
Sesuai dengan kesepakatan kemarin, bahwa hari ini Caca akan mengikuti Riki selama satu harian ke mana saja.
Tok ...!
Tok ...!
Tok ...!
"Iya, tunggu bentar!" seruku yang sudah tahu itu siapa yang mengetuk pintu apartemen sepagi ini. Segera kubuka pintu untuk memastikan.
Pintu kubuka, dengan menampilkan senyuman juga menangkup kedua tangan. Kerudung abu dan juga gamis putih kini kukenakan.
Dia menatapku dari atas ke bawah, membuat aku juga ikut menatap penampilan, "Kenapa Om? Caca cakep 'kan?" tanyaku sembari berputar.
"Ganti." Satu kalimat yang keluar dari bibirnya dengan wajah datar.
"What? Om, Caca capek-capek dandan supaya bagus kenapa malah disuruh ganti, ih!" gerutuku dengan menaruh tangan ke pinggang.
"Ganti, Cil! Kamu kehabisan anak hijab? Kamu kehabisan pentul? Biar kita beli satu pabrik, apa-apaan kerudungnya begitu," ungkapnya dengan wajah masih datar kek triplek.
"Om, denger, ya. Ini model baru, biar kek anak gadis zaman sekarang lho. Om, mah gak gaol!"
"Terserah, mau zaman sekarang atau enggak. Intinya, ganti Chantika Azizah," tekannya sambil menunjuk ke arah dalam kamar apartemen.
"Tapi, Om ...."
"Ganti!" Belum sempat aku melanjutkan ucapannya, udah dipotong olehnya. Dasar! Selalu tukang potong, nyebelin! Ngeselin!
Kubuang napas kasar, membalikkan badan dengan langkah yang sengaja kuhentak-hentakkan.
Sebenarnya, 15 menit aku sudah kembali rapi dengan pakaian yang lain. Hanya saja, kubiarkan dia menunggu lama salah sendiri kenapa malah nyuruh aku ganti kerudung segala.
"Udah?" tanyanya saat melihat pintu kamar kembali kubuka.
"Dah!" ketusku dengan bibir yang maju mungkin udah 5cm majunya.
"Yaudah, tutup pintunya. Kita makan dulu baru temani aku ke kantor."
"Hm," jawabku dingin.
Kukunci pintu dan menatap ke arahnya, "Kenapa?" tanyaku merasa aneh dengan tatapannya.
"Lu kenapa Cil? Marah karena gue suruh ganti kerudung? Lagian lu ngadi-ngadi makin lama, paan model kerudung udah kek apaan aja."
"Lu yang gak paham fashion Om," ujarku sambil memasukkan kunci ke tas.
__ADS_1
"Iya, fashion mah fashion. Tapi, tetap harus di dalam jalur agama. Jangan mau ikutin fashion yang keluar dalam agama."
"Iya Om." Males aja rasanya kalo harus diperpanjang. Lebih baik bilang, 'iya' aja biar cepat kelar urusannya dah.
Kami masuk ke dalam mobil yang seperti biasanya, kuberikan senyuman ke arah sopir yang sudah menunggu kami.
"Udah lama Pak?" tanyaku yang sudah duduk di bangku belakang.
"Gak lama kok Nak Caca."
"Kalo pun lama, itu ya karena kamu," timpal Riki dan mobil mulai jalan.
"Dih, Om tuh yang nyuruh. Mangkanya jangan suruh Caca ganti kerudung segala."
"Kamu cantik kalo kayak gini Cil, gak usah seperti tadi. Makin banyak nanti saingan saya, bukan saya takut bersaing hanya saja kesian mereka yang gak akan dapat kamu."
"Emangnya yang akan dapat saya siapa nanti?"
"Ya, jodoh kamu dong."
"Siapa?"
"Nih, jodoh kamu yang ada di samping," terangnya menunjuk dirinya sendiri.
Kudatarkan kembali wajah, dasar emang kalo nih orang. Gak pernah serius dalam hidupnya, ada aja bahan candaan.
Sebelum kuangkat, sengaja di speakerkannya agar dia bisa dengar, "Ish ... Om!" kesalku menatap tajam ke arahnya.
"Shutt ...!" ucapnya sambil meletakkan jari di bibirnya itu.
Kutarik napas terlebih dahulu, "Assalamualaikum Kak Aldy, ada apa, ya?" tanyaku membiarkan handphone berada di depan. Kalo kutaruh di telinga bisa-bisa budeg yang ada.
"Waalaikumsalam Ca, kamu ada di mana? Kok, saya ketuk-ketuk pintu kamu gak ada yang nyaut, ya? Apa, kamu masih tidur?" tanya Aldy dari sebrang.
"Caca udah di jalan nih Kak Aldy, lagi mau nyari makan."
"Sama siapa?"
"Sama Om Riki. Eh, Kak Aldy ada keperluan apa? Atau, mau titip makanan? Biar Caca belikan sekalian ini."
"Oh, hehe. Enggak kok, gak usah. Yaudah, kalo gitu."
"Eh, Kak Aldy mau ngomong apa emangnya sampe mau ketemu sama Caca sepagi ini?"
"Mmm ... mau ini, ngasih uang bayar makanan tadi malam."
"Ya, ampun Kak Aldy. Kan udah Caca bilang kalo makanannya gak perlu dibayar."
__ADS_1
"Hehe, iya, ya, saya lupa. Yaudah kalau gitu Ca, saya takut ganggu. Saya matikan dulu, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Kak Aldy."
Di sisi lain, Aldy menatap bekal yang dibawanya dari lantai 5 ke depan kamar apartemen Caca. Dirinya tersenyum melihat bekal tersebut.
"Udahlah Al, waktunya kamu buat bisa dapat orang yang lain. Gak usah lagi mikirin Caca, Caca akan bahagia tanpa ada kamu," kata Aldy berjalan menjauh dari depan pintu Caca.
**Mending buat Author aja, Kak Aldy🤣**
Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit, aku dan Om Riki telah sampai di salah satu tempat makan.
"Tumben banget ada restoran buka jam segini," kataku sambil melihat jam tangan.
"Kita makan dulu, habis itu ketemu sama klien, ya, Cil."
"Di mana ketemu cliennya, Om?" tanyaku menatap Riki dari samping dan kami sudah mulai berjalan memasuki restoran.
"Di cafe dekat sini juga, lagian cafenya juga belum buka." Aku hanya mengangguk paham, pintu restoran dibukakan oleh Om Riki.
Ini yang buat aku menyukainya, ia selalu perhatian akan hal-hal kecil. Apa saja, maka dirinya akan lakukan selagi itu untuk orang yang dirinya sayang.
Om Riki mengangkat tangannya sebelah setelah kami mendapatkan meja, salah satu pelayan datang menghampiri.
"Ini menunya Tuan," katanya tersenyum ke arah Riki. Aku yang merasa aneh dengan senyuman wanita itu menatap dengan garang ke arahnya.
"Adik Anda sungguh imut Tuan," sambungnya dan Riki langsung beralih dari menatap daftar menu jadi melihat ke arahku.
What? Apa yang baru saja dia katakan Bestie? Adik? Hah! Emang aku cocoknya jadi adik Om Riki deh keknya.
"Sorry, dia bukan adik saya," ucap Riki yang sudah menatap wajah kesalku.
"Oh, ya? Maaf, aku salah nyebut."
"Iya, tak apa. Dia adalah wanitaku, bukan adik apalagi saudara," jelas Riki dan membuat pelayan tersenyum kikuk.
'Nah 'kan, rasain lu! Enak bener tuh lambe ngatain aing adeknya si Om,' batinku dengan tersenyum.
Riki menyebutkan pesanan yang dia inginkan, setelah itu aku pun tak mau ketinggalan menyebutkan makanan yang akan mengganjal perut mungil ini.
Setelah pelayan mencatat, dirinya pamit pergi dan kami kembali menyerahkan buku menu makanan juga minuman.
"Om, gimana kakinya? Udah baikan?" tanyaku menatap kakinya yang selalu pakai sepatu.
"Udah agak lumayan, kamu gak perlu takut ...."
"Saya bukan laki-laki lemah," sambungku dan membuat dirinya tercengang karena ucapannya kupotong begitu saja.
__ADS_1
"Haha, gadis pintar," tuturnya sambil tersenyum. Sedangkan aku, menampilkan wajah datar dan menatap pria ini dengan malas.