Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Pasangan Kampr*t


__ADS_3

"Pipi Om itu kenapa?"


"Gak papa."


Segera kubuka tas, mana tahu ada peralatan medis meskipun sepertinya, 'Alhamdulillah, ada!' batinku dan mengambil betadine serta kapas.


"Om, minggir bentar, bisa?" tanyaku menatap wajahnya.


"Bentar," jawabnya dan masih fokus pada jalan.


Kami masuk ke salah satu restoran fast food yang terbesar di dunia berasal dari negara tempatku dulu menempuh pendidikan.


"Kita makan di dalam?"


"Enggak, di mobil aja."


"Oh, okey Om."


Riki segera menuju ke bagian drive thru, lumayan banyak orang yang mengantri di situ. Aku yang melihat Om Riki tengah fokus memesan, segera mengambil kesempatan.


Sebuah moment kuabadikan, dengan sweater yang dilepas dan tersisa kemeja putih juga kacamata yang saat ini tidak lagi berwarna hitam.



Setelah merasa moment yang kuinginkan telah kudapat, aku memasukkan kembali handphone dan makanan kami sudah siap.


Om Riki mencari tempat yang bisa mobil ini berhenti agar kami bisa makan, "Nih, buat kamu!" Om Riki memberikan milik Om Farhan.


"Terima kasih Pak."


"Gak gratis, gak usah bilang makasih," jawab Om Riki dingin.


"Ha?" tanya Om Farhan kaget. Aku yang melihat respons dari Om Farhan langsung ketawa.


"Om Farhan selalu ditindas, kenapa masih mau bertahan, sih kerja sama Om Tuir?" tanyaku dengan senyum.


"Karena, gak ada yang mau nerima dia lagi," potong Om Riki dengan membuka bungkus nasinya.


"Bwahaha," tawaku tak tertahankan melihat ekspresi kedua human di depan dan sampingku kini. Karena aku mengubah duduk menjadi berhadapan dengan Om Riki.


Kami memilih untuk fokus memakan-makanan, "Wih, Om Farhan! Ada cewek cakep, tuh!" seruku menunjuk ke arah wanita yang baru saja lewat dari depan mobil kami.


Aku melihat ke arah samping, "Ngapain ngeliat? Kan, yang Caca suruh liat itu Om Farhan! Kenapa Om Tuir ikutan liat?" tanyaku dengan nada kesal.


"Emangnya gak boleh?" tanyanya dengan nada santai.


"Mmm ... boleh, sih!" kataku, "lagian, gak ada hak juga Caca ngelarang."


"Jangan mulai, Cil. Hahaha."


"Ck! Siapa juga yang mulai?"


Bungkus dan kotak bekas makanan di satukan, "Buang!" titah Om Riki kepada Om Farhan.


Laki-laki itu hanya membuang napasnya kasar dan mau tak mau mengambil bungkusan itu, "Gak ikhlas?" tanya Riki menatap raut wajah Farhan.


"Ha? T-tidak Pak, ikhlas kok," jawab Farhan menatap Riki.


"Kenapa wajahmu begitu?"

__ADS_1


Dengan cepat Farhan tersenyum ke arah Riki juga dilihat oleh Caca, "Nih, Pak. Saya tersenyum ini, artinya saya ikhlas banget!" Senyuman yang diberikan Farhan hingga membuat gigi rapi dan putihnya itu terlihat.


Padahal biasanya, dia bahkan sangat sulit untuk tersenyum karena terbawa sifat dan sikap bosnya.


Farhan langsung turun dari mobil membawa bekas makan mereka dan mencari keberadaan tong sampah.


"Eh, kamu mau ngapain Cil?" tanya Riki yang kaget saat tangan Caca ingin menyentuh bibirnya.


"Dih, ngapain kaget begitu? Lu jan mesum Om! Lu kira gue mau ngapain? Orang cuma mau ngobatin memar di bibir tuh!" ketusku dan mengarahkan spion ke wajahnya agar dia melihat memar itu.


"Santai kali, jan ngegas."


"Ini kenapa?" tanyaku dengan mulai mengoleskan betadine menggunakan kapas pada bagian kanan bibirnya.


"Jatuh."


"Ck! Sejak kapan jatuh yang kena bibir?" tanyaku menampilkan wajah garang.


"Jadi, seharusnya apa? Hati, ya?" tanya Riki dengan tersenyum.


Aku yang muak dengan godaan dari mulutnya, sedikit menekan memar itu, "Sakit, Cil!" kaget Riki merasakan memarnya di tekan.


"Lagian, orang serius malah selalu dibecadain!" ketusku menatap wajahnya.


"Gak papa ini juga, luka kecil."


"Berantem sama siapa?"


"Gak ada."


"Kalo gak ada kenapa malah jadi memar?"


Aku membuang pandangan dengan malas, tak ada gunanya sepertinya bertanya dengan orang ini.


Kembali posisi duduk dengan benar, menatap jalanan di depan sana dan memasukkan betadine serta kapas tadi.


"Udah selesai dokter Caca?"


"Dah!" ketusku memilih memainkan handphone tanpa melihatnya.


"Yakin, udah selesai dokter Caca?"


"Dah!"


Merasa jengkel dengan Caca yang mengabaikannya, Riki mengambil handphone wanita itu dan menyembunyikannya di saku.


"Ihh, balikin Om!" teriakku yang marah karena diambil begitu saja.


"Gak, handphone-nya akan saya kembalikan kalau kamu udah gak jalan sama saya. Ketika kamu jalan sama saya, maka kamu harus fokus ke saya."


Aku menaikkan bibir satu, "Huwek ... sok keren beut lu!" ketusku yang emosi melihatnya.


"Hahaha, ciee ... lagi marah, nih, ya?"


"Gak!" ketusku melihat ke arah samping.


Akhirnya, Farhan kembali setelah membuang sampah, "Kau membuang sampah ke mana? Kenapa lama sekali?" tanya Riki menatap Farhan yang baru duduk.


"Hehe, habis minta nomor WA wanita yang ditunjuk oleh Caca tadi Pak," jawab Farhan cengengesan dengan semburat merah yang jumbul dari kedua pipinya.

__ADS_1


Sontak aku yang mendengar kalimat itu membulatkan mata dan berbalik menatap ke arah Farhan, "Apa, Om?!" teriakku kaget.


"Kenapa Ca?" tanya Farhan yang kebingungan.


"Keren banget Om Farhan! Ini, nih idaman cewek-cewek. Sat set sat set!" seruku mengacungkan dua jempol.


Riki tampak tak merespons, dia malah menghidupkan mobil dan aku kembali duduk dengan benar.


Sesekali aku mengoceh sendirian dan juga menyambung lagu yang ada di music mobil. Gini-gini aku lumayan tahu banyak music, meskipun tak tahu; penyanyi, full lirik dan penciptanya.


"Pergilah, Kasih! Kejarlah selingkuhanmu!" teriakku mengikuti lirik musik meskipun satu lirik kuubah.


"Selagi masih ada waktu ... uuuu."


"Jangan hiraukan diriku!"


"Aku rela berpisah, demi untuk dirimu!"


"Semoga tercapai, segala keinginanmu ...." Aku bernyanyi penuh dengan penghayatan. Setelah selesai dengan konser dadakan.


Kulihat ke belakang, "Om Riki! Om Farhan main handphone sambil senyum-senyum, nih!" teriakku mengadukan aktivitas Farhan yang tak sadar tengah kulihat.


Seketika Riki langsung melihat ke arah Farhan yang merasa tertangkap basah, ia segera masukkan handphone ke saku kemejanya.


"Kau sudah bosan kerja denganku?" tanya Riki dengan datar kembali menatap jalanan.


"Tidak Pak."


"Haha, kasian!" ejekku.


"Dasar, cepu!" ketus Om Farhan dan membuat keningku berkerut.


"Cepu apaan, Om?" tanyaku menatap wajah dari samping Riki.


"Farhan ...!" teriak Om Riki dengan penekanan.


"I-iya, Pak?" tanya Farhan dengan gelagapan.


"Minta maaf!" perintah Riki dingin.


"B-baik Pak," jawab Farhan terbata-bata, "maafin saya Ca."


"Ih, ngapain minta maaf kalo gak ngasih duit mah? Kalo pas lebaran 'kan biasanya gitu. Minta maaf biar dikasih THR."


'Ya, Tuhan. Kenapa kau pertemukan aku dengan dua manusia seperti ini? Satunya dingin banget udah itu galaknya melebihi singa dan harimau, satu lagi lemodnya gak ketulungan!' batin Farhan merutuki kehidupannya.


Akhirnya, mereka sampai di depan gedung galeri. Di sini berbagai lukisan dari seniman terkenal terpajang.


"Om, kita ke sini bukan karena Om ada kerjaan 'kan?" tanyaku sebelum turun sambil memakai tas.


"Enggak, kok. Memang mau liat-liat aja, lagian kamu belum pernah berkunjung ke tempat beginian 'kan?" tanya Riki memasang kembali masker juga sweaternya.


Aku menggeleng, "Om Farhan, ayo turun!" ajakku saat melihat Farhan masih setia melihat keadaan luar dari jendela.


"Saya di sini aja Ca."


"Enggak, ih! Ntar, gak ada yang fotoin Caca dan Om Riki. Ayo, Om Farhan!" ajakku sekali lagi dengan turun dari mobil.


'Apes dah apes, udah tadi di cepuin sama tuh bocil sekarang malah dimanfaatin. Dasar, emang! Pasangan Kampret!' batin Farhan mengumpat kedua orang yang telah turun.

__ADS_1


__ADS_2