Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Menerima Tantangan


__ADS_3

Pintu terbuka menampilkan perawat yang masuk dengan seorang anak kecil, mata Caca langsung terfokus dengan anak itu.


Apakah ini pasiennya? Pikirnya dan memilih bangkit mendekat ke arah anak kecil juga perawat pribadinya itu.


"Dia kenapa Sus?" tanya Caca mendongak. Dirinya memilih jongkok untuk menyamaratakan tingginya dengan anak itu.


Perawat mendekat ke arah kuping Caca, "Dok, sepertinya dia salah tempat. Dia seharusnya ke psikiater cuma saat disuruh pulang dia menangis," bisik Dokter yang di tatap anak perempuan itu.


Caca menatap mata yang berembun itu, "Yaudah, kamu boleh keluar Sus. Lagian, jadwal saya masih ada 2 jam lagi kosong. Saya mau bicara sama dia terlebih dahulu," kata Caca sambil menatap wajah putih anak itu.


"Baik, Dok." Caca memegang tangan mungil itu, mengajaknya berjalan menuju tempat tidur pasien dan pintu kembali di tutup sebelum perawat pergi.


"Nama kamu siapa?" tanya Caca yang sudah mendudukkan anak itu di tempat tidur pasien juga dirinya yang duduk di sampingnya.


"Clarissa," katanya sambil menunduk.


"Oke Clarissa. Kamu kenapa?" tanya Caca menaikkan dagu anak itu dan tersenyum hangat ke arahnya.


"Dokter, aku mau ke tempat Mama," ucapnya mengucek mata menahan agar air matanya tak terlihat.


"Mama Clarissa di mana?"


"Mama Clarissa dulu di bawa ke ruangan yang di dalamnya ada orang yang berbaring sambil ditutupi Dokter."


Caca mengerutkan kening, mencoba untuk memahami apa maksudnya. Tempat orang berbaring?


Oh, iya! Tempat itu, ruangan yang dibenci oleh semua orang, "Jadi, kau ke sini untuk apa?"


"Mau membangunkan Mama."


"Bukankah Mama sudah di kuburkan?"


"Ha?"


Meskipun sepertinya percuma menjelaskan. Namun, tak ada salahnya bukan? Tak mungkin anak itu akan terus-terusan mendatangi setiap rumah sakit untuk menuju ruang mayat.


"Mama Clarissa telah di surga, dia sekarang sudah punya rumah baru dan gak merasakan sakit lagi. Clarissa doakan saja Mama agar nyaman di surga dan benaran ada di dalamnya," jelas Caca mengusap rambut hitam sepinggang milik anak itu.

__ADS_1


"Apakah Mama tidak sayang Clarissa?" tanya Clarissa dengan manik yang sudah berembun.


"Mama sangat sayang."


"Terus, kenapa pergi?"


"Siapa yang bilang Mama pergi?" tanya Caca tersenyum lembut dan tangannya terulur menghapus air mata yang sudah mengalir di pipinya, "Mama selalu ada. Di sini Clarissa." Tangan Caca menunjuk ke arah hati milik anak itu.


Clarissa melihat ke arah tangan Caca yang menyentuh tempat hatinya berada itu, cukup lama ia melihat baru beralih menatap wajah Caca yang masih menampilkan sebuah senyuman tulus.


Pelukan begitu saja di dapatkan oleh Caca, dirinya membalas pelukan itu dan sesekali mengusap rambut juga punggung wanita itu.


Dengan cepat dirinya hapus air mata yang tanpa sengaja ikut mengalir di pipinya agar tak dilihat oleh Clarissa.


"Maaf, Dokter," ucap seseorang yang langsung dilihat oleh Clarissa dan Caca. Mereka yang tengah berpelukan memilih melepaskannya.


Mata Caca menatap seorang laki-laki yang ada di samping perawatnya itu. Apakah itu ayah Clarissa? Sepertinya, iya.


"Ini, Ayah dari anak itu Dokter." Laki-laki yang semula ada di samping perawat akhirnya masuk ke ruangan.


"Kau, tetap di situ," perintah Caca kepada perawat dan langsung mendapatkan anggukan dari perawat.


"Ayah, di mana Mama?" tanya Clarissa menatap wajah yang ternyata benar ayahnya.


Ayahnya hanya diam dan menatap sembarang arah, "Dok, apakah ada spesialis anak di sini?" tanyanya menatap Caca.


"Ada, Pak. Tapi, untuk saat ini belum ada."


"Hmm ... yasudah kalau begitu. Clarissa, kita pulang, ya," ajak ayahnya dan beruntung langsung dapat anggukan.


"Clarissa kalau mau main ke sini lagi boleh, kok. Dokter akan selalu menunggu kamu," ucap Caca dan disambut dengan senyuman dari bibir Clarissa.


"Terima kasih Dokter." Ayah Clarissa menggendong anaknya dan tersenyum sebelum pergi dari ruangan Caca.


Setelah kepergian Clarissa juga ayahnya, perawat pun kembali ke tempatnya semula. Handphone milik Caca langsung berdering menampilkan nama Boss dirinya--pemilik rumah sakit.


"Iya, Pak?" tanya Caca dengan berdiri di depan meja.

__ADS_1


"Dokter, boleh ke ruangan saya sebentar?"


"Baik."


Caca memasukkan handphone ke saku jas dan keluar dari ruangan, berjalan menuju ruangan bossnya itu.


Dua ketukan diberikan Caca sebelum memasuki ruangan, "Ada apa Pak?" tanya Caca berdiri di depan mejanya.


"Silahkan duduk." Caca mengangguk dan duduk di bangku yang telah di sediakan.


"Saya liat kamu bisa membantu dalam hal menangangi anak-anak, sekarang saya mau menambahkan tugas buat kamu. Jadi pendamping spesialis anak yang akan datang dari Indonesia. Lagian, kalian juga akan lebih mudah dalam berteman 'kan? Karena berasal dari negeri yang sama."


Caca diam, dirinya bingung harus mau atau tidak. Karena, otomatis ia pun harus belajar lagi tentang anak-anak karena semasa kuliah hanya sedikit yang dijelaskan tentang anak.


"Jika kau mau dan bisa. Maka, ketika dirinya pulang kau juga pulang ke negaramu. Kau akan dipindahkan kerja di Indonesia," sambungnya lagi dan langsung membuat Caca tersenyum.


"Siap, Pak!" kata Caca mantap. Dirinya telah di kontrak dua tahun di rumah sakit ini. Namun, jika memang dipindah tugaskan apa salahnya?


Toh dirinya masih tetap bekerja walaupun gajinya tidak terlalu tinggi nantinya. Akan tetapi, rasa rindu dengan Milda sudah tak dapat dibohongi.


Keluar dari ruangan dengan wajah bahagia yang tak dapat ditutupi, dirinya hanya perlu bekerja sama dengan dokter yang akan datang beberapa bulan maka ia pun bisa ikut pulang juga ke Indonesia.


"Apakah aku harus berterima kasih sangat-sangat dengan dokter yang akan datang nanti? Ataukah aku harus traktir dia?" tanya Caca berbicara sendiri di sepanjang koridor.


Entahlah, ini merupakan hari yang sangat bahagia di dalam hidupnya. Bisa kembali lagi ke tanah air dan berkumpul kembali.


"Dokter kenapa?" tanya perawat yang tak sengaja bertemu dengan Caca di koridor.


"Ha? Oh, tidak papa," jawab Caca dengan kikuk karena sedikit malu akibat bahagia yang tak bisa ditutupi.


Kembali ke ruangan dan bersiap-siap untuk membantu orang melalui izin Allah, sesekali disaat waktu senggang.


Caca mulai belajar tentang anak dan penyakit sert nama-nama obat yang boleh mereka minum/konsumsi.


Meskipun sangat sulit karena itu bukan bidang awalnya. Tapi, tak ada salahnya menambah wawasan dan skill.


Waktu kerja telah selesai, kembali ke rumah dan memasakkan Riki. Oh, iya, dirinya hampir lupa dengan laki-laki itu.

__ADS_1


Masuk ke apartemen dan membersihkan tubuh dan dilanjut memasak untuk makan malamnya juga Riki. Ketika berjalan di koridor apartemen, ia tak melihat Riki. Entah ke mana laki-laki itu, yang pasti Caca lebih baik memasak saja dahulu.


__ADS_2