
Aldy duduk di meja tepat di samping Caca, aku melihat dia berada di sampingku. Tanpa melihat ke samping sudah dapat kulihat, tak banyak bicara. Aku menikmati kopi juga pemandangan yang ada.
"Dokter Caca, ayo pemeriksaan sudah akan dimulai," kata perawatku datang menyusul.
Aku berdiri, "Oh, iya, tunggu sebentar!" Aku mengambil gelang yang ada di meja tadi, "Ini buat kamu," kataku menyuruh dia menggenggam gelang yang dilihat langsung oleh Aldy.
Berjalan lebih dulu meninggalkan perawat juga Aldy yang mungkin sakit hati juga? Terserah, aku sudah tak mau peduli lagi.
Kembali ke ruangan dan berkutat dengan alat-alat, memeriksa pasien dan perawatku telah sampai di samping dengan nafas yang ngos-ngosan.
Aldy menatap kepergian Caca dan kaget dengan apa yang dilakukannya, 'Apakah dia memang semarah itu?' batin Aldy bertanya.
Dering handphone membuat dirinya untuk sadar, "Halo?" tanya Aldy dengan orang yang ada di sebrang.
"Baik Pak." Dia bangkit dan menuju ke tempat orang tersebut.
"Ada apa Pak?" tanyaku menghadap boss karena memang disuruh untuk datang ke ruangannya.
Tak lama, ada suara yang masuk juga. Kukenali suara itu dan tak membuatku menatap ke arahnya.
"Besok, kalian akan datang ke salah satu sekolah dasar untuk melakukan suntik campak. Juga, kalian akan ke salah satu tempat Tentara karena mereka butuh suntikan dan akan ada acara pendonoran darah nantinya. Jadi, 3 hari berturut-turut kalian akan ditugaskan di luar rumah sakit," jelas boss memberi tahu maksudnya.
"Kenapa harus kami berdua?" tanyaku yang sedikit protes.
"Bukankah kau ingin cepat pulang? Jadi, inilah konsekuensinya. Lagian, kau tak akan sendiri ada dokter Aldy yang menemani."
Aku diam dan tak bergeming, Aldy yang ada di samping sekilas menatapku. Kubiarkan begitu saja, terserah mau apa pun dia.
"Sudah jelas?" tanya boss yang merasa tak ada lagi pertanyaan.
"Kami nanti ke sana naik apa?" tanyaku. Karena memang, selama di sini aku selalu jalan kaki. Minimarket dekat, tempat kerja dekat dan tempat tinggal dekat.
Membuatku tak berpikiran untuk membeli kendaraan meskipun begitu lama sudah tinggal di negeri orang.
"Nanti, akan saya pinjamkan satu mobil pribadi untuk kalian."
"Baik Pak. Terima kasih."
"Baik, kalau begitu. Kalian bisa kembali bertugas." Aku mengangguk dan pergi dari ruangan.
"Serisih itukah kau denganku?" tanya Aldy yang membuat langkahku terhenti.
"Gak," jawabku singkat dan cepat berlalu. Untungnya, ruangan dia lebih dekat dari ruangan boss. Jadi, tak akan ada adegan dia bertanya lagi dan lagi padaku.
"Dokter, kanapa?" tanya perawat dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu khawatir?"
"Apa kau dipecat?"
"Ha? Kenapa kau berpikiran begitu?"
"Ya, habisnya dokter yang bilang kalo gak akan sampai 2 tahun di sini. Makanya, aku mengira bahwa dokter dipecat."
"Bukan, besok dan 2 hari ke depan aku akan bekerja di lapangan. Jadi, kau harus semangat, ya, di sini tanpa ada aku."
"Sama siapa dokter pergi?"
"Dokter Aldy."
"Berdua?"
"Enggak, selalu ber-enam."
"Ha? Sama siapa aja?"
"Malaikan pencatat kebaikan dan keburukan."
"Haish!" jawabnya kesal karena ucapanku.
Selesai dengan pekerjaan, aku dan Aldy langsung ke farmasi. Menyusun apa-apa yang besok perlu di bawa ke beberapa sekolah.
Boss katanya akan datang besok jam 11 siang, tak mungkin jika besok menunggu dia. Jadi, mau tak mau harus menunggu mobil datang terlebih dahulu.
Tak ada yang membuka suara, aku menyusun keperluan ke tas milikku khusus suntik dan cairan begitu juga Aldy.
"Dokter Caca sama dokter Aldy sedang apa?" tanya perawat yang ternyata perawat pribadi milik Aldy.
"Lagi menyiapkan alat."
"Ohh, buat besok ya dokter?"
"Iya."
"Saya boleh ikut dokter?"
"Tidak usah, kamu di sini aja."
"Tapi, saya belum tau tentang penanganan dan juga nama-nama obatnya."
"Mangkanya itu, besok full kamu belajar dulu. Karena pasien akan di oper ke dokter yang lain."
__ADS_1
"Oh, gitu ya dokter. Padahal, saya mau nemenin dokter."
"Tak perlu, lagian ini tugas langsung dari pemilik rumah sakit."
Sudah merasa selesai, aku pergi keluar duluan, "Permisi, saya duluan," sapaku ke arah perawat Aldy agar tak disangka sombong.
Dari tadi, aku hanya diam dan tak menjawab satu pun pertanyaan perawat pribadinya yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya.
Bukan cemburu, hanya risih saja. Lagian, tugasku sudah selesai. Lebih baik sekarang mencari makanan agar bisa disantap nanti malam sambil membaca novel atau menonton Drakor.
Bulan menampilkan sinarnya ditemani oleh bintang-bintang yang ada, aku menghidupkan televisi yang besar ini.
Dengan mie cup di tangan, sudah seperti drama-drama, bukan? Yang selalu makan mie cup ketika tengah asyik melihat televisi.
"Aaa ... sosweet banget, gila!"
"Andai aja nyata, indah banget."
"Emang paling klop; bininya dokter, suaminya tentara. Jadi, kalo suaminya sakit atau tertembak bisa langsung ditangani oleh bininya!"
"Ya, Allah. Semoga ntar nyantol tentaranya satu ke aku."
"Pen ada adegan pedang-pedang itu nanti pas nikah!"
"Aaa ... andai suami gue gitu!"
Berbagai macam teriakan juga senyum selalu merekah di bibir Caca, bahkan kadang suara tawa tak kalah hebatnya terdengar dengan keras.
Dia tengah menonton Drakor seorang sepasang kekasih yang memiliki profesi dokter dan tentara. Sungguh terlihat sangat serasi.
"Ingat, Caca! Ini hanya drama, bukan nyata!" seruku lagi dengan menoyor kepala agar sadar bahwa spek seperti itu hanya ada di Drakor.
"Kamu pengen yang bisa megang senjata Mas, lah aku cuma bisa megang suntikan. Yo, ndak mampu aku ... Mas-e!" Berbagai macam teriakan dikeluarkan Caca.
Sesekali dia menyeruput mie juga es yang dibuatnya, tanpa dia sadari bahwa ada seseorang yang tertawa mendengar setiap teriakan dari mulutnya dengan senyum yang merekah.
Tanpa sadar, jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, "Ha? Gila-gila, haduh gimana ini! Mana tanggung belum end."
"Tapi, besok harus kerja. Kalo ntar kena darah rendah karena kurang tidur, gimana?"
"Mood aku juga anjlok nantinya."
Akibat kurang tidur bukan hanya memiliki efek ke kantung mata yang besar dan area mata yang hitam. Namun, juga membuat mood akan berubah menjadi tak bersemangat pun darah rendah juga akan menyerang karena hal itu.
Mangkanya itu, tak disarankan untuk begadang dan harus tidur minimal 8 jam. Namun, pada kenayataannya sudah sangat jarang orang dewasa yang tidur selama 8 jam itu.
__ADS_1
Karena, kesibukan bukan hanya hadir di siang hari tapi juga di malam hari. Akan tetapi, tetap perlu ingat satu hal bahwa jangan pernah menyepelekan kesehatan.