Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Tak Perlu Takut


__ADS_3

Caca berjalan ke koridor dan langsung menemui dokter yang mencarinya, ia terhenti karena di dalam ruangan ada pasien.


Saat dirinya ingin melangkah pergi dari depan pintu menuju ruangan, pintu terbuka dan membuat Caca membalikkan badan tersenyum kikuk.


"Caca why turn back?" tanya dokter tersebut menatap Caca yang dirinya berada di ambang pintu.


"I see a patient, so I'll see a doctor later," jawab Caca sudah tersenyum seolah tanpa beban.


"Oh okay. I will contact you later when all of my patients have gone home," jawab dokter tersebut mengangguk.


Caca hanya tersenyum dan mengangguk paham, "Then I go first, Doc, let." Caca pergi dari hadapan dokter tersebut menuju ke musala yang ada.


Ia sedikit bergegas karena setelah selesai mengerjakan shalat 4 rakaat itu pasiennya akan mulai berdatangan.


Dirinya takut kalau suster nantinya kewalahan menangani seorang diri, Caca melepas sepatu pansusnya itu dan segera berjalan menuju toilet khusus wanita.


Dua puluh menit berlalu, Caca telah selesai dan sudah rapi kembali lengkap dengan jas berwarna putih yang dikenakannya dari tadi.


Kenapa jas dokter berwarna putih? Karena putih melambangkan kemurnian, menunjukkan komitmen yang dipegang oleh dokter.


Langkah yang dipercepat dan arloji berwarna coklat muda di lihat di pergelangan tangan yang tak terlalu besar itu.


Ketika akan memegang gagangan pintu, notifikasi masuk begitu saja membuat Caca terhenti terlebih dahulu untuk membuka pintu dan masuk ke ruangan.


[Jangan capek-capek, Dokter. Ingat, dirimu masih punya satu pasien khusus.]


[Jangan lupa juga tersenyum kepada orang-orang, agar energi positif dari senyumanmu itu bisa menambah energi mereka agar cepat sembuh.]


Dua pesan dari nomor yang bukan dirinya save masuk tanpa dipinta, 'Pasien Khusus' itulah nama kontak tersebut dengan foto profil laki-laki yang sangat dikenal Caca.


Caca tersenyum dan menggeleng melihat pesan tersebut, entah mengapa Riki menjadi begitu menggemaskan hingga ingin di makan hidup-hidup, eh!


"Doctor, what's wrong?" tanya seseorang yang berada di samping Caca tiba-tiba. Sontak hal tersebut membuat Caca kaget hingga hampir saja benda pipih tersebut terjatuh dari tangannya.

__ADS_1


Hanya kalimat istighfar yang keluar dari bibir Caca ketika mendapatkan perlakuan mengangetkan tersebut.


"I'm sorry, Doc," ujar suster yang merasa bersalah karena telah mengangetkan Caca.


"No problem, i'm okey." Caca langsung membuka pintu dan memasukkan handphone ke saku jas.


Suster pun mengikuti dirinya untuk masuk ke dalam membantu pekerjaan Caca agar mudah selesai dan cepat.


Di lain sisi, Riki sekarang tengah duduk di sofa yang ada di apartemennya. Membiarkan para pekerja membersihkan apa yang telah dirinya buat berantakan.


Dua orang laki-laki itu sesekali melirik ke arah Riki yang tengah asyik menonton televisi yang memang tersedia di apartemen.


"What is it?" tanya Riki yang dari tadi di tatap oleh pemuda yang mungkin lebih muda darinya. Pasalnya, tatapan itu bukan pertama kali dia lihat melainkan beberapa kali.


Sepertinya laki-laki itu ingin bertanya atau malah merasa takut dengan Riki karena melihat bagaimana berserakannya kamarnya itu.


"No, Sir," katanya menunduk takut melihat tatapan Riki.


"Don't worry, I won't kill you," ucap Riki santai sambil menaikkan kakinya ke meja juga meminum jus jeruk yang dipesannya tadi.


Riki juga sudah memesan barang yang telah dihancurkan tadi, mengganti dengan yang baru. Baru sehari di Amerika, sudah lebih dari 10 juta kerugian yang dia ciptakan.


Apakah tak ada rasa sayang sedikit pun di benaknya atas uang-uang yang dia habiskan begitu saja akibat kebodohannya.


Namun, hal ini lebih baik dilakukan Riki daripada harus mencurahkan emosi ke orang lain. Bisa-bisa lawannya itu sudah tak bernyawa dibuatnya.


Setelah kepergian Caca, Riki banyak berubah. Dari hal yang positif menjadi negatif, juga negatif menjadi positif.


Biasanya dirinya jika sudah marah tak akan bisa ditenangkan kecuali lawannya sudah mati atau masuk ke rumah sakit.


Akan tetapi, kali ini bahkan dirinya bisa dengan santai melawan manusia seperti Angga tadi. Saat pekerja telah hampir selesai melakukan tugasnya.


Barang yang dipesan Riki sudah datang, dirinya hanya duduk dan membiarkan mereka sebagai petugasnya melakukan kewajibannya.

__ADS_1


Bayar-membayar telah dilakukan Riki melalui transfer online, petugas langsung pergi kini tinggal membayar petugas pembersih kamar.


Setelah dirasa kamar sudah rapi, bersih juga wangi. Riki bangkit dari sofa dan berjalan ke arah dua orang tadi yang tengah menunggu upah.


Mengambil beberapa lembar dan langsung memberikan kepada mereka, mereka langsung pergi dengan sedikit berlari.


Riki berjalan menuju pintu dan menguncinya, ia belum melakukan ritual mandi di sore hari yang akan menggelap ini.


Sedangkan Caca istirahat terlebih dahulu karena sudah dapat panggilan dari penjaga kantin khusus menanyakan kenapa dia tak makan sore hari.


Bahkan, makan dia kali ini sudah terhitung akan malam. Caca langsung bergegas ke tempat kantin memberi jeda dan rehat sebentar diikuti oleh suster pribadinya juga.


Pasien sudah selesai di periksa untuk hari ini, malam beruntungnya hanya akan ada 3 pasien saja.


Pasien Caca memang akan mendaftar dari beberapa hari baru kembali lagi di hari yang telah di sepakati karena jika menunggu antrean pada hari itu juga.


Bisa-bisa, tidak akan pernah di periksa karena banyaknya pasiennya juga terbatasnya waktu kerja Caca.


Caca duduk di meja yang kosong, sedangkan susternya memilih meja yang lain padahal Caca sudah menyuruh untuk satu meja saja.


Namun, suster tetap menolak karena alasan tak sopan jika satu meja dengan seorang dokter. Padahal, dokter tetap manusia biasa yang tak ada bedanya.


Masih sering melakukan ke hilafan dan ketidak sengajaan dalam bekerja, ketika tengah memasukkan makanan ke mulut.


Suara dokter membuat Caca mendongak, "Can I sit here?" tanyanya dan menatap Caca.


Mulut Caca yang tengah penuh membuat dirinya susah untuk menjawab pertanyaan itu, ia hanya mengangguk pertanda mengizinkan.


"Thanks," ujar dokter wanita yang usianya mungkin 40-an. Caca baru pertama kali bertemu dengan dokter tersebut. Entah dirinya yang tak terlalu memperhatikan dokter yang ada atau memang dokter ini yang jarang masuk.


"Sorry, Doctor. I've never met you before," kata Caca dengan makanan yang telah dikunyah habis di dalam mulut.


"Oh yes. Indeed, I have just returned from my hometown for a few months, because I can take a day off, yes, it's better to just go back to where I came from," jelasnya tersenyum.

__ADS_1


Mendengar kalimat pulang kampung membuat Caca kembali tersentak rindu dengan Negera asalnya.


Ia hanya membalas senyuman dokter di depannya itu dan kembali melanjutkan makan karena akan segera melaksanakan shalat 3 rakaatnya.


__ADS_2