ini.


Kulihat ada foto dan juga bingkai di meja Riki, tanganku tergerak untuk mengambil dan melihat foto siapa itu, "Wanita itu!" amukku kala melihat wajah Cacalah yang ada di dalam bingkai ini.


Wajah wanita yang tersenyum melihat senja dengan kerudung yang sedikit berantakan karena angin yang ada.


"Letakkan!" bentak seseorang yang kulihat tengah berdiri di ambang pintu dengan menatapku.


"Kenapa harus wanita ini?"


"Bukan urusanmu!"


"Tapi, aku calon istrimu! Ini sekarang jadi urusanku."


"Masih calon dan ada kemungkinan untuk tak jadi!"


"Gak!"


"Siapa yang menyuruhmu masuk!"


"Ini kantormu dan juga kantorku juga, aku adalah calon istrimu!"


"Diam!" bentak Riki kali ini lebih keras, "berhenti berkata bahwa lo calon istri gue! Karena yang nganggep lo calon istri gue itu cuma lo! Bukan gue!"


Aku terdiam, ada sedikit rasa sakit saat melihat Riki membentak beberapa kali mataku tertutup karena suara dia yang meninggi dan menekan beberapa kalimat.


"Keluar!" perintahnya dengan dingin.


"Ta-tapi Baby ... aku masih mau di sini," mohonku dengan menampilkan wajah dan mata yang sudah berembun.


Dia masuk dan berpindah dari ambang pintu, "Lo tau bahasa Indonesia 'kan?"


Mau tak mau aku harus bangkit dan dengan sengaja membawa foto juga bingkai, "Letakkan itu di situ! Dan jangan urusin kehidupan gue!"


Kuletakkan dengan sedikit keras, berharap semoga pecah bingkai itu. Tatapan tajam dari Riki tak sedikit pun membuat aku takut karena rasa benci ini membuatku lupa apa itu takut.


"Satu lagi! Jangan pernah datang ke sini lagi!" kata Riki yang membuat aku berhenti tepat di depannya.


Kulihat wajahnya sebentar dan pergi dengan menghentakkan kaki sedikit keras, biarlah tumit hells-ku patah. Aku tak peduli.


"Lain kali, jangan beri orang asing masuk!" peringat Riki pada asistennya dengan nada dingin.

__ADS_1


__ADS_2