
"Gak sakit, kok. Siapa yang bilang sakit?" tanya Riki membuang pandangannya. Caca menegakkan badannya yang tadinya membungkuk karena mengobati tangan Riki dan menatap laki-laki itu.
"Kenapa?" tanya Caca begitu saja kepada laki-laki di depannya.
"Apa?" tanya Riki balik dengan menatap wajah Caca.
Caca diam tak menjelaskan atau menjawab pertanyaan Riki, dia sudah tahu jika laki-laki itu pasti mengerti maksud dirinya.
"Jangan melihat aku seolah pelaku dalam masalah ini," cibir Riki membuang pandangannya lagi karena merasa tak tahan di tatap oleh wajah serius Caca.
"Pertanyaan Caca belum dijawab, Om," ucap Caca mengingatkan bahwa pertanyaannya belum dijawab sama sekali dengan Riki.
Saat Riki mulai ingin menjelaskan tiba-tiba Caca memotong ucapan laki-laki itu, "Berikan alasan yang masuk akal, Om. Jangan asal berbohong," sambung Caca sebelum mendengar penjelasan Riki.
Seolah sudah tahu apa yang akan diucapkan Riki, Caca menaruh tangannya ke pinggang dan menatap intens ke arah Riki seolah sedang menginterogasi seorang anak kecil.
"Sejak kapan kau begitu berani padaku?" tanya Riki yang tersenyum miring dan bersedekap dada.
"Sejak kapan aku takut padamu, Om?" tanya Caca yang tak mau kalah.
Mereka saling tatap kembali, Riki yang tersenyum melihat Bocilnya yang ternyata sudah banyak berubah bahkan sudah tahu jika seseorang itu ingin berbohong atau tidaknya.
"Jadi, gimana?"
"Apanya, Cil?"
"Ini kenapa?" tanya Caca menekan luka Riki dan membuat laki-laki tersebut meringis karena ulah Caca.
"Nih kamu mau lukai saya, ya?" tanya Riki menjauhkan tangannya dari Caca.
"Tanpa Caca lukai udah terluka kok ini."
"Iya, jangan ditambahi dong."
"Gak papa, sesekali."
"Cepetan Om!" sambung Caca yang tak tahan lagi karena Riki tak kunjung membuka suara untuk menjelaskan.
"Tadi, saya cuma pecahkan kaca doang."
"Kacanya salah apa?"
"Hanya meluapkan kekesalan."
"Sejak kapan seperti itu?" tanya Caca. Pasalnya, laki-laki tersebut sebelumnya tak pernah melakukan hal itu. Baru kali ini, dia mengetahui bahwa Riki bisa senekat itu.
"Sudah lama, hanya saja terpendam akibat sosok dirimu yang mampu meluluhkan dan menghilang sifat buruk saya itu," jelas Riki yang membuat Caca terdiam dan mengerjapkan matanya.
__ADS_1
Caca melihat nanar coklat milik laki-laki di depannya ini, mencari kebohongan di dalamnya. Namun, tak sama sekali ia temukan kebohongan dari apa yang baru saja dia ucapkan.
Caca kembali membersihkan luka Riki, fokus pada pekerjaan dan apa yang tengah ditanganinya, "Salting, ya, Dokter Chantikan Azizah?" tanya Riki berbisik kepada Caca dengan tersenyum.
"Apaan, sih? Gak ada yang selting, Om!" ketus Caca dan tetap fokus menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah selesai dengan tangan kanan, Caca langsung bergegas menyelesaikan yang sebelah kiri pula.
"Kamu ada jadwal? Kita makan dulu, yuk! Aku belum makan dari tadi pagi," ajak Riki yang berharap Caca mau menemani dirinya.
Caca mendongak dan diam sebentar, "Apakah wajah saya terlihat peduli dengan perut Anda?" tanya Caca yang menahan tawa dengan sikap usilnya itu.
"Hahaha, sejak kapan kamu pinter ngelawak?" tanya Riki yang kaget dengan prestasi Caca. Bukan hanya berhasil menggapai impian sekarang malah pinter ngelawak.
"Sejak saya sadar kalo saya gak cantik. Jadi, meskipun kalah cantik setidaknya menang lucu," ujar Caca selesai mengerjakan pekerjaannya.
Riki menatap kedua tangannya yang kini berbalut dengan perban, "Bagus 'kan?" tanya Caca dan langsung di tatap Riki.
"Allah ngasih tangan bagus tanpa luka, malah manusianya yang bertingkah!" sindir Caca membereskan kembali alat-alatnya.
Ia berdiri dan merapikan peralatannya kembali, berdiri di depan Riki yang masih duduk sambil memperhatikannya.
"Apa?" tanya Riki yang di tatap oleh Caca.
"Jadi makan, gak?" tanya Caca yang mengingatkan ajakan dari Riki.
Caca hanya mengikuti dari belakang, Riki yang tadinya sangat hangat sekarang seolah dingin dan hanya menatap dengan tegap jalanan di depan.
Banyak pasang mata melihat ke arah mereka, apalagi Caca yang sudah hampir dikenal oleh beberapa suster, dokter dan juga pasien.
Reputasi baik Caca dan juga mudah akrab dengan pasien membuat banyak pasien yang menyukai wanita ini meskipun dirinya baru beberapa bulan bekerja.
"Apakah kau tak pernah berjalan dengan cowok? Atau dengan dokter cowok?" tanya Riki tanpa melihat ke belakang.
"Emangnya kenapa?" tanya Caca berpindah posisi menjadi di samping Riki.
"Dari tadi mata tertuju ke kita."
"Ya, mereka punya mata. Terserah mereka dong mau lihat siapa aja."
"Hmm," balas Riki dingin dan hanya membuat Caca tersenyum dengan tingkah laki-laki itu.
Mereka telah sampai di kantin, rumah sakit ini memiliki dua kantin. Yang satu khusus untuk suster dan dokter yang bekerja dan satunya lagi pengunjung atau penunggu orang yang sedang sakit.
"Kok Om tau kantinnya?" tanya Caca yang merasa aneh. Pasalnya, ia belum memberi tahu di mana letak kantin mengapa Riki sudah tahu letaknya.
"Jangankan kantin, hati kamu aja saya tau buat siapa."
__ADS_1
"Siapa?"
"Laki-laki yang ada di depanmu sekarang."
"Dih, geer!" Caca langsung mencari bangku dan duduk. Sedangkan Riki berjalan ke arah tempat pesan makanan.
Caca melihat-lihat kantin umum ini, dirinya sangat jarang pergi ke tempat ini karena memang tak pernah pergi ke mana-mana atau melihat-lihat rumah sakit.
Handphone yang sengaja dibawa Caca berdering, dirinya langsung mengangkat dan melihat nomor suster pribadinya yang menelpon.
"Yes, what is up?" tanya Caca dan melihat Riki yang sudah berjalan ke arah dirinya berada dengan membawa nampan.
"Where is the doctor?"
"Again in the public canteen," jawab Caca dan di tatap oleh Riki. Riki meletakkan pesanan mereka di depan masing-masing.
"Terima kasih," ucap Caca pelan kepada Riki dan hanya dibalas anggukan.
"Doctor Carles was looking for you earlier."
"Yes, I'll see him later," jawab Caca dan mematikan panggilan sepihak.
Riki sudah menyantap makanannya terlebih dahulu, karena memang ia belum mengisi perut sama sekali dari pagi hingga sudah hampir jam 15:00 sore.
"Kamu sibuk banget, ya, sekarang," ucap Riki kala Caca sudah mengaduk sup yang dipesan Riki.
"Lumayan, Om," kata Caca di sela-sela mengunyahnya.
"Pulang jam berapa?"
"Belum tau, Om."
Riki mengambil handphone Caca yang tergeletak di samping wanita itu, "Apa sandinya?" tanya Riki membuka handphone dan melihat adanya sandi.
"Buat apa?" tanya Caca heran.
"Pertanyaan itu dijawab, bukan ditanyakan balik."
"Iya-iya, tanggal lahir Caca Om."
"Oke," balas Riki singkat dan membuat Caca hanya berekspresi kesal melihat laki-laki yang ada di depannya kini.
"Nanti malam, aku jemput!"
"Gak usah, Om. Caca bisa sendiri, kok."
"Gak papa, saya juga gak tau mau ngapain. Nanti sekalian kita makan malam."
__ADS_1
Saat Caca ingin berucap, Riki langsung membuat wanita itu terdiam, "Saya tidak terima penolakan. Selamat bekerja." Riki pergi dengan makanan yang telah habis dan meninggalkan Caca karena dirinya tahu bahwa wanita itu sedang bekerja.