Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Bukan Kaleng-kaleng


__ADS_3

Aku menatap gedung yang ada di depanku kini, "Ih, kok berhenti di sini? Caca gak mau, ih Om!" tolakku yang sudah tahu gedung apaan itu.


"Turun, Cil!" ajak Om Riki turun lebih dulu dari mobil.


"Om Farhan gak ikut?"


"Enggak Ca, saya masih ada tugas yang lain."


"Yaudah, deh."


Aku keluar dari mobil dan berdiri di samping Om Riki, "Ngobrol apa tadi?"


"Bahas surat tanah."


"Dih, gaje lu Cil!" ketusnya dan berjalan masuk lebih dulu ke dalam gedung.


"Om, kita mau ngapain?" tanyaku yang sudah cemas dan takut pastinya.


"Lah 'kan waktu itu pernah bilang mau latihan nembak. Nah, jadi mari kita latihan," jawab Riki dengan nada santai.


Dengan susah payah, kutelan air liur yang merasa tenggorokan kering seketika, "Eh-eh, Om. Mmm ... Caca waktu itu cuma becanda, kali!" cicitku mendorong lengannya.


"Yaudah, kamu mau becanda. Saya mau serius, ayo!" Dia mulai melangkah masuk ke gedung yang dulu pernah kutinggalkan karena takut.


Dor ...!


Dor ...!


Suara tembakan saling sahut-menyaut, aku menutup telinga kala mendengar mereka sedang latihan dengan fokusnya.


"Berhenti!" teriak orang tersebut dan membuka baju pengamannya kala melihat Om Riki datang.


Kami mulai berjalan masuk ke area lapangan, aku berhenti di ambang pintunya dan membiarkan Om Riki berjalan sendirian.


"Ca, sini!" panggilnya melihat aku yang masih ada di ambang sedangkan dia sudah berada di samping temannya itu.


Dengan langkah malas dan sudah pasti terpaksa, aku berjalan dengan sangat pelan, "Ada apa nih, Bro?" tanya William.


"Belajar menembak," kata Riki singkat.


"Okey, sekarang?"


"Iya, tapi bukan aku," kilah Om Riki. Mataku langsung membulat seketika.


'What? Gila nih kulkas, gak maen-maen sama omongannya. Beneran diajarin nembak dong, astaghfirullah. Padahal, sebentar lagi juga aku akan pulang gak akan di sini pun!' batinku mulai cemas.


William menatap ke arahku, ingin sekali aku berkata sama dia. Ada apa? Ngapain liat-liat gue? Bukan gue yang akan belajar!


Tapi, rasa takutku lebih besar, "Dia?" tanya William menunjuk ke arahku menggunakan dagunya.


Om Riki hanya mengangguk, "Om, gak usah, ya. Om aja deh yang latihan," mohonku menggoyangkan lengannya sudah seperti anak kecil yang minta belikan permen.

__ADS_1


"Gak Cil!" ketusnya menatap aku dari samping.


"Kau, istirahatlah dulu," perintah William dengan muridnya tadi. Orang tersebut mengangguk dan melepaskan baju pengaman memberikan ke William.


Setelah baju pengaman dipegang William, dia maju mendekat ke arahku yang membuat aku kebingungan dengan situasi saat ini.


"Kau hendak apa?" tanya Riki menghadang tangannya ke dada William agar berhenti mendekat ke arahku.


"Memasangkan baju pengaman ini ke tubuhnya," jawab William tanpa dosa.


"Aku saja!" Riki langsung mengambil baju pengaman dari tangan William dan memasangkannya ke tubuhku.


"Ck, aku lupa bahwa yang satu ini tak boleh siapapun yang menyentuh," sindir William berkacak pinggang.


"Diamlah kau!" perintah Riki menatap sinis ke arah William.


Apakah mereka benar-benar seorang teman? Kenapa seperti memiliki dendam masa lalu? Atau ... ya, intinya sangat tidak seperti teman.


"Kau tenang saja, kami benar-benar seorang teman. Memang, laki-laki itu hanya padamu yang baik dan ramah," terang William seolah tahu isi hatiku.


"Jadi, aku tak pernah baik padamu?" tanya Riki yang telah memasangkan baju pengaman di tubuhku.


"Hehe, sering, sih," balasnya dengan cengiran.


Riki tak menghiraukan ucapan William lagi, dia segera menarik tanganku menuju tempat yang telah di tentukan.


"Peganglah," perintah Riki memberikan pistol. Aku menatap benda itu terlebih dahulu baru melihat ke arah orang yang berada di sampingku kini.


"Haha, dosa dari mana? Kan, kau bukan membunuh orang. Jadi, tak akan dosa. Kau hanya pegang saja," jawab Riki yang tertawa.


"Kenapa ketawa?" tanyaku menautkan alis dan menatapnya kesal.


"Tak perlu takut, jika si William sampai kena tembakanmu maka kau bisa langsung tangani dia, kok," bisik Riki tepat di samping telingaku.


"Woy, apakah kalian malah ingin pacaran? Jangan di sini!" teriak William kala melihat aku dan Riki berbisik.


"Ck, apakah kau ingin bangunan ini kututup?" tanya Riki mengancam.


"Eh, selow dong Bro. Becanda-becanda."


Riki berpindah ke belakang Caca, Caca mulai memegang pistol tersebut. Jika kalian pikir pistol itu ringan, ternyata tak seringan seperti mainan yang ada di pasar-pasar.


Riki memegang tangan Caca dengan tubuh yang dibuat tak menempel, dagu laki-laki itu tepat berada di atas bahu Caca.


Air liur dengan susah payah kembali di telan, entah situasi semacam apa ini. Caca pun tak pernah membayangkan akan ada di posisi sekarang.


"Kau fokus menyerang di sampingnya, habiskan buah-buah apel yang ada padanya itu," perintah Riki.


Caca melihat wajah Riki yang ada di pundaknya itu, 'Ya, ampun. Ganteng banget nih wajah om tuir!' batin Caca menatap wajah fokus Riki.


Dugh

__ADS_1


"Aww ...," ringis Caca memegang keningnya yang di sentil Riki.


"Fokus ke sono, gak usah liat wajah saya yang emang udah ganteng ini," kata Riki membuat Caca menaikkan bibirnya sebelah dan kembali menatap ke arah depan.


Karena Caca belum pernah latihan, William bisa minggir dan membiarkan buah apel terlebih dahulu yang menjadi sasaran Caca.


Caca mulai kembali fokus dengan tangan Riki yang berada di atas tangannya, ia memicingkan mata seolah sudah seperti orang yang profesional.


Dor ...!


Buah apel bolong seketika dibuat oleh Caca, Riki melepaskan tangannya dari Caca dan beralih ke samping wanita itu.


Dia menatap heran, "Kau, bisa?" tanya Riki yang merasa tak percaya bahwa ini adalah kali pertama Caca latihan nembak.


"Mm ... Om gak tau?" tanya Caca tersenyum tipis.


"Apa?"


"Ayah Caca 'kan polisi," katanya singkat.


Riki hanya mengangguk, ya, wajar saja kalau begitu. Pasti, Almarhum ayahnya Caca pernah mengajari putrinya agar bisa membela diri.


Beberapa menit kemudian, wanita itu menembak apel satunya tanpa bantuan dari Riki lagi. Wanita itu terlihat asyik dengan hiburan saat ini.


Tanpa dia sadari, William sudah mendekat ke arahnya di samping Riki, "Apakah kau yang mengajarinya?" tanya William menatap kagum ke arah Caca yang masih saja fokus.


"Bukan."


"Jadi, siapa?"


"Ayahnya."


"Oh." William kembali menatap, Riki yang merasa risih langsung menatap tajam ke arah laki-laki di sampingnya ini.


"Perlu kubantu kau bekedip?" tanya Riki datar.


"Ck, pelit sekali kau ini!" ketus William menatap ke sembarang arah.


"Sudah, Om!" seru Caca memberikan kembali pistol ke arah Riki.


William pun melihat ke arah tempat apel-apel tadi, benar sudah tak ada apel di situ. Dia kira bahwa hari ini tempat latihannya akan banyak rusak.


Karena mengingat bahwa Caca yang tak tahu menembak, tapi ternyata, dugaannya salah total. Bahkan, wanita itu lebih jago dari yang ia bayangkan.


Tepukan tangan diberikan William, Caca menatap laki-laki itu sembari tersenyum, "Kau ternyata hebat, Ca."


"Iya, dong! Caca gitu, lho. Bukan kaleng-kaleng," ungkap Caca membanggakan diri sambil bersedekap dada.


"Haha, iya, bukan kaleng-kaleng," jawab William sembari tertawa dan diikuti oleh Caca.


"Ehem!" dehem Riki yang membuat kedua orang itu langsung terdiam.

__ADS_1


"Ck, dasar pengganggu" gumam William menatap ke sembarang arah.


__ADS_2